Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Sarana dan Tujuan

Sarana dan Tujuan

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Matius 19:23-30

Selasa, 19 Agustus 2025

Teks dan konteks. Dua kata ini sungguh penting dalam membaca dan memahami warta Kitab Suci. Dalam warta hari ini Tuhan Yesus bersabda, “…lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” [Mat 19:24]. Pertanyaan spontan yang muncul, Apakah kita tidak boleh kaya?

Pada zaman Tuhan Yesus, kota Yerusalem memiliki pintu darurat, lorong sempit memanjang dan bagian atasnya melengkung seperti lubang jarum. Ketika pintu gerbang utama kota telah ditutup pada sore hari, maka pintu darurat model lubang jarum ini akan digunakan sebagai pintu keluar masuk ke kota Yerusalem. Karena pintu ini cukup sempit dan rendah bagi seekor unta, maka jika ingin memasukinya, seluruh barang bawaan harus diturunkan dari punggung unta. Setelah itu Unta ditarik oleh tuannya masuk ke dalam pintu lobang jarum, tanpa masalah. Inilah kiranya konteks di mana teks tersebut diserukan.

Dengan latar belakan konteks tersebut sabda Tuhan Yesus kiranya dapat kita pahami. Pernyataan Tuhan Yesus tersebut mengingatkan siapa saja untuk berani melepaskan kelekatan-kelekatan duniawi yang dapat menghambat kita masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dengan kata lain, kita diajak untuk memahami dan menyadari bahwa harta benda, aneka gelar yang kita terima adalah sarana, bukan tujuan hidup kita. Sebuah pena menjadi berguna dan menemukan hakekatnya jika digunakan untuk menulis; sebuah roti akan mengenyangkan bila dimakan. Demikian pula dengan harta benda, aneka gelar yang ada pada kita menjadi bermanfaat ketika digunakan sebagaimana mestinya. Harta benda yang kita punya tetap bisa kita bahwa ke sorga. Akan tetapi jangan dibawa sendiri, melinkan dititipkan kepada orang miskin, yatim piatu. Demikian pula gelar, jabatan yang ada pada kita akan bermanfaat ketika digunakan untuk melayani sesama, masyarakat. Sebab harta benda dan aneka gelar yang ada pada kita hanyalah sarana, dan bukan tujuan. Sementara tujuan kita adalah bersatu dengan Tuhan di tanah air surgawi, sebagaimana ditegskan St. Paulus, “Kewargaan kita terdapat di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya” [Flp 3:20-21].

Mari kita menggunakan segala yang dianugerahkan kepada kita sebagai sarana untuk mencapai tanah air surgawi, hidup yang kekal yang menjadi tujuan setiap manusia.

RENUNGAN: TGL. 12 AGUSTUS 2025

RENUNGAN: TGL. 12 AGUSTUS 2025

Rm Ignasius Joko Purnomo

        Matius 18:1-5,10,12-14

  1. Saudara-saudari terkasih,

Naluri manusia sering ingin menjadi yang utama, yang paling di depan, yang paling hebat, yang lebih dari yang lain. Injil yang kita dengar hari ini dimulai dengan pertanyaan yang sangat “manusiawi” dari para murid: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Mungkin kita tersenyum mendengarnya, tetapi kalau kita jujur, pertanyaan ini juga sering muncul dalam hati kita, siapa yang lebih dihargai, siapa yang lebih berpengaruh, siapa yang lebih penting.  Yesus justru menjawab dengan cara yang mengejutkan. Dia memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah, dan berkata: “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Artinya, yang penting bukanlah posisi, gelar, atau pengaruh, melainkan hati yang sederhana dan rendah hati seperti seorang anak kecil.

  • Mengapa anak kecil menjadi teladan masuk Kerajaan Surga? Seorang anak kecil punya hati yang percaya penuh pada orang tuanya. Ia tidak khawatir berlebihan tentang masa depan. Ia tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi yakin bahwa ada tangan yang akan memegangnya. Ia juga mudah memaafkan. Hari ini bertengkar, besok sudah bermain bersama lagi. Hatinya murni, belum penuh dengan kepentingan atau hitung-hitungan. Yesus mengingatkan: jalan menuju Kerajaan Allah bukanlah jalan kekuasaan, melainkan jalan kerendahan hati dan ketergantungan penuh kepada Allah. Kata “bertobat” yang dipakai Yesus berarti berbalik arah, mengubah pola pikir kita yang ingin menjadi yang terbesar menjadi pola pikir seorang anak yang mau belajar, mau  mendengarkan, dan taat pada Bapa.
  • Lalu Yesus memberikan gambaran gembala yang mencari domba yang hilang. Gembala itu punya 100 ekor domba. Satu hilang, dan ia rela meninggalkan 99 ekor di pegunungan untuk mencari yang satu itu. Dalam logika bisnis, mungkin ini tidak masuk akal. “Yang hilang cuma satu, biarkan saja, toh masih ada 99.” Tetapi dalam logika kasih Allah, satu nyawa pun tak ternilai harganya. Kisah ini bukan sekadar cerita manis. Ini adalah cermin dari hati Allah sendiri. Dia mencari, mengejar, dan menjemput kita ketika kita tersesat. Bahkan ketika kita menjauh, Dia tidak menyerah. Bahkan ketika kita merasa tidak layak, Dia justru datang untuk mengangkat kita.
  • Saudara-saudari, apa pesan Injil ini bagi kita? Pertama, milikilah hati seperti anak kecil. Dalam doa, kita datang kepada Allah bukan dengan sikap “mengatur” atau “menuntut,” tetapi dengan hati yang percaya penuh: “Bapa, Engkaulah yang tahu yang terbaik bagiku.” Kedua, belajarlah melihat orang lain dengan mata gembala yang penuh belas kasih. Mungkin di sekitar kita ada anggota keluarga, teman, atau tetangga yang “hilang” dari iman atau hubungan yang baik. Jangan hanya diam dan berkata, “Biar saja, itu urusannya sendiri.” Tuhan mengajak kita untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya, mencari, merangkul, dan menuntun kembali. Ketiga, jangan pernah merasa terlalu kecil atau tidak berarti. Kita ini berharga di mata Tuhan. Kalau pun kita merasa seperti domba yang tersesat, ingatlah: ada Gembala yang tak pernah berhenti mencarimu.
  • Semoga Sabda Tuhan hari ini membuat kita semakin rendah hati, semakin percaya penuh pada Allah, dan semakin memiliki hati yang mau mencari dan menyelamatkan sesama. Sebab di hadapan Allah, setiap pribadi berharga, dan tidak ada yang dibiarkan hilang.
Jumat, 08 Agustus 2025

Jumat, 08 Agustus 2025

Matius 16:24-28

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

MENGIKUTI YESUS

Tuhan Yesus datang dari surga dan menjadi manusia. Realitas inkarnasi ini hendak menunjukkan kepada manusia, bahwa kita pun berasal dari surga dan mesti kembali ke surga. Bagaimana merintis jalan kembali? Satu-satunya cara adalah menjadi pengikut Yesus. Injil hari ini memberikan gagasan penting berkaitan.

[I] MENJADI MURID YESUS

Demikian gurunya, begitu pula muridnya. Yesus, Sang Guru telah melupakan diri-Nya sebagai Allah dan menjadi manusia. Ia melakukan semua itu dalam ketaatan kepada Bapa demi keselamatan dunia. Sebagai bukti komitmen cinta-Nya, Ia rela memikul salib untuk menanggung beban dosa manusia. Untuk itu, menjadi murid berarti mengikuti-Nya, agar menyerupai diri-Nya dalam pemikiran, perasaan, dan tindakan.

[II] PERBUATAN DAN PAHALA

Mengikuti Yesus, menyangkal diri, dan memikul salib adalah tindakan kehilangan nyawa. Para murid tidak berhak lagi atas dirinya sendiri. Seluruh hidupnya diserahkan total kepada Allah. Sebuah tindakan penuh pengurbanan yang berat. Namun, Yesus memberikan jaminan, justru dengan kehilangan nyawa, Tuhan akan memberikan nyawa. Bahkan, para murid tidak sekadar memeroleh hidupnya lagi, tetapi juga memiliki hidup Allah sendiri.

[III] INSPIRASI SANTO DOMINIKUS

St. Dominikus mendasarkan doa dan pelayanan pada kebenaran pengetahuan akal budi. Dalam setiap doa, hanya suara Allah yang dicari. Pun pula dalam pelayanan, wajah Allah yang ditemukan. Iman senantiasa direnungkan dalam alam pikiran, dibenamkan dalam hati, dan dikonfrontasikan dengan realitas, sehingga Allah dan kehendak-Nya menjadi muara dari seluruh pergulatan hidup. Maka, perbuatan bukan semata-mata tindakan manusiawi, tetapi dorongan kehendak Ilahi.

RENUNGAN 7 AGUSTUS 2025

RENUNGAN 7 AGUSTUS 2025

MATIUS 16:13-23

Kita sering mendengar kalimat “tak kenal maka tak sayang.” Setiap orang yang membuka diri dan mengenal saudara lainnya akan semakin manusiawi. Ia mengenal pikiran dan perasaan, harapan dan cita-cita, kegagalan dan kegelisahannya dari saudaranya.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita dengarkan bahwa Yesus pun ingin dikenal oleh orang-orang yang mengikuti-Nya. Ia mempertanyakan identitas diri-Nya yang diketahui oleh orang banyak dan para murid-Nya. Bagi Yesus identitas diri-Nya perlu diketahui dan dikenal orang banyak, agar mereka dapat memahami Yesus yang sesungguhnya dan tidak salah langkah dalam mengikuti-Nya.

Yesus bertanya kepada orang-orang tentang siapa diri-Nya. “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban orang bermacam-macam, bergantung pada informasi yang didapat dan pengalaman setiap pribadi. Sangat berbeda sekali. Figur seperti Yohanes Pemandi, Elia, Yeremia atau salah satu para nabi masih sangat dirindukan oleh orang banyak yang mengikuti Yesus. Orang banyak belum bisa melepaskan diri dari bayang-bayang nama besar di masa lalu.  Identitas Yesus belum dikenal dengan baik.

Pertanyaan Yesus berpindah kepada para murid-Nya. “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allahyang hidup!” Pengakuan Simon Petrus menjadi sangat penting bagi Yesus dan juga bagi para murid. Disilah identitas Yesus dikenali secara baik oleh para murid. Yesus Adalah Mesias Anak Allah yang Hidup. Ia pribadi yang diurapi oleh Allah. Pribadi yang menyelamatkan dan menebus umat manusia dari dosa dan mengantar pada hidup kekal. Yesus ingin dikenal dan Ia memperkenalkan diri dengan caranya sendiri.

Hari inipun kita diajak oleh Yesus untuk mengenal Dia. Dia yang nyata hidup dulu, sekarang dan selamanya. Dia yang selalu bertanya kepada kita tentang identitas diri-Nya, tetapi juga identitas saya dan Anda sekalian sebagai murid-murid di jaman ini. Identitas kita masing-masing sebagai muridNya dalam gereja Katolik. Gereja yang didirikan oleh Yesus. Hal ini selaras dengan yang dikatakan Yesus kepada Simon Petrus,”Engkau adalah Petrusdan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Gereja Yesus Kristus dibangun di atas dasar pengakuan iman rasul Petrus dan kuasa maut tidak akan menguasainya. Iman yang kita terima adalah iman yang diterima, dihidupi dan dihayati oleh para rasul dan diteruskan kepada kita hingga saat ini. Iman yang diterima oleh para rasul dengan segala jatuh bangun dan mereka teruskan ke setiap tempat dengan air dan darah.

Yesus mendirikan Gereja di atas batu karang. Simon Petrus sang batu karang. Ia menerima otoritas itu dari Yesus Tuhan. Otoritas itu dipegang rasul Petrus dan para penggantinya. Sesungguhnya Yesus sendirilah batu karang yang kokoh kuat. Batu karang yang tidak akan hancur oleh apapun. Gereja yang tetap tegak berdiri hingga saat ini. Di dalam segala kerapuhan dan kekuatan, Yesus selalu menyertai gereja-Nya. Mari kita mengenal lebih dalam Yesus Tuhan yang kita imani dan gereja-Nya yang tetap ada selamanya. (rm. Medyanto, o.carm)

Di Gunung, Kita Mulai Melihat

Di Gunung, Kita Mulai Melihat

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Lukas 9:28b–36 | Pesta Transfigurasi – 6 Agustus

Mengapa peristiwa transfigurasi Yesus terjadi di atas gunung? Bukankah Yesus bisa menyatakan kemuliaan-Nya di mana saja? Tapi gunung dalam Kitab Suci selalu menjadi tempat perjumpaan—tempat orang “naik”, menjauh sejenak dari keramaian, dan membuka diri dalam keheningan.

Saat Yesus berdoa di gunung, wajah-Nya bercahaya, pakaian-Nya berkilau. Tapi mungkin yang berubah bukan Yesus—melainkan mata para murid. Terang itu bukan baru muncul. Terang itu sudah ada, hanya belum mereka sadari. Dan dalam keheningan, mata mereka dibuka.

Sering kali kita juga seperti itu. Kita menunggu pengalaman rohani yang luar biasa, padahal yang ilahi sudah hadir dalam hidup kita sehari-hari—di tengah kesibukan, relasi, pekerjaan, bahkan dalam lelah dan luka. Kita hanya perlu “naik ke gunung” batin kita: berhenti sejenak, hadir sepenuhnya, dan melihat dengan mata hati yang tenang.

Transfigurasi bukan hanya tentang Yesus yang bercahaya, tapi tentang kesadaran kita yang berubah. Yang ilahi tidak terpisah dari yang biasa. Wajah yang bersinar di gunung adalah wajah yang sama yang nanti akan menderita. Dalam hidup pun begitu: terang dan gelap bukan dua hal yang terpisah, tetapi satu gerak yang utuh.

Hari ini, mari kita naik ke “gunung” kita masing-masing. Bukan untuk lari dari dunia, tapi untuk melihat dunia dengan cara yang baru. Karena mungkin terang itu sudah lama hadir—kita hanya belum sempat memperhatikannya.

Translate »