Renungan, 15 November 2013
St. Albertus Agung; B. Magdalena Morano;? B. Marie de la Passion
Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya. “Sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” [Kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] Kata mereka kepada Yesus: ”Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: ”Di mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.”(Luk. 17:26-37)
Seorang pemuda berusia 25 tahun datang ke kantor saya ingin menceritakan persoalan hidup yang sedang dialaminya. Dia bercerita bahwa dia pernah bekerja di salah satu diperusahan besar di Surabaya. Akan tetapi ada konflik dengan rekan kerjanya di perusahan maka dia memutuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaan yang lain. Sejak berhenti bekerja dari perusahan, hidupnya selalu terbebani dengan berbagai persoalan. Dia merasa bersalah karena dia memutuskan untuk berhenti bekerja tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kemudian hari. Dia merasa benci dengan teman kerjanya dan selalu mempersalahkan orang lain.
Typical pemuda tersebut diatas selalu merasa tidak bahagia, hatinya penuh dengan kebencian, selalu merasa sendirian dan tidak melihat ada peluang dihadapannya.
Bacaan injil hari ini, Yesus mau mengajak kita untuk hidup saat ini dan melihat hari esok penuh dengan harapan. Ketika berbicara tentang “kedatangan Anak Manusia kelak, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak boleh menoleh kebelakang apa yang telah kita tinggalkan dibelakang kita. Yesus menggunakan istri lot sebagai contoh. Ketika turun hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan kota Sodom, Allah meminta dia lari tanpa melihat kebelakang tetapi dia menoleh ke belakang mak ahirnya dia berubah menjadi tiang garam.
Tuhan menghendaki kita untuk terus melihat ke depan dan tidak melihat pengalaman indah yang sudah terjadi yang membuat kita keenakan untuk tidak melihat kesempatan di depan mata kita, karena jika kita melihat kebelakang, kita akan terjerat di tempat dimana Tuhan tidak menginginkan kita seharusnya disitu. Sama seperti tiang garam . Garam memang mengawetkan, dalam hal ini membuat makanan tetap seperti semula, akan tetapi hal ini tidak berlaku dengan manusia. Yesus bersabda “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” Dengan kata lain “Hidup tidak berhenti disini, waktu tetap berjalan terus, demikian pun kita. Kita menyadari masa lampau dan menyesali apa yang kurang baik yang telah kita lakukan; terima kasih atas hal-hal yang positif di masa lampau dan biarkan semuanya itu berlalu agar setiap kita mampu hidup sebagaimana Yesus kehendaki bagi kita masing-masing.
Sesungguhnya, Yesus ingin agar kita bahagia dalam hidup ini. Dia tidak mau kita terus menoleh hidup kita yang penuh dengan kepahitan dan dan persoalan, sebaliknya Dia menghendaki agar kita untuk terus berkembang dan bertumbuh dalam iman akan Dia.