Browsed by
Month: October 2024

Renungan 16 Oktober 2024

Renungan 16 Oktober 2024

Fr. Daniel Aji Kurniawan

Bacaan I: Galatia 5:18-25

Injil: Lukas 11:42-46

      Dalam perjalanan hidup beriman seorang Kristiani, satu hal pertanyaan yang kerapkali mengusik hati dan pikiran ialah keraguan apakah keputusan, pilihan, atau kebijakan yang diambil dalam hidup, relasi, dan pekerjaan sesuai dengan bimbingan Roh Kudus atau tidak ya? Ini benar atau salah ya? Baik atau tidak ya? Siapa pun pernah merasakan dan mengalami fase tersebut. Kondisi yang sangat wajar dialami selama proses pertumbuhan iman seseorang.

      Pesan dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia hari ini memberikan satu pedoman hidup yang sungguh inspiratif. Bagaimana mengenali keputusan, pilihan, dan kebijakan yang diambil sejalan dengan kehendak Allah atau tidak dapat dikenali dari buah-buahnya atau efek sampingnya. Jikalau setelah keputusan dan pilihan tersebut diputuskan membawa hidup seseorang pada pertumbuhan dan pendewasaan kasih; mendatangkan sukacita dan damai sejahtera; menumbuhkan keutamaan hidup dalam kesabaran, kemurahan hati, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan atau kontrol diri, maka dapat dipercaya dan diamini bahwa keputusan dan pilihan tersebut sejalan dengan kehendak Allah, meskipun tentu ada kesulitan, tantangan, dan pengorbanan di dalamnya. Sebaliknya, bila keputusan tersebut semakin membawa pada iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, kedengkian, dan mejauhkan dari sikap dan cara hidup yang tidak sesuai dengan ajaran dan teladan Kristus sendiri, maka perlu melihat dan mengevaluasi pilihan dan keputusan tersebut. Inilah pedoman yang Rasul Paulus sampaikan kepada setiap orang beriman sebagai bekal rohani dalam penziarahan hidup di dunia ini.

      Pesan senada disampaikan oleh Yesus hari ini. Yesus memberikan pesan agar setiap orang beriman berhati-hati dalam sikap kemunafikan yang melekat pada diri setiap orang. Sikap formalitas dalam tingkah laku hidup keagamaan, mencari popularitas dalam relasi kebersamaan, dan menutupi identitas sebagai orang Katolik beriman di tengah rutinitas harian bisa saja menjadi celah dan pintu masuk godaan roh jahat untuk menjerumuskan dan menjauhkan seseorang dari iman dan Allah yang menjadi pegangan hidup. Kritik Yesus kepada orang-orang Farisi juga menjadi kritik kepada setiap orang beriman yang punya potensi larut dalam kemunafikan diri. Maka dari itu, mari kita terus belajar dari pribadi Yesus dalam bimbingan Roh Kudus saya dan Anda semua patutlah untuk bersikap waspada  terhadap potensi kemunafikan diri yang bisa saja menghampiri kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Buah-buah Roh Allah memang tidak selalu dirasakan hari ini, tetapi akan berarti pada waktunya.

Membersihkan Hati, Bukan Hanya Tangan

Membersihkan Hati, Bukan Hanya Tangan

Fr Jusuf Dimas Caesario

Dalam Injil Lukas 11:37-41, Yesus diundang makan oleh seorang Farisi, dan Farisi itu terkejut karena Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Menurut adat Yahudi, mencuci tangan sebelum makan adalah tindakan ritual yang sangat penting untuk menunjukkan kemurnian. Namun, Yesus mengkritik mereka dengan mengatakan bahwa mereka terlalu fokus pada hal-hal luar, tetapi lupa membersihkan hati mereka.

Yesus berkata, “Kamu membersihkan cawan dan pinggan di sebelah luar, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh! Bukankah Dia yang menjadikan bagian luar juga menjadikan bagian dalam?”

Mencuci Gelas Kotor

Bayangkan Anda sedang mencuci gelas di rumah. Dari luar, gelas itu tampak sangat bersih dan berkilau, tetapi saat melihat ke dalam, Anda melihat kotoran dan sisa-sisa makanan yang belum dibersihkan. Mungkin orang lain yang melihat gelas itu dari luar akan berpikir bahwa gelas tersebut bersih, tetapi Anda tahu bahwa bagian dalamnya kotor dan tidak layak untuk dipakai minum.

Yesus menggunakan ilustrasi ini untuk mengajarkan bahwa hidup kita pun seringkali seperti gelas kotor. Kita sibuk menjaga penampilan luar, seperti melakukan tindakan-tindakan lahiriah yang terlihat baik, seperti berdoa di depan umum, beramal, atau datang ke gereja. Namun, hati kita bisa saja masih penuh dengan kesombongan, kemarahan, iri hati, atau keegoisan. Dan yang paling penting, Tuhan juga tahu bagaimana keadaan diri kita yang sesungguhnya.

Membersihkan Bagian Dalam

Yesus mengundang kita untuk memeriksa bagian dalam diri kita, bukan hanya penampilan luar. Ia mengajak kita untuk “membersihkan bagian dalam” terlebih dahulu: yaitu memperbaiki niat, hati, dan sikap kita. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan secara lahiriah, tetapi Ia lebih memperhatikan kondisi hati kita. Apakah kita melakukan sesuatu dengan tulus atau hanya sekadar pamer?

Membersihkan hati berarti kita mau bertobat, mengakui dosa-dosa kita, dan memohon rahmat Tuhan agar hati kita diperbarui. Dengan hati yang bersih, tindakan luar kita akan menjadi cerminan dari kebaikan yang sejati, bukan sekadar upaya untuk terlihat baik di hadapan orang lain.

Kesimpulan:

Dalam kehidupan sehari-hari, mari kita tidak hanya fokus pada tindakan lahiriah, tetapi juga merawat bagian dalam diri kita. Tuhan tahu betul bagaimana keadaan di dalam diri kita. Maka sesungguhnya percuma kita tampil tidak otentik di hadapan Tuhan. “Bukankah yang menjadikan bagian luar, Dia jugalah yang menjadikan bagian dalam?”

Tuhan lebih menghargai hati yang penuh kasih, pengampunan, dan kerendahan hati daripada sekadar ritual yang kosong. Mulailah dari dalam, karena hati yang bersih akan memancar ke luar dalam bentuk tindakan kasih yang tulus.

Doa Pendek:

Tuhan Yesus, bersihkanlah hatiku dari segala kesombongan dan niat yang salah. Ajari aku untuk hidup dengan ketulusan dan kasih yang murni. Semoga tindakan-tindakanku memancarkan kebaikan-Mu dan membawa kemuliaan bagi nama-Mu. Amin.

Renungan: Senin Pekan XXVIII – Lukas 11:29-32

Renungan: Senin Pekan XXVIII – Lukas 11:29-32

Fr Ignasius Joko Purnomo O.Carm

  1. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Dalam perjalanan hidup kita sebagai orang beriman, sering kali kita mencari tanda-tanda yang jelas akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita. Kita mungkin berpikir bahwa dengan melihat tanda atau mukjizat besar, iman kita akan menjadi lebih kuat dan keraguan kita akan hilang.
  • Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegur orang banyak yang sedang berkumpul di sekitar-Nya. Yesus menyebut mereka sebagai “angkatan yang jahat,” karena mereka mengabaikan banyak tanda yang sebenarnya sudah diberikan. Mereka meminta tanda sebagai bukti bahwa Yesus benar-benar utusan Allah, padahal mereka telah menyaksikan banyak mukjizat dan mendengar pengajaran-Nya. Mereka masih saja menuntut tanda lain. Akhirnya, Yesus pun menjawab bahwa tidak akan ada tanda lain selain “tanda Nabi Yunus.”

Apa yang dimaksud oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus”? Yunus adalah seorang nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan pesan pertobatan kepada kota Niniwe, sebuah kota besar yang penuh dosa. Meskipun pada awalnya Yunus ragu, ia akhirnya menaati panggilan Tuhan, dan penduduk Niniwe pun bertobat. Yesus mengingatkan kita bahwa sebagaimana Yunus menjadi bagi tanda bagi orang Niniwe, demikian pula kebangkitan-Nya kelak adalah tanda terbesar bagi kita semua. Sama seperti Yunus yang berada dalam perut ikan selama tiga hari, Yesus juga akan berada dalam kubur selama tiga hari sebelum bangkit dari kematian.

  • Yesus menegur orang banyak karena meskipun tanda terbesar dari Allah sudah ada di depan mereka, yaitu  kehadiran Yesus sendiri sebagai Putra Allah; mereka tetap tidak percaya. Ini adalah pelajaran penting bagi kita. Seberapa sering kita juga mencari tanda-tanda yang jelas dari Tuhan dalam hidup kita, namun kita gagal melihat bahwa Tuhan sudah hadir? Kita mungkin berharap melihat mukjizat atau keajaiban besar, tetapi lupa bahwa Tuhan juga bekerja melalui hal-hal kecil dan biasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh: Setiap kali kita mengalami cinta, perhatian, atau dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat, itu adalah tanda kehadiran Tuhan. Ketika seorang ibu bangun di malam hari untuk menjaga anaknya yang sakit, atau ketika seorang ayah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ini adalah cara Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui tindakan-tindakan sederhana. Ketika kita menghadapi kesulitan dan seseorang hadir untuk membantu, itu bisa menjadi cara Tuhan menjawab doa kita. Pertolongan dari seorang teman yang mendengarkan masalah kita, seorang rekan kerja yang membantu dengan pekerjaan yang menumpuk, atau bahkan kebaikan dari orang asing di jalan adalah tanda bahwa Tuhan hadir melalui kebaikan hati orang lain. Melalui contoh-contoh ini, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak selalu hadir dalam hal-hal besar dan luar biasa, tetapi justru dalam hal-hal kecil dan biasa yang sering kita alami setiap hari. Kita diajak untuk lebih peka dan membuka hati terhadap tanda-tanda kecil kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita.
  • Saudara-saudari, Yesus ingin mengingatkan kita bahwa iman yang sejati tidak bergantung pada tanda-tanda lahiriah yang dramatis. Kebangkitan-Nya dari kematian adalah tanda terbesar dari kasih Allah yang telah diberikan kepada kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita menyadari kehadiran Tuhan yang sudah begitu nyata melalui Ekaristi, Sabda-Nya, dan kasih yang kita alami setiap hari? Seperti penduduk Niniwe yang bertobat ketika mendengar peringatan Yunus, kita juga dipanggil untuk bertobat dan mengubah hidup kita, bukan karena kita melihat tanda-tanda ajaib, tetapi karena kita percaya bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita. Pertobatan bukanlah hasil dari mukjizat yang luar biasa, tetapi dari hati yang terbuka terhadap panggilan kasih Tuhan.
  • Marilah kita berhenti sejenak dan merenungkan: apakah kita masih menunggu tanda-tanda dari Tuhan ketika sebenarnya tanda terbesar sudah diberikan kepada kita? Kebangkitan Yesus adalah tanda kasih yang melampaui segalanya. Kita dipanggil untuk memiliki iman yang tidak menuntut tanda-tanda fisik, tetapi iman yang mengandalkan kasih setia Tuhan yang selalu hadir di sekitar kita.
  • Saudara-saudari terkasih, Yesus adalah tanda terbesar dari kasih Allah bagi kita. Mari kita tanggapi panggilan ini dengan hati yang penuh iman dan pertobatan sejati, agar kita semakin peka terhadap kehadiran-Nya dalam hidup kita, meskipun dalam bentuk yang paling sederhana.

Hidup Bakti

Hidup Bakti

Hari Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [B]
13 Oktober 2024
Markus 10:17-30

Gereja memahami kisah Yesus dan orang kaya ini sebagai salah satu dasar alkitabiah dari panggilan hidup bakti (consecrated life). Namun, apakah hidup bakti itu? Bagaimana kisah ini menjadi inspirasi bagi kita?

Hidup bakti adalah sebuah cara hidup yang radikal untuk mengikuti Yesus. Pada masa kini, kita dengan cepat mengenali pria dan wanita ini sebagai orang-orang yang mengenakan jubah khas, hidup selibat (tidak menikah), dan tinggal di dalam komunitas seperti pertapaan atau biara. Bentuk hidup ini disebut sebagai hidup bakti karena para pria dan wanita ‘membaktikan’ hidupnya untuk mencintai Tuhan secara lebih radikal. Namun, mengapa mereka harus menjalani kehidupan seperti ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lebih dekat kisah Yesus dan orang kaya.

Ada seorang pria yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mendasar yang kurang dalam hidupnya. Ketika Yesus datang, hatinya tahu bahwa Yesus tahu jawabannya. Ia bergegas mendatangi Yesus dan bertanya kepada-Nya bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Yesus menunjukkan perintah-perintah Allah, terutama yang berkaitan dengan mengasihi sesama (jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan hormatilah orang tuamu). Dengan segera, orang itu mengatakan kepada Yesus bahwa ia telah setia pada hukum-hukum ini. Yesus memandangnya dengan penuh perhatian dan mengasihinya karena keberaniannya untuk datang kepada-Nya. Yesus tahu bahwa orang ini tidak pernah melanggar perintah-perintah Allah, tetapi dia juga tidak memenuhi perintah pertama dan yang paling penting, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:5).”

Namun, Yesus tidak hanya mengatakan kebenaran ini secara langsung, tetapi merumuskannya kembali menjadi sesuatu yang lebih konkret dan radikal: “Kasihilah Aku (Yesus) dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Panggilan ini bersifat radikal karena mengharuskan orang tersebut untuk meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan berjalan bersama Yesus dalam perjalanan menuju salib. Ini radikal karena undangan Yesus bertentangan dengan pemahaman umum pada masa itu bahwa menjadi kaya adalah tanda berkat Tuhan (lihat Ul. 28:1-14; Ams. 10:22). Ini adalah hal yang radikal karena seluruh waktu, tenaga, perhatian, bahkan hidup kita adalah untuk Yesus.

Pria ini tidak pernah merugikan orang lain, mencuri apalagi membunuh, mungkin juga pergi ke sinagoge setiap hari Sabat untuk beribadat, dan sesekali pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Bait Allah. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia terpanggil untuk mengasihi Allah secara total. Sayangnya, ketika Yesus menawarkan kesempatan itu kepadanya, ia menghindar karena ia memiliki banyak harta. Apakah orang ini akan dihukum? Tentu tidak! Dia tidak akan dihukum dan akan tetap menjadi pewaris hidup yang kekal. Tetapi ia juga tidak dapat memenuhi kerinduan terdalamnya untuk mengasihi Allah secara radikal.

Pada masa kini, mengikuti Yesus secara radikal ini termanifestasi dalam diri pria dan wanita yang secara total memberikan diri mereka kepada Yesus dan Gereja. Para pria dan wanita ini tidak menikah, sehingga mereka dapat mendedikasikan waktu mereka untuk berdoa dan melayani. Mereka bekerja atau menerima donasi bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk mendukung kehidupan dan pelayanan mereka. Akhirnya, mereka dengan bebas menyerahkan kebebasan mereka untuk mengasihi Allah dan umat-Nya lebih penuh. Namun, Gereja memahami bahwa panggilan ini bukan untuk semua orang.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:
Apakah kita mengasihi Allah secara total dan radikal? Apakah kita mengasihi Allah terlebih dahulu, atau kita mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu? Apakah yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Uang, kekayaan, profesi, ketenaran, hobi, atau hal-hal lain? Apakah kita dipanggil ke dalam hidup bakti? Apakah kita siap untuk menjawab ya atas panggilan Yesus?

Renungan Kamis, 10 Oktober 2024

Renungan Kamis, 10 Oktober 2024

Lukas 11:5-13

Oleh: Rm. Agustinus Suyadi, O.Carm

Injil hari ini dimulai dengan dua cerita menarik. Pertama, tentang arti penting persahabatan. Kedua, tentang relasi yang indah antara bapak anak. Keduanya hendak mengatakan, bahwa alasan dasar dan tujuan tindakan adalah kasih. Cerita ini menjadi penting dengan 3 kesimpulan berikut:

  1. ALLAH ADALAH KASIH

Allah tidak tidak sekadar mengasihi (sebuah tindakan), tetapi hakikat diri Allah adalah kasih. Maka, dalam diri Allah dan yang keluar dari Allah hanyalah kasih. Dari situlah, Allah sanggup melakukan yang sungguh agung dan mulia. Meskipun manusia sedemikian jahat, Allah tak pernah berhenti untuk mengasihi.

  • KASIH JAMINAN HIDUP

Kasih itu menjamin hidup yang dikasihinya. Maka, Yesus berkata, “Karena setiap orang yang meminta, akan menerima; Setiap orang yang mencari akan mendapat; dan setiap orang yang mengetuk, akan dibukakan pintu.” Dengan demikian, kasih Allah adalah jaminan satu-satunya yang bisa diandalkan. Seluruh hidup Allah hanya diperuntukkan demi manusia hidup sejahtera.

  • YANG PALING PENTING

Namun ada kalimat kejutan di akhir Injil. Setelah meyakinkan akan jaminan hidup, pada bagian akhir Yesus berkata, “Bapamu yang di sorga akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.” Di satu sisi, perkataan ini tak sekadar jaminan hidup di duniawi, tetapi jaminan hidup sorgawi. Di sisi lain, kita mesti meminta yang paling penting dalam hidup kita, yakni Roh Kudus.

Translate »