Renungan, 13 November 2013
Peringatan St. Frances Xavier Cabrini.
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk. 17:11-19)
Cerita tentang sepuluh orang kusta dalam bacaan hari ini sangat menarik karena satu dari sepuluh orang ini adalah orang Samaria. Secara religious, orang Samaria dan Yahudi saling benci satu dengan yang lain. Dimata orang Yahudi, orang samaria adalah orang-orang asing yang mempunyai kebudayaan dan kebiasaan yang berbeda dengan mereka. Orang Yahudi selalu memandang rendah terhadap orang-orang Samaria. Samaria adalah daerah yang tidak nyaman. Setiap orang melewati kota Galilea bagian utara dan Judea Selatan selalu merasa tidak damai karena mereka harus melewati Samaria.
Dalam hidup harian kita, kita sering melewati daerah Samaria. Samaria adalah bagian dari hidup kita yang hancur berantakan; pengalaman dimana kita mempunyai kekurangan dan kelemahan; pengalaman dimana pemikiran dan motivasi saling campur aduk dan tidak jelas; dimana kita tidak mempunyai kedamaian dalam hati dan harapan yang kuat.
Kendati Samaria adalah daerah yang penuh dengan problem dan persoalan yang tidak pernah selesai, mereka mempunyai orang-orang yang dibanggakan oleh Yesus seperti cerita dalam injil hari ini, satu orang lepra yang kembali kepada Yesus setelah dia disembuhkan. Cerita tentang orang samaria yang baik hati, wanita samaria di sumur. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa dalam situasi yang tidak menentu akibat problem dan tantangan, orang samaria masih mempunyai harapan yang kuat bahwa mereka akan menjadi lebih baik.
Yesus pun dalam hidup kita selalu melewati Samaria hati kita unuk menyembuhkan luka hati kita akibat dosa. Apakah kita berani memanggil Dia untuk menyembuhkan kelemahan dan dosa kita? apakah kita mempunyai harapan yang kuat kepada Yesus yang mau menyembuhkan kita? Mari kita selalu berteriak “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Dengarkan suaraNya yang selalu berkata…”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Rahmat pemulihan dan kesembuhan batin iman kita selalu terjadi apabila kita selalu mengimani Yesus. Mari kita bersyukur dan selalu berterima kasih atas cintaNya yang melampaui segala kemampuan kita.