Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Skala Prioritas Nilai

Posted by admin on August 31, 2015
Posted in Podcast 

priorities wordle

Iman dan Perbuatan

Posted by admin on August 31, 2015
Posted in renungan 

SELASA, MINGGU KE 22 MASA BIASA
1 September, 2015
1 Tesalonika 5:1-6, 9-11
Lukas 4:31-37
 
Saudara-saudariku terkasih,
    Sangat mungkin dalam kehidupan bersama diantara dan dengan orang lain kita pernah mendengar ucapan-ucapan spontan seperti: “sebel aku melihat orang itu, kenapa sih orang itu hadir dalam kumpulan kita? iiih orang itu tidak tahu malu, tidak diundang juga mau datang ke perkumpulan kita…atau kehadiran orang itu seperti duri dalam daging, …dan lain sebagainya. Bagaimana sikap, tanggapan dan perasaan kita kalau kita sendiri berada dalam posisi itu?
    Bacaan pertama kita hari ini diakhiri dengan kata-kata sebagai berikut: “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.” Santu Paulus berbicara kepada teman-temannya di Tesalonika. Kata-katanya begitu jelas, gambling dan mudah dimengerti. Ia menghendaki agar mereka dapat saling memperhatikan dan memberikan dukungan positip satu kepada yang lain dengan kehadiran yang dapat membuat orang lain merasa hidup dalam sukacita dan damai. Dengan demikian bukan tidak mungkin hari ini St. Paulus juga menyampaikan berita dan atau pesan yang sama kepada kita masing-masing. Kita diminta untuk mawas diri, atau masuk dalam proses untuk mengenal diri, tahu diri dan dengan demikian kita akhirnya bisa menempatkan diri. Dengan kata lain St. Paulus sangat mungkin mau menasihati umat ti Tesalonika dengan mengatakan: “Be present for each other and help one another discover the best that God has placed within you.” (Kiranya kehadiran kita diantara dan dengan orang lain dapat membantu orang lain melihat kehadiran Tuhan di dalam diri anda).
    St. Paulus menyampaikan suatu pernyataan yang sangat positip, mengingatkan kita masing-masing untuk menyadari betapa pentingnya “menjadi cahaya bagi orang lain, hidup sebagai anak-anak terang.” Untuk menjadi anak-anak terang, tidak hanya satu atau dua kali dalam hidup ini tetapi harus konsisten, terus menerus melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menghantar dan membantu orang lain melihat terang kesukaan dan kegembiraan, cahaya Kristus di dalam diri anda. Dengan demikian kita telah membantu orang lain untuk bisa hidup dan bertahan dengan kehadiran kita diantara mereka. Oleh karena itu pada bahagian terakhir dari ayat 6 dikatakan “berjaga-jaga dan sadar.” (remain strong and vigilant against the negative forces that can try to come in and turn them from the way of Jesus.)
Saudara-saudariku terkasih,
    Bagi anda yang hari ini menghadiri perayaan Ekaristi, gunakanlah kesempatan hari ini untuk merenungkan “seberapa jauh anda telah membantu orang lain melihat kehadiran Yesus (Terang dunia) di dalam diri, dan perbuatan serta sikap hidupmu?” “Sudah sejauh mana kita telah membantu orang lain melihat kehadiran Tuhan di dalam dirimu, dalam perbuatanmu dan dalam sikapmu; Tuhan yang anda imani?” Saudara, perhatikanlah sesama disekitarmu, ada banyak orang yang membutuhkan perhatian dan cintamu, mereka yang sakit, mereka yang kesepian, mereka yang terlantar, mereka yang bingung dan gelisah…tertekan…yang membutuhkan perhatian dan dukungan, yang membutuhkan waktu dan kesediaan anda untuk mendengarkan mereka. Hanya itu saja yang dapat saya kemukakan untuk bahan renungan kita hari ini. Selamat bertugas dan Tuhan memberkatimu hari ini. Amin.

Ia mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik…

Posted by admin on August 31, 2015
Posted in renungan 

HARI SENIN MINGGU KE 22
MASA BIASA
31 Augustus, 2015
1 Thesalonika 4:13-18
Lukas 4:16-30
Saudara-saudariku terkasih,
    Kita tahu bahwa Yesussetelah  dibaptis oleh Yohanes Pemandi, Yesus diurapi oleh Roh Kudus, sebelum Ia memulai misi perutusanNya…”Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah dating.”
    Kata-kata diatas diambil dari Kitab nabi Yesaya. Yesus mengutip kata-kata Yesaya karena statement itu menunjukkan inti pewartaan nubuat nabi Yesaya tentang Mesias yang telah dijanjikan dengan menjelaskan kepada orang banyak di dalam synagogue: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Peristiwa ini terjadi di Nazareth setelah Yesus menjalani puasa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun, dimana Ia dicobai Setan berulang kali, …dan akhirnya Yesus mengatakan: “Ada firman: Jangan engkau menbcobai Tuhan, Allahmu!” Karena Yesus dengan sangat tegas memaklumkan siapa Dia sebenarnya dengan mengatakan “Ia mengurapi Aku, untuk manyampaikan kabar baik…” Misi Yesus diatas sudah harus menjadi misi kita juga. Oleh karena itu setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi, pada akhir perayaan Ekaristi imam yang mempersembahkan Ekaristi Kudus itu mengutus kita dengan mengatakan:…“Saudara sekalian Perayaan Ekaristi sudah selesai. Syukur kepada Allah. Marilah pergi! Kita diutus. Amin.”
    Marilah pergi kita diutus,..kita diutus untuk melanjutkan misi perutusan Yesus…kemana? kepada siapa? tugas yang tidak mudah; kita dituntut untuk konsekwen dengan response kita “Amin’. Oleh karena itu kita perlu menerima “roti yang hidup itu”, tubuh dan darah Kristus setiap kali kita menghadiri perayaan Ekaristi. Ketika kita menerima tubuh dan darah Kristus kita diteguhkan dan dikuatkan oleh Roh Kudus, kita dipenuhi oleh RohNya yang Kudus agar kitapun mampu membawa kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.
Saudara-saudariku terkasih,
    Santu Fransiskus dari Asisi memberi kita inspirasi dalam doanya yang dilagukan dengan judul: “Prayer of St. Francis”
“Lord, make me an instrument of your peace; where there is hatred, let me sow love; where there is injury, pardon; where there is doubt, faith; where there  is despair, hope; where there is darkness, light; and where there is sadness, joy.”
O Divine Master, grant that I may not so much seek to be consoled as to console; to be understood, as to understand; to be loved, as to love, for it is in giving that we receive, it is in pardoning that we are pardoned, and it is in dying that we are born to eternal life. Amen.

HARUS SIAP MEMILIH

Posted by admin on August 28, 2015
Posted in renungan 

 

Peringatan wajib wafaatnya St. Yohanes Pembaptis

Yer 1:17-19

Mrk 6:17-29

Kematian St. Yohanes Pembaptis memberikan peringatan bahwa St Yohanes adalah pribadi yang berani menanggung mengambil resiko dalam menegakan kebenaran dan keadilan. Yohanes tidak takut menegur raja Herodes karena sang raja mengambil istri saudaranya sendiri yaitu Herodias. Yohanes pembaptis berani melakukan semua itu karen ia memiliki iman. Imannya telah mendorong dan memberanikan dirinya untuk bertindak benar.

Sementara dalam peristiwa kematian St. Yohanes pembaptis tersebut, kita diajak juga untuk waspada akan bahaya dosa/kebencian. Karena sakit hati, dendam dan kebenciannya terhadap Yohanes, Herodias mencari jalan apapun untuk bisa membunuh Yohanes. Akhrinya ambisi kebencian-nya terlaksana ketika putri Herodias mampu memukau raja Herodes yang kemudian berjanji akan memberikan apa saja yang diminta putri Herodias. Herodias memakai putrinya sendiri menjadi alat untuk melancarkan ambisinya untuk membunuh Yohanes Pembaptis dengan memenggal kepalanya. Akhirnya kejahatan Herodias menyeret putrinya sendiri dan juga raja Herodes yang gila dengan kekuasaan.

Peristiwa tersebut memaparkan dua hal yang sangat kontras. Pertama Yohanes bertindak atas nama kebenaran dan iman. Ia berkurban demi kebaikan dan kebenaran. Kedua Herodias bertindak karena sakit hati, dendam, kebencian dan kemudian ia menjerumuskan putrinya, Herodes ikut menjadi hamba dosa untuk melancarkan ambisinya yang jahat. Setiap pribadi dihadapkan pada dua pilihan, apakah ia bertindak seperti Yohanes Pembaptis atas dasar iman mau berkurban demi kebaikan atau seperti Herodias bertindak karena kebencian dan menjerumuskan dirinya dan orang lain pada dosa demi ambisi-ambisi jahatnya.

Allah yang Maha Kasih, bimbinglah kami orang yang lemah ini untuk memurnikan hati dan pikiran kami, agar bisa berjalan pada jalan yang benar. Lindungilah kami dari bahaya dosa sehingga kami bisa menegakkan kebenaran dan keadilan didalam masyarakat kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami, Amin.

BERJAGA-JAGA

Posted by admin on August 27, 2015
Posted in renungan 

 

Peringatan Wajib St. Agustinus

1 Tes 4:1-8

Mat 25:1-13

Yesus memberikan penjelasan lewat perumpamaan tentang pentingnya sikap “berjaga-jaga”. Tidak selamanya manusia tinggal di dunia. Pada suatu saat ia akan mengalami kematian dan beralih ke dalam kehidupan kekal. Peralihan dari hidup dunia ke hidup kekal merupakan realita yang harus dihadapi. Oleh karena saat kematian tersebut tidak bisa diramal dan tidak bisa dipastikan waktunya maka perlu selalu siap kapan-pun untuk menghadapinya.

Apa yang harus dilakukan agar selalu siap? Yesus menunjukkan cara yaitu selalu mengisi minyak dalam pelita. Pelita adalah iman, minyak dalam pelita adalah relasi kita dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian kesetiaan kita dengan Yesus Kristus adalah sumber iman dan sekaligus sumber kasih yang selalu kita wartakan, bagaikan cahaya pelita yang bisa menerangi orang dari kegelapan.

Dalam perjalanan hidup ada banyak godaan yang membuat manusia terlena dengan segala yang ia miliki. Sikap berjaga-jaga arti, orang selalu sadar bahwa perjalanan hidup manusia di dunia ini adalah sementara. Sikap berjaga-jaga membuat orang tidak hanyut dengan segala kesenangan-kesenangan dunia yang bertentangan dengan keadilan, kebenaran dan kasih. Seperti gadis yang bodoh pada akhirnya menyesal, demikian juga orang yang hanya mementingkan diri dan kesenangan nya saja, tanpa peduli dengan hal yang lain yaitu: keadilan, kebenaran dan kasih. Sebaliknya gadis yang bijak yang membawa minyak pelita masuk dalam kemuliaan di surga, mengambarkan pribadi yang selalu menjaga relasinya dengan Tuhan Yesus dalam hidup sehari-hari dan pada akhirnya masuk dalam kemuliaan Tuhan di Surga.

Tuhan Yesus yang penuh dengan kasih, bimbinglah kami selalu hamba-Mu yang lemah ini, agar selalu sadar bahwa perjalaan di dunia ini adalah perjalaan yang sementara. Engkau telah menyediakan Kehidupan Kekal bagi mereka yang setia mengikuti-Mu. Maka tolonglah kami, agar kami tidak hanyut oleh kesenangan duniawi, dan akhirnya kami layak ikut serta bergembira dalam KerajaanMu di surga. Sebab Engkaulah juru selamat kami, kini dan sepanjang masa, Amin.

Translate »