Renungan, 16 November 2013
Sta. Margarita dr Skotlandia; St. Rochus Gonzales;?St. Yohanes de Castillo; St. Alphonsus Rodrigues; Sta. Getrudis dr Hefta
Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.”
Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:1-8)
Injil hari ini sangat menarik untuk dibaca karena Yesus bercerita tentang para muridNya, orang yang selalu bersama Dia, tetapi mereka pun masih butuh untuk berdoa. Meskipun para murid secara lahiriah selalu berada bersama dengan Dia, makan denan Dia, pergi dengan Dia, mereka masih butuh untuk refleksi tentang Dia.
Berdasarkan cerita Yesus ini, berdoa akhirnya tidak hanya berbicara secara pribadi dengan Tuhan, selalu bersama dengan Tuhan, akan tetapi berdoa berarti memperhatikan dan merenungkan sabda Tuhan secara mendalam, dan melaksanakan setiap sabda sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus sendiri.
Tujuan berdoa bukan supaya Tuhan memahami dan mengerti siapa kita, akan tetapi supaya setiap udara yang kita hirup, setiap kata yang kita ucapkan, setiap perbuatan yang kita lakukan adalah milikNya. Artinya setiap kata dan perbuatan yang kita lakukan bukan lagi berasal dari kita, sebaliknya kita hanyalah sarana dimana Tuhan boleh berkarya melalui kita.
Berdoa bukan komunikasi hanya satu arah dengan Tuhan. Berdoa bukan kesempatan dimana kita mengungkapkan apapun yang kita mau ungkapkan kepada Tuhan. Bukan seperti kita mengunjungi therapist atau counselor, dimana kita cemceritakan persoalan kita dan Tuhan setia mendengarkan dan mengerti persoalan kita. Berdoa lebih dari semua itu. Berdoa adalah waktu dimana kita berada di dalam Dia, berada bersama Dia dan Berada melalui Dia. Dengan kata lain berdoa berarti kita mau serupa dengan Dia.
Berdoa bukan sesuatu yang kita lakukan hanya pada moment-moment tertentu pada hari itu. Berdoa hendaklah seperti kita sedang bernapas, sesuatu yang kita bisa lakukan dimana saja kita berada. Kita bisa berdoa di rumah, di tempat kerja, di setiap peristiwa dalam hidup kita.
Dengan cara ini, berdoa menjadi bagian dari hidup kita yang tak terpisahkan sehingga apa pun yang terjadi, kita selalu ada dalam Tuhan dan bersama Tuhan.
Renungan, 15 November 2013
St. Albertus Agung; B. Magdalena Morano;? B. Marie de la Passion
Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya. “Sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”(Luk. 17:26-37)
Seorang pemuda berusia 25 tahun datang ke kantor saya ingin menceritakan persoalan hidup yang sedang dialaminya. Dia bercerita bahwa dia pernah bekerja di salah satu diperusahan besar di Surabaya. Akan tetapi ada konflik dengan rekan kerjanya di perusahan maka dia memutuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaan yang lain. Sejak berhenti bekerja dari perusahan, hidupnya selalu terbebani dengan berbagai persoalan. Dia merasa bersalah karena dia memutuskan untuk berhenti bekerja tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kemudian hari. Dia merasa benci dengan teman kerjanya dan selalu mempersalahkan orang lain.
Typical pemuda tersebut diatas selalu merasa tidak bahagia, hatinya penuh dengan kebencian, selalu merasa sendirian dan tidak melihat ada peluang dihadapannya.
Bacaan injil hari ini, Yesus mau mengajak kita untuk hidup saat ini dan melihat hari esok penuh dengan harapan. Ketika berbicara tentang “kedatangan Anak Manusia kelak, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak boleh menoleh kebelakang apa yang telah kita tinggalkan dibelakang kita. Yesus menggunakan istri lot sebagai contoh. Ketika turun hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan kota Sodom, Allah meminta dia lari tanpa melihat kebelakang tetapi dia menoleh ke belakang mak ahirnya dia berubah menjadi tiang garam.
Tuhan menghendaki kita untuk terus melihat ke depan dan tidak melihat pengalaman indah yang sudah terjadi yang membuat kita keenakan untuk tidak melihat kesempatan di depan mata kita, karena jika kita melihat kebelakang, kita akan terjerat di tempat dimana Tuhan tidak menginginkan kita seharusnya disitu. Sama seperti tiang garam . Garam memang mengawetkan, dalam hal ini membuat makanan tetap seperti semula, akan tetapi hal ini tidak berlaku dengan manusia. Yesus bersabda “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” Dengan kata lain “Hidup tidak berhenti disini, waktu tetap berjalan terus, demikian pun kita. Kita menyadari masa lampau dan menyesali apa yang kurang baik yang telah kita lakukan; terima kasih atas hal-hal yang positif di masa lampau dan biarkan semuanya itu berlalu agar setiap kita mampu hidup sebagaimana Yesus kehendaki bagi kita masing-masing.
Sesungguhnya, Yesus ingin agar kita bahagia dalam hidup ini. Dia tidak mau kita terus menoleh hidup kita yang penuh dengan kepahitan dan dan persoalan, sebaliknya Dia menghendaki agar kita untuk terus berkembang dan bertumbuh dalam iman akan Dia.
Renungan, 14 November 2013
Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini. (Lukas 17:20-25)
Bacaan injil hari ini membawa banyak tafsiran yang berbeda bagi beberapa kelompok atau sekte. Ada kelompok yang menafsirkan kedatangan kerajaan Allah sebagai akhirnya dunia ini sehingga mereka memilih untuk membunuh diri secara masal; Orang-orang Farisi di jaman Yesus, menafsirkan kerajaan Allah sebagaimana kerajaan duniawi. Harus ada seorang raja yang mampu mengubah situasi di masyarakat.
Bagi Yesus, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Dengan penyataan ini, Yesus sesungguhnya mau mengajak orang-orang farisi untuk tidak mencari Kerajaan Allah secara lahiria, tetapi sebaliknya harus menemukan kerajaan Allah dalam diri kita. “Kerajaan Allah ada di antara kamu.”
Pertanyanya? Dimana kita menemukan kerajaan Allah? Kerajaan Allah bisa ditemukan apabila kita hidup dalam kasih sejati. Kasih akan Allah dan sesama tanpa ada pamrih. Kasih akan Allah harus dihayati dalam kasih akan sesama. Mengasihi sesama, tidak hanya mencintai orang yang mencintai kita saja tetapi juga orang yang mengecewakan kita. Jika kita mengasihi sesam kita sebagaimana adanya mereka maka Allah akan sungguh hidup dan kerajaan Allah akan menjadi nyata.
Renungan, 13 November 2013
Peringatan St. Frances Xavier Cabrini.
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk. 17:11-19)
Cerita tentang sepuluh orang kusta dalam bacaan hari ini sangat menarik karena satu dari sepuluh orang ini adalah orang Samaria. Secara religious, orang Samaria dan Yahudi saling benci satu dengan yang lain. Dimata orang Yahudi, orang samaria adalah orang-orang asing yang mempunyai kebudayaan dan kebiasaan yang berbeda dengan mereka. Orang Yahudi selalu memandang rendah terhadap orang-orang Samaria. Samaria adalah daerah yang tidak nyaman. Setiap orang melewati kota Galilea bagian utara dan Judea Selatan selalu merasa tidak damai karena mereka harus melewati Samaria.
Dalam hidup harian kita, kita sering melewati daerah Samaria. Samaria adalah bagian dari hidup kita yang hancur berantakan; pengalaman dimana kita mempunyai kekurangan dan kelemahan; pengalaman dimana pemikiran dan motivasi saling campur aduk dan tidak jelas; dimana kita tidak mempunyai kedamaian dalam hati dan harapan yang kuat.
Kendati Samaria adalah daerah yang penuh dengan problem dan persoalan yang tidak pernah selesai, mereka mempunyai orang-orang yang dibanggakan oleh Yesus seperti cerita dalam injil hari ini, satu orang lepra yang kembali kepada Yesus setelah dia disembuhkan. Cerita tentang orang samaria yang baik hati, wanita samaria di sumur. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa dalam situasi yang tidak menentu akibat problem dan tantangan, orang samaria masih mempunyai harapan yang kuat bahwa mereka akan menjadi lebih baik.
Yesus pun dalam hidup kita selalu melewati Samaria hati kita unuk menyembuhkan luka hati kita akibat dosa. Apakah kita berani memanggil Dia untuk menyembuhkan kelemahan dan dosa kita? apakah kita mempunyai harapan yang kuat kepada Yesus yang mau menyembuhkan kita? Mari kita selalu berteriak “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Dengarkan suaraNya yang selalu berkata…”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Rahmat pemulihan dan kesembuhan batin iman kita selalu terjadi apabila kita selalu mengimani Yesus. Mari kita bersyukur dan selalu berterima kasih atas cintaNya yang melampaui segala kemampuan kita.