Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

“Mengikuti Yesus”

Posted by admin on June 30, 2019
Posted in renungan 

Senin Pekan Biasa XIII, 1 Juli 2019

Bacaan: Kejadian 18: 16-33; Matius 8: 18-22

Dua pribadi yang ditampilkan dalam kisah Injil hari ini ingin mengikuti Yesus. Keinginan yang baik inilah yang ditanggapi oleh Yesus dengan memberikan gambaran dasar tujuan keinginan mereka itu. Bagi Yesus, inilah penting supaya mereka semua tahu apa yang mereka minta atau harapakan dan yang menjadi persiapan mereka untuk mencapainya. Dengan mengataakn ingin ‘mengikuti Yesus’, berarti tujuan utama mereka adalah menuju kepada Pribadi Yesus Kristus, yang akan menjadi arah perjalanan mereka. Selain itu, Yesus juga menegaskan ‘ikutlah Aku’, supaya perjalanan itu sungguh berfokus pada diriNya.

Yesus mau menegaskan arti ‘mengikuti’ diriNya, yakni ikut dalam kehidupan Yesus sendiri dengan seluruh dinamikanya. Hal ini juga berarti ingin mengenal Yesus lebih dalam melalui sabda dan karyaNya bagi keselamatan manusia. Oleh sebab itulah sejak awal seseorang perlu sadar artinya ‘mengikuti’ Yesus, yakni hidup bersama Yesus. Maka konsekuensinya juga jelas, yakni dalam mengikuti Yesus, bukan tempat yang kita cari dengan segala kemapanan dan kenyamanannya. Begitu pula dengan mengikuti Yesus, berarti siap untuk meninggalkan semua yang lainnya, termasuk keluarga. Semua ini mau mengingatkan kepada semua saja yang ingin mengikuti Yesus agar sungguh menyatukan dirinya dengan Pribadi Yesus yang diikuti.

Kita semua adalah orang-orang yang telah mengikuti Yesus, maka pesan kisah Injil hari ini sungguh membantu kita untuk menegaskan kembali keputusan dan komitment kita dalam mengikuti Yesus. Realita dunia kita sekarang ini begitu menggoda dengan berbagai tawarannya yang membuai, sehingga membuat kabur tujuan hidup dan perjalanan kita. Kembali Yesus mengingatkan kita akan arti mengikutiNya, yakni bukan tempat dan kenyamanan yang kita cari, juga siap melepaskan segala ikatan yang menghalangi dalam mengikutNya. Tujuan utama kita adalah mengikuti Yesus, bersatu dengaNya dan mengalami kebahagiaan abadi bersamaNya.

No Excuse

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on June 29, 2019
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Thirteenth Sunday of the Ordinary Time [C]

June 30, 2019

Luke 9:51-62

Today we listen to one of the most demanding and perhaps harsh Jesus’ teachings. For those who follow Him, He demands total allegiance, and He shall become no less than their top priority in life. In both Jewish and Christian tradition, to honor our parents is one of the highest commandments. In fact, it is not a mere honoring, but it is to glorify [Hebrew word used is “kabad”] our parents. But, when a man asks Jesus to bury his father, Jesus tells him, “Let the dead bury the dead.” To one who requests to say goodbye to his family, Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God.” Very harsh. Is this truly Jesus whose heart is moved with pity towards the poor people?  Is Jesus no longer observing the Ten Commandments?

We may uncover the reason at the beginning of the Gospel reading. Jesus knows the time has come for Him to go to Jerusalem, and He has set His face toward this city that will persecute, torture, and kill Him. The way of the cross has begun, and for those who wish to follow Him, it is no longer time to be amused by His miracles or to be inspired by His preaching. They who desire to follow Jesus, shall also carry their cross with Jesus, and to walk with Jesus to His Calvary, one cannot but surrender their lives to Jesus and make Jesus’s mission as their utmost concern.

However, we need to clarify also Jesus’ remarks that may sound too harsh. When Jesus says, “Let the dead bury the dead,” most probably the parent of that man is still very much alive, and he wishes to follow Jesus after his parent passes away. A subtle excuse not to follow Jesus. When Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God,” Jesus is alluding to the story of Elijah who called Elisha to follow him [1 Kgs 19:19-21]. When a prophet calls, the one summoned must respond immediately. Otherwise, the opportunity is gone for good. Jesus also points to the story of Lot’s wife. When the city of Sodom and Gomorrah were destroyed by God, the angel instructed Lot and his family to run and not to look back, and yet, his wife looked back. She became the pillar of salt [Gen 19:26]. Someone cannot effectively follow God’s words and new life in Christ if he always looks back and attaches himself to the past. Jewish farmers also know well the irony that when one plows the soil and keeps looking back at the result, he will just ruin the entire field. It is when one is focused and determined in his goal and decision, he will get the best result.

There is a story of an angel who appears to John. The angel said, “John, God calls you to serve Him.” John said, “Not now, I am still 18, and I want to focus on my study.” Then, the angel came again after some years. John said, “Not now, I am just 30, and I have my career.” Then, the angel appeared again after some year. John said, “Not now. I am just 40, and I have my family.” Then, the angel returned for the last time when John was 70. John said, “Now, I am ready to answer God’s calling.” The angel responded, “Yes, God calls you, but not to serve Him, but to see Him!”

A Christian who has a lot of excuses for Jesus is not a real Christian. It is only when we follow Him with determination, walk on His way of the cross without excuse, make Him as our top priority, we can humbly say that we are His disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Rasul di jaman sekarang

Posted by admin on June 28, 2019
Posted in renungan 

29 Juni 2019

Mat 16 :13-19

Hari ini Gereja merayakan kemartiran St. Petrus dan St. Paulus. Mereka adalah pribadi-pribadi yang rela menyerahkan hidupnya dalam pelayanan untuk mewartakan Kristus yang bangkit. Simon yang kemudian disebut Petrus dan Saulus kemudian dipanggil Paulus, menjadi tanda suatu perubahan jalan hidup, suatu pertobatan untuk mengikuti Kristus yang bangkit dengan mulia. Mereka berdua adalah tokoh besar dalam sejarah Gereja awali. Merekalah yang menyebarkan iman akan Kristus kepada seluruh bangsa. Karena jasa kemartiran St. Petrus dan St. Paulus, kita juga mewarisi semangat dan iman mereka, iman akan Yesus Kristus. Kita pun dipanggil untuk meneruskan misi mereka, untuk membangun dan mengembangkan Gereja pada jaman sekarang ini. Unuk menjadi saksi bagi semua orang. Seperti yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, dalam suatu kesempatan :”Kita mampu merencanakan dan membangun banyak hal dalam hidup bermasyarakat, tetapi apabila kita tidak mengimani Kristus, itu semua tidak berarti apa-apa. Kita akan hanya seperti organisasi sosial semata, bukan suatu Gereja yang berdasarkan iman akan Yesus Kristus, Tuhan kita” Sebagai seorang beriman kepada Kristus, kita memusatkan hidup kita kepadaNya. Dalam peringatan St. Petrus dan St. Paulus ini, kita telah mendengarkan apa yang menjadi pusat hidup Petrus dan Paulus, yaitu Kristus, Sang Mesias. “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Setelah itu Yesus mempercayakan Gereja kepada Petrus dan berkata : ”Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaatKu » (Mat 16 :18). Sama halnya dengan sejarah hidup St. Paulus, yang setelah mengalami pertobatannya, ia dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi akan Kebangkitan Kristus. Iman dan keteguhan hati mereka dalam penderitaan, dianugerahkan oleh Bapa yang di surga. “bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di surga” (Mat 16:17).

Melalui sakramen baptis dan sakramen krisma yang telah kita terima, kita berada dalam situasi yang tidak mudah ketika harus menjadi seorang saksi-saksi Kristus. Untuk menjadi seorang martir, kita diminta memberikan teladan hidup yang baik dan mempraktekkan nilai-nilai iman kristiani : cinta kasih, harapan, pengampunan, keadilan, kebenaran dan sukacita.

“Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Kristus, Putera Allah yang hidup. Engkau adalah Tuhan dan Penyelamat kami yang membebaskan kami dari segala dosa. Buatlah iman

kami kuat seperti St. Petrus dan St. Paulus, rasulMu dan anugerahilah kepada kami keberanian untuk bersaksi dalam kehidupan kami sehari-hari”

Buatlah hati kami seperti hatiMu

Posted by admin on June 27, 2019
Posted in renungan 

Jumat, 28 Juni 2019

Luk 15:3-7

Hari ini adalah Hari raya Hati Yesus yang Mahakudus. Bagaimana kisah domba yang tersesat mengajarkan kepada kita tentang Allah dan Kerajaan Allah ? Biasanya seorang gembala akan menghitung jumlah domba mereka ketika akan membawanya pulang ke kandang. Biasanya seekor domba akan mudah berbaur dengan kawanan lain dan hilang dari kawanannya sendiri dan akhirnya akan tersesat. Seorang gembala akan bersukacita ketika ia menemukan kembali dombanya yang hilang tersebut. Ia akan menggendongnya untuk dibawa pulang bergabung dengan domba-domba yang lain. Segala jerih payahnya terbayar dengan diketemukan kembali domba yang hilang itu. Ia pun akan berbagi kegembiraan dengan saudara-saudaranya. Itulah sebetulnya juga gambaran Yesus, Sang Gembali sejati. Ia akan mencari dan setelah menemukan, akan membawa pulang domba yang hilang itu. Kita kadang juga menjadi seperti seekor domba yang hilang karena dosa dan kerasnya hati kita. Yesus pun akan sangat bergembira menyambut kita.

Sungguh tepatlah bacaan Injil hari ini mengundang kita agar juga mempunyai hati seperti seorang gembala yang penuh kasih. Ia akan mencari seekor domba yang hilang meski harus meninggalkan untuk sementara kawanan domba yang lain. Gambaran seorang gembala itu menggambarkan Hati Yesus yang senantiasa mencari orang yang berdosa, mengampuni, mengasihi dan memberikan hidup yang berlimpah. Itulah Hati Yesus yang penuh cinta dan belas kasihan. Tidak seorangpun dikucilkan dari cintaNya. Hal itu berbeda dengan sikap orang farisi yang menghakimi orang lain dan mengucilkan orang berdosa. Yesus membenci dosa tetapi sungguh sangat mencintai orang berdosa yang mau mengakui kesalahannya dan bertobat. Bagaimana sikap kita ketika tersesat dan salah jalan karena dosa? Yesus mengundang kita untuk kembali dalam pelukan kasih dan pengampunanNya.

“Tuhan Yesus, biarkanlah TerangMu mengusir kegelapan dosa yang membuat kami tersesat. Semoga TerangMu bersinar melalui kehadiran kami juga sehingga orang lain mampu melihat cinta, harapan dan sukacita yang berasal daripadaMu. Semoga kami tidak pernah ragu akan belas kasihMu”

Hidup di dunia adalah masa persiapan untuk hidup kekal

Posted by admin on June 26, 2019
Posted in renungan 

Kamis, 27 Juni 2019

Mat 7:21-29

Pernahkah kita mengalami kehilangan kesempatan atau kegagalan karena kurangnya persiapan dan kurangnya antisipasi, atau karena sikap kita yang sembrono ? Pastilah hal itu akan menimbulkan penyesalan dan kesedihan. Bacaan Injil hari ini, Yesus ingin mengingatkan kita untuk mempunyai sikap hidup yang bijaksana dan perlunya hidup yang dipersiapkan dengan baik. “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas wadas”

Dalam menjalani kehidupan seperti halnya membangun sebuah rumah, diperlukan suatu dasar dan batu pijakan yang kuat sehingga hidup kita lebih bermakna. Hal itu dikatakan Yesus agar kita membiasakan diri untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan baik terlebih menyangkut hidup kekal. Seperti sebuah rumah yang pondasinya kokoh tidak akan hancur apabila datang hujan, angin dan banjir menerpanya. Demikian halnya hidup kita yang didasarkan pada iman kepada Allah, akan tetap menemukan kebahagiaan dan kedamaian meski diterpa berbagai macam persoalan dan penderitaan. Kita bukan seseorang yang bodoh, yang mendirikan rumah di atas pasir. Kitab Amsal 10:25 juga mengatakan hal senada,”Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik, tetapi orang benar adalah alas yang abadi”. Kita diundang untuk mempunyai sikap hidup yang benar tanpa kepalsuan. Hidup yang didasarkan kepada iman dan kebenaran iman. Allah yang tersembunyi melihat dan memahami diri kita apa adanya, seperti yang dikatakan oleh pemazmur : “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh” (Mzm 139:2). Yesus Kristus adalah pedoman hidup kita. Cara hidup kita berpolakan cara hidup Yesus sendiri. Cara hidup kita di dunia ini merupakan suatu proses mpersiapan menuju hidup abadi bersamaNya.

“Tuhan Yesus, Engkaulah dasar hidup kami yang senantiasa membimbing dan menuntun dalam pengalaman sukacita dan kesedihan. Berikanlah kepada kami kebijaksanaan, sikap antisipasi dan keteguhan hati serta kesetiaan kepadaMu. Semoga kami menjadi pelaksana SabdaMu yang setia sampai selama-lamanya”

Translate »