+ihs
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Tahun lalu, saya merayakan salah satu Natal paling berkesan dalam hidup saya. Dalam kesempatan pulang ke tanah air, saya sengaja mohon ijin pada Romo provinsial saya, Romo Riyo, untuk tidak merayakan Natal di Jakarta di mana saya pernah bertugas, atau di Surabaya tempat Ibu, saudara-saudari dan banyak teman saya tinggal. Saya mohon ijin untuk mengikuti bintang di Timur, untuk pergi melayani umat dan berbagi sukacita Natal di Waghete, dusun terpencil di pegunungan Jayawijaya, Papua, di pusat misi Yesuit Indonesia yang paling tersembunyi, dalam kesederhanaan dan kepolosan masyarakat pedalaman.

Saya tiba di desa Waghete setelah naik mobil sekitar 10 jam dari kota pantai Nabire dan masih sempat bertemu 2 Romo Yesuit yang bertugas di sana, Romo Nico dan Romo Budi yang akan bertugas di stasi, dan dibantu Frater Yudha melaksanakan orientasi dengan singkat. Meski hanya sempat persiapan dan berkenalan sekitar 1 jam, misa berjalan cukup lancar dengan sekitar 2000 umat meluap sampai di luar Gereja seperti biasa di tanah air. Menarik. Ada 3 paduan suara, salah satunya mengenakan Moge, pakaian khas suku Mee dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Mee pula. Kotbah saya siapkan 20 menit karena mereka memang terbiasa dengan kotbah yang panjang dan total kotbahnya 45 menit karena bilingual, memakai penerjemah ke bahasa Mee. Ratusan anak-anak berbaris rapi usai komuni untuk menerima berkat dari para frater, dan dibutuhkan waktu lebih dari 20 menit sendiri untuk menuntaskannya! Misa berjalan selama kurang lebih 2 jam 15 menit. Itupun kurang lama untuk mereka yang kebanyakan berjalan kaki saja hingga hingga berjam-jam untuk sampai di gereja.

Saat usai misa paginya, saya dibisiki Ibu Elia, guru volunteer dari Jakarta, “Romo Ardi, tolong bicara dengan Mama Margaretha ya… lihat dia berdiri di dekat pintu masuk”. Mama Margaretha, salah satu anggota koor, tangannya tergantung dibebat perban dan mukanya terlihat lebam membiru di sana-sini. Pagi itu, sebelum datang misa, dia ternyata dipukuli suaminya. Dia korban kekerasan dalam rumah tangga, salah satu persoalan yang agak lazim dijumpai, salah satu pekerjaan rumah Gereja. Natal, mestinya membawa damai, tetapi untuk mama Margaretha, sukacita Natal bercampur aduk dengan pedih perih kekerasan yang melukai jiwa dan raganya. Hati saya juga perih saat mendengarkan curhat Mama Margaretha, berdoa dan memberikan berkat khusus untuknya.
Saat kemudian saya kembali ke pastoran, saya bertemu Romo Nico dan serombongan bapak-bapak pemimpin umat berjalan dengan wajah murung. Mereka bilang, semalam, ada kebakaran. Lima orang meninggal. Perkaranya sepele. Salah satu anak menyalakan lilin dan lupa mematikan. Api lilin itu lalu perlahan membakar seluruh isi rumah yang dibuat dari kayu, dan 5 penghuninya terjebak di dalamnya. Saat kelahiran dirayakan, kematian diratapi pula.

Tragedi itu muncul lagi dalam ingatan saya, saat saya merasakan pedih perih mengikuti perkembangan dunia: penyanderaan berakhir tiga orang mati termasuk penyandera di café Lindt Martin Place Sydney, penyerbuan dan pembunuhan 145 orang termasuk 132 anak-anak di sekolah oleh Taliban di Peshawar Pakistan sehari setelahnya, penculikan setidaknya 172 perempuan dan anak-anak serta pembunuhan 35 orang oleh Boko Haram di Nigeria dua hari kemudian, perbudakan baru di Irak Utara atas perempuan dan anak-anak oleh ISIS dan penabrakan orang di jalan oleh teroris tunggal di Perancis sambil meneriakkan “Allahu akbar” yang diberitakan 4 hari kemudian… saya tercenung datang berdoa di Martin Place dan membaca surat protes: mudah merayakan kepahlawanan seorang tentara yang gugur menjalankan tugas negara, tetapi bagaimana bisa kita memberi makna hidup yang dicabut begitu saja dari seorang Ibu yang pergi bekerja dan kebetulan mampir minum kopi di café. Saya bertanya-tanya dan menjerit menangis: Tuhan, mengapa ini semua terjadi saat kami menunggu perayaan kedatangan Sang Raja Damai? Di manakah harus kucari bintangNya sekarang?
Saat saya berbagi kegelisahan saya di mailinglist Yesuit Indonesia, beberapa teman menawarkan penghiburan. Romo Andre dari Pakistan tidak memberi jawaban, malah mengirim lebih banyak pertanyaan yang menohok: Pernahkah Yosep berpikir bahwa mereka harus pergi dari Nazareth menuju Betlehem untuk sensus, dimana Maria sudah hamil tua? Pernahkan mereka menginginkan bahwa Yesus akan lahir di kandang dan menjadi pengungsi sejak usia dini? Siapa mengira bahwa ratusan bayi harus dimusnahkan karena Herodes membenci seorang bayi? Pertanyaan yang sungguh menggugat…Waduh, tambah pusing dan campur aduk jadinya.
Saya mendapatkan tanggapan yang menguatkan dari saudara-saudara saya yang lain dari Roma, Madrid dan Jakarta. Mereka mengingatkan saya kebenaran seruan Yesaya: Bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat Terang besar. Inilah realitas kita. Kita ini orang-orang yang berjalan dalam hidup, dan di sekitar kita, juga dalam hati kita, ada kegelapan dan terang. Tidak setiap kita dipanggil menjadi hero yang bisa menyelesaikan banyak persoalan apalagi persoalan dunia macam terorisme atau misteri bencana alam seperti tsunami, tanah longsor, gunung meletus…. Kita bukan Mesias. Kita perlu rendah hati dan percaya pada karya Roh Kudus yang terus berkarya.
Bukankah seusai konser paduan suara para malaikat yang gilang gemilang para gembala kembali dibenamkan dalam dingin dan kelamnya malam? Toh api harapan yang terpercik karena kabar gembira itu terus mereka bawa dalam hati, dan mengantar mereka menemukan Sang Bayi, Sang Terang sumber segala terang, Sang Cinta, asal muasal segala kasih? Mereka menemukan sukacita yang lebih dalam daripada kegembiraan dan ketakjuban bertemu para malaikat. Bahkan dalam kegelapan yang paling kelam, sukacita harapan iman dan kasih dapat terus menghangatkan hati kita! Dan bintang penunjuk arah…. Bintang tak pernah hilang hanya karena suatu saat kabut tebal menutup pandangan kita.
Dengan indah, Paus Fransiskus menyatakan, suatu ketika anak kecil mulai banyak bertanya “mengapa”. Ibu Bapak yang pernah membesarkan anak pasti tahu, saat “why age” itu, anak rewel terus tanya mengapa begini, mengapa begitu. Pada tahapan itu, sebenarnya yang dicari lebih dari penjelasan akal budi. Yang dicari sang anak adalah tatapan ayah ibunya yang memberi rasa aman. Saat banyak pertanyaan menghujam di batin kita dihadapkan pada misteri kejahatan dan kematian, kita bisa mencari tatapan mata Tuhan, dan berkata: Engkau tahu mengapa aku tidak tahu, dan Engkau tidak mengatakan padaku mengapa, namun Engkau menatapku dan aku mempercayakan diri kepadaMu, di dalam tatapanMu.
Natal adalah perayaan kesabaran dan kesuburan Tuhan. Kasih itu sabar, kasih itu murah hati. Kasih itu lemah lembut. Kata Romo Marwan dari Jakarta: Tuhan tidak putus asa; Tuhan tidak berhenti. Dunia ini memang kacau dan manusia memang brengsek – hal ini menyedihkan dan menjengkelkan – tetapi Allah memilih untuk tetap terlibat. Itulah pesan utama Natal.
Sebagai anak-anak dari Bapa yang begitu baik, sebagai saudara-saudari dari dari Tuhan yang beserta kita, Immanuel, sudah selayaknya kita ini menjadi orang-orang penuh sukacita, juga di tengah tantangan kegelapan. Karena kita telah dikuatkan dengan cinta. Karena kita hidup untuk mengabarkan dan menebarkan cinta. Sedari awal Tuhan bersabda lewat para malaikat, lalu juga lewat pribadi Kristus: Jangan takut! Saya ulang lagi: Jangan takut! Karena Allah Bapa kita sabar, penuh kasih. Ia telah memberi kita Yesus untuk menuntun kita dalam jalan yang akan membawa kita pada tanah terjanji. Cahaya yang menerangi para bangsa. Bayi mungil papa itu, adalah damai dan sukacita kita! Amin.
Selamat Hari Natal 2014
Damai sejahtera dalam kasih Allah besertamu!
(renungan ini disampaikan dalam misa malam Natal Catholic Indonesian Community Sydney, di Gereja The Holy Rosary Kenshington, Sydney; versi bahasa Inggrisnya juga dibagikan saat misa Natal pagi paroki St Mary North Sydney di Gereja Our Lady Star of the Sea Kirribilli; Sydney 24-25 Desember 2014)
