Browsed by
Author: admin

Renungan Oktober 25

Renungan Oktober 25

Rm Marya SJ (rektor Seminari Mertoyudan, Magelang)

“Berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan”

(Rm 7:18-25a; Luk 12:54-59)

“Yesus berkata pula kepada orang banyak: “Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Di dalam perjalanan hidup dan tugas pengutusan kita senantiasa ada tanda-tanda kehadiran atau karya Allah, dan untuk itu sebagai umat beriman kita dipanggil untuk mendengarkan dan menanggapinya. Kami percaya kita juga sering menghapi peristiwa atau orang yang tidak
sesuai dengan keinginan atau selera pribadi kita dan ada kecenderungan bagi kita untuk memusuhi atau membencinya. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk berdamai dengan siapapun dan apapun, maka untuk itu lihatlah dan imanilah apa yang baik di dalam diri saudara-saudari kita maupun lingkungan hidup kita, sebagai tanda kehadiran dan karya Allah.
Dengan kata lain marilah kita senanitiasa berpikiran positif atau baik kepada orang lain maupun lingkungan hidup kita, dan percayalah bahwa apa yang baik dan positif lebih banyak daripada apa yang buruk dan negatif. Pertama-tama dan terutama kami harapkan dalam mendidik atau
membina anak-anak atau peserta didik hendaknya senantiasa mengembangkan dan memperdalam apa yang baik dan positif dalam diri mereka, dengan kata lain senantiasa berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. Hidup berdamai dengan siapapun dan apapun hemat saya lebih nikmat, mempesona dan menarik dari pada membenci atau memusuhi.
Kepada mereka yang pada saat ini masih membenci atau memusuhi sesuatu atau orang, kami harapkan segera berdamai,  sebelum meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Berdamai atau bersahabat dengan siapapun dan apapun ketika dalam perjalanan kita menemui kesulitan atau tantangan akan segera memperoleh bantuan atau pertolongan. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa apapun yang dikatakan atau dilakukan orang lain terhadap diri kita adalah wujud kasih mereka kepada kita, maka tanggapi dengan penuh syukur dan terima kasih.

“Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka
akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” (Rm 7:20-23). Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa nafsu atau keinginan anggota-anggota tubuh kita pada umumnya adalah berbuat
jahat atau melakukan dosa. Maka dengan ini kami ajak anda sekalian untuk dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah berusaha mengendalikan derap langkah anggota-anggota tubuh kita senantiasa sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Marilah kita atur
nafsu-nafsu atau gairah-gairah kita sedemikian rupa sehingga teratur sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Godaan atau rayuan untuk berbuat dosa atau melakukan apa yang jahat pada masa kini memang sungguh marak dan cukup banyak orang terjatuh kedalam dosa atau perbuatan jahat mengikuti godaan atau rayuan tersebut. Anak-anak atau generasi muda
masa kini sungguh telah terkuasai oleh hiburan-hiburan yang tidak sehat, entah berupa bacaan atau tontonan di internet dst.. Maka dengan ini kami berharap dan berpesan kepada anak-anak dan generasi muda untuk senantiasa menikmati hiburan yang sehat serta jauhkan aneka
hiburan yang tidak sehat. Untuk itu hendaknya jangan hidup menyendiri di kamar saja asyik dengan permainan game di internet, melainkan bergaullah dengan teman-teman anda seraya menikmati hiburan-hiburan sehat. Kepada para orangtua kami harapkan sungguh memperhatikan
anak-anaknya dalam hal hiburan ini, dan jangan biarkan anak-anak mencari hiburan hanya mengikuti selera pribadinya.

“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.” (Mzm 119:66.68)

Renungan Oktober 23

Renungan Oktober 23

Rm Marya SJ (rektor Seminari Mertoyudan, Magelang)
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi”

(Rm 6:19-23; Luk 12:49-53)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” (Luk 12:49-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Ketika api membakar gedung atau rumah pada umumnya semuanya akan ludes tak berbekas lagi, namun jika ada emas murni di dalam gedung atau rumah tersebut, yang mungkin disimpan begitu rahasia, akhirnya akan semakin kelihatan dengan jelas: emas murni terbakar akan semakin kelihatan kemurnian atau keasliannya. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan ‘jati diri’ kita yang benar serta tidak berpura-pura atau bersandiwara. Secara konkret ketika telah menempuh hidup baru, entah hidup berkeluarga sebagai suami-isteri atau membiara atau imamat, henndaknya hidup dan bertindak sesuai dengan spiritualitas hidup baru terkait. Hendaknya kita hidup dan bertindak dijiwai spiritualitas, dan bukan lagi terkuasai oleh semangat daging atau nepotisme. Ketika anda memiliki profesi berdagang hendaknya bekerja sesuai dengan tata tertib atau aturan berdagang yang baik, demikian juga profesi-profesi lainnya. Secara khusus kami berharap kepada para peserta didik atau pelajar, yang memiliki jati diri atau panggilan belajar, untuk sungguh membaktikan diri dalam belajar, memboroskan waktu dan tenaga untuk belajar. Jika selama berprofesi sebagai pelajar atau peserta didik anda sungguh belajar dengan baik, maka kelak dalam profesi apapun pasti akan hidup dan bertindak sesuai dengan profesi terkait. Kepada anda yang berkeluarga sebagai suami-isteri kami harapkan setia dalam saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, dalam sakit maupun sehat, karena dengan demikian berarti cara hidup dan cara bertindak anda akan mempengaruhi sikap mental anak-anak anda: setia pada panggilan dan tugas pengutusannya.

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 6:22-23). Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua agar senantiasa ‘bebas merdeka’ alias menjadi ‘hamba Allah’ dalam cara hidup dan cara berindak apapun dan dimana pun, tidak dikuasai oleh dosa atau melakukan dosa dan kejahatan sekecil apapun. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah Allah, dan hemat saya kehendak dan perintah Allah yang utama dan pertama adalah ‘saling mengasihi sebagaimana Allah  telah mengasihi kita’. Sekali lagi saya angkat di sini bahwa wujud kasih yang utama adalah boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih, maka baiklah jika kita saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain, dan tentu saja pertama-tama dan terutama terjadi dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing. Jika kita dengan mereka yang hidup dekat setiap hari dengan kita dapat saling mengasihi dengan baik dan benar, maka dengan mudah kita mengasihi orang lain. Sebaliknya jika dengan mereka yang dekat dengan kita tak mampu saling mengasihi dengan baik dan benar, maka mengasihi yang lain sungguh merupakan pelarian tanggungjawab, sebagaimana terjadi dengan suami atau isteri yang selingkuh dengan orang lain karena tak mampu saling mengasihi. Kita semua hendaknya setia menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan kita sendiri,yang utama atau pokok, dan jangan dengan mudah meninggalkan tugas atau panggilan utama dengan melaksanakan tugas sambilan. Mengapa orang senang melakukan tugas sambilan, karena tidak dituntut tanggungjawab dan pada umumnya juga memperoleh imbalan yang menarik. Sekali lagi kami ingatkan: jangan berselingkuh atau menyeleweng dari tugas dan panggilan utama atau pokok.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm 1:1-3)

Renungan Oktober 22

Renungan Oktober 22

Lukas 12:39-48  Bermental budak
Perbudakan memiliki sejarah panjang semenjak masa Yunani dan Romawi Kuno. Para budak didapatkan dari orang yang kalah perang, para nelayan yang ditangkap oleh penjahat dan dijual, tahanan, serta orang yang menjual diri sendiri sebagai budak karena kemiskinan.

Para budak menjadi barang milik tuannya yang bisa dijual atau
disewakan setiap waktu. Sering kali mereka diperlakukan sangat buruk oleh tuannya karena kesalahan-kesalahan kecil yang dibuat. Dunia Romawi menerima perbudakan sebagai bagian dari kehidupan social mereka, tidak ada yang salah dalam perbudakan.

Namun, tidak semua budak hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Ada budak yang sungguh baik, menerima jabatan tinggi, mengurus harta, menjadi bendahara, dan dipercaya oleh pemiliknya. Bahkan  kadang, karena jasanya yang besar pada tuannya, seorang budak bisa dibebaskan dan menjadi warga negara Roma, menjadi orang merdeka dan mendapat surat resmi dari pengadilan Roma.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus memakai perumpamaan seorang hamba yang setia menjalankan tugasnya bukan karena ia ketakukan akan majikannya. Biasanya seorang bawahan patuh karena ada atasannya. Ia melakukan tugasnya bila diawasi, dihukum bila salah, dan diberi hadiah bila baik kerjanya.

Yesus mengajak pendengarnya untuk tidak bermental seperti para budak Roma, namun menjadi pekerja yang tahu kewajiban, selalu berjaga-jaga, dan setia pada tugas entah diawasi atau tidak.

Ketika seorang anak bisa melakukan tugasnya dengan baik, tanpa diawasi, ia berkembang menjadi orang yang dapat bertanggungjawab dan diandalkan. Sebaliknya bila seseorang selalu harus diawasi agar bekerja baik, ia memiliki mental seorang budak!

Mana yang kita pilih?

Renungan Oktober 21

Renungan Oktober 21

Romans 5:12, 15, 17-21 “Biang Keladi”

Teks kitab suci dari Surat Roma hari ini amatlah terkenal untuk umat Katolik, karena ini menjadi salah satu sumber ajaran tentang doa asal.

Paulus berkata bahwa, dosa masuk ke dunia melalui satu orang yaitu Adam, dan karena dosa itu, semua manusia menerima konsekuensi dosa yaitu kematian. Seluruh dunia menjadi berdoa dan ada dalam keadaan dan suasana dosa karena ketidaktaatan Adam pada Allah.

Yesus menjadi Adam yang baru, karena dia taat pada Allah sampai mati di Salib. Ketaatan ini menyelamatkan semua manusia dari kuasa dosa. Kebangkitan dari Salib mengalahkan kuasa dosa yaitu kematian.

Kalau ditelusuri, sebenarnya Adam berdosa karena ia ingin menjadi seperti Allah, memakan buah terlarang sehingga ia tahu segala sesuatu. Biang keladinya adalah kehendak untuk berkuasa, ingin melampuai semua,ingin menjadi yang utama, dan tak ada yang mengalahkan, juga merasa superior.

Coba kalau sekarang kita telusuri, apa yang menjadi biang keladi dosa dan kejatuhan kita pada kesalahan? salah satunya adalah kehendak untuk menjadi yang utama, tak ingin dipandang rendah orang lain, ingin lebih dari yang lain.
Semoga hari ini, kita tidak menjadi biangnya kedosaan, tapi sumber utama dari kebaikan dan rahmat Allah.

Translate »