Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Krisis Kebapaan

Krisis Kebapaan

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [C]

27 Juli 2025

Lukas 11:1-13

Banyak masyarakat saat ini menghadapi krisis yang sunyi namun sangat berbahaya: krisis kebapaan. Namun, apa sebenarnya krisis ini, dan bagaimana kita dapat menghadapinya?

Pada intinya, krisis ini mencerminkan kenyataan di mana jutaan anak tumbuh tanpa figur ayah yang autentik. Banyak ayah secara fisik tidak hadir; yang lain secara emosional jauh atau gagal mencontohkan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan anak-anak mereka. Sementara itu, budaya modern—melalui film, iklan, video game, dan media—sering menggambarkan pria sebagai penjahat yang kejam atau sosok yang ceroboh dan tidak tegas. Jarang sekali mereka digambarkan sebagai pemimpin yang penuh kasih dan bertanggung jawab.

Erosi peran bapak ini lambat laun merusak struktur masyarakat. Studi secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan tanpa keterlibatan sang ayah menghadapi risiko lebih tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba dan alkohol, gangguan mental, prestasi akademik yang buruk, kehamilan remaja, dan perilaku kriminal. Akibatnya sangat mendalam dan luas bagi masyarakat kita.

Bagaimana kita menghadapi krisis ini? Tidak ada solusi yang mudah, tetapi kita dapat memulai dengan berpaling kepada Yesus. Di hadapan tantangan global ini, doa yang Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya, yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami, menjadi lebih semakin relevan bagi dunia.

Aspek paling mencolok dari doa ini adalah cara Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Allah. Meskipun Allah adalah Pencipta Yang Mahakuasa dari langit dan bumi, Allah dari Perjanjian Lama, Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk memanggil-Nya “Allah,” tetapi Dia mengajarkan kita untuk memanggil-Nya, “Bapa Kami yang di surga.” Dengan menggunakan istilah yang intim dan manusiawi ini, Yesus mengungkapkan kebenaran yang mendalam: Allah bukan hanya maha kuasa, tetapi juga sangat dekat dengan kita. Dia bukan tuhan yang jauh, absen, dan acuh tak acuh, tetapi Bapa yang penuh kasih yang menyediakan, melindungi, dan membimbing anak-anak-Nya. Seperti yang diingatkan dalam Ulangan 4:7, Dia dekat “setiap kali kita memanggil-Nya.”

Namun Yesus lebih lanjut menjelaskan bahwa Allah adalah “Bapa di surga”. Dia berbeda dengan ayah-ayah di dunia ini, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Allah mengasihi kita dengan sempurna, memberikan sinar matahari dan hujan kepada orang yang benar maupun yang tidak benar (Mat 5:45). Bahkan dalam penderitaan, cara-Nya mungkin tampak misterius, tetapi kebijaksanaan-Nya sebagai Bapa tetap bekerja bahkan di tengah cobaan. Pada akhirnya, keinginan-Nya yang paling dalam adalah agar kita tinggal bersama-Nya di surga (1 Tim 2:3-4). Seperti yang Yesus nyatakan dalam Yohanes 3:16, “Sebab Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bapa mengasihi kita, anak-anak-Nya, begitu dalam sehingga Ia mengutus Anak-Nya sendiri untuk menjadi manusia seperti kita agar membawa kita pulang.

Setiap kali kita berdoa “Bapa Kami,” kita menegaskan dua kebenaran: Pertama, meskipun kita tidak sempurna, kita memiliki Bapa yang sempurna yang mengasihi kita tanpa syarat. Kedua, doa ini memanggil kita, terutama kaum pria, untuk mencerminkan kebaikan-Nya. Yesus menantang kita untuk tumbuh dari ketidakdewasaan dan ketidakpedulian menjadi manusia yang memiliki kasih, dedikasi, dan tanggung jawab, manusia yang bersandar pada kekuatan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan: Bagaimana kita berhubungan dengan ayah kita? Apa pelajaran yang telah kita pelajari dari mereka? Apakah kita menjadi bapa yang baik (atau teladan) bagi generasi berikutnya? Bagaimana mengakui Allah sebagai “Bapa” mengubah hubungan kita dengan-Nya?

RENUNGAN 24 JULI 2025

RENUNGAN 24 JULI 2025


MAT 13 : 10-17

Tuhan Yesus hadir memberitakan Kerajaan Sorga. Kata-kataNya tidak selalu mudah dimengerti oleh para pendengar di jamannya. Ada orang yang bisa menangkap maksud Yesus. Namun ada pula yang tidak bisa menangkap perkataan Yesus.
Sama halnya dengan kita di jaman ini. Kita kerapkali tidak bisa menangkap pesan dan memahami kata-kata dalam Kitab Suci. Ada teks-teks yang sulit dipahami. Di sisi lain, ada teks-teks yang mungkin kita bisa cepat memahaminya. Di Tengah situasi pergumulan semacam itulah, kita membutuhkan rahmat Allah agar bisa memahamniya.

Nilai-nilai pengajaran Yesus sangat luhur dan agung. Sebuah inspirasi yang tak lekang oleh zaman, dan membantu kita memahami situasi zaman dari sudut pandang Allah yang hidup. Nilai-nilai itulah yang kita cari, temukan, pahami dan akhirnya kita hidupi dalam keseharian.

Dari pihak kita sebagai murid Yesus, sangat diharapkan memiliki sikap terbuka dan rendah hati tidak berhenti membaca pesan Yesus sesuai konteks jaman saat ini. Yesus telah memberikan kemampuan setiap murid-Nya untuk mengerti dan memahami pesan-Nya. Yesus berkata, “Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi orang-orang lain tidak. Karena barangsiapa mempunyai, akan diberi lagi; tetapi barangsiapa tidak mempunyai, maka apa pun yang ada padanya akan diambil juga.” Para pengikut Kristus sebenarnya sudah diberi kemudahan untuk memahami perkataan Yesus. Inilah nilai lebihnya dari para murid Yesus daripada mereka yang bukan murid-Nya. Tidak mengherankan banyak bukan pengikut Yesus keliru atau salah dalam memahami kata-kata dan tindakan Yesus.

Kita telah diberi rahmat, karunia untuk mengerti ajaran Yesus. Jangan sampai rahmat dan karunia itu hilang karena tidak kita gunakan dengan baik dalam memahami teks-teks ajaran Yesus. Bersyukur atas rahmat tersebut. Kita diberi kemampuan lebih dan tidak mudah keliru menangkap pesan Yesus.
Membaca teks, masuk dalam keheningan, merenungkan, mengulangi kembali membaca teks. Itulah salah satu jalan kita mengenal, mengerti dan memahami ajaran dan pesan Yesus. Semoga Roh Kudus selalu menerangi dan membantu kita memahami ajaran Yesus. Tuhan memberkati keluarga. (rm. Medyanto, O.Carm)

Yang Tak Pernah Hilang, Hanya Belum Disadari

Yang Tak Pernah Hilang, Hanya Belum Disadari

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Yohanes 15:1–8

Pada tanggal 24 Juli 1911, dunia luar untuk pertama kalinya mendengar nama Machu Picchu, sebuah kota peninggalan Inka yang megah dan tersembunyi di antara kabut pegunungan Cusco. Sejak saat itu, Machu Picchu menjadi simbol keajaiban budaya dan spiritualitas Andes. Namun bagi penduduk lokal, tempat itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam ingatan kolektif, dalam langkah-langkah para petani dan peziarah yang melintasi jalur gunung setiap hari. Yang ditemukan kembali bukan sekadar reruntuhan, tetapi sebuah kehadiran yang telah lama ada, namun belum diakui.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Akulah pokok anggur yang benar… Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Ini bukan ajakan untuk mencari sesuatu yang jauh, tetapi untuk menyadari kembali bahwa kita sudah terhubung dengan sumber hidup itu. Persatuan antara ranting dan pokok bukan sesuatu yang perlu diupayakan secara paksa—ia sudah ada. Yang sering hilang bukan ikatan itu, tetapi kesadaran kita akan kehadirannya.

Kita seperti orang-orang yang berdiri di kaki Machu Picchu, tetapi tertutup kabut. Kita hidup di dekat sumber, namun sibuk mencari di tempat lain. Kita ingin berbuah, namun lupa untuk tinggal. Padahal ranting tidak menghasilkan buah dengan usaha keras, melainkan dengan tetap menyatu dengan pokoknya. Hidup yang berbuah adalah hidup yang hadir, yang sadar, yang terbuka terhadap aliran kasih yang tak pernah berhenti dari Sang Pokok Hidup.

Buah bukan hasil dari ambisi rohani. Ia muncul dari hidup yang utuh, dari seseorang yang tidak terbagi antara dunia dan doa, antara relasi dan ibadah, antara batin dan tindakan. Seperti Machu Picchu yang berdiri tenang di antara kabut selama ratusan tahun, hidup yang terhubung dengan pokok tidak tergesa membuktikan apa-apa—ia cukup ada, cukup hadir, dan dari kehadiran itu, muncul kekuatan yang menghidupkan.

Yesus tidak menyuruh kita untuk berprestasi rohani, tetapi untuk tinggal. Tinggal bukan berarti pasif, tapi berarti menyatu. Tidak terbagi. Tidak terseret ke sana kemari oleh penilaian, keinginan, atau pencitraan. Karena hanya dari tempat itu, buah yang sejati akan muncul—bukan sebagai hasil kerja keras, tetapi sebagai pancaran dari hidup yang terhubung.

Maka seperti Machu Picchu yang ditemukan kembali setelah lama tersembunyi, hari ini kita pun diajak untuk menemukan kembali kehadiran Tuhan yang telah lama diam di dalam hidup kita. Bukan dengan mendaki ke puncak, tetapi dengan diam, tinggal, dan menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah. Dan dari situ, kasih akan tumbuh. Diam-diam. Tapi nyata.

Bertumbuh dalam misteri Paskah

Bertumbuh dalam misteri Paskah

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Pesta St. Maria Magdalena

Yoh 20:1.11-18

Selasa, 22 Juli 2025

Kita pasti menegnal peribahasa “air susu dibalas air tuba”, kebaikan dibalas dengan kejahatan atau perbuatan baik kepada seseorang dibalas dengan perbuatan jahat. Hal semacam ini sering terjadi di antara manusia. Namun tidak demiakian di dalam Allah. Kasih yang tulus dan total Maria Magdalena dibalas oleh Tuhan. Tangisan Maria Magdalena di makam kosong merupakan sebuah ungkapan rasa kehilangan, ungkapan kasih yang total kepada Yesus. Kasih yang total itu tidak dibatasi waktu, tidak dihalangi penderitaan pun kematian. Yesus pun menampakan diri bagaikan sebuah jawaban atas kasih Maria Magdalena. Perhatian yang diungkapkan-Nya dengan memanggil Maria dengan namanya [Yoh 20:16] membuat Maria segera mengenali panggilan itu berasal dari Tuhannya. Karena itu iapun segera menjawab “Guru!”. Pengenalan Kembali akan Yesus yang sengsara, wafat dan bangkit membuat Maria Magdalena dipenuhi semangat baru, diteguhkan imannya, dierkuat harapannya dan dimurnikan kasihnya. Maria Magdalena mengalami perkembangan iman yang luar biasa: dari belum mengerti dan belum percaya menjadi mengerti dan percaya sungguh. Karenanya Mariapun menjadi saksi kebangkitan Kristus. “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dialah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya [Yoh 20:18].

Apakah kita seperti Maria, mencari Yesus yang hidup di kubur kosong? Semoga pengalaman rohani Maria Magdalena sungguh meneguhkan iman kita bahwa Dia sudah bangkit dari kematian. Dia akan datang lagi untuk menjemput setiap orang percaya masuk dalam hidup yang kekal, sebagaimana difirmankan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” [Yoh 14:1-3]. Jika Maria Magdalena diutus untuk jadi saksi dan pewarta kebenaran kebangkitan Tuhan, kita pun diutus menjadi saksi dan mewartakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk memberitakan kebenaran tersebut

Mengasihi dan mengimani Tuhan bukanlah soal mengucapkan “aku percaya” semata, melainkan butuh sikap tulus dan total. Iman, kasih dan harapan harus tampak dalam pengalaman hidup, khususnya dalam setiap penderitaan dan kesulitan. Kesetiaan mengasihi Tuhan dalam penderitaan akan mendapatkan balasan dari pada-Nya. Semoga pengalaman rohani St. Maria Magdalena menginspirasi kita.

Senin Pekan Biasa XVI

Senin Pekan Biasa XVI

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Senin Pekan Biasa XVI
21 Juli 2025
Kel 14, 5-18 + Mzm + Mat 12, 38-42

Lectio
Pada saat itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!”

Meditatio
Yesus tidak pernah menyatakan diriNya secara terbuka. Yesus tidak pernah mengatakan Akulah Allah yang menjadi Manusia. Akulah Mesias. Yesus tidak pernah menyatakan seperti itu. Hari ini Yesus menyatakan siapakah diriNya dengan berkata: ‘sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus atau Salomo!’. Yesus menyatakan semuanya itu di hadapan kaum Farisi dan para ahli Taurat. Seharusnya mereka semua langsung percaya, tetapi tidaklah demikian. Sepertinya segala kecenderungan inderawi mereka haruslah dipenuhi oleh Yesus. ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu’. Itulah seruan mereka kepada Yesus, dan Yesus hanya menegaskan: ‘angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda’.
Sulit kali mengajak setiap orang untuk diselamatkan; bukan saja bagi mereka yang tertindas, terdesak dan tidak mapan hidup, sebagaimana dilambangkan kaum Israel yang keluar dari Mesir (Kel 14-15), tetapi juga orang yang mapan dan pandai, sebagaimana ditampilkan oleh kaum Farisi dan para ahli Taurat.
‘Seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam’, tegas Yesus. Kita semua orang-orang yang percaya kepadaNya. Dialah Kebangkitan dan Hidup. Tantangan kita adalah bertambahnya hari seharuslah bertambahlah iman kepercayaan kita.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau menyatakan diri bahwa Engkau melebihi Salomo ataupun Yunus, sebab memang Engkaulah Kebangkitan dan Hidup. Semoga kami hari demi hari semakin berani percaya dan berpasrah hanya padaMu. Amin.

Contemplatio
‘Sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus atau Salomo!’.

Translate »