Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Renungan Oktober 23

Renungan Oktober 23

Rm Marya SJ (rektor Seminari Mertoyudan, Magelang)
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi”

(Rm 6:19-23; Luk 12:49-53)

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.” (Luk 12:49-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Ketika api membakar gedung atau rumah pada umumnya semuanya akan ludes tak berbekas lagi, namun jika ada emas murni di dalam gedung atau rumah tersebut, yang mungkin disimpan begitu rahasia, akhirnya akan semakin kelihatan dengan jelas: emas murni terbakar akan semakin kelihatan kemurnian atau keasliannya. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan ‘jati diri’ kita yang benar serta tidak berpura-pura atau bersandiwara. Secara konkret ketika telah menempuh hidup baru, entah hidup berkeluarga sebagai suami-isteri atau membiara atau imamat, henndaknya hidup dan bertindak sesuai dengan spiritualitas hidup baru terkait. Hendaknya kita hidup dan bertindak dijiwai spiritualitas, dan bukan lagi terkuasai oleh semangat daging atau nepotisme. Ketika anda memiliki profesi berdagang hendaknya bekerja sesuai dengan tata tertib atau aturan berdagang yang baik, demikian juga profesi-profesi lainnya. Secara khusus kami berharap kepada para peserta didik atau pelajar, yang memiliki jati diri atau panggilan belajar, untuk sungguh membaktikan diri dalam belajar, memboroskan waktu dan tenaga untuk belajar. Jika selama berprofesi sebagai pelajar atau peserta didik anda sungguh belajar dengan baik, maka kelak dalam profesi apapun pasti akan hidup dan bertindak sesuai dengan profesi terkait. Kepada anda yang berkeluarga sebagai suami-isteri kami harapkan setia dalam saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, dalam sakit maupun sehat, karena dengan demikian berarti cara hidup dan cara bertindak anda akan mempengaruhi sikap mental anak-anak anda: setia pada panggilan dan tugas pengutusannya.

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 6:22-23). Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua agar senantiasa ‘bebas merdeka’ alias menjadi ‘hamba Allah’ dalam cara hidup dan cara berindak apapun dan dimana pun, tidak dikuasai oleh dosa atau melakukan dosa dan kejahatan sekecil apapun. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah Allah, dan hemat saya kehendak dan perintah Allah yang utama dan pertama adalah ‘saling mengasihi sebagaimana Allah  telah mengasihi kita’. Sekali lagi saya angkat di sini bahwa wujud kasih yang utama adalah boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih, maka baiklah jika kita saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain, dan tentu saja pertama-tama dan terutama terjadi dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing. Jika kita dengan mereka yang hidup dekat setiap hari dengan kita dapat saling mengasihi dengan baik dan benar, maka dengan mudah kita mengasihi orang lain. Sebaliknya jika dengan mereka yang dekat dengan kita tak mampu saling mengasihi dengan baik dan benar, maka mengasihi yang lain sungguh merupakan pelarian tanggungjawab, sebagaimana terjadi dengan suami atau isteri yang selingkuh dengan orang lain karena tak mampu saling mengasihi. Kita semua hendaknya setia menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan kita sendiri,yang utama atau pokok, dan jangan dengan mudah meninggalkan tugas atau panggilan utama dengan melaksanakan tugas sambilan. Mengapa orang senang melakukan tugas sambilan, karena tidak dituntut tanggungjawab dan pada umumnya juga memperoleh imbalan yang menarik. Sekali lagi kami ingatkan: jangan berselingkuh atau menyeleweng dari tugas dan panggilan utama atau pokok.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm 1:1-3)

Renungan Oktober 22

Renungan Oktober 22

Lukas 12:39-48  Bermental budak
Perbudakan memiliki sejarah panjang semenjak masa Yunani dan Romawi Kuno. Para budak didapatkan dari orang yang kalah perang, para nelayan yang ditangkap oleh penjahat dan dijual, tahanan, serta orang yang menjual diri sendiri sebagai budak karena kemiskinan.

Para budak menjadi barang milik tuannya yang bisa dijual atau
disewakan setiap waktu. Sering kali mereka diperlakukan sangat buruk oleh tuannya karena kesalahan-kesalahan kecil yang dibuat. Dunia Romawi menerima perbudakan sebagai bagian dari kehidupan social mereka, tidak ada yang salah dalam perbudakan.

Namun, tidak semua budak hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Ada budak yang sungguh baik, menerima jabatan tinggi, mengurus harta, menjadi bendahara, dan dipercaya oleh pemiliknya. Bahkan  kadang, karena jasanya yang besar pada tuannya, seorang budak bisa dibebaskan dan menjadi warga negara Roma, menjadi orang merdeka dan mendapat surat resmi dari pengadilan Roma.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus memakai perumpamaan seorang hamba yang setia menjalankan tugasnya bukan karena ia ketakukan akan majikannya. Biasanya seorang bawahan patuh karena ada atasannya. Ia melakukan tugasnya bila diawasi, dihukum bila salah, dan diberi hadiah bila baik kerjanya.

Yesus mengajak pendengarnya untuk tidak bermental seperti para budak Roma, namun menjadi pekerja yang tahu kewajiban, selalu berjaga-jaga, dan setia pada tugas entah diawasi atau tidak.

Ketika seorang anak bisa melakukan tugasnya dengan baik, tanpa diawasi, ia berkembang menjadi orang yang dapat bertanggungjawab dan diandalkan. Sebaliknya bila seseorang selalu harus diawasi agar bekerja baik, ia memiliki mental seorang budak!

Mana yang kita pilih?

Renungan Oktober 21

Renungan Oktober 21

Romans 5:12, 15, 17-21 “Biang Keladi”

Teks kitab suci dari Surat Roma hari ini amatlah terkenal untuk umat Katolik, karena ini menjadi salah satu sumber ajaran tentang doa asal.

Paulus berkata bahwa, dosa masuk ke dunia melalui satu orang yaitu Adam, dan karena dosa itu, semua manusia menerima konsekuensi dosa yaitu kematian. Seluruh dunia menjadi berdoa dan ada dalam keadaan dan suasana dosa karena ketidaktaatan Adam pada Allah.

Yesus menjadi Adam yang baru, karena dia taat pada Allah sampai mati di Salib. Ketaatan ini menyelamatkan semua manusia dari kuasa dosa. Kebangkitan dari Salib mengalahkan kuasa dosa yaitu kematian.

Kalau ditelusuri, sebenarnya Adam berdosa karena ia ingin menjadi seperti Allah, memakan buah terlarang sehingga ia tahu segala sesuatu. Biang keladinya adalah kehendak untuk berkuasa, ingin melampuai semua,ingin menjadi yang utama, dan tak ada yang mengalahkan, juga merasa superior.

Coba kalau sekarang kita telusuri, apa yang menjadi biang keladi dosa dan kejatuhan kita pada kesalahan? salah satunya adalah kehendak untuk menjadi yang utama, tak ingin dipandang rendah orang lain, ingin lebih dari yang lain.
Semoga hari ini, kita tidak menjadi biangnya kedosaan, tapi sumber utama dari kebaikan dan rahmat Allah.

Renungan Oktober 19

Renungan Oktober 19

Roma 4:13, 16-18
Dalam tradisi nama keluarga, banyak kelompok etnis akan meneruskan nama keluarga pada anak cucunya, sehingga mereka bisa menelusur pohon keluarga sampai beberapa keturunan. Kalau anda sempat pergi ke Salt Lake City, dan datang ke pusat pohon keluarga miliki Mormon Church, kita akan sangat tercengang, karena mereka miliki data yang sangat baik akan pohon keluarga. Setiap orang boleh memakai fasilitas mereka untuk menelusuri silsilah dan keturunan berdasarkan nama, lalu tahu asal muasal kita dari mana.

Bacaan pertama dari Roma 4:161-18, Allah berkata bahwa janji Allah akan tetap untuk keturunan Abraham, tapi keturunan menurut iman Abraham, bukan hanya menurut darah. Abraham dibenarkan oleh Allah karena kesetiaan dia pada Allah dan membuktikan dengan memberikan anaknya, Ishak, pada Allah.

Iman yang sama dari Abraham diteruskan pada kita, kata santo Paulus. Karena iman inilah orang dibenarkan dan menerima keselamatan.

Gereja Katolik menegaskan bahwa keluarga adalah awal dari Gereja, domestic church. Dari sinilah iman diteruskan oleh orang tua. Warisan keluarga yang paling berharga adalah iman karena memberi anak fondasi dan arah tujuan hidupnya. Semoga orang-orang tua bisa mewariskan kekuatan, harapan, dan kepercayaan iman pada anak-anaknya, sebelum mereka lepas dari orang tua.

Translate »