HIDUP DALAM IMAN
Sabtu, 30 Januari 2021
Markus 4:35-41
Yesus merindukan bahwa para murid-Nya sungguh percaya kepada-Nya. Dengan
berpegang teguh pada iman, mereka tidak akan takut lagi. “Mengapa kamu begitu takut?
Mengapa kamu tidak percaya? Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi hidup mereka
sehingga mereka tetap berdiri dan penuh dengan harapan. “Ia sama dengan seorang yang
mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas
batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat
digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.”(Luk 6:48). Dengan demikian, setiap
orang membutuhkan fondasi hidup yang kuat, sebab karena keterbatasannya sebagai
manusia, ia tidak bisa menghindari segala peristiwa yang susah dan menantang.
Dengan menyadari keterbatasannya sebagai manusia, seseorang akan terdorong
untuk terbuka bagi pertolongan Tuhan yang mampu diandalkan. Namun sebelum
seseorang bisa merasakan kekuatan dan pertolongan-Nya, maka diperlukan iman yang
kokoh akan Kristus. Dengan iman tersebut seseorang mampu membawa dan
menyerahkan semua pergulatan hidupnya kepada Tuhan. Pada saat itulah akan muncul
ketenangan, sebab dengan imannya, seseorang merasakan penyertaan-Nya, sehingga ia
mendapatkan cahaya harapan, dan bukti bahwa Dia ada dan berjalan bersamanya. “Iman
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang
tidak kita lihat.”(Ibrani 11:1).
Oleh karena itu, seorang beriman menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya
dan menjadi sumber kekuatan, semangat, dan motivasi hidupnya yang mengarah pada
hidup yang baik, penuh harapan dan kasih. Jika seseorang mengabaikan iman, ia sama
juga dengan hidup tanpa harapan dan motivasi. “Akan tetapi barangsiapa mendengar
perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan
rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan
hebatlah kerusakannya.”(Luk 6:49). Manusia sangat rapuh karena ia berasal dari debu
tanah, namun ia kuat karena Roh Kudus yang menyertainya. Jadi kekuatan bukan dari
dirinya sendiri tetapi dari kekuatan Kristus. “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk
manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya;
demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”(Kej 2:7).
Dengan menyadari keadaannya sebagai manusia, maka setiap orang akan memiliki
kerendahan hati dan jauh dari sikap sombong. Ia tidak mengandalkan dirinya sendiri,
namun percaya dan mengandalkan Allah. Segala yang baik dalam hidupnya adalah berkatberkat yang dititipkan dan dipercayakan oleh Allah untuk disyukuri dan dikembangkan.
Oleh karena itu bagi orang yang percaya, hidup dan segala dinamikanya dibingkai dalam
rajutan iman, dimana Kristus ada dan menyertainya. Dengan cara hidup yang demikan,
maka seseorang akan hidup dalam kedamaian dan keselamatan. “YA TUHAN, Engkau
akan menyediakan damai sejahtera bagi kami.”(Yesaya 26:12).
Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan CM