Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

HIDUP DALAM DAMAI

Posted by admin on February 28, 2022
Posted in renungan 

Selasa, 1 Maret 2022


Markus 10:28-31

Setiap orang yang percaya dan mengikuti Kristus berarti hidup bersatu dengan Kristus. Persatuan Kristus  dalam Roh dengan para murid-Nya merupakan keriduan-Nya agar mereka menerima damai sejahtera dan hidup kekal. “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”(Yoh 17:11).

Ketika seseorang bersatu dan bersama Kristus dalam perjalanan hidupnya maka Dia akan memelihara, mejaga, dan melindunginya dari segala bahaya. Dan bahkan Yesus mengajak para murid-Nya untuk tidak kuatir dan cemas saat harus berkorban demi kebaikan atau demi imanmya, karena Dia akan melipat gadakan berkat-berkat-Nya kepada orang yang setia kepada-Nya. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,  orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”(Mrk 10:29-30).

Oleh karena itu, Yesus menjamin setiap murid-murid yang setia hidup di dalam damai, harapan dan kasih-Nya serta Dia menyertainya setiap hari. Persaoalnya apakah masing-masing murid Kristus memiliki kesadaran dan kepekaan akan penyertaan Tuhan tersebut? Tidak sedikit orang merasakan hidupnya berjalan begitu saja tanpa kesadaran bahwa Tuhan menyertainya. Akibatnya pada saat ia mendapatkan persoalan hidup ia dengan mudah jatuh dan putus asa. Berbeda bagi orang yang dekat dengan Kristus dan menyadari kasih penyertaan-Nya, sekalipun banyak persoalan yang harus ia hadapi, namun ia tetap memiliki harapan dan kuat, sehingga ia bisa melewati masa-masa sulit tersebut dengan damai.  “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.”(Filemon 1:3).

Oleh karena itu, setiap orang yang mengikuti Kristus perlu terus disadari bahwa Dia hidup dan selalu menyertainya, agar damai, harapan dan kasih-Nya bisa dirasakan selalu. Kepekaan dan kesadaran tersebut bisa dialami jika seseorang setia dan tekun menjaga komunikasi atau relasinya dengan Kristus.

Rm. Didik, CM 

MENGIKUTI KRISTUS

Posted by admin on February 27, 2022
Posted in renungan 

Senin, 28 Februari 2022


Markus 10:17-27

Yesus mengajak para murid-Nya untuk berjuang menjadi pribadi yang semakin baik menuju kesempurnaan. (Mat 5:48). Proses untuk menjadi baik atau sempurna dimulai dari hati mereka yang percaya kepada Allah yang telah mengutus Yesus Kristus menjadi juruselamat dunia. Setelah seseorang percaya kepada Allah maka ia akan mau mengikuti-Nya. Arti mengikuti adalah berpikir,  berhati dan bertindak seperti Yesus Kristus.  “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”(Filipi 2:5). Dengan demikian mengikuti Kristus berarti melakukan semua yang dikehendaki Allah.

Tanda dan bukti bahwa seseorang melakukan kehendak Allah adalah berani hidup seperti Kristus, yaitu mentaati semua hukum Allah atau hukum Taurat yang mengatur dan menjaga relasi yang harmonis manusia dan Allah dan manusia dengan sesamanya. (Lih. Mrk 10:19). Dan kemudian setelah seseorang percaya kepada Allah maka ia akan berani meninggalkan segala-galanya, dalam pengertian tidak terlekat dengan semua yang “dimilikinya”. “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mrk 10: 21).

Oleh karena itu, untuk menjadi sempurna atau menjadi pribadi yang semakin baik meperlukan proses  yang panjang bahkan seumur hidup manusia,  sebab mengikuti Kristus tidak bisa berhenti ditengah jalan, ia harus melewati jalan yang dilalui Yesus sampai tujuan akhir yaitu Kebangkitan. “Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,  dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11:25-26).

Rm. Didik, CM 

Four Parables of Jesus

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on February 26, 2022
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

8th Sunday in Ordinary Time
February 27, 2022
Luke 6: 39-45

We continue to listen and reflect on Jesus’ teaching on the mount. Two Sundays ago, Jesus inaugurated His teaching with the Beatitudes, and last Sunday, Jesus taught us about loving our enemies. Today, Jesus is giving us four short parables to ponder. These are parables of the blind guide, the teacher and the disciple, a wooden beam and a splinter, and the good and bad trees. Now, we may ask: why does Jesus offer His disciples these parables, and what is the unifying theme?
The usage of a parable is not unique to Jesus. In the Old Testament, prophets often used the same technique to teach a lesson and challenge the sinners to repent. One of the famous parables in the Old Testament is the parable of the little ewe. Using this parable, prophet Nathan indirectly criticized David as the rich man who stole Uriah’s little ewe. Like His Old Testament’s predecessors, Jesus is using the parables with the same purposes. He invites His disciples to think more profoundly and warn them of dangers.
From the parable of the blind guide, Jesus reminds His disciples not to fall into spiritual blindness caused by the sin of pride. Following Jesus and being close to Jesus can make us feel that we know and act better than the rest of humanity. We begin to assume the role of guide and boss and tell other people what to do with their lives.
The third parable of Jesus, the parable of a wooden beam and splinter, is closely related to the first one, and indeed a hyperbolic way to criticize Jesus’ disciples who are blinded by pride and thus, unable to evaluate ourselves properly. Pride causes us to feel superior and easily see others as someone who always needs corrections. Yet, sometimes, pride moves us also in the opposite direction. Unable to correctly see ourselves, we possess low self-esteem and see ourselves as inferior to others. This is also dangerous for our personal and spiritual growth.
Does it mean that we cannot guide and correct other people? Not at all. Jesus allows us to correct others, and, in Mat 18, Jesus commands us to correct our brothers who are in errors. Yet, the primary pre-condition is that we must correct ourselves first or open our spiritual eyes before we guide others. Thus, the second parable plays a crucial role. To counter this pride, Jesus offers the parable of a disciple and his teacher. Jesus reminds His followers of the virtue of humility and strives to be a good disciple. Before telling other people what to do because we know everything, we should first be a good disciples, humble followers, and empathic listeners of Jesus and each other.
The fourth parable completes Jesus’ teaching through parables. Jesus comes to form the hearts, and thus, a genuine disciple of Jesus strives to fill his heart with good things. It would be useless if we appear ‘pious’ but, inside, we are dirty. It is hypocrisy. Unless we have a good heart, our acts and words are empty and signs of pride. Only from the goodness of our hearts we bring goodness also to others.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

[we also pray for the peace in Ukraine and Rusia]

PENGOSONGAN DIRI

Posted by admin on February 25, 2022
Posted in renungan 


Markus 10:13-16

Yesus mengijinkan anak-anak datang kepada-Nya. Dan bahkan menegur para murid-Nya ketika mereka menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Nya. “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”(Mrk 10:14).

Yesus mengajak para murid-Nya untuk memahami bahwa di dalam diri seorang anak terdapat keutamaan yang layak untuk diangkat sebagai jalan untuk mengalami kehadiran Kerajaan Allah, yaitu ketulusan dan kerendahan hati. Kerajaan Allah hadir dalam diri mereka karena, mereka memiliki hati yang bersih sehingga mereka menjadi tulus dalam segala hal.  “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”(Mrk 10:15).  Sifat-sifat yang dimiliki seorang anak inilah yang cocok untuk menerima Allah dengan segala kebaikan-Nya, sebab Dia sendiri adalah kudus dan tulus hati.

Dengan demikian untuk bisa menjadi pribadi yang tulus dan rendah hati seperti yang dimiliki seorang anak,  diperlukan proses untuk melepaskan diri dari kelekatan-kelekatan yang bisa menghalangi relasi seseorang dengan Allah. Kelekatan terjadi ketika seseorang tergantung dan tidak bisa melepaskan ketergantunganya dengan “sesuatu” yang bisa membuatnya terlekat, sehingga ia meninggalkan Allah atau imannya, atau ia mengabaikan sabda-Nya atau lebih percaya dengan sesuatu yang dipikir dan diyakini bisa mendatangkan keuntungan dan kesenangan.

Belajar dari seorang anak, mereka lebih mudah untuk percaya kepada Tuhan dan mengikuti-Nya kerena hatinya yang bersih dan tidak terlekat pada hal-hal yang lain, selain Tuhan Yesus yang ia imani. Oleh karena itu, agar seseorang bisa memperdalam relasi-Nya dengan Allah, diperlukan keberanian untuk mengosongkan diri, agar hanya Allah yang berbelas kasih yang hadir dan menuntun jalan hidupnya. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 2:5-7).

Rm. Didik, CM 

BELAJAR RENDAH HATI

Posted by admin on February 24, 2022
Posted in renungan 


Markus 10:1-12

Yesus menyampaikan pesan kepada para murid-Nya supaya tdk bertegar hati atau berkeras hati, ketika Tuhan menawarkan bimbingan melalui Sabda-Nya agar mereka hidup dalam kebenaran dan damai. “Lalu kata Yesus kepada mereka: “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.”(Mrk 10:5). Tuhan tidak pernah memaksa sebab setiap pribadi manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih. Oleh karena itu jika seseorang tidak percaya pada Tuhan,  dan berkeras hati dengan keyakinannya sendiri, maka Tuhan juga tidak bisa menyampaikan kebenaran-Nya di dalam hidupnya. Dengan demikian orang yang tegar hati akan memilih jalan sendiri diluar kehendak Allah, dan dengan demikian ia tidak bisa juga setia dalam mengikuti Kristus.

Oleh karena itu sikap yang dibutuhkan seseorang untuk bisa mendengarkan Sabda-Nya dan kebenaran yang tawarkan-Nya terlaksana adalah kerendahan hati. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”(Efesus 4:2). Dengan sikap rendah hati, maka seseorang akan terbuka untuk menerima kasih dan kebaikan Tuhan kepadanya, serta setia untuk mengikuti-Nya. Tantangan yang muncul untuk rendah hati adalah diri sendiri. Oleh karena itu Yesus menyatakan kepada para murid-Nya kalau mereka ingin setia  mengikuti-Nya maka ia harus menyangkal diri. “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(Luk 9:23). 

Dengan demikian, Yesus merindukan semua pengikut-Nya tidak terpisah dengan-Nya agar mereka menerima damai dan keselamatan. Cara untuk menuju ke sana adalah dengan membuang kesombongan dan ketegaran hati lalu menjadi rendah hati sehingga Tuhan bisa membimbingnya dalam kebenaran dan kesetiaan. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29).

Rm. Didik, CM 

Translate »