Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Pengharapan tidak mengecewakan!

Pengharapan tidak mengecewakan!

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Matius 14:22-36

Selasa, 5 Agustus 2025

Dalam hidup dan kehidupan sehari – hari, berbagai tantangan, kesulitan, rintangan dan penderitaan membuat kita sering kurang bahkan tidak merasakan kehadiran Tuhan. Akibatnya ketika bahtera hidup kita diterpa gelombang, tidak jarang iman kita goyah, dan kita menjadi ragu bahkan takut seperti para murid Yesus. Namun Sabda Tuhan, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” dalam warta hari ini kiranya mengingatkan dan meneguhkan iman kita bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Sebaliknyalah justru kitalah yang seringkali meninggalkan Dia.

Ketika Petrus berjalan di atas air menuju kepada Yesus, ia takut akan tiupan angin, dan iapun berteriak, “Tuhan, tolonglah aku! Tuhanpun mengulurkan tangan dan bersabda kepada Petrus, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”  Teguran untuk Petrus ini kiranya masih sangat cocok bagi kita yang hidup di zaman ini. Sebab sebagaimana Petrus, kita sering merasa takut dan ragu mengarungi lautan hidup ini. Sebenarnya tidak ada alasan untuk takut dan ragu sebab Tuhan ada bersama kita. Akan tetapi realitanya seperti Petrus, kita tetap merasa takut. Mengapa ? Karena kita kurang atau bahkan tidak merasakan kehadiran Tuhan. Karenanya, mungkin juga kurang percaya kepadaNya.

Redupnya kepercayaan kepada Tuhan yang dialami oleh penduduk dunia jaman ini ditangkap oleh Paus Fransiskus. Keadaan inilah kiranya yang merupakan salah satu alasan beliau dalam tahun yubileum ini mendasarinya dengan bulla “Spes non confundit”, Pengharapan Tidak Mengecewakan [Rm 5:5]. Kita tahu bahwa di antara iman, harapan dan kasih, yang paling besar adalah kasih, dan yang paling kecil adalah harapan. Akan tetapi yang paling kecil menentukan 2 yang lain. Artinya siapapaun yang harapannya kecil, maka iman dan kasihnya juga kecil. Sebaliknya siapa saja yang harapannya besar, maka dapat dipastikan iman dan kasihnya juga besar. Karenanya jangan pernah kehilangan harapan. Siapa saja yang kehilangan harapan berarti kehilangan segalanya. Dalam keadaan apapun mari kita tetap berharap. Karena Dia yang kita imani dan kasihi tetap layak untuk kita harapkan. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” sabda ini menegaskan bahwa Pengharapan tidak mengecewakan!

Senin Pekan Biasa XVIII

Senin Pekan Biasa XVIII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm


4 Agustus 2025
Bil 11: 4-15 + Mzm 81 + Mat 14: 13-21

Lectio
Suatu hari setelah Yesus mendengar berita pembunuhan Yohanes, menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Meditatio
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Ketidakberdayaan umat semakin mendatangkan belaskasih Allah. Malah tak jarang Dia memanggil dan memanggil setiap orang datang kepadaNya. Datanglah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat.
Makanan memang menjadi kebutuhan sehari-hari. Apakah para murid berkata-kata: ‘tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa’, karena mereka ingat akan sungut-sungut bangsa Israel yang kelaparan? (Bil 11). Yesus malah meminta mereka memberi mereka makan.
Akhirnya setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya. Bagaimana semakin tersedianya roti pada waktu itu, tidak dituliskan dalam Injil memang. Apakah tiba-tiba roti dan ikan itu bertumpuk-tumpuk atau Yesus terus memotong dan memotongnya sehingga jumlahnya semakin banyak?
Murid-murid-Nya membagi-bagikan makanan kepada orang banyak sampai kenyang, dan bahkan ada roti yang sisa sebanyak dua belas bakul penuh. Semuanya ini terjadi setelah mereka membawa lima roti dan dua ikan kepada Yesus. Keberanian para murid membawa segala yang mereka miliki kepada Kristus membuat mereka mampu berbagi, sebagaimana Allah yang penuh belaskasih.

Oratio
Ya Yesus Kristus, apa yang kami miliki semuanya adalah anugerahMu, bantulah kami untuk semakin berani berbagi terhadap sesama. Amin

Contemplatio
‘Kamu harus memberi mereka makan’.

Semua adalah Kesia-siaan

Semua adalah Kesia-siaan

Minggu ke-18 dalam Masa Biasa [C]

3 Agustus 2025

Pengkhotbah 1:2; 2:21-23

“‘Segala sesuatu adalah kesia-siaan!’ kata Qoheleth (Pengkhotbah 1:2; 12:8).” Apa arti pernyataan yang keras ini? Apakah setiap usaha manusia benar-benar sia-sia?

Suara di balik kitab ini memperkenalkan dirinya sebagai Qoheleth—sebuah istilah Ibrani yang berarti “orang yang mengumpulkan orang-orang,” tentunya dengan tujuan untuk memberikan pengajaran. Oleh karena itu, Qoheleth sering diterjemahkan sebagai “sang Guru” atau “sang Pengkhotbah.” Dia mengidentifikasi dirinya sebagai putra Daud dan raja di Yerusalem (1:1), seorang tokoh yang dianugerahi kebijaksanaan, kekuasaan, dan kekayaan yang luar biasa. Namun, dari posisi yang tinggi ini, setelah seumur hidup merenungkan makna hidup, dia akhirnya menyimpulkan: Segala sesuatu adalah “hevel.”

Kata Ibrani hevel (הֶבֶל) menggambarkan uap, angin yang berlalu, atau nafas yang singkat. Seperti kabut yang menghilang di kala fajar, hevel mewakili apa yang sementara, sulit ditangkap, dan pada akhirnya tidak dapat memuaskan. Metafora yang Qoheleth gunakan adalah “seperti mengejar angin” (1:14), dan hal ini menggambarkan dengan jelas perjuangan manusia yang tak henti-hentinya untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat digapai.

Perjalanan Qoheleth dimulai dengan mencari kebijaksanaan itu sendiri. Ia menceritakan bagaimana ia mengejar pengetahuan tanpa henti, melampaui semua orang yang datang sebelumnya (1:16). Namun, alih-alih kepuasan, ia menemukan bahwa kebijaksanaan yang lebih besar justru menambah kesedihannya (1:18). Hal ini tampak paradoksal— bukankah kita menganggap bahwa belajar membawa kejelasan dan kedamaian? Qoheleth mengungkapkan batas-batas kebijaksanaan duniawi: semakin kita tahu, semakin kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab tentang kehidupan dan kematian kita sendiri.

Kesenangan pun tak lebih baik. Ia menguji setiap kesenangan, seperti kemewahan, seni, kenikmatan sensual (2:1-11), dan dia menyimpulkan bahwa kesenangan ini bersifat sementara. Kekayaan dan prestasi pun terbukti sama kosongnya. Tak ada yang dibawa ke kubur; ahli waris mungkin menghamburkannya, dan bahkan pencapaian terbesar pun lenyap dari ingatan. Kematian, sang penyama, menjadikan semua pencapaian manusia tak berarti (2:14-16; 9:2-6).

Di tengah realisme yang keras ini, Qoheleth mengingatkan pendengarnya pada satu kebenaran yang tak berubah: “Takutlah kepada Allah dan taatilah perintah-Nya, sebab inilah seluruh kewajiban manusia” (12:13). Di dunia di mana segala sesuatu lepas dari jari-jari kita seperti pasir, hanya Allah yang kekal. Tujuan kita bukanlah untuk mengumpulkan apa yang sementara, tetapi untuk menyelaraskan hidup kita dengan kehendak-Nya yang kekal.

Namun, perspektif Qoheleth tetap terikat pada dunia ini. Ia berjuang dengan kehidupan “di bawah matahari” tetapi tidak menawarkan harapan yang jelas setelah kematian. Kematian, baginya, tampak seperti batas akhir yang sunyi (3:19-20; 9:5-6). Adalah Yesus yang kemudian membawa ketegangan ini ke dalam penyelesaian yang sempurna. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13–21), Kristus mengulang peringatan Qoheleth tentang bahaya mengikat diri pada harta duniawi, namun memperluasnya dengan janji kehidupan kekal. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita memiliki sekarang menjadi berarti karena di dalam Kristus, semua ini mempersiapkan kita untuk hidup kekal. Selama kita tidak menjadi seperti orang bodoh yang terikat pada hal-hal duniawi, kita selalu memiliki harapan bahwa apa yang kita lakukan dan miliki menjadi berkat bagi kita dan sesama.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana perspektif Qoheleth menantang asumsi modern tentang kesuksesan? Dalam hal apa kita telah mengalami “kesia-siaan” dalam hidup ini? Bagaimana pengajaran Yesus tentang kehidupan kekal mengubah cara kita berinteraksi dengan hal-hal sementara?

“Investasi Rohani”

“Investasi Rohani”

Rm Yusuf Dimas Caesario

“Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang… dan seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.”
(Mat 13:44-46)

Pernahkah Anda menemukan sesuatu yang begitu berharga, sampai-sampai rela mengorbankan hal lain demi mendapatkannya?

Yesus hari ini mengisahkan dua perumpamaan mini:

Seorang petani yang secara tak sengaja menemukan harta terpendam.

Seorang pedagang yang memang mencari mutiara paling indah.

Dua orang, dua jalan berbeda—tapi satu reaksi yang sama: menjual semua miliknya demi memperoleh harta tersebut.

Bayangkan jika si petani atau pedagang tadi hidup di zaman sekarang.
Mungkin ia akan berkata:
“Duh, kalau jual semuanya, saya kehilangan rumah, mobil, motor, HP, tabungan! Mikir-mikir dulu, deh!”

Tapi mereka tidak menunda. Mereka tahu ‘keuntungan’ kekal yang akan mereka peroleh. Maka mereka rela melepaskan harta yang semula, demi mendapatkan suatu harta yang jauh tak ternilai harganya. Inilah investasi rohani.

Kerajaan Allah memang tidak kelihatan dengan kasat mata, tapi punya nilai kekal yang tak tergantikan.

Kerajaan Allah bukan sekadar surga setelah mati, tetapi juga pengalaman akan Allah di dunia ini—dalam kasih, keadilan, dan damai yang diperjuangkan hari demi hari.

Kerajaan itu berharga, tapi juga menuntut pengorbanan. Menjadi murid Kristus berarti rela meninggalkan “ladang kenyamanan” demi mendapatkan “mutiara” yang sejati.

Setiap orang dipanggil dengan cara berbeda. Ada yang “menemukan” Tuhan tanpa dicari (petani), ada yang “mencari” Dia seumur hidup (pedagang). Tapi ujungnya sama: mereka memberi segalanya.

Pertanyaan Reflektif:

Apa yang selama ini saya kejar dalam hidup: harta fana atau kekayaan kekal?

Apakah saya sungguh rela “menjual segalanya”—waktu, ego, kenyamanan—demi mengikuti Kristus lebih dekat?

Apakah saya telah menemukan “mutiara” sejati dalam hidup saya—dan menjaganya agar tidak hilang?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkau adalah harta dan mutiara terindah dalam hidup kami.
Arahkan hati kami untuk tidak terpikat pada hal-hal duniawi yang menipu.
Berilah kami keberanian untuk melepaskan segala sesuatu yang menghalangi kami dari kasih-Mu.
Jadikan hidup kami ladang yang subur bagi Kerajaan-Mu.
Amin.

RENUNGAN: TGL. 29 JULI 2025

RENUNGAN: TGL. 29 JULI 2025

Rm Ignatius Joko Purnomo

Yohanes 11:19-27

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Dalam Injil hari ini, kita berjumpa dengan Yesus dengan Marta, setelah kematian saudaranya, Lazarus. Kisah ini tidak hanya berbicara tentang duka karena kematian, tetapi juga tentang iman, pengharapan, dan janji kebangkitan.

Bayangkan situasi Marta. Ia baru saja kehilangan saudara yang sangat ia kasihi. Rumah mereka dilingkupi kesedihan. Orang-orang Yahudi datang menghibur mereka. Suasana penuh air mata dan duka. Dan dalam kesedihan itu, Marta mendengar bahwa Yesus datang. Ia segera pergi menyongsong-Nya, dan mengucapkan kalimat yang menyayat hati: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Kalimat ini menggambarkan dua hal: kesedihan dan pengharapan. Kesedihan karena kehilangan. Tetapi di balik itu, Marta menyatakan harapan dan kepercayaannya kepada Yesus. Ia percaya bahwa Yesus berkuasa atas kehidupan. “Sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Marta tidak memahami semua yang terjadi, tetapi ia tetap percaya. Inilah iman sejati: bukan sekadar percaya ketika semuanya baik-baik saja, melainkan percaya ketika hidup terasa gelap, tidak adil, dan penuh air mata. Marta belum tahu bahwa Yesus akan membangkitkan Lazarus.

Menanggapi pernyataan Marta, Yesus tidak memberi penjelasan panjang lebar. Ia membawa Marta melangkah lebih dalam. Ia berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.” Pernyataan ini adalah pusat iman Kristen. Kebangkitan bukan sekadar suatu peristiwa masa depan; kebangkitan adalah pribadi Yesus sendiri. Dalam Dia, hidup baru telah dimulai. Dalam Dia, kematian tidak lagi berkuasa. Ini bukan sekadar penghiburan spiritual, tetapi janji nyata yang tergenapi dalam kebangkitan Kristus sendiri. Kemudian Yesus bertanya kepada Marta: “Percayakah engkau akan hal ini?”

Saudara-saudari terkasih, pertanyaan ini juga ditujukan kepada kita semua hari ini. Di tengah segala pengalaman hidup; entah suka atau duka, sehat atau sakit, sukses atau gagal; Yesus bertanya: “Percayakah engkau?” Percaya bahwa bersama Kristus, hidup kita tidak berakhir di liang kubur. Percaya bahwa dalam Dia, ada hidup yang lebih dalam, lebih penuh, lebih kekal. Dan jawaban Marta luar biasa: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkau adalah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”  Sebuah pengakuan iman yang setara dengan pengakuan Petrus. Dan pengakuan ini lahir bukan dari suasana sukacita pesta atau kemenangan, tetapi dari tengah siatuasa dukacita. Marta tetap percaya walaupun Lazarus telah mati. Iman Marta ini menjadi teladan bagi kita semua. Dalam kehidupan kita, pasti ada masa-masa ketika kita juga mengalami kehilangan dan kesedihan. Mungkin kita kehilangan orang terkasih. Mungkin harapan kita tidak tercapai. Mungkin kita kecewa dan merasa Tuhan terlambat datang. Namun, seperti Marta, kita diajak untuk tetap datang kepada Yesus. Menyampaikan isi hati kita. Menyampaikan kekecewaan dan harapan kita. Dan yang lebih penting: kita diajak untuk percaya. Percaya bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya akan mengalami hidup kekal.

Oleh karena itu, marilah kita memperbarui iman kita kepada Kristus. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Kristus adalah harapan pasti. Di tengah hidup yang rapuh, Dia adalah kehidupan kekal. Di tengah duka dan kematian, Dia adalah kebangkitan. Semoga kita semua, seperti Marta, dapat berkata dengan teguh: “Ya, Tuhan, aku percaya.”

Translate »