Renungan, 12 November 2013

Renungan, 12 November 2013

Peringatan St. Yosafat, Uskup dan Martir

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?  Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Menjadi pelayan dalam hidup kita sehari-hari pada zaman sekarang adalah sebuah tantangan yang tidak mudah. Mengapa? Kebanyakan orang melakukan segala sesuatu selalu ada pamrih atau selalu minta bayaran. Saya mau membantu atau melakukan sesuatu kalau saya dibayar.  Saya tidak mau kalau waktu dan tenaga saya tidak dibayar.

Masyarakat kita sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga setiap orang berbuat sesuatu tidak lagi gratis atau cuma-cuma.  Dalam bacaan hari ini, Yesus berkata Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.

Perkataan Yesus ini bagi kita yang hidup di dunia modern rasanya tidak nyaman. Kenapa? Karena Yesus meminta kita untuk mempunyai sikap hati yang mau melayani. Mempunyai kepekaan hati untuk mau membantu sesama tanpa menuntut sebuah balasan.

Orang tua dituntut untuk melayani anak-anaknya dengan sebuah ketulusan hati. Pasangan suami istri diajak untuk saling melayani dengan satu sikap hati yang terbuka tanpa ada kecurigaan-kecurigaan. Kalau kita diberikan sebuah kepercayaan untuk memimpin orang lain, pakailah kepercayaan tersebut untuk membahagiakan mereka yang kita layani.

Paus Francis baru-baru ini mengajak dan mengingatkan para uskup agar selalu mau melayani. Francis mengingatkan para uskup bahwa mereka dipilih untuk melayani dan bukan mendominasi dengan status mereka. Pesan Paus ini selalu diulang setiap kali mengangat uskup yang baru. Pesan Paus ini pun sesuai dengan pesan Yesus sendiri “yang terbaik diantara kamu adalah orang yang mau menjadi pelayan.”

Mari kita berusaha untuk menjadi terbaik dalam ziarah hidup kita di dunia ini: menjadi pelayan yang selalu membawa kebahagiaan bagi orang lain.

Renungan, 11 November 2013

Renungan, 11 November 2013

Peringatan St. Martinus dari Tours , Uskup

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.

Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal,
ampunilah dia.

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!”

Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” (Luk 17:1-6)

Dalam injil Yesus berbicara mengenai dua kekuatan yang selalu bekerja dalam hidup kita.  kekuatan pencobaan yang membawa kita kedalam dosa dan kekuatan iman yang memampukan kita untuk mengatasi pencobaan. Pertanyaan reflectif untuk kita renungkan adalah kekuatan mana yang selalu kita ikuti? Secara jujur mungkin kita mengatakan bahwa kekuatan dosa selalu menyeret hidup kita kedalamnya. Injil menyadarkan kita kalau kita masih jatuh dalam pencobaan janganlah membawa orang lain masuk kedalamnya sebab engkau akan menanggung dosamu sendiri dan dosa orang yang telah kamu bawa dalam dosa tersebut.

Yesus mengingatkan kita agar kita jangan memberi contoh yang salah yang pada akhirnya menjadi skandal. Yesus menghendaki agar kita mempunyai kekuatan iman untuk mengatasi pencobaan yang selalu merong-rong hidup kita. kalau kita menyadari bahwa kita masih mempunya iman yang lemah, maka kita boleh belajar dari murid Yesus untuk selalu memohon “TAMBAHKANLAH IMAN KAMI/ TAMBAHKANLAH IMAN SAYA.

Yesus terus mengajak dan mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah akan mampu untuk berjalan sendiri. Dia menghendaki agar kita terbuka untuk terus berjalan bersamaNya. Jesus mau agar kita masih percaya pada penyelenggaraanya. Dia berkata kepada kita, “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Jesus meminta kepada kita  sebuah sikap hati yang percaya. Percaya pada janjiNya keselamatanya. Dia tidak meminta dari kita melebihi kekuatan kita. Dia mengajak kita untuk terus bertekun, memiliki kekuatan iman untuk mengatasi segala percobaan.  Mari kita buka hati kita memohon kepada Yesus agar iman kita semakin diteguhkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup kita sehari-hari.

Renungan, 9 November 2013

Renungan, 9 November 2013

Dedication to the Basilica Lateran

1 Corinthians 3:9-11  kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.  Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.  Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Basilika Lateran adalah salah satu dari 4 basilica terpeting di Roma. Gereja ini menjadi tempat resmi  uskup Roma menunaikan tugasnya sebagai uskup. Nama Lateran diambil dari nama keluarga Laterani, pemilik tanah dimana Basilika diresmikan pada tahun 321 oleh
Paus Silvester I.

Basilika ini dibangun 4 kali setelah dirusak oleh Vandal pada abad ke 5. Kerusakan besar terjadi setelah bangunan gereja rusak karena gempa. Dua kali api merusak Gereja pada abad ke 14. Salah satu bagian menarik dari basilica ini adalah Tangga Suci. Menurut tradisi Katolik, Santa Helena, ibu Konstantin I, membawa tangga dari pretorium Pontius Pilatus di Jerusamem ke Roma. Tangga kayu ini dipercaya menjadi tempat saat Yesus menerima hukuman mati dari Pilatus.

Apa hubungannya perayaan pemberkatan basilica di Roma dengan hidup kita? Bangunan Gereja adalah symbol dari komunitas hidup beriman yang percaya pada Allah. Paulus berkata dalam bacaan hari ini, kita adalah ladang Allah, dan diatas kita dibangun Gereja. Fondasi yang kuat harus dibangun agar bangunan iman kuat dan tahan terhadap segala ancaman.

Tiap orang harus memperhatikan bagaimana membangun fondasi bagi imannya. Tidak ada dasar lain bagi fondasi iman kita selain Yesus Kristus. Semoga bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa saat kita memiliki fondasi iman yang kuat, kita tak akan mudah goyah dalam kesulitan dan godaan. Sebaliknya, bila fondasi lemah, bangunan akan mudah hancur.

Seberapa kuat fondasi iman kita?

 

Renungan, 8 November 2013

Renungan, 8 November 2013

Luke 16:1-8  

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.  2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.  3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.  4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.  5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?  6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.  7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.  8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

“Duwit Bantale Setan” (Uang bantalnya setan)

Kadang kala orang-orang tua dari Jawa mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati soal uang dan mereka bertaka, “Duwit iku bantale setan” (uang itu bisa membawa pada kejahatan). Saat direnungkan, kata-kata itu memang bisa benar bahwa keinginan akan uang bisa membawa pada kejahatan dan tindakan buruk. Berapa banyak orang bertengkar dan keluarga tercerai berai karena perebutan soal harta kekayaan. Teman baik menjadi musuh karena masalah uang.

Namun di sisi lain, uang itu seharusnya “netral”, uang bisa menjadi saran orang untuk berbuat baik bagi sesama, pun bisa menjadi sarana untuk memperkaya diri sendiri tanpa peduli orang lain.

Bacaan Injil hari ini memuji bendahara yang tidak jujur karena dia berhasil memanipulasi jumlah setoran piutang sehingga ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Orang-orang yang berhutang pada sang tuan uang akan merasa berhutang budi pada si bendara karena ia membuat hutang mereka tidak menjadi besar! Si bendaraha bisa menyelamatkan diri setelah dipecat dari pekerjaan karena ia akan mendapat balas jasa dari orang-orang yang pernah dibantunya.

Sang bendarana ini tidak siap menjadi orang miskin sehingga dia memanipulasi uang demi keuntungan diri. Banyak orang demikian juga, tak mau dipandang miskin, gengsi, dan merasa malu sehingga mencari segala cara agar kelihatan baik dan berstatus tinggi di depan orang lain.

Ada pula orang yang tidak siap menjadi kaya, sehingga ketika memiliki uang tak bisa memanfaatkan dengan baik, juga tak mampu memakai kekayaan untuk membantu orang lain.

Bagaimana kita memakai uang dan kekayaan? Apakah semua itu menjadi sarana untuk kebaikan kita dan sesama? Ataukah kita terjerumus pada hal negative karena memakai uang dengan tidak bijak dan membuat uang menjadi bantal setan!

 

Renungan, 7 November 2013

Renungan, 7 November 2013

Luke 15:1-10 

Pada suatu hari, banyak penagih pajak dan orang-orang yang dianggap tidak baik oleh masyarakat, datang mendengar Yesus. Orang-orang Farisi dan guru-guru agama mulai mengomel. Mereka berkata, “Cih, orang ini menerima orang-orang yang tidak baik dan malah makan bersama mereka!”  Oleh sebab itu Yesus menceritakan kepada mereka perumpamaan ini,  “Andaikata seorang dari kalian mempunyai seratus ekor domba, lalu ia kehilangan seekor apakah yang akan dibuatnya? Pasti ia akan meninggalkan domba yang sembilan puluh sembilan ekor itu di padang rumput, dan pergi mencari yang hilang itu sampai dapat.  Dan kalau ia menemukan kembali domba itu, ia begitu gembira sehingga dipikulnya domba itu di bahunya,   lalu membawanya pulang. Kemudian ia memanggil kawan-kawan dan tetangga-tetangganya, dan berkata, ‘Mari kita bergembira. Dombaku yang hilang sudah kutemukan kembali!’  Nah, begitulah juga di surga ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat.”  “Atau andaikata seorang wanita mempunyai sepuluh uang perak, lalu kehilangan sebuah apakah yang akan dibuatnya? Ia akan menyalakan lampu dan menyapu rumahnya serta mencari di mana-mana sampai ditemukannya uang itu. Pada waktu ia menemukan uang itu, ia memanggil teman-teman serta tetangga-tetangganya, lalu berkata, ‘Aku senang sekali sudah menemukan kembali uangku yang hilang. Mari kita bergembira!’  Begitulah juga malaikat Allah gembira kalau ada satu orang jahat bertobat dari dosa-dosanya. Percayalah!”

Betapa sering orang menghitung untung dan rugi dalam relasi social dan persahabatan. Ketika kita memberi dan menyumbang banyak hal pada orang, suatu saat kita berharap bahwa kita akan mendapat banyak juga sebagai imbalannya. Sesuatu yang sangat manusiawi! Sering kali hitungan ekonomis ini mempengaruhi cara kita melihat hidup dan menginginkan Tuhan juga akan bekerja seperti apa yang kita pikirkan.

Namun ternyata cara bekerja Allah tidak demikian. Bagaimana mungkin seorang gembala akan meninggalkan 99 domba, dan mencari yang seekor saja. Tentu saja resikonya lebih besar meninggalkan yang banyak, dari pada menemukan yang seekor saja. Namun, dia tak memperhitungkan resiko itu, asal saja yang seekor tertemukan dan kembali berkumpul dengan domba yang lain.

Allah akan menggerakkan orang berdosa untuk kembali pada jalan yang benar dengan mengusik hati nuraninya, membuat orang itu merasa tidak nyaman dan damai akan perbuatan jahat yang telah dilakukan. Kalau ia mendengarkan suara lembut dalam hati, ia akan kembali seperti domba yang ditemukan kembali. Sebaliknya, bila ia tidak mendengarkan, akan semakin jauh jalannya dari Allah.

Dua perumpamaan ini mengisahkan betapa besar kasih Allah bagi orang yang dipilihnya, melebih kemampuan kita untuk menangkap cara kerja Allah. Namun yang pasti bahwa,  kalau kita, manusia, tahu memberi yang paling baik pada anak yang kita cintai, terlebih Allah akan mengalirkan kasihnya pada orang yang percaya padaNya.

 

Translate »