Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Perumpamaan Tentang Pukat (Penjala Ikan)

Posted by admin on July 31, 2019
Posted in renungan 

Kamis, 01 Agustus, 2019

Perumpamaan Tentang Pukat (Penjala Ikan) (Matius 13: 47-53)

Injil hari ini Yesus menyampaikan dua perumpamaan tentang Kerajaan surga. Dua perumpamaan ini merupakan perumpamaan-perumpamaan terakhir yang disajikan oleh Matius dalam serangkaian ajaran tentang Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan ini, Yesus mengajar tentang akhir zaman di mana yang baik akan dipisahkan dari yang jahat. Implikasinya adalah bahwa yang baik dan yang buruk akan ada bersama dalam Gereja atau komunitas iman sampai dilakukannya suatu pekerjaan pemisahan yang bersifat final. Para pengikut Yesus berpartisipasi dalam pekerjaan memajukan Kerajaan Surga. Mereka menjadi para “penjala manusia” yang berarti “penginjil”. Kendati demikian, pekerjaan final untuk memisah-misahkan diserahkan kepada Allah (dilambangkan dalam perumpamaan ini oleh para malaikat). Orang-orang jahat akan dihakimi dan akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi. Mereka akan mengalami rasa penyesalan yang tak henti-hentinya.

Catatan Matius perihal kata-kata Yesus sehubungan dengan “tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya”, digunakan sebagai ikhtisar ajaran-ajaran-Nya tentang Kerajaan Surga seperti termuat dalam berbagai perumpamaan-Nya. Para pengikut Yesus, khususnya mereka yang berfungsi sebagai para pemimpin Gereja “yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga” harus melakukan discernment (penegasan rohani) manakah yang mempunyai nilai di antara harta yang baru dan yang lama. Istilah-istilah “baru” dan “lama” dapat ditafsirkan secara simbolis sebagai acuan kepada perjanjian baru dan perjanjian lama.

Sang tuan rumah adalah seorang ahli dalam memahami nilai dari hartanya yang baru maupun nilai dari hartanya yang lama. Dengan cara serupa, setiap ahli Taurat (yang memperoleh pendidikan dalam hal-hal yang spiritual) juga harus ahli dalam membeda-bedakan nilai spiritual dari ajaran perjanjian baru maupun perjanjian lama. Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab-kitab para nabi dan bukan untuk meniadakannya. Jadi seorang ahli Taurat yang bijak harus melakukan discernment sebagaimana Yesus – sang Penggenap hukum Taurat – adalah jawaban terhadap berbagai nubuat yang terdapat dalam Kitab Suci Ibrani.

Ketika Yesus selesai mengajar dengan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ dan melanjutkan misi-Nya untuk mengajar, terus bekerja mempersiapkan orang banyak untuk menerima Dia dalam penderitaan sengsara-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Dia meninggalkan para murid-Nya yang akan lebih memahami tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang akan merangkul Kerajaan Allah. Kita sebagai warga Gereja, sebagai orang yang telah dibaptis dipanggil oleh Tuhan menjadi pelanjut dari karya pewartaan Yesus ini di dalam setiap lingkungan di mana kita tinggal, baik dalam keluarga, komunitas, maupun di tempat kerja kita. Pewartaan tentang Allah selalu menjadi panggilan bagi setiap orang Kristen yang telah dibaptis.

Rabu, 31 Juli, 2019

Posted by admin on July 30, 2019
Posted in renungan 

Hari ini Yesus menceritakan tentang dua buah perumpamaan yang berbeda namun keduanya memiliki nilai yang sama. Ia bercerita tentang harta yang tersembunyi di ladang dan tentang mutiara yang berharga. Keduanya memiliki tujuan yang sama: untuk mengungkapkan kehadiran Kerajaan Allah dalam hidu kita msing-masing. Sebenarnya Kerajaan allah telah hadir dalam hidup kita. Yang diminta Allah dari kita adalah agar kita mampu menemukannya dengan cara kita masing-masing. Sebenarnya perjalanan hidup kita adalah perjalanan untuk menemukan makna hidup kita, dan makna itu ada di dalam diri Allah yang selalu hadir dalam hidup kita. salah satu kisah moderen yang bisa kita tiru adalah perjalanan dan pergulatan hidup yang dialami oleh Victor Frankl, seorang dokter dan psikiater yang menjadi tahanan NAZI Jerman pada saat perang dunia ke dua. Dia bisa bertahan hidup karena dia yakin bahwa hidup memiliki sebuah makna, apapun bentuk kehidupan itu, apapun tantangan yang dialami dalam hidup tersebut. Selama kita yakin bahwa hidup kitya memiliki sebuah makna maka kita akan berjuang untuk mempertahankannya. Kedua buah perumpanaan yang disampaikan oleh Yesus mengajari kita untuk terus mau berjuang menemukan Allah yang ada dalam diri kita. Berjuang terus menerus mencari Tuhan sama artinya dengan terus menerus berjuang menggali makna hidup kita. nAmin Tuhan memberkati.

Selasa, 30 Juli 2019

Posted by admin on July 29, 2019
Posted in renungan 

Para murid, di rumah, berbicara dan meminta penjelasan tentang perumpamaan tentang gandum dan ilalang. Telah dikatakan berulang kali bahwa Yesus, di rumah, terus mengajar murid-murid-Nya. Pada saat itu, tidak ada televisi, dan orang-orang menghabiskan malam musim dingin yang panjang bersama-sama, berbicara tentang fakta dan peristiwa kehidupan. Pada kesempatan ini Yesus menyelesaikan pengajaran dan menyiapkan murid-murid-Nya. Yesus merespons dengan mengambil kembali masing-masing unsur dari perumpamaan ini dan memberi mereka arti penting: ladang adalah dunia; benih yang baik adalah anggota Kerajaan; ilalang adalah anggota musuh (si jahat); musuh adalah iblis; panen adalah akhir zaman; malaikat maut adalah malaikat. Dan sekarang baca kembali perumpamaan yang diberikan kepada masing-masing dari keenam unsur ini: ladang, benih yang baik, ilalang, musuh, panen dan mesin pemanen, dan makna perumpamaan inui. Dengan cara ini cerita mengasumsikan pengertian yang sama sekali baru dan adalah mungkin untuk mencapai tujuan yang ada dalam pikiran Yesus ketika Dia menceritakan perumpamaan tentang darnel dan benih yang baik. Dengan informasi yang diberikan oleh Yesus, kita akan lebih memahami penerapannya: Sama seperti ilalang yang dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman, Anak Manusia akan mengirim malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan dari kerajaan-Nya semua penyebab kegagalan dan semua yang berbuat jahat, dan melemparkan mereka ke dalam tungku yang menyala-nyala di mana akan ada tangisan dan kertakan gigi. Maka orang-orang benar akan bersinar seperti matahari di Kerajaan Bapa mereka. ” Nasib ilalang adalah berakhir di tungku. Nasib gandum adalah untuk bersinar seperti matahari di Kerajaan Bapa. Dengan menyampaikan perumpamaan ini Yesus tentunya berharap bahwa para murid dan mungkin orang-orang yang medengarkan Dia akan mengaalami perertobatan. Jika mereka terus hidup seperti sebelumnya, mereka akan menjadi seperti ilalang ; dibakar di dalam tungku, artinya hidup tanpa makna. Maka mari kita mohon kepada Tuhan agar Ia memberi kita keberanian untuk berubah ke arah yang lebih baik. Amin.

Senin, 29 Juli, 2019

Posted by admin on July 28, 2019
Posted in renungan 

Injil pada hari ini mengisahkan sebuah drama yang sudah sangat kita kenal yaitu tentang Marta dan Maria. Dalam Injil hari ini pula Santo Lukas mengupasnya dengan sangat bagus. Lukas sangat menekankan mentalitas mendengarkan Sabda Tuhan dan relasi dengan Tuhan. Ini bukan masalah membagi hari dalam waktu yang dikhususkan untuk doa dan pelayanan, tetapi perhatian kepada Firman mendahului dan mendasari pelayanan. Keinginan untuk mendengarkan Allah tidak dapat digantikan oleh kegiatan lain: perlu mendedikasikan waktu dan tempat tertentu untuk mencari Tuhan. Komitmen untuk mau mendengarkan Firman berasal dari perhatian kepada Allah. Sebenarnya segala sesuatu yang ada di sekitar kita berkontribusi untuk mewujudkan niat ini, sebut saja tempat dan waktu. Namun, keinginan untuk bertemu dengan Tuhan harus datang dari dalam hati seseorang. Tidak ada elemen teknis yang secara otomatis membuat seseorang bertemu dengan Tuhan. Ini adalah masalah cinta: perlu untuk mendengarkan Yesus, untuk bersama-Nya, persis seperti pepatah leluhur kita tresna jalaran seka kulina ; cinta dapat tumbuh karena kebiasaan, dan setelah itu jatuh cinta dimulai. Demikian pula kita memerlukan keseimbangan antara berdoa (mendengarkan sabda Tuhan) dan melayani. Kita sekalian sebagai orang yang dibaptis perlu mempraktekkan keseimbangan ini. Apa yang dapat kita lakukan agar orang yang dibaptis bertahan dan mencapai kedewasaan iman? Kita harus melatih diri kita untuk mendengarkan Firman Tuhan. Ini adalah cara yang paling sulit tetapi pasti untuk mencapai kedewasaan iman. Kalau kita mau kita pasti mampu. Tuhan memberkati.

ALLAH MENYELAMATKAN

Posted by admin on July 26, 2019
Posted in renungan 

HARI SABTU DALAM PEKAN KE 16

MASA BIASA – 27 July 2019
Keluaran 24:3-8Matius 13:24-30

Saudara-saudariku terkasih,
Pada hakekatnya kita bisa mengidentifikasikan diri dengan bangsa Israel dalam bacaan pertama hari ini. Pasti mereka sanggup mengikuti/mendengarkan perintah Allah dan sanggup melakukan segala perintah Allah. Bagaimanapun juga, itu adalah perjanjian yang dibuat dengan dan dalam darah Tuhan. Sekalipun kita tidak setia, Allah tetap setia.
Bacaan Injil hari inipun menegaskan kelemahan kita sebagai manusia. Beberapa ayat dari bacaan Injil hari inipun, Yesus menginterpretasi rumput liar sebagai anak-anak si jahat (Matius 13:38-39). Di dalam buku Katekismus pun menjelaskan bahwa: “Semua anggota Gereja, termasuk para pelayanNya, harus menyadari bahwa kita semua adalah orang berdosa. Setiap orang tanpa kecuali adalah benih lalang diantara gandum yang terus bertumbuh sampai akhir zaman.
Saudara-saudari terkasih,
Kita suka atau tidak, setuju atau tidak dengan interpretasi itu, kita perlu sadar dan menerima kenyataan bahwa yang baik dan yang jahat, kebajikan dan perbuatan jahat masih sering tercampur baur; dengan kata lain masih terus membauri hidup kita. Selama kita masih berjalan bersama sebagai murid-murid Yesus, dengan bantuan rahmat Allah, kita boleh dibilang mempunyai hari-hari baik terlebih ketika kita masih bisa sabar kepada keluarga, teman-teman dan rekan kerja, dan juga bermurah hati kepada orang lain baik dalam waktu maupun dalam kebutuhan finansial. Tetapi bukan tidak mungkin kita juga mempunyai hari-hari yang tidak baik, baik disadari atau tidak bisa saja menelusupi hidup keseharian kita, dimana kita bisa saja menjadi tidak sabar, cemburu, dendam dan marah – dengan demikian kejahatan bisa saja akan selalu membayangi hidup kita.
Tetapi perlu juga kita ketahui, bahwa dalam keadaan seperti ini masih ada harapan oleh adanya Kabar Gembira. Kita bisa aman kalau kita selalu bisa tak henti-hentinya menimba kesabaran Allah dan secara rational mampu mengatasinya. Meskipun kegagalan bangsa Israel, Alah tetap menyelamatkan. Demikian pula, meskipun kita gagal mentaati perintah Allah, Allah tetap setia dan menyelamatkan. Dan Allah tetap menghargai benih kebaikan dalam diri kita yang telah terpelihara, karena Allah telah menyatakan betapa besar kesabaranNya dan yang selalu memberi kita kesempatan untuk bertobat dan melakukan transformasi sampai akhir kehidupan kita.
Dengan demikian saudara-saudariku terkasih, selama kita masih bisa memelihara benih-benih yang baik dalam kehidupan ini, kita berdoa semoga kita terus menerus menaruh kepercayaan  kepada Kristus, tuan kebun yang baik, dan ambil kesempatan untuk menimba rahmat Allah melalui pertobatan, doa dan perayaan Ekaristi. Serahkan semua benih-benih kita yang baik kepada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan akan memelihara dan menolong kita sampai saat panen, ketika ia kembali mengumpulkan kita untuk hidup berbahagia bersamaNya. Amin.

Translate »