TUHAN ATAS HARI SABAT
Selasa, 29 Maret 2022
Yohanes 5:1-16
Tuhan Yesus berinisiatif untuk menyembuhkan orang yang sakit lumpuh karena tergerak oleh belas kasihan. “Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh 5:6). Dengan demikian tindakan Yesus tersebut menjadi jawaban dari seorang yang sudah menderita sakit lumpuh selama 38 tahun. “Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.”(Yoh 5:5).
Oleh karena itu apa yang dihadirkan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah kasih nyata. Yesus tidak hanya menyampaikan Sabda-Nya yang menumbuhkan harapan tetapi juga tindakan-Nya yang penuh kasih dan kepedulian. “Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.”(Yoh 5:8-9). Dengan demikian sebagai murid-murid-Nya tidak ada alasan lagi untuk ragu-ragu, apalagi tidak percaya kepada-Nya.
Namun sebagian orang masih belum bisa percaya kepada Yesus dan bahkan bersikap negatif dan membenci Yesus. Mereka adalah orang-orang yang keras hatinya. “Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” (Yoh 5:9-10). Mereka menolak dan menyalahkan Yesus dan orang yang telah disembuhkan dengan mengunakan aturan-aturan tentang hukum Sabat. Dengan demikian orang-orang yang menolak Yesus adalah mereka merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dan belas kasih demi kekuasaan dan posisi mereka sebagai orang yang merasa lebih tahu dan bijak dari pada Yesus karena jabatan mereka ( tokoh-tokoh orang Yahudi). Mereka menganggap diri mereka benar dalam melaksanakan hukum Sabat, namun justru sebaliknya tindakan mereka merendahkan Yesus Kristus yang adalah Tuhan atas hari Sabat. “Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”(Luk 6:5).
Rm. Didik, CM