Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

The Scribes of the Kingdom

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on July 29, 2023
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

17th Sunday in Ordinary Time [A]

July 30, 2023

Matthew 13:44-52

The Scribes are often perceived as the bad guys. Together with the Pharisees and the elders, the scribes are often arguing and disagreeing with Jesus. Yet, interestingly, Jesus mentions the scribes of the kingdom of God. So, what is precisely the scribes? Are they the bad guys or the good guys? What does Jesus mean by ‘the Scribes of the Kingdom’?

Scribes [in Greek: γραμματεὺς, grammateus] are unique professions in the ancient time. When most people were illiterate, and the writing material was scarce, the scribes played an essential role in keeping the record and passing down the written history. Being a scribe is not only about the ability to read but also highly specialized skills to write efficiently using ancient materials [stone tablets, animal skins, papyrus]. Most scribes worked for the royal court as they wrote various official documents and recorded the chronicles. Since, in ancient times, the royal officials and the religious leaders were often the same persons, the scribes also were tasked to write and copy sacred texts. 

In the time of Jesus, the Israelite scribes were highly specialized professionals in reproducing Torah scrolls and the prophets’ writings. They would form a small community and write sacred texts together. While they wrote, they would read the text aloud and, thus, avoid unnecessary errors. To copy the holy texts is their sacred duty. But not only reading and writing the text, the scribes also read, discussed and interpreted the meaning of the sacred text. With this privileged access to the sacred text, they also read and taught the Torah to the people of Israel. Scribes did not form a single organized group but joined existing groups like Pharisees, Sadducees and Essenes, or they decided not to be unaffiliated to any group. From here, we know that scribes were not homogenous. Some may disagree with Jesus at some point, but on some issues, they may agree. 

Then, Jesus mentioned ‘the scribes of the Kingdom’, who are these people? At the first level, these are the apostles of Jesus and other disciples. They are the ones who are responsible for writing the New Testament. Matthew and John are apostles, while Mark is the disciple of Peter and Luke is the companion of Paul. They also interpreted and preached the Old Testament as fulfilled by Jesus Christ.

However, at the second level, the scribes are all of us. Nowadays, we have easy access to the Bible. We are called not only to hear and read the word of God in the scriptures but also to understand it more profoundly and share it with others. While some people are taking the more prolonged and more intense study of the scriptures, like priests, bible scholars, and catechists, all of us are also called to take part in the scribes’ responsibility. 

I am happy that more Catholics are taking an interest in Bible Study. Some take a formal classes or attend seminars. Some make commitments to read Bible every day. Yet, scribes are not only someone who read and study the sacred text but also one who share and preach it. Thus, the challenge is how we are to share the word of God and take part in the mission of the Scribes of the Kingdom.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ahli-ahli Taurat Kerajaan

Minggu ke-17 dalam Waktu Biasa [A]

30 Juli 2023

Matius 13:44-52

Ahli Taurat sering kali dianggap sebagai orang jahat. Bersama dengan orang-orang Farisi dan para tua-tua, para ahli Taurat sering kali berdebat dan berselisih paham dengan Yesus. Namun, yang menarik, Yesus menyebut ahli-ahli Taurat sebagai ahli-ahli Taurat Kerajaan Allah. Jadi, apa sebenarnya ahli Taurat itu? Apakah mereka orang jahat atau orang baik? Apa yang dimaksud Yesus dengan ‘ahli-ahli Taurat Kerajaan Allah’?

Ahli Taurat [dalam bahasa Yunani: γραμματεὺς, grammateus] adalah profesi yang unik pada zaman dahulu. Ketika sebagian besar orang buta huruf, dan bahan tulisan sangat langka, juru tulis memainkan peran penting dalam menyimpan catatan dan mewariskan sejarah tertulis. Menjadi juru tulis tidak hanya tentang kemampuan membaca tetapi juga keterampilan yang sangat khusus untuk menulis secara efisien menggunakan bahan-bahan kuno [tablet batu, kulit binatang, papirus]. Kebanyakan juru tulis bekerja untuk istana kerajaan karena mereka menulis berbagai dokumen resmi dan mencatat kronik. Karena pada zaman kuno, pejabat kerajaan dan pemimpin agama sering kali adalah orang yang sama, para juru tulis juga ditugaskan untuk menulis dan menyalin teks-teks suci.

Pada zaman Yesus, para ahli Taurat Israel adalah para profesional yang sangat terspesialisasi dalam mereproduksi gulungan Taurat dan tulisan-tulisan para nabi. Mereka akan membentuk sebuah komunitas kecil dan menulis teks-teks suci bersama-sama. Ketika mereka menulis, mereka akan membacakan teks tersebut dengan suara keras dan, dengan demikian, menghindari kesalahan yang tidak perlu. Menyalin teks-teks suci adalah tugas suci mereka. Namun, tidak hanya membaca dan menulis teks, para juru tulis juga membaca, mendiskusikan, dan menafsirkan makna teks suci tersebut. Dengan akses istimewa terhadap teks suci ini, mereka juga membaca dan mengajarkan Taurat kepada orang-orang Israel. Para ahli Taurat tidak membentuk satu kelompok yang terorganisir, melainkan bergabung dengan kelompok-kelompok yang sudah ada seperti Farisi, Saduki, dan Eseni, atau mereka memutuskan untuk tidak berafiliasi dengan kelompok mana pun. Dari sini, kita tahu bahwa ahli-ahli Taurat tidaklah homogen. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan Yesus dalam beberapa hal, tetapi dalam beberapa hal, mereka mungkin setuju. 

Kemudian, Yesus menyebutkan ‘ahli-ahli Taurat Kerajaan’, siapakah mereka? Pada tingkat pertama, mereka adalah para rasul Yesus dan murid-murid lainnya. Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk menulis Perjanjian Baru. Matius dan Yohanes adalah para rasul, sementara Markus adalah murid Petrus dan Lukas adalah rekan Paulus. Mereka juga menafsirkan dan mengkhotbahkan Perjanjian Lama sebagaimana yang telah digenapi oleh Yesus Kristus.

Namun, pada tingkat kedua, ahli kitab adalah kita semua. Saat ini, kita memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan Alkitab. Kita dipanggil bukan hanya untuk mendengar dan membaca firman Allah dalam Alkitab, tetapi juga untuk memahaminya secara lebih mendalam dan membagikannya kepada orang lain. Sementara beberapa orang mengambil studi yang lebih lama dan lebih intens tentang kitab suci, seperti para imam, sarjana Alkitab, dan katekis, kita semua juga dipanggil untuk mengambil bagian dalam tanggung jawab para ahli kitab. 

Saya senang bahwa semakin banyak umat Katolik yang menaruh minat pada Pendalaman Kitab Suci. Beberapa mengambil kelas formal atau menghadiri seminar-seminar. Beberapa membuat komitmen untuk membaca Alkitab setiap hari. Namun, ahli Kitab Suci bukan hanya seseorang yang membaca dan mempelajari teks suci, tetapi juga seseorang yang membagikan dan mewartakannya. Dengan demikian, tantangannya adalah bagaimana kita dapat membagikan firman Tuhan dan mengambil bagian dalam misi Ahli Taurat Kerajaan Allah.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Kingdom of God

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on July 23, 2023
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

16th Sunday in Ordinary Time [A]

July 23, 2023

Matthew 13:24-43

One of the most fundamental themes of Jesus’s preaching is the Kingdom of God [in Matthew, it is called ‘the kingdom of heavens’]. Yet, what is the Kingdom of God? Where is this Kingdom? Why is it central to Jesus’ preaching and mission? 

What is the Kingdom of God? A kingdom is precisely a kingdom because it possesses a king or monarch as its highest authority. If we change its supreme leader into a president or prime minister, it ceases to be a kingdom and turns into something else, like a republic. Thus, the presence of a king in the Kingdom of God is non-negotiable. Who, then, is the king of the Kingdom of God? The answer is obvious: God Himself. Since Jesus is our God, then it is not hard to say that Jesus is the king of the Kingdom of God. Many new testament passages speak of this Kingdom of Jesus (see Eph 5:5; 2 Pet 1:11). Jesus himself acknowledged that He is the king of this Kingdom (see Luk 22:30).

Now, after we know the king of this Kingdom, we need to determine who the subjects are. After all, a king is not a king without the people whom he governs. Many will instantly answer that the members of the Kingdom are all who believe in Jesus. Yet, it is not as simple as that. If we observe other kingdoms or nations, to be a citizen of a particular Kingdom or country is not enough that we ‘believe’ that he is a citizen. He must undergo required procedures that make him a citizen, like processing certain legal documents, etc. More than that, it is imperative for a citizen to obey the law of the country. Otherwise, he will be punished accordingly.

Therefore, it is the same with the Kingdom of God. To become part of the Kingdom, we must undergo the required procedure. In the case of the Kingdom of God, it is the sacrament of baptism (see John 3:3-5). Yet, to be a good citizen of the Kingdom, we must not stop a baptism. We are expected to know and follow the laws of the Kingdoms. We are called to obey the words of Jesus, our king. We cannot call ourselves good Christians, good citizens of the Kingdom of Heaven, if we keep breaking the laws.

Another aspect of the Kingdom of Heaven that we must not overlook is that it is not yet ‘perfect’. Some may think that since it is the Kingdom of God, it must be super powerful, full of good things, and has no suffering. Yet, Jesus reminds us through His parables that God allows bad things to inflict the Kingdom of God on earth. God is like the landowner who allows the weed to grow together with the wheat in his field. Some may expect the Kingdom to grow strong like a cedar seed that will develop into a strong and majestic one. Yet, Jesus told us that the Kingdom is like a mustard seed, the smallest seed that will grow into ugly shrubs.

Through Jesus’ parables, we must not be surprised if bad things are happening even after we become citizens of the Kingdom. We are expected not to be shocked to experience pain and suffering as members of the Kingdom. God allows these bad things to happen as part of His plan for us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

HAKEKAT DARI PERATURAN

Posted by admin on July 20, 2023
Posted in renungan 



Matius 12:1-8

Yesus menyatakan hakekat dari hidup beriman dan pelayanan adalah untuk mewujudkan belas kasih Allah dalam kehidupan umat manusia. Dengan demikian semua aturan yang dibuat oleh manusia selayak dan sepantasnya  perlu bersumber dari hakekat tersebut. Oleh karena itu aturan atau hukum manusia tidak diperkenankan bertentangan dengan kehendak Allah sendiri, atau tidak pas jika kemudian dalam prakteknya akhirnya mengurangi makna atau bahkan menghapus makna belas kasih Allah yang seharusnya menjadi inti dan tujuan dari semua aturan.  “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.”(Mat 12:7).

Oleh karena itu, ketika orang Farisi mempersoalkan murid-murid Yesus pada saat mereka mengambil dan makan bulir gandum kerena lapar di hari Sabat, maka Yesus menentang mereka. “Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” (Mat 12:1-2). Dengan demikian, Yesus mengajak semua orang untuk melihat aturan bukan sebagai aturan belaka, namun aturan dan hukum adalah atau sebagai sarana untuk melindungi yang lemah dan menegakkan belas kasih Allah sebagai sumber dari tata kelola hidup manusia. Oleh karena itu, segala dan semua  hal akan menjadi sarana keselamatan apabila menempatkan Tuhan yang berbelas kasih menjadi pusat dan inti dari prilaku hidup manusia, termasuk di dalamnya aturan yang dibuat dan yang praktekan. “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”(Mat 12:8).

Didik, CM 

MENGANDALKAN KRISTUS

Posted by admin on July 20, 2023
Posted in renungan 



Matius 11:28-30

Allah mengetahui segala sesuatu apa yang terjadi dan apa yang dialami oleh setiap orang, karena Dia adalah Roh yang telah menjadikan manusia bisa hidup. Oleh karena itu Dia juga tahu pergulatan batin masing-masing orang yang diwarnai dengan kecemasan, keletihan, dan bahkan tidak jarang mengalami keputusasaan. Dalam kondisi semacam itu , apa yang dibutuhkan mereka yang mengalaminya? Tidak lain, mereka membutuhkan pribadi yang bisa dipercaya yang mampu menguatkan dan menumbuhkan harapan mereka kembali. Allah hadir dalam diri Yesus Kristus menawarkan pertolongan dan kekuatan untuk menjalani hidup mereka kembali dengan suka cita. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).

Dengan demikian, Allah tahu apa yang dialami oleh setiap orang. Oleh karena itu Dia siap menerima siapa pun yang dengan iman datang kepada-Nya. Tidak ada orang yang akan ditolak, karena Dia mengasihi manusia. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.”(Yoh 15:9). Karena kasih-Nya, Dia merindukan semua orang percaya dan datang kepada-Nya.  Sebab hanya melalui Yesus Kristus,  Allah melaksanakan karya keselamatan kepada umat manusia. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.(Efesus 1:7).

Didik, CM 

PERCAYA PADA KRISTUS

Posted by admin on July 18, 2023
Posted in renungan 



Matius 11:20-24

Yesus menyampaikan seruan pertobatan bagi kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Mengapa mereka dikecam oleh Yesus? Karena mereka telah banyak menerima, mengalami mujizat dan kebaikan Tuhan, namun mereka tetap berkeras hati dan menolak Yesus sebagai penyelamat dan Tuhan. Oleh karena itu, Inti dari pertobatan tersebut adalah keberanian untuk menerima dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat. “Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya”.(Mat 11:20).

Dengan demikian, Tuhan Yesus mengharapkan iman bersemi di dalam setiap orang. Untuk bisa percaya kepada-Nya bukan tergantung pada banyaknya mujizat yang mereka terima, namun tergantung pada terbukaan hati masing-masing untuk orang untuk menerima dan percaya pada Tuhan Yesus. Masing-masih orang memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan siapakah Tuhan dan penyelamat bagi hidup mereka. Ketika hati sudah mulai terbuka, Roh Kudus akan hadir dan menolong mereka untuk membimbing agar semakin kuat dalam percaya, sehingga mereka bisa menjalani panggilannya dengan setia.
“…Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”(Yoh 14:26)

Didik, CM 

Translate »