Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Persekutuan Para Kudus

Posted by admin on October 31, 2021
Posted in renungan 

Senin, 1 November 2021

Hari Raya Pesta Semua Orang Kudus

Wahyu 7:2-4, 9-14
1 Yohanes 3:1-3
Matius 5:1-12

https://angelusnews.com/local/la-catholics/weaving-the-divine-artist-john-nava-tells-stories-of-faith-in-l-a-cathedral-tapestries/

Kepindahan saya ke kota Los Angeles di California, Amerika Serikat beberapa tahun lalu bertepatan dengan pembukaan Katedral baru di sana. Katedral yang lama mengalami banyak kerusakan karena gempa bumi beberapa tahun sebelumnya. Dan juga gedung katedral lama tidak mencukupi lagi untuk menampung umat di keuskupan terbesar di Amerika Serikat ini.

Dalam kunjungan pertama, terus terang saya merasa tidak suka dengan arsitektur katedral yang baru ini. Gereja ini sangat bergaya modern. Saya membayangkan gereja-gereja besar di Eropa atau Katedral Jakarta yang bergaya gotik. Kesan pertama saya pada Katedral LA adalah seperti benteng besar yang dikurung dengan dinding tembok yang tinggi dan sangat tidak ramah.

Kesan ini berubah pada suatu hari saya menghadiri misa di sana. Ketika itu, untuk lagu pembukaan dinyanyikan Litani Para Kudus. Para petugas liturgi, para iman, dan uskup berjalan menuju altar dengan diiringi asap dupa. Saya melihat ke sekeliling saya, dan mata saya terpaku pada gambar para santo-santa di permadani di dinding karya artis John Nava. Mereka semua menghadap ke arah altar, sama seperti saya dan para umat lainnya pada misa itu. Tiba-tiba semuanya menjadi klop di pikiran saya. Ini sungguh Persekutuan Para Kudus! Entah sudah berapa kali saya mengucapkan Syahadat Para Rasul dalam misa atau doa Rosario, tapi baru saat inilah saya menyadari sungguh makna frase ini.

Walaupun kita tidak hidup bersama di dunia dengan para kudus dan mereka yang sudah mendahului kita, tetapi persekutuan kita dengan mereka tidak terputuskan. Pada saat Ekaristi Kudus, persekutuan ini diwujudkan secara paling sangat. Benar terjadilah apa yang kita nyanyikan dalam Kudus: surga dan bumi penuh kemuliaan Tuhan. Semua makhluk di bumi maupun di surga, para santo-santa, para malaikat, semua arwah orang beriman, dan segala ciptaan di dunia, termasuk kita manusia, berseru memuji Allah: Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan!

Tuhan tidak akan Cemburu

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on October 30, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu Biasa ke-31 [B]
31 Oktober 2021
Markus 12:28-34

Beberapa hari yang lalu, saya memberikan seminar tentang rosario, dan saya menerima pertanyaan yang cukup sulit, “Bagaimana jika devosi kita kepada Santa Perawan Maria membuat kita mencintai Maria lebih daripada Yesus?” Reaksi pertama saya adalah bahwa kasih kita kepada Yesus harus terbesar dibandingkan kepada siapa pun atau apa pun. Saya tidak mungkin salah dengan memberikan jawaban itu. Namun, dalam hati saya tidak puas dengan jawaban saya. Jika mencintai Yesus adalah satu-satunya hal yang penting, mengapa kita harus mencintai Bunda-Nya, mengapa kita harus menghormati St Yosef, ayah angkat-Nya, dan mengapa kita harus melayani Gereja-Nya? Kemudian, saya menyadari bahwa dengan logika ini, saya dapat mengatakan bahwa seorang suami tidak harus mencintai istrinya sepenuhnya, cukup cinta Yesus; seorang ibu tidak harus merawat anak-anaknya secara total, cukup cinta Yesus; seorang imam tidak harus melayani umatnya dengan penuh komitmen, cukup cinta Yesus. Logika ini mungkin menyesatkan.

Injil hari ini menceritakan tentang Yesus yang mengajar kita yang pertama dan terutama dari semua hukum: Mengasihi Allah dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita, dengan segenap akal budi kita, dan dengan segenap kekuatan kita, dan kedua, untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Sangat menarik bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dengan apa yang kita miliki saja sudah cukup. Dia menambahkan perintah kedua, untuk mengasihi sesama kita, dan Hukum kedua tidak dapat dipisahkan dari Hukum pertama. Kenapa? Kuncinya adalah bahwa mengasihi sesama kita adalah bagian tak terpisahkan dari mengasihi Tuhan.

Kasih kita kepada Bunda Maria, seperti kasih kita kepada keluarga dan teman-teman kita, tidak bertentangan dengan kasih kepada Kristus. St. Yusuf, St Padre Pio, St. Dominikus tidak bersaing dengan Tuhan dalam memenangkan cinta kasih kita. Kasih kita kepada sesama sejatinya adalah ekspresi kasih kita kepada Yesus. St. Bernard dari Clairvaux, dalam tulisannya ‘On the Love of God’, menulis bahwa jenis kasih tertinggi adalah mengasihi diri kita sendiri dan sesama demi Tuhan. Sederhananya, semakin kita mengasihi Bunda Maria, semakin kita mencintai keluarga kita, dan semakin kita mengasihi Yesus. Jika kita masuk lebih dalam ke dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa Allah adalah kasih [1 Yoh 4:8]. Tuhan tidak sedang bersaing dengan keluarga dan teman-teman kita, dan merasa cemburu ketika terkadang kita memprioritaskan anak-anak kita. Kenapa? Karena Tuhan adalah kasih itu sendiri yang mengikat kita dengan orang yang kita cintai. Semakin kita secara otentik mengasihi sesama kita, semakin besar Tuhan di hati kita.

Bagaimana kita menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan kita sehari-hari? Memang ada kalanya kita harus memilih antara Tuhan dan hal-hal lain, seperti negara. St Thomas More, ketika dia akan dieksekusi, berkata, “hamba raja yang baik, tetapi Tuhan adalah yang pertama.” Namun, ini adalah kasus luar biasa. Sebagian besar, untuk mengasihi Tuhan dan untuk mengasihi sesama berjalan bersama-sama. Setiap hari Minggu, kita dapat membawa anak-anak kita ke Gereja dan beribadah bersama sebagai keluarga. Setiap malam, pasangan suami-istri bisa berdoa bersama. Pada bulan Oktober, keluarga dan komunitas dapat berdoa rosario bersama. Semakin dekat kita dengan satu sama lain, semakin dekat kita dengan Bunda Maria, dan tentunya semakin dekat lagi dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God will not be Jealous

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on October 30, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

31st Sunday in Ordinary Time [B]
October 31, 2021
Mark 12:28-34

A few days ago, I gave a seminar on the rosary, and I received a tricky question, “What if our devotion to the Blessed Virgin Mary make us love Mary than Jesus?” Honestly, my instinctive reaction was that our love for Jesus should be greatest to anyone or anything. I could not be wrong with that answer. However, the same question bothers me. If to love Jesus is the only thing matters, why should we love His Mother, why we should honor St. Joseph, His foster father, and why should we serve His Church? Then, I realized that with this logic, I could say that a husband does not have to love his wife totally, just Jesus; a mother does not have to take care of her children fully, just Jesus; a priest does not have to serve his people committedly, just Jesus. This logic may be misleading.

Today’s Gospel tells us Jesus, who teaches us the first of all commandments: To love God with all our hearts, with all our souls, with all our minds, and with all our strength, and secondly, to love our neighbors like ourselves. Interestingly, Jesus does not say only to love God with what we have is enough. He adds the second commandment: love our neighbors, and the Second Law is inseparable from the First Law. The key is that to love our neighbors is part and parcel of loving God.

Our love for the Blessed Virgin Mary, like our love for our family and friends, is not in opposition to Christ. St. Joseph, St. Padre Pio, St. Dominic are not competing with God in winning our loves. Our love for our neighbors is an expression of the love of Jesus. St. Bernard of Clairvaux, in his treatise ‘On the Love of God’, wrote that the highest kind of love is to love ourselves and others for God’s sake. To put it simply, the more we love the Blessed Virgin, the more we love our family, and the more we love Jesus. If we go deeper into the Bible, we will discover that God is love [1 John 4:8]. God is not competing with your family and friends and feeling jealous when sometimes you prioritize your kids. God is the love that binds us with our loved ones. The more we authentically love our neighbors, the greater God is our hearts.

How do we apply this truth in our daily lives? Indeed, there are times, we need to choose between God and other things, like the state. St. Thomas More, when he was about to be executed, said, “the king’s good servant, but God’s first.” Yet, these are exceptional cases. Most of the time, to love God and to love our neighbors go together. During Sundays, we can bring our children to the Church and worship together as a family. Every night, couples can spend time together in prayer of thanksgiving. In October, families, and communities can pray together the rosary. We are growing closer to each other, closer to our Mother, and even closer to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

MEMULIAKAN ALLAH

Posted by admin on October 30, 2021
Posted in renungan 

Sabtu, 30 Oktober 2021


Lukas 14:1.7-11

Yesus Kristus mengingatkan kepada para pengikut-Nya untuk selalu waspada dengan kecenderungan untuk mendapatkan penghormatan dan prioritas. Semua orang pada umumnya suka untuk menerima penghargaan dan penghormatan, namun maksud Yesus adalah agar para murid-Nya tidak menjadikan penghormatan tersebut sebagai tujuan hidupnya. Sebab jika hal itu dijadikan sebagai tujuan maka orang tersebut akan menjadikan dirinya sebagai pusat dan ingin selalu di hormati oleh semua orang, sehingga ia akan mengabaikan nilai-nilai kesetaraan, solidaritas, kesederhanaan, kerendahan hati, ugahari, persaudaraan, dan pelayanan.
“Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:  “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, .”( Luk 14:7-8).

Sikap yang diharapkan oleh Yesus kepada para murid-Nya adalah kerendahan hati atau kesederhanaan hati yang akan menjadikan seseorang siap untuk melayani,  menghargai sesama, dan  belajar terus dalam mengandalkan Allah. Hanya Dia yang layak menerima penghormatan dan kemuliaan dari seluruh manusia. “Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.”(Yoh 7:18).

Jika seseorang memiliki kerendahan hati maka ia memiliki kesempatan untuk menemukan damai di dalam hidupnya. Hati dan pikirannya tidak akan dipenuhi dengan haus atau dorongan-dorongan yang meledak-ledak untuk dihargai. Oleh karena itu pribadi yang rendah hati akan memancarkan kualitas hidup yang tenang, sehingga bisa membawa damai dan keteduhan bagi sesamanya lewat sikap dan tindakannya. Orang yang memiliki kesederhanaan hati juga akan membuat dirinya bisa dengan mudah untuk bertemu atau berelasi dengan Allah, karena sikapnya itu ia senantiasa rindu untuk menerima belas kasihan-Nya. Dengan demikian Tuhan Yesus akan hadir di dalam dirinya dan akan memperbaharui hidupnya menjadi serupa dengan hidup Kristus, yang berlimpah dengan damai, kasih, pengharan,  kebaikan, kebenaran, kemurahan hati, dan suka cita, yang bisa dirasakan oleh sesamanya. Pada saat seseorang berkorban dengan berbuat banyak kebaikan, maka ia memuliakan Allah, dan karena ia memuliakan Allah , maka Allah juga akan memuliakan/meninggikan orang tersebut di dalam hidup yang kekal. “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11).

Rm. Didik, CM 

TIDAK LUPA DIRI

Posted by admin on October 29, 2021
Posted in renungan 

Jumat, 29 Oktober 2021



Lukas 14: 1-6

Pada suatu hari Sabat, Yesus menyembuhkan orang yang sakit busung air. Sebelum dilakukan-Nya, orang Farisi sudah mengamat-amati Yesus, agar mereka bisa menyalahkan Yesus karena melakukan-Nya pada hari Sabat. Yesus tetap melaksanakan niat baik-Nya; menyembuhkan yang sakit. Yesus prihatin dengan pemikiran dan sikap orang-orang Farisi, yang tidak melihat bahwa nilai penghargaan hidup manusia lebih tinggi aturan-aturan yang dibuat manusia. “Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya.” (Luk 14:5-6).

Apa yang telah dilakukan Yesus adalah ungkapan bahwa Allah berbelas kasihan kepada manusia yang menderita. Sebab Allah adalah kasih dan Dia telah hadir dalam diri Yesus Kristus untuk menjumpai manusia dan rela menderita dan wafat untuk keselamatan umat manusia. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yoh 4:16)

Sikap yang tunjukkan oleh orang-orang Farisi menjadi tanda bahwa kebaikan dan kasih Allah tersembunyi bagi orang-orang yang sombong. “Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”(Mat 11:25). Kesombongan bisa terjadi karena manusia lupa dengan siapa dirinya dan siapa Allah bagi hidupnya. Lupa juga bahwa segala miliknya bukan semata-mata karena usahanya sendiri, sebab semua kekuatan untuk mencapai mimpinya: potensi, kesempatan, hidup, kecerdasan dll yang dimilikinya adalah anugerah dari Allah.

Dengan demikian tidak ada satupun manusia yang layak dan berhak mengatakan bahwa ; saya bisa hidup sendiri dan sukses karena kekuatan diri sendiri, apalagi sampai ia berani melawan Tuhan dengan sikapnya yang jahat terhadap sesama dan alam serta sombong. Pada akhirnya nanti orang yang tinggi hatinya akan direndahkan, dan orang yang rendah hati akan menerima kemuliaan dari Allah. “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  (Luk 14:11)

Rm. Didik, CM 

Translate »