Menemukan Jati Diri Lewat Persahabatan

Menemukan Jati Diri Lewat Persahabatan

Hari Pesta Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Naziansus

2013014152basil_and_gregory_300

1 Yoh 2:22-28
Mzm 98
Yoh 1:19-28

Sebagai orang Kristen yang hidup di masa di mana doktrin-doktrin Gereja sedang melalui proses pematangan di abad keempat, Basilius dan Gregorius terlibat langsung dalam dinamika Gereja saat itu. Basilius menjadi uskup agung Kaisarea, dan Gregorius uskup agung Konstantinopel, dua posisi yang sangat berpengaruh saat itu. Keduanya pun diberi gelar Pujangga Gereja (Doctor of the Church) karena karya-karya mereka yang memberi sumbangan besar bagi tradisi Gereja.

Tetapi di balik semua itu kita mendapatkan kisah persahabatan antara keduanya, persahabatan yang dimulai sejak mereka sekolah di Athena. Sangat jelas bahwa keduanya saling mengasihi, tetapi persahabatan itu pun tidak selalu mulus. Gregorius pernah kecewa dan mmerasa ditinggalkan ketika Basilus memilih keluar dari sekolah. Ketika Basilius menjadi uskup agung, ada kebijakan-kebijakannya yang ditentang Gregorius. Tapi semangat persahabatan selalu tetap ada di dalam lubuk hati mereka. Ketika Basilius wafat, Gregorius menulis sebuah refleksi yang menceritakan sejarah pershabataan mereka. Baginya, mereka berdua adlah seperti “satu jiwa dalam dua tubuh.”

Persahabatan sejati bukan berarti bebas dari masalah atau perselisihan. Tetapi melalui persahabatan itu kita bisa semakin mengenal jati diri kita. Seorang sahabat yang baik tidak akan ragu berterus terang jika kita berbuat sesuatu yang mereka anggap tidak pantas. Kekecewaan atau perasaan sedih dalam bersahabat kadang justru menguatkan pershabatan itu sendiri karena kita disadarkan betapa kita merindukan sahabat kita.

Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis mengerti betul jati dirinya. Dia bukan mesias yang dijanjikan, tetapi hanya sebagai orang yang memmpersiapkan jalan bagi sang juruselamat. Di dalam Yesus, sahabat kita, jati diri kita pun menjadi jelas. Kita adalah anak-anak Allah dan dipanggil untuk bersikap dan bertindak seperti sang Putra kepada BapaNya.

One thought on “Menemukan Jati Diri Lewat Persahabatan

  1. Terima kasih atas kisah dua uskup agung yang menarik. Diawal tahun baru ini saya mencoba merefleksi diri,melihat kebelakang mencari kesalahan apa saja yang telah saya perbuat dimasa lalu? Dan perlu saya perbaiki! Didalam hidup kita sehari-hari sebagai manusia pasti kita dilibatkan untuk bersosialisasi dengan sesama kita manusia,entah dimanapun kita berada. Dalam interaksi itu kita bisa memperoleh teman tapi juga lawan atau sebaliknya dari teman menjadi lawan atau bekas lawan menjadi kawan. Dan sahabat ada diantara itu. Tak banyak teman yang bisa menjadi sahabat,karena teman dikala suka dan senang, tidaklah demikian dikala susah dan menderita. Baru-baru ini dengan tehnologi yang canggih masa kini saya bisa bertemu dijalur maya yaitu whats up dengan teman2 masa kecil dikampung dulu ,sungguh menyenangkan sekali. Mereka berada diberbagai benua yang terpisah jauh dan sudah menjadi kakek2 dan nenek2,ada yang sudah terkena stroke,ada yang sudah mulai pikun dsbnya. Kita saling bercanda dan berbagi suka dan duka lagi, dan itulah persahabatan. Walaupun usia sudah melewati setengah abad dan orang jawa bilang sweet duck,kita masih perlu banyak belajar,membaca,mendengar. Terima kasih pada pengelola Lubuk hati yang telah membuat website ini.

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate ยป