Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Food for Eternal Life

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on July 31, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

18th Sunday in Ordinary Time [B]
August 1, 2021
John 6:24-35

The people were looking for Jesus because they wanted to eat the bread more. They wished that their stomach would be filled. Jesus reminded them that they should not seek food that perishes but for food that endures eternal life. Unfortunately, people failed to understand. They thought it was like Old Testament’s manna constantly given to the Israelites in the wilderness for forty years. There would be bread for every day for the rest of their lives.

Going back to the Old Testament, we listen to the story of the Israelites who complained because they were hungry. However, just a few hours before, they just witnessed how God parted the red sea and destroyed the mighty Egyptian force through Moses. They knew well how God brought the Egyptians to their knees. Yet, when their stomachs were empty, they forgot all of this and demanded the return to the land of slavery. They even accused God of plotting their death in the wilderness. When it comes to survival instinct, the Israelites were too eager to embrace slavery rather than stay loyal to the God of freedom.

Jesus reminds us that there is more to life than filling our stomachs. Indeed, it is essential to eat and nourish our bodies, but even this physical food is also coming from God’s providence. Often, we are too preoccupied to look for earthly bread in its various forms, successful careers, political influence, fame, and wealth. We seek these things to the point that we are willing to go back to the slavery of sin and abandon the God of freedom.

This time of the pandemic, we might find ourselves in the position of the Israelites. Some of us are hungry because we are just losing our economic stability. Some of us are battling sickness. Some of us are losing our beloved family members. Some of us cannot do what we used to love to do. Some of us cannot go to the Church and do our services. In these dire needs, we are facing the temptation to complain against the Lord. We may get disappointed and angry with the Lord. We are more ready to abandon the Lord. We easily forget the mighty deeds the Lord has wrought in our lives. Like our ancestors, the Israelites, we are absorbed in our sufferings and blaming God for our misfortunes. We forget our God who allows this suffering is the God who controls the forces of nature.

Let us learn from the saints. Ignatius of Loyola is one of the excellent examples. He used to be a man who hungered for worldly glory. He put his life in the line to prove his gallantry in the siege of Pamplona. Yet, when his legs were severely wounded and permanently limped, his ambitions were scattered. Yet, at the same time, he read the lives of Christ and the saints, and he realized that the greater glory that the world could ever offer. The true path of grandeur is to work for the greater glory of God. He left everything and worked for the food that will not perish. Eventually, he ended up as a saint.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Makanan untuk Kehidupan Kekal

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on July 31, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

Minggu Biasa ke-18 [B]
1 Agustus 2021
Yohanes 6:24-35

Banyak orang mencari Yesus karena mereka ingin makan roti lebih banyak, mereka berharap perut mereka kenyang. Namun, Yesus mengingatkan mereka agar mereka tidak mencari makanan yang dapat binasa, melainkan makanan yang bertahan untuk hidup yang kekal. Sayangnya, mereka gagal untuk paham. Mereka mengira makanan yang Yesus beri seperti manna Perjanjian Lama yang terus-menerus diberikan kepada orang Israel di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka mengira bahwa akan ada roti bagi mereka setiap hari secara cuma-cuma. Perut mereka selalu terisi dan mereka selalu dijauhkan dari penderitaan. Namun, ini bukanlah roti yang Yesus tawarkan.

Kembali ke Perjanjian Lama, kita mendengarkan kisah orang Israel yang mengeluh karena lapar. Namun, hanya beberapa jam sebelumnya, mereka baru saja menyaksikan bagaimana Tuhan melalui Musa membelah laut merah dan menghancurkan kekuatan besar Mesir. Mereka tahu betul bagaimana Tuhan membuat orang Mesir bertekuk lutut dengan 10 tulah. Namun, ketika perut mereka kosong, mereka melupakan semua ini, dan menuntut kembali ke tanah perbudakan. Mereka bahkan menuduh Tuhan merencanakan kematian mereka di padang gurun. Dalam hal naluri bertahan hidup, orang Israel terlalu bersemangat untuk memilih perbudakan, daripada tetap setia kepada Tuhan kemerdekaan.

Yesus mengingatkan kita bahwa hidup ini lebih dari sekadar mengisi perut kita. Memang, makan dan memelihara tubuh kita adalah hal yang sangat penting, tetapi bahkan makanan fisik ini juga berasal dari pemeliharaan Tuhan. Seringkali, kita terlalu sibuk mencari roti duniawi dalam berbagai bentuknya, karier yang sukses, pengaruh politik, ketenaran, dan kekayaan. Kami mencari hal-hal ini sampai kami bersedia kembali ke perbudakan dosa, dan meninggalkan Tuhan kebebasan.

Saat pandemi ini, kita mungkin menemukan diri kita berada di posisi orang Israel. Beberapa dari kita lapar karena kita baru saja kehilangan stabilitas ekonomi kita. Beberapa dari kita sedang berjuang melawan penyakit. Beberapa dari kita kehilangan anggota keluarga tercinta. Beberapa dari kita tidak dapat melakukan apa yang dulu suka dilakukan. Beberapa dari kita tidak dapat pergi ke Gereja dan melakukan pelayanan kita. Dalam kebutuhan yang mendesak ini, kita menghadapi godaan untuk mengeluh kepada Tuhan. Kita mungkin kecewa dan marah kepada Tuhan. Kita lebih siap untuk meninggalkan Tuhan. Kita dengan mudah melupakan perbuatan-perbuatan besar yang Tuhan telah lakukan dalam hidup kita. Seperti nenek moyang kita, orang Israel, kita tenggelam dalam penderitaan kita, dan menyalahkan Tuhan atas kemalangan kita. Kita melupakan Tuhan kita yang membiarkan penderitaan ini adalah Tuhan yang mengendalikan kekuatan alam.

Mari kita belajar dari orang-orang kudus. Ignatius dari Loyola adalah salah satu contoh yang sangat baik. Dia dulunya adalah seorang pria yang haus akan kemuliaan duniawi. Bahkan, dia mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuktikan kegagahannya dalam mempertahankan benteng Pamplona. Namun, ketika kakinya terluka parah, dan menjadi pincang secara permanen, ambisinya hancur. Namun, pada saat yang sama, dia membaca kehidupan Kristus dan orang-orang kudus, dan dia menyadari bahwa kemuliaan yang lebih besar yang tidak dapat ditawarkan dunia. Jalan keagungan yang sebenarnya adalah bekerja untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar. Dia meninggalkan segalanya dan bekerja untuk makanan yang tidak akan binasa. Akhirnya, dia berakhir sebagai santo.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukankah ibu-Nya Maria?

Posted by admin on July 30, 2021
Posted in renungan 

Mat 13:54-58

Apakah anda pernah mendengar pertanyaan seperti ini? Ketika orang menyindir dan mempertanyakan kemampuan diri anda? Atau, ketika anda dikagumi dan dipuji oleh pelbagai keberhasilan yang anda capai? Yesus juga dipertanyakan oleh orang-orang sekitarnya, bahkan oleh orang-orang terdekat dan keluarganya sendiri. Mereka yang percaya dan menerima-Nya, merasa kagum dan memuji kewibawaan dan kebijaksanaan Ilahi yang dimiliki-Nya, sedangkan yang tidak percaya, menyindir, menghina dan menolak-Nya. Sikap Yesus menarik untuk kita simak: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”

Salib dan penolakan adalah harga yang harus dibayar oleh seorang nabi. Namun di atas segalanya dan di mana-mana adalah kasih dan kebijaksanaan Allah yang dianugerahkan untuk mereka yang terbuka dan menerima karya rahmat dan keselamatan Allah. Kita diajak untuk sungguh-sungguh mengenal kehendak dan karya Allah melalui hidup dan panggilan kita. Hanya dengan demikian kita mampu menempatkan diri berhadapan dengan pelbagai situasi, terutama situasi sulit. Semoga rahmat kasih dan kebijaksanaan Ilahi selalu menerangi jalan dan membimbing hidup dan panggilan kita sebagai saksi-saksi keselamatan Allah.

Memorial Santa Martha, Maria dan Lazarus

Posted by admin on July 29, 2021
Posted in renungan 

Kel 40:16-21.34-48; Yoh 11:19-28

Kebangkitan adalah kenyataan iman yang Allah janjikan kepada mereka yang percaya. Kebangkitan mengingatkan bahwa keputusan akhir ada di tangan Allah; bukan dunia dan pengikut-pengikutnya. Hal ini kita lihat dalam bacaan Injil hari ini di mana Yesus menampakkan diri kepada dunia sebagai kebangkitan dan hidup: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya”.

Kehadiran Yesus di tengah situasi duka yang dialami keluarga Martha dan Maria membawa penghiburan dan harapan tersendiri. Ia hadir dalam situasi kehilangan sahabatnya, Lazarus. Ia sendiri mengalami realitas penderitaan dan kematian namun mentransformasinya menjadi momen berahmat dan menyelamatkan. Ungkapan iman Martha mengingatkan bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita sendirian. Di tengah realitas kematian, Allah harus menjadi tumpuan dan harapan utama kita. Kematian bukan kata final. Kematian adalah momen kepada hidup baru. Iman akan Allah adalah jembatan keselamatan kepada hidup baru itu, tanda kedekatan, cinta dan harapan bahwa kita bergantung total pada Allah. Kristus adalah iman kita. Semoga iman akan kebangkitan membawa semangat dan hidup baru bagi kita.

Harta dan mutiara terindah

Posted by admin on July 28, 2021
Posted in renungan 

Ex 34:29-35; Mat 23:44-46

Di dunia ini banyak harta. Ada harta bergerak dan tidak bergerak. Ada banyak orang kaya oleh uang, emas, tanah, pelbagai busines perusahaan etc. Orang juga berlomba untuk mencari kebahagiaan dengan pelbagai cara. Yang terakhir kita lihat pendiri dan pemilik Amazon Jeff Bezos mengembangkan Space Tourism program dengan harga yang super melangit dan diperuntukkan khusus untuk para billionaire yang mampu untuk membayar biaya untuk mengelilingi ruang angkasa. Sementara itu banyak orang menderita kelaparan dan menderita setiap hari tanpa memiliki sepeser pun untuk bertahan hidup. Inilah paradox dunia! Jadi, nampak bahwa kebahagiaan tidak cukup hanya dengan melakukan turisme konvensional seperti terjadi selama ini dengan mengelilingi pelbagai tempat indah dan menarik di atas planet bumi ini. Selain itu, manusia sudah sampai ke bulan dan pelbagai program ruang angkasa sudah ditargetkan untuk menjelajahi pelbagai planet yang ada dan dapat dijangkau manusia. Mimpi ini bukan tidak mungkin suatu saat akan terealisasi.

Apa yang sesungguhnya manusia harus cari dan dapatkan dalam hidup ini? Tanpa mengurangi kontribusi paling berharga dari kemajuan ilmu dan teknologi dewasa ini, kita juga melihat bahwa sebagai orang beriman, kita diingatkan untuk mengetahui apa yang paling penting dan paling dibutuhkan dalam hidup kita. Kitab Suci memiliki perspektif sendiri tentang harta yang sesungguhnya yang harus kita cari dan harus didapatkan agar jiwa kita tenang dan mendapatkan kebahagiaan. Harta itu tidak lain adalah “harta terpendam” atau “mutiara” yang tak terkira harganya yakni Allah dan Kerajaan-Nya. Yesus berkata dalam Matius 16:26: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”

Kita diingatkan bahwa orang boleh berlomba memiliki dunia dan segala kekayaannya, namun untuk kita orang beriman memiliki Allah adalah harta yang paling besar. Kita harus yakin bahwa kita adalah milik Allah. Dengan kata lain, Allah memiliki kita karena iman dan harapan akan belas kasih dan penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Sebab, jika kita memiliki Allah, kebahagiaan dan kemerdekaan sejati akan menjadi hadiah terbaik dan terindah yang kita dapatkan tanpa harus berkeliling di luar angkasa atau antarplanet untuk mendapatkannya. Jika Allah hidup dan tinggal di dalam hati kita, segala yang lain yang dibutuhkan dengan sendiri akan ditambahkan. Kasih dan keselamatan Allah adalah mutiara terindah yang harus kita cari dan dapatkan dalam hidup ini.

Translate »