Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Renungan Oktober 14

Renungan Oktober 14

Lukas 11:29-32, “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.”

Sering orang memohon pada Yesus, “Tuhan berilah aku tanda, agar aku makin percaya padamu!” Dan apa yang dia dapatkan kadang hanya tanda tanya, tak ada pertanda, dan kosong belaka.

Orang yang berhadapan dengan Yesus ini meminta suatu tanda yang spektakuler dari dia, sehingga membuat mereka terperangah dan takjub. Sensasi yang demikian ingin didapatkan orang disaat dia dihadapkan pada persoalan berat, dan saat doa-doanya seperti tidak dijawab oleh Allah.

Yesus tidak akan memberikan tanda, karena meski ia mengajar dan membuat mukjijat mereka, orang farisi dan ahli Taurat,  tetap saja tidak percaya padanya. Pertanda dalam berbagai bentuk seperti mukjijat dan penyembuhan memang bisa menguatkan iman orang. Namun tidak selalu bahwa hidup beriman itu harus dengan pertanda dan kisah kesaksian yang mengejutkan sekaligus membuat heran. Bahkan sebagian hidup iman kita adalah rutinitas harian bisa, namun disitulah sebenarnya Tuhan bekerja luar biasa.

Semoga iman kita bisa tetap dalam dan kuat walau kita tidak melihat pertanda yang hebat, tak menyaksikan mukjijat yang menggemparkan. Yesus sendiri bersabda, “berbahagialah mereka yang tidak melihat tapi percaya!”
Kita memohon, semoga dalam peristiwa sehari-hari yang remeh dan sederhana, kita bisa menemukan Tuhan bekerja dengan cara luar biasa. Amin.

Renungan Oktober 12

Renungan Oktober 12

Lukas 11:27-28

“Berbahagialah mereka yang mendengarkan sabda Tuhan, dan melaksanakannya”

Apakah salah satu kebanggaan seorang ibu? Ia akan sangat bahagia bila salah satu anaknya hidup sukses dan punya status social tinggi dalam masyarakat. Sang ibu gembira karena merasa bahwa jerih payahnya dalam mendidik anak membuahkan hasil, tidak sia-sia. Ia tidak hanya bangga akan anaknya, tapi bangga pada dirinya sendiri karena mampu menjadi seorang ibu yang berhasil mendidik anak.

Begitu pula kisah dalam injil hari ini, seorang ibu mendekati Yesus dan berkata, “Betapa bangga ibuMu, melihat apa yang telah Engkau lakukan saat ini. Terberkatilah dia karena ibuMu telah membesarkan engkau sejak kecil, dan kini ia melihat hasilnya saat engkau dikenal banyak orang”

Dalam masyarakat yang mementingkan identitas social, status social seorang anak yang tinggi dalam masyarakat akan mengangkat nama baik orang tuanya juga. Sebaliknya, bila sang anak menjadi sampah masyarakat, nama baik orangtuanya akan tercoreng, dan memalukan keluarga.

Namun Yesus mengubah paradigm dan cara berfikir sang perempuan yang menemuinya. Yang membuat bahagia seorang ibu dan keluarga, bukanlah status sosial anak, bukan jabatan yang dia dapat, bukan kesuksesan dalam berkarier, tapi lebih dalam, berbahagialah mereka yang mendengar sabda dan melakukannya.

Kebahagiaan ditemukan ketika seseorang mendengarkan sabda Allah, meresapkan, dan menjalankan dalam hidup. Ia menjadi pelaksana sabda, dan membuat sabda Allah hidup dalam tindakan setiap hari.

Sabda Allah apa yang telah kita laksanakan, dan membuat kita bahagia?

Renungan Oktober 11

Renungan Oktober 11

Lukas 11:15-25, Vince in Bono Malum

Saat Yesus melakukan satu perbuatan baik, mengusir kuasa setan dari seseorang, ada orang lain menuduhnya bahwa Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pembesar Setan. Sebuah tuduhan yang keji karena muncul dari rasa iri dan dengki. Sering kita mengalami hal yang sama, saat kita berkonfrontasi dengan orang lain, musuh kita akan mencari segala cara untuk melemahkan posisi kita. Ia mengais-ngais informasi buruk untuk menjatuhkan kita.

Konfrontasi berat akan membawa pada sifat agrasif untuk menjatuhkan dan mengalahkan orang lain. Bahkan kadang kekerasan dipakai untuk mengalahkan dan menghalalkan semua cara demi mencapai kemenangan.

Yesus mengingatkan kita semua bahwa peperangan spiritual terus terjadi, kebaikan melawan kejahatan. Kadang kejahatan bisa menyelinap dan memanipulasi hal baik demi mencapai tujuan yang jahat. Contohnya adalah dengan memakai kedok agama dan sabda Allah untuk kepentingan dan kebutuhan pribadi saja.

Dalam bacaan hari lalu, Yesus berkata, “Jadi, jika kamu yang jahat saja tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, betapa lebih lagi Bapa yang dari surga, Dia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk. 11:13).

Jadi, mintalah Roh Kudus ketika kita berdoa agar Dia menerangi jiwa kita saat ada pergulatan dalam batin Antara yang baik dan yang jahat. Almarhum Mgr. Paskalis, uskup Purwokerto memiliki semboyan “Vince in Bono Malum,” kalahkan kejahatan dengan kebaikan!

Berbuatlah baik hari ini untuk mengalahkan kejahatan yang membayanginya.

Renungan Oktober 10

Renungan Oktober 10

Lukas 11:5-13, “Mintalah maka engkau akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibuka bagimu”

Berapa kali kita berkata, “aku sudah berdoa berulang kali, tapi Tuhan tak pernah menjawab doaku!” Bacaan hari ini berkata lain bahwa kita harus berdoa dan memohon terus menerus, sampai Tuhan membuka pintu untuk kita. Jangan pernah berhenti memohon dan bersyukur walau kadang kita merasa doa kita sia-sia.
Namun, bagaimana bila doa kita tetap tidak dijawab? Santo Cyrilius dari Alexandria berkata bahwa, “kadang kita meminta dan berdoa pada Tuhan tanpa memahami dan memilah apakah permohonan kita sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak.” Sering Tuhan memberi apa yang tidak kita doakan dan kita minta tapi sebetulnya kita butuhkan dalam hidup.
Dibagian akhir bacaan hari ini, Yesus berkata, “Allah akan memberikan Roh Kudus pada orang yang meminta padaNya.” Oleh karenanya, dalam doa kita hari ini, mohonlah penerangan Roh Allah agar kita sungguh tahu apa yang kita minta dan hal itu sesuai dengan kehendak Allah. Terlebih mintalah terang agar saat Tuhan memberi kita pengalaman dan hal yang sepertinya tak sesuai dengan hati dan keinginan, kita bisa melihat hal itu sebagai rahmat tersembunyi dalam sebuah pengalaman yang tak terduga. Selamat berdoa!

Renungan Oktober 9

Renungan Oktober 9

Luke 11:1-4, Doa Bapa  Kami

Bulan lalu sebelum keluar dari ruang periksa, dokter saya berpesan, “jangan lupa jalan kaki setiap hari minimal 15-30 menit! It will help you to maintain your weight!”
Sangatlah sederhanya pesannya, dan sering kita beranggapan bahwa hal sederhana akan mudah dilakukan. Namun nyatanya tidak demikian. Sederhana tidak selamanya mudah, bahkan kadang sangat sulit dilakukan karena menuntut komitmen dan disiplin diri.
Tuhan menyuruh Yunus untuk pergi ke Ninive, mengabarkan pertobatan pada penduduknya. Sepertinya tugas itu sederhana, namun Yunus mangkir dari perutusan itu. Ia melarikan diri dan tak mau menjalankan tugasnya.
Ketika Yesus mengajari muridnya berdoa, ia mengajak para murid berdoa “Bapa Kami.” Doa ini mudah dihapalkan bahkan oleh seorang anak kecil sekalipun.  Namun sering kita hanya mengucapkan tanpa mendalami  maknanya karena begitu terbiasa.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah America, Paus Fransiscus berkata bahwa salah satu usaha memahami kehendak Tuhan adalah dengan melakukan tugas harian yang sederhana tapi dengan hati terarah pada Allah. Pilihan harian yang sederhana dan kecil seperti naik mobil yang sederhana, membayar tagihan, mengunjungi orang yang  jarang disapa adalah bagian dari tugas sederhana, namun dilakukan dengan hati yang besar.

Agar bisa memahami doa yang sederhana, kita dituntut pula memiliki hati yang sederhana dengan mata batin tertuju pada Allah. Semoga tugas-tugas harian yang biasa dan remeh, tetap memberi kita jalan kecil menuju Allah.

Translate »