Renungan Oktober 9

Renungan Oktober 9

Luke 11:1-4, Doa Bapa  Kami

Bulan lalu sebelum keluar dari ruang periksa, dokter saya berpesan, “jangan lupa jalan kaki setiap hari minimal 15-30 menit! It will help you to maintain your weight!”
Sangatlah sederhanya pesannya, dan sering kita beranggapan bahwa hal sederhana akan mudah dilakukan. Namun nyatanya tidak demikian. Sederhana tidak selamanya mudah, bahkan kadang sangat sulit dilakukan karena menuntut komitmen dan disiplin diri.
Tuhan menyuruh Yunus untuk pergi ke Ninive, mengabarkan pertobatan pada penduduknya. Sepertinya tugas itu sederhana, namun Yunus mangkir dari perutusan itu. Ia melarikan diri dan tak mau menjalankan tugasnya.
Ketika Yesus mengajari muridnya berdoa, ia mengajak para murid berdoa “Bapa Kami.” Doa ini mudah dihapalkan bahkan oleh seorang anak kecil sekalipun.  Namun sering kita hanya mengucapkan tanpa mendalami  maknanya karena begitu terbiasa.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah America, Paus Fransiscus berkata bahwa salah satu usaha memahami kehendak Tuhan adalah dengan melakukan tugas harian yang sederhana tapi dengan hati terarah pada Allah. Pilihan harian yang sederhana dan kecil seperti naik mobil yang sederhana, membayar tagihan, mengunjungi orang yang  jarang disapa adalah bagian dari tugas sederhana, namun dilakukan dengan hati yang besar.

Agar bisa memahami doa yang sederhana, kita dituntut pula memiliki hati yang sederhana dengan mata batin tertuju pada Allah. Semoga tugas-tugas harian yang biasa dan remeh, tetap memberi kita jalan kecil menuju Allah.

Renungan Oktober 8

Renungan Oktober 8

Lukas 10: 38-42, “Maria & Marta”

Setiap kali mendengar kisah Maria dan Marta, kita tergoda untuk membandingkan keduanya, mana yang lebih baik, Marta atau Maria? Yang seorang bekerja dan menyiapkan makanan, sedang yang lain diam mendengarkan sabda Yesus. Lalu kita sampai pada kesimpulan, sepertinya Yesus lebih memilih Maria karena dia mendengarkan sabdaNya.

Namun, mari kita lihat bacaan lebih teliti. Saat Marta sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, dia berkata pada Yesus, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudariku membiarkanku melakukan semuanya seorang diri?” Dia mulai mengeluh dan berpikir kalau Yesus tidak peduli padanya.

Yesus berkata padanya, “Marta, engkau resah akan segala sesuatu, padahal hanya satu hal yang engkau butuhkan.”

Yesus tidak berkata pada Marta bahwa Maria lebih baik dari padanya. Namun pointnya adalah saat kita melakukan segala sesuatu, lakukanlah itu dengan sepenuh hati, dengan cinta, dan jangan setengah-setengah. Marta sepertinya tidak melakukan pekerjaan dengan sepenuh hatinya, sehingga dia iri dan marah saat saudarinya hanya diam saja, mendengarkan Yesus. Sebaliknya, Maria mendengarkan Yesus dengan sepenuh hatinya, dan tidak memikirkan hal yang lain.

“Ora et Labora”, berdoa dan bekerja adalah kata-kata yang sering kita dengar. Doa kita seharusnya menjadi dasar bagi seluruh kegiatan harian, dan membuat seimbang antara berkerja dan berdoa.

Apakah kita melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati, sepenuh tenaga, dan dengan cinta? ataukah kita sering melakukan tanggung jawab kita dengan keluhan, setengah-setengah, penuh iri hati dan tanpa cinta?

Renungan St Fransiskus Asisi

Renungan St Fransiskus Asisi

Renungan St Fransiskus Asisi

Hari ini (Okt 4) Gereja memperingati santo Fransiskus dari Asisi yang disebut oleh Bapa Paus sebagai “Man of the poor and man who honors the creation.”  Dalam perang salib yang ke 5 tahun 1219, Kaum Muslim menguasai kota Yerusalem, dan pasukan perang salib Kristen berusaha memasuki tanah Israel melalui Mesir. Mereka berencana merebut daerah lembah sungai Nil yang dikuasai pasukan Sultan Al Malik. Namun Fransiskus menolak peperangan ini.

Santo Bonaventura menuliskan bahwa Fransiskus beserta seorang temannya menyeberang ke wilayah Muslim dan bertemu dengan sultan Al Malik. Fransiskus berusaha memahami siapa musuh yang dihadapi pasukan perang salib dengan berdialog dengan sang sultan secara langsung. Karena relasi yang baik antara Fransikus dengan kaum Muslim, tahun 1272, Sultan memberi ijin ordo Fransiskan untuk datang ke Yerusalem dan berkarya di tempat ziarah kaum Kristiani. Tahun 1342, Paus Klemen VI menunjuk Fransiskan sebagai ordo penjaga tempat ziarah Tanah Suci.

Kisah pertemuan Fransiskus dan Sultan menginspirasi kita untuk terus membangun dialog dengan umat beragama lain. Pertemuan membawa pencerahan dan pengetahuan baru akan orang lain, sehingga segala prasangka dan cap buruk akan sirna. Semoga perayaan Santo Fransiskus hari ini membuka hati kita untuk mau mulai membuka dialog, mau mengerti orang lain yang sering berseberangan dengan kita, dan membangun jembatan pertemanan demi kehidupan yang lebih baik.

 

Translate »