Maria Bunda Allah dan Bunda Kita Semua

Maria Bunda Allah dan Bunda Kita Semua

Patung Bunda Maria di Pertapaan Suster-suster Trappist, Gedono, Jawa Tengah
Patung Bunda Maria di Pertapaan Suster-suster Trappist, Gedono, Jawa Tengah
Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah

Bil 6:22-27
Mzm 67
Gal 4:4-7
Luk 2:16-21

Saya sering merenungkan mengapa devosi pada Bunda Maria begitu populer di Gereja Katolik, khususnya di Indonesia. Setiap keluarga Katolik pasti punya patung atau gambar Maria di rumahnya. Gua-gua Maria bermunculan di nusantara dan umat berbondong-bondong berziarah ke sana. Doa-doa seperti rosario, koronka dan novena pada Maria termasuk yang paling sering didaraskan.

Firasat saya, ada sesuatu yang penting dan mendasar di dalam hubungan kita sebagai anak dan seorang ibu. Dua bacaan di atas berbicara tentang bagaimana kita adalah anak-anak Allah Bapa. Kita jelas percaya itu, tapi bayangan kita tentang Bapa seringkali bersangkutan dengan kemuliaan atau kekuatan atau kuasa. Sebaliknya, image kita tentang Maria adalah seorang ibu yang lembut hati dan siap menghibur kita. Rasanya lebih mudah untuk menumpahkan segala perasaan dan emosi kita di saat kita berdoa meminta perantaraan Maria.

Saya coba membayangkan bagaimana situasi hati dan pikiran Maria dalam beberapa ayat awal dari Injil Lukas yang kita baca beberapa hari terakhir ini. Pertama seorang malaikat datang mengabarkan dia akan mengandung anak Allah, lalu Elisabeth saudaranya memanggilnya “Ibu Tuhanku,” lalu Simeon dan Hanna bernubuat padanya di Bait Allah, dan bacaan hari ini menceritakan bagaimana para gembala memberitahu Maria bahwa para malaikat menyebut Yesus sang juruselamat. Asatu kalimat setelah itu menggambarkan apa yang terjadi dalam batin Maria: “Ia menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.”

Inilah Maria sang Bunda yang bijaksana. Dia tidak panik, tidak terbawa suasana sampai kebingungan. Dia merenungkannya, mencoba mengerti rencana besar Allah di tengah semua hal yang kelihatannya aneh. Mungkin begitu juga Maria menerima kita dalam dekapannya. Apapun keluh kesah kita, apapun besarnya masalah kita, dia tidak langsung menghakimi atau memberi nasihat atau jalan keluar. Ia hanya merenung dan mengajak kita bersama-sama merenungkan rencana Allah sehingga bersama Maria kita dikuatkan untuk berani menjawab, “Aku ini hambaMu, Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu.”

Comments are closed.
Translate ยป