Rm Ignasisu Joko Purnomo
Markus 2:23-28
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Injil hari ini menggambarkan satu peristiwa sederhana tetapi sarat makna. Diceritakan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum pada hari Sabat. Murid-murid memetik bulir gandum untuk dimakan. Orang-orang Farisi yang melihatnya segera menegur: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Namun Yesus menanggapi dengan sebuah pernyataan yang sangat dalam: “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat. Maka Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Perkataan Yesus ini bukan sekadar pembelaan terhadap murid-murid-Nya. Ia menyingkapkan kebenaran mendalam tentang maksud Allah ketika memberikan hukum Sabat. Hukum, termasuk peraturan tentang Sabat, bukanlah beban yang menindas manusia, melainkan rahmat yang membantu manusia hidup lebih dekat dengan Allah.
Dalam Kitab Kejadian, kita membaca bahwa setelah enam hari menciptakan dunia, Allah beristirahat pada hari ketujuh. Artinya, Sabat adalah tanda kasih Allah: Ia ingin manusia juga mengalami istirahat, pembaruan, dan persekutuan dengan-Nya. Sabat adalah hari untuk menghargai hidup, bukan sekadar mematuhi aturan. Namun pada zaman Yesus, semangat Sabat sering kali hilang di balik tumpukan peraturan yang kaku. Sabat berubah menjadi beban, bukan berkat. Orang-orang lebih sibuk memastikan tidak melanggar aturan daripada mengalami damai dan sukacita bersama Tuhan. Yesus datang untuk mengembalikan makna sejati Sabat, hari yang memulihkan manusia, bukan memperbudaknya. Ia berkata: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Ini berarti bahwa dialah sumber dan tujuan hukum itu sendiri. Sabat ada untuk membawa manusia kepada persekutuan dengan Tuhan, dan Yesus adalah Tuhan yang datang untuk menjumpai manusia. Maka, Sabat menemukan puncak maknanya dalam diri Kristus sendiri. Ketika kita hidup bersama Yesus, setiap hari bisa menjadi Sabat – hari perjumpaan, hari damai, hari istirahat dalam kasih Allah. Sabat bukan hanya hari Sabtu atau Minggu; Sabat sejati terjadi saat hati kita berhenti dari kesibukan dosa dan beristirahat dalam kasih Tuhan.
Saudara-saudari terkasih.
Orang-orang Farisi sebenarnya ingin membela kehormatan hukum Allah, tetapi mereka terjebak dalam kekakuan rohani – hidup rohani yang kaku, yang mengukur kesalehan dari kepatuhan lahiriah, bukan dari kasih. Hidup rohani yang kaku menilai orang lain dari aturan, bukan dari belas kasih. Ia lebih sibuk menjaga bentuk daripada menumbuhkan isi. Yesus menegur mereka – bukan karena hukum itu salah, tetapi karena mereka kehilangan semangat kasih dalam menaati hukum. Hukum tanpa kasih hanyalah batu yang dilemparkan kepada sesama. Yesus datang untuk mengajarkan bahwa kasih adalah inti dari seluruh hukum.
Saudara-saudari terkasih, sabda Yesus ini juga berbicara kepada kita zaman sekarang.
Banyak dari kita sibuk bekerja tanpa henti. Bahkan pada hari Minggu, hari yang disucikan untuk Tuhan, kita masih membawa “pekerjaan” ke dalam hati: laporan yang belum selesai, pesan di ponsel, urusan bisnis, atau kekhawatiran. Kita kehilangan Sabat hati – waktu untuk beristirahat, bersyukur, dan menikmati kasih Allah. Padahal Tuhan memberikan Sabat agar kita berhenti sejenak, mengatur napas, memperbarui hubungan dengan-Nya dan dengan sesama. Misa hari Minggu, doa pribadi, waktu bersama keluarga – semua itu adalah tanda-tanda Sabat baru, tanda bahwa kita masih mengakui: hidup ini bukan milik pekerjaan, tapi milik Tuhan.
Yesus mengajarkan bahwa kasih lebih utama dari aturan. Maka cara kita merayakan “hari Sabat” hari ini bukan hanya dengan berhenti bekerja, tetapi dengan memberi waktu untuk cinta: waktu untuk menyapa dan menolong sesama, waktu untuk mendengarkan keluarga, waktu untuk diam dalam doa. Sabat sejati bukan sekadar tidak bekerja, tetapi menyembuhkan relasi – dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.
Saudara-saudari terkasih,
Yesus ingin kita mengalami hari Sabat bukan sebagai beban, tetapi sebagai berkat.
Ia mengajak kita untuk menjadikan setiap hari sebagai hari Tuhan, tempat kita menemukan damai, sukacita, dan kasih. Sebab sesungguhnya Yesus sendirilah Sabat kita – tempat di mana kita dapat beristirahat dalam kasih Bapa. Semoga kita semakin mampu menemukan Sabat dalam hidup kita: bukan dalam kekakuan hukum, melainkan dalam kebebasan kasih Kristus yang menyembuhkan dan membebaskan. Semoga Tuhan memberkati kita semua.