Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Renungan Hari Minggu Biasa XXVC

Renungan Hari Minggu Biasa XXVC


(Ams. 8:4-7; 1Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, minggu lalu kita diajak merenungkan kasih
dan pengampunan Allah yang tanpa batas. Hari ini, Sabda Tuhan mengarahkan
perhatian kita pada satu pilihan yang sangat mendasar: siapa yang sungguh kita
sembah dan abdikan hidup kita: Allah atau mamon? Yesus berbicara melalui kisah
bendahara yang tidak jujur, yang bersiasat dengan mamon untuk menyelamatkan
dirinya.
Kata mamon berarti uang atau harta. Kita semua tahu, berbicara soal uang di dalam
Gereja sering terasa sensitif. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata: uang adalah
bagian dari kehidupan kita, bahkan juga kehidupan menggereja. Pengalaman sejarah
menunjukkan, uang pernah menjadi sumber kegelapan dalam perjalanan Gereja. Kita
ingat peristiwa awal abad ke-16, ketika penyalahgunaan indulgensi yang berhubungan
dengan uang memicu perpecahan besar. Gereja belajar dari pengalaman itu untuk
selalu berhati-hati. Sejarah memang guru yang baik: ia mengingatkan kita bahwa bila
uang disalahgunakan, maka yang suci pun bisa ternodai.
Saudara-saudariku terkasih, kenyataan yang sama kita jumpai dalam hidup seharihari. Bukankah sering kali uang mampu memisahkan orang yang dulunya sangat
dekat: sahabat, saudara, bahkan orang tua dan anak? Ada pepatah sinis yang kita
kenal: “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang.” Bahkan istilah UUD,
yang sejatinya berarti Undang-Undang Dasar, sering dipelesetkan menjadi UjungUjungnya Duit. Semua ini menggambarkan betapa uang, jika menguasai hati, dapat
membuat manusia buta pada persaudaraan dan bahkan melupakan Allah. Yesus
berkata dengan tegas: “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Luk.
12:34).
Namun pertanyaannya: mungkinkah kita hidup tanpa uang? Tidak mungkin. Kita
semua membutuhkannya untuk kebutuhan dasar hidup, bahkan pelayanan Gereja
pun membutuhkan uang: transportasi, makan, sarana, dan banyak hal lain. Karena itu
Yesus memberi penekanan bukan pada soal memiliki uang atau tidak, melainkan pada
sikap hati: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon sekaligus.”
Artinya, yang dipersoalkan bukan apakah kita memiliki uang, melainkan siapa yang
menjadi tuan atas hidup kita, Allah atau uang?
Injil hari ini menampilkan kisah bendahara yang ketahuan menyalahgunakan harta
tuannya. Ia dipecat, namun sebelum benar-benar jatuh, ia menggunakan
kecerdikannya. Ia mengurangi utang para debitur tuannya dengan harapan, saat ia
diusir, orang-orang itu akan menolong dia. Menariknya, kecerdikannya ini dipuji oleh
tuannya. Bukan karena ia curang, melainkan karena ia pandai memanfaatkan
kesempatan.
Yesus lalu berpesan agar anak-anak terang, yaitu kita, juga belajar cerdik, namun
bukan untuk keuntungan diri semata, melainkan untuk memuliakan Allah. Uang bukan
untuk memperbudak kita, melainkan untuk kita kelola dengan bijaksana. Kita harus
mampu menjadikannya sarana untuk berbuat baik, untuk membangun persahabatan,
terutama dengan mereka yang kecil, miskin, dan terlupakan.
Ingatlah kata Yesus: “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku
yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Maka setiap
rupiah yang kita gunakan untuk menolong orang lapar, orang sakit, orang miskin, atau
anak yang membutuhkan pendidikan, sesungguhnya kita gunakan untuk membangun
persahabatan dengan Allah sendiri.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus tidak melarang kita memiliki uang, tetapi Ia
mengingatkan: jangan sampai uang memiliki kita. Jadikanlah uang sebagai sarana,
bukan tujuan. Jadikan ia sebagai titipan yang harus dipertanggungjawabkan, bukan
sebagai tuan yang memperbudak.
Mari kita menutup renungan ini dengan sebuah doa sederhana yang bisa kita ulang
setiap hari:
“Tuhan, uang yang Engkau percayakan kepadaku hanyalah titipan sementara. Jangan
biarkan aku diperbudak olehnya, tetapi tuntunlah aku agar menggunakannya dengan
bijaksana, terutama untuk menolong sesamaku yang membutuhkan.”
Semoga doa ini menanamkan dalam hati kita sikap yang benar: bahwa hidup kita tidak
dikuasai oleh uang, melainkan oleh kasih. Dan bila kasih yang menguasai hidup kita,
maka damai dan keselamatan akan selalu hadir dalam keluarga dan komunitas kita.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.

RENUNGAN 18 SEPTEMBER 2025

RENUNGAN 18 SEPTEMBER 2025

LUKAS 7:36-50

Setiap orang tidak luput dari kesalahan, entah karena factor dari dirinya sendiri atau dari factor ekternal. Tidak jarang orang terseret dalam arus dosa sosial yang dilakukan oleh masyakarat atau instansi atau lembaga tempatnya bekerja atau berorganisasi. Dosa sosial jika tidak dihentikan, maka makin lama bersifat masif dan terstruktur. Jadilah dosa structural, yang secara perlahan merusak tatanan hidup bersama dalam Masyarakat. Sesuatu yang keliru dianggap benar, karena berulangkali dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan.

Setiap orang pernah salah dan berbuat dosa secara pribadi ataupun bersama-sama dalam masyarkaat. Demikian pula seorang Perempuan yang dianggap berdosa oleh orang-orang Farisi. Perempuan ini datang kepada Yesus. Padahal Yesus sedang diundang jamuan makan di rumah orang Farisi. Sebuah tindakan yang tidak lazim dilakukan  oleh Perempuan ini. Apakah itu? Pertama, Perempuan ini datang ke rumah orang Farisi yang sedang menjamu Yesus. Kedua, Perempuan ini membasuh kaki Yesus dengan minyak dalam buli-buli dan menyeka dengan rambutnya. Perempuan yang dianggp berdosa melakukan itu kepada Yesus di rumah orang Farisi. Bukankah ini sebuah pencemaran? Bukankah ini tindakan mengotori rumah dan suasana jamuan makan? Berapa banyak orang yang dianggap kotor, jahat dan berdosa tidak boleh mendekat pada kita. Kita sering menjauhi dan menyingkirkannya?

Apakah Yesus menyingkirkan Perempuan itu? Ternyata tidak. Justru sebaliknya. Yesus menerima pribadi Perempuan itu dan memberinya kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Tindakan Perempuan itu menjadi pralambang dari persiapan wafat Yesus yang akan terjadi di kemudian hari. Tindakan Perempuan ini sangat terpuji. Ia melalui tindakannya itu mau mengungkapkan kecintaannya pada Tuhan, sekaligus sebagai ungkapan penyesalan dan pengampunan atas masa lalunya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Yesus,Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Lukas 7:46-47)

Tindakan kasih bagi sesama muncul dari pengalaman dicintai dan diampuni oleh Allah. Allah telah banyak memberi rahmat dan kasih-Nya, maka setiap perbuatan baik adalah ungkapan syukur terima kasih kepada Allah. Setiap pertistiwa yang terjadi dalam hidup adalah pengalaman yang sangat bernilai bagi diri sendiri, bagi sesama, bagi Allah dan semesta alam. Setiap kali kita manusia jatuh dalam kesalahan, pada saat itu pula belas kasih dan kerahiman Allah terbuka bagi kita. Di tahun Yubileum pesiarah pengharapan ini, mari kita saling mengampuni dan mengasihi setiap pribadi yang telah berbuat keliru dan salah, kejahatan dan kedosaan. Kita membantu mereka yang rapuh dan lemah untuk keluar dari kelemahan dan kerapuhannya. Belaskasih dan pengampunan Allah tetap ada hari ini, seperti yang dialami Perempuan dalam kisah Injil. Tuhan memberkati hidup kita. (rm. Medyanto, o.carm)  

Ketika Kita Sudah Tidak Mau Mendengar

Ketika Kita Sudah Tidak Mau Mendengar

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Lukas 7:31–35 | “Anak-anak yang duduk di pasar”

Yesus hari ini memakai gambaran yang sangat sederhana tapi tajam: “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar dan saling menyerukan: Kami meniup seruling, tetapi kamu tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.”

Yesus menggambarkan generasi yang sulit disentuh oleh apa pun. Mau diajak bersukacita, mereka diam. Mau diajak berdukacita, mereka juga tak bereaksi. Hati mereka tertutup. Mereka hanya mau melihat dan mendengar apa yang cocok dengan pikirannya sendiri. Bahkan Yohanes Pembaptis dikritik karena terlalu asketis, dan Yesus pun dikritik karena terlalu dekat dengan orang berdosa. Dua kepribadian yang sangat berbeda—namun dua-duanya ditolak. Mengapa? Karena bukan soal siapa yang bicara, tapi apakah kita masih mau mendengar.

Renungan ini sangat relevan bagi kita hari ini. Dalam dunia yang penuh opini dan perdebatan, kita dengan mudah mengunci hati dan telinga. Kita menolak bukan karena isi pesannya, tapi karena siapa yang menyampaikannya, atau karena caranya tidak sesuai dengan selera kita. Kita menilai terlalu cepat, dan sering kali kehilangan kesempatan untuk belajar, berubah, atau disentuh oleh kasih.

Yesus mengakhiri bagian ini dengan berkata, “Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” Artinya, kebenaran akan tetap hidup, tapi hanya dapat dikenali oleh hati yang terbuka. Orang yang siap mendengar, bahkan dari tempat yang tak terduga, akan menemukan kebijaksanaan. Tapi mereka yang sibuk menilai dari luar, akan terus hidup dalam kebingungan.

Hari ini, mari kita bertanya: apakah aku masih mau mendengar? Apakah aku hanya mau mendengar yang cocok dengan pikiranku, ataukah aku membuka hati untuk disentuh oleh Tuhan, dalam cara dan wajah yang tak selalu aku harapkan?

Karena sering kali, yang datang bukan yang kita inginkan, tapi justru itulah yang kita butuhkan. Dan hanya hati yang jernih yang bisa melihatnya.

“Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Lukas 7:35)

Menjadi Sarana Allah

Menjadi Sarana Allah

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Lukas 7:11-17

Pw, St. Kornelius dan St. Siprianus

Selasa, 16 September 2025

Manusia berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah. Ini adalah konsep umum atau ajaran ditemukan dalam berbagai agama dan filosofi, misalnya Islam [surat Thaha ayat 55] dan Kristen [Kej 3:19]. Meski demikian, ketika menghadapi peristiwa kematian, terlebih orang yang kita cintai, maka rasa sedih selalu ada.

Warta hari ini mengisahkan tentang Yesus membangkitkan seorang pemuda di desa/kota Nain, di wilayah Galilea. Dalam Bahasa Ibrani: Kata “Nain” (נעים) berarti “menyenangkan” atau “indah”. Dalam warta ini terjadi pertukaran gerak yang indah. Yesus dan para murid-Nya mendekati Nain, yang indah, menyenangkan. Sementara orang banyak bersama janda yang kehilangan anaknya meninggalkan yang indah, yang menyenangkan. Dengan kata lain, mereka akan kehilangan yang indah, yang menyenangkan. Yesus datang dan mengembalikan yang indah, yang menyenangkan. Kepada janda yang kehilangan anak laki-laki, penopang hidupnya, Yesus menegaskan, “Jangan menangis!” Dan kepada pemuda, yang menjadi penopang hidup ibunya, Yesus dengan kuasa sabda-Nya memerintahkan, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”. Pemuda yang telah meninggal itupun bangkit, Yesus menyerahkan kepada ibunya. Melihat hal itu orang banyak berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.”

Pesan warta hari ini antara lain: pertama, sebagaimana yang Tuhan Yesus lakukan bagi janda yang malang, demikian pula Dia selalu memberikan yang berguna kepada kita setiap hari. Tuhan Yesus kiranya tahu yang kita butuhkan. Karenanya, Dia memberikan segala yang kita butuhkan. Kedua, Tuhan Yesus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” [Yoh 11:25]. Mukjizat yang Dia lakukan bagi pemuda, yang sudah mati mengajarkan kepada kita bahwa Dialah, Sang Penebus, yang menyelamatkan dan akan memberikan kehidupan kekal bagi kita manusia yang percaya kepada-Nya. Ketiga, Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita tentang bagaimana mewartakan Kasih kepada sesama, terlebih mereka yang lemah, tersingkir dan difabel [janda dalam konteks Yahudi]. Semoga dalam hidup dan kehidupan ini kita dapat menjadi sarana Allah dalam menyalurkan kasih dan rahmat-Nya bagi sesama.

Santa Maria Berdukacita

Santa Maria Berdukacita

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
15 September 2025
Ibr 5, 7-9 + Mzm 31 + Yoh 19, 25-27

Lectio
Pada waktu itu dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Meditatio
Maria benar-benar memberi hati kepada sang Puteranya, dan sekaligus Yesus sang Putera menjadi sang Buah hati bagi ibuNya. Yesus bukanlah anak mama yang selalu mengikuti kemauan sang ibu; segala kemauan ibu akan selalu dikerjakan. Sebaliknya, Maria adalah mama Anak, karena segala yang dikerjakan sang Putera diikutinya dengan setia. Sebuah pedang akan menembus jiwamu, sebagaimana dikatakan Simeon (Luk 2), tidak membuat Maria mundur teratur; malah dia terus maju ikut memanggul salib kehidupannya. Sebagaimana ‘sang Anak telah belajar taat, dan ini nyata dari segala yang telah dideritaNya’ (Ibr 5), demikianlah Maria taat dan setia pada kehendak Tuhan sebagaimana dinubuatkan Simeon.
“Ibu, inilah, anakmu!”, kata Yesus kepada Maria sang ibu, yang berdiri di samping salibNya, dan kepada murid-murid-Nya Yesus menegaskan: “Inilah ibumu!”. Maria benar-benar dimintai tolong mendampingi para muridNya, agar mereka setia juga dalam memanggul salib kehidupan; dan para murid diminta untuk berani belajar kepada sang ibu untuk menjadi muridNya yang setia.
Hendaknya kita belajar dari Maria, dan meminta bantuan doanya, dalam mengikuti Kristus sang Putera.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memberikan Maria bagi kami kami untuk menjadi teladan setia dalam mengikuti Engkau. Rahmatilah kami menjadi orang-orang yang setia. Amin.

Contemplatio
“Inilah ibumu!”

Translate »