Senin, 1 November 2021
Hari Raya Pesta Semua Orang Kudus
Wahyu 7:2-4, 9-14
1 Yohanes 3:1-3
Matius 5:1-12

Kepindahan saya ke kota Los Angeles di California, Amerika Serikat beberapa tahun lalu bertepatan dengan pembukaan Katedral baru di sana. Katedral yang lama mengalami banyak kerusakan karena gempa bumi beberapa tahun sebelumnya. Dan juga gedung katedral lama tidak mencukupi lagi untuk menampung umat di keuskupan terbesar di Amerika Serikat ini.
Dalam kunjungan pertama, terus terang saya merasa tidak suka dengan arsitektur katedral yang baru ini. Gereja ini sangat bergaya modern. Saya membayangkan gereja-gereja besar di Eropa atau Katedral Jakarta yang bergaya gotik. Kesan pertama saya pada Katedral LA adalah seperti benteng besar yang dikurung dengan dinding tembok yang tinggi dan sangat tidak ramah.
Kesan ini berubah pada suatu hari saya menghadiri misa di sana. Ketika itu, untuk lagu pembukaan dinyanyikan Litani Para Kudus. Para petugas liturgi, para iman, dan uskup berjalan menuju altar dengan diiringi asap dupa. Saya melihat ke sekeliling saya, dan mata saya terpaku pada gambar para santo-santa di permadani di dinding karya artis John Nava. Mereka semua menghadap ke arah altar, sama seperti saya dan para umat lainnya pada misa itu. Tiba-tiba semuanya menjadi klop di pikiran saya. Ini sungguh Persekutuan Para Kudus! Entah sudah berapa kali saya mengucapkan Syahadat Para Rasul dalam misa atau doa Rosario, tapi baru saat inilah saya menyadari sungguh makna frase ini.
Walaupun kita tidak hidup bersama di dunia dengan para kudus dan mereka yang sudah mendahului kita, tetapi persekutuan kita dengan mereka tidak terputuskan. Pada saat Ekaristi Kudus, persekutuan ini diwujudkan secara paling sangat. Benar terjadilah apa yang kita nyanyikan dalam Kudus: surga dan bumi penuh kemuliaan Tuhan. Semua makhluk di bumi maupun di surga, para santo-santa, para malaikat, semua arwah orang beriman, dan segala ciptaan di dunia, termasuk kita manusia, berseru memuji Allah: Kudus, Kudus, Kuduslah Tuhan!