Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

MEMBUTUHKAN ALLAH

Posted by admin on January 31, 2023
Posted in renungan 

Rabu, 1 Februari 2023



Markus 6:1-6

Pada suatu saat Yesus pulang ke kampung halaman-Nya dan disana banyak orang pempertayakan tentang keberadaan Yesus dan kuasa yang di miliki-Nya. Kemudian mereka kecewa dan menolak-Nya. “Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.”(Mrk 6:2-3).

Oleh karena mereka menolak, maka Yesus tidak bisa membuat mujizat di antara mereka. “Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.” (Mrk 6:5-6). Dengan demikian, alasan mengapa Yesus tidak bisa mengadakan mujizat (tanda kasih Allah), karena mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Oleh karena itu, betapa penting sikap percaya kepada Tuhan tersebut.

Dengan demikian, tantangan dan pergulatan bagi orang beriman adalah tetap menjaga iman mereka dalam segala situasi dan kondisi. Ada kalanya mereka harus berjalan di tempat yang hijau dan subur, namun juga disaat lain mereka harus melewati padang gurun, atau tempat yang kering dan tandus. Namun di dalam kondisi apapun bagi orang beriman, mereka percaya bahwa Tuhan Yesus menemani dan berjalan bersama mereka. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”(Ulangan 31:8).

Agar seseorang bisa menjaga imannya, maka dibutuhkan sikap kerendahan hati, dimana seseorang menyadari dirinya membutuhkan Allah, dan tanpa Allah, ia tidak bisa berbuat apa-apa. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”(Mat 5:3).

Didik, CM 

BERJALAN DALAM HARAPAN

Posted by admin on January 30, 2023
Posted in renungan 

Selasa, 31 Januari 2023



Markus 5:21-43

Pada suatu saat Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, yang karena iman mereka, maka mereka disembuhkan. Mereka yang disembuhkan Yesus adalah anak  dari Yairus, kepala rumah ibadat, dan seorang perempuan yang sudah menderita karena sakit pendaharan selama dua belas tahun. “Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.”(Mrk 5:25-26). Kesembuhan mereka merupakan tanda yang nyata bahwa dengan iman/percaya kepada Yesus maka mujizat terjadi. Oleh karena itu, Yesus menyerukan kepada para pengikut-Nya untuk tidak takut dan ragu untuk percaya. “Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36).

Tantangan yang bisa muncul ketika seseorang ingin percaya kepada Tuhan Yesus adalah pemikiran atau cara berpikir yang lebih mengutamakan pada pertimbangan manusiawi dan duniawi, yang ingin semuanya kelihatan jelas dan pasti. “Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?” (Mrk 5:35). Oleh karena itu ketika seseorang percaya kepada Tuhan, maka yang mendorong orang tersebut adalah harapan, kuasa, dan kasih Allah yang tak terbatas, karena bagi Allah semua bisa terjadi jika Dia menginginkan-Nya, sekalipun bagi manusia hal itu tidak mungkin. “Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Luk 18:27).

Dengan demikian, orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah orang yang berjalan dalam harapan,  bersama Allah dan mengandalkan kekuatan-Nya. Setiap orang tentu sebagai manusia punya perasaan takut dan cemas, namun dengan percaya dan bersandar kepada belas kasih Allah, maka kecemasan tersebut bisa diatasi dengan harapan yang muncul dari imannya. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.”(Mzm 13:6).

Didik, CM 

JALAN PENGOSONGAN DIRI

Posted by admin on January 29, 2023
Posted in renungan 

Senin, 30 Januari 2023



Markus 5:1-20

Pada suatu saat, Yesus membebaskan seorang yang kerasukan sekelompok banyak roh jahat. Dengan kuasa-Nya Yesus mematahkan kuasa roh-roh jahat sehingga mereka ketakutan dan tunduk kepada-Nya. “Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” (Mrk 5:6-7). Dengan demikian kuasa yang dimiliki Yesus bisa mengalahkan kekuatan roh jahat, sehingga ketika Yesus hadir di dalam setiap pribadi manusia, maka kekuatan-Nya akan hadir pula untuk mengatasi dan menguatkan mereka dalam menjalani hidupnya untuk menjadi lebih baik.

Oleh karena itu dibutuhkan iman atau menyerahan diri kepada Tuhan Yesus, jika manusia merindukan damai, suka-cita dan keselamatan di dalam hidup mereka. “Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya.”(Mzm 125:1). Bagaimana supaya setiap orang berani menyerahkan hidupnya kepada Allah dan percaya kepada -Nya? Jalan yang bisa ditempuh adalah dengan mengosongan diri dan mengundang Roh Allah tinggal di dalam hatinya, sehingga bukan diri sendiri yang berkuasa melainkan Sang Sabda yang telah menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus yang akan menguasai hati, budi dan tindakannya. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 2:5-7).

Dengan demikian jalan pengosongan diri adalah jalan Yesus Kristus sendiri agar Dia bisa masuk di dalam hidup manusia, dan menyelamatkan manusia. Oleh karena itu jalan tersebut juga jalan yang perlu ditempuh setiap orang agar bisa menerima dan memberi tempat bagi Sang Raja Damai di dalam hidup manusia.

Didik, CM 

Sabda Bahagia dan Kebahagian Sejati

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on January 29, 2023
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu ke-4 dalam Masa Biasa [C]
29 Januari 2023
Matius 5:1-12

Yesus memulai pengajaran-Nya di Injil Matius dengan Sabda Bahagia. Gereja telah mengakui bahwa Sabda Bahagia bukanlah sembarang ajaran Yesus, tetapi ‘inti dari khotbah Yesus’ (lihat KGK 1716). Sabda Bahagia menjadi dasar karena menjawab kerinduan yang paling mendasar dari setiap manusia: kerinduan akan kebahagiaan. Jika kita ingin benar-benar bahagia, maka kita perlu menghidupi Sabda bahagia ini.

Namun, jika kita membacanya dengan cermat, kita mungkin menyadari bahwa instruksi dalam Sabda Bahagia bertolak belakang dengan hasrat kita akan kebahagiaan. Selama ini, kita percaya bahwa memiliki lebih banyak harta akan membuat kita bahagia, tetapi Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang miskin di hadapan Allah. Kita ingin tertawa dan merasa ‘senang’, tetapi kemudian, Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah untuk mereka yang berduka. Kita tahu bahwa menjadi berkuasa dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan orang lain membuat kita merasa puas dan sebuah kenikmatan, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang lemah lembut, murah hati dan pembawa damai. Kita ingin dibebaskan dari segala kesulitan dalam hidup kita, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang dianiaya demi kebenaran. Sabda Bahagia Yesus bertentangan dengan logika manusia!

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa jika bangsa Israel setia menaati Hukum Taurat, mereka akan diberkati dengan tanah, hasil panen dan ternak yang melimpah, anak-anak yang banyak, dan perlindungan dari para musuh. Begitu juga sebaliknya, jika orang Israel melanggar hukum Taurat, mereka akan dikutuk dan dengan demikian, kehilangan semua berkat ini (lihat Ulangan 28). Jadi, Sabda Bahagia Yesus bahkan tidak sejalan dengan berkat-berkat Perjanjian Lama ini!

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Yesus kehilangan akal sehat-Nya? Untungnya, Gereja memberikan kita jawabannya, “[Sabda Bahagia] mengangkat janji-janji yang telah diberikan kepada umat pilihan sejak Abraham. Sabda bahagia menyempurnakan janji-janji itu, karena tidak hanya diarahkan kepada pemilikan satu tanah saja, tetapi kepada Kerajaan surga… Sabda Bahagia mengekspresikan panggilan umat beriman yang terkait dengan kemuliaan Sengsara dan Kebangkitan-Nya (KGK 1716-7).”

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati tidak berhenti di dunia ini, tetapi harus mencapai tujuan akhirnya di dalam Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, terkadang kita menerima berkat duniawi, tetapi terkadang, kita mengalami ‘kutukan’ duniawi. Namun, semua itu hanya bersifat sementara, dan bukan ukuran kebahagian sejati. Bahkan, berkat-berkat materi dapat menjadi kutukan jika kita kecanduan dan melakukan banyak hal jahat untuk mendapatkannya. Dan, kemalangan dan penderitaan kita di dunia ini dapat berubah menjadi berkat rohani, jika kita menanggungnya dengan sabar dan menyatukannya dengan Sengsara Kristus dalam doa-doa kita.

Apakah itu berarti kita tidak boleh bekerja untuk menjadi kaya dan sukses? Kita harus bekerja dan menjadi sukses dalam hidup, tetapi dengan cara-cara yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita tidak mencuri atau menipu, maka pekerjaan dan harta benda kita akan menjadi berkat yang sejati.

Apakah ini berarti kita harus menerima penderitaan dan ketidakadilan secara pasrah dan pasif? Sama sekali tidak! Kita harus melakukan yang terbaik juga untuk melawan ketidakadilan di antara kita dan meringankan penderitaan sesama. Bahkan, diam saja dihadapan kejahatan bukan hanya bodoh, tetapi juga membuat kita menjadi peserta dalam kejahatan itu. Namun, kita juga tahu bahwa terkadang, ada kesulitan-kesulitan dalam hidup yang entah apa yang kita lakukan, kesulitan-kesulitan itu akan tetap ada. Inilah salib kita, dan kita harus membawanya kepada Yesus.

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengingatkan kita bahwa hasrat kita akan kebahagiaan berasal dari Allah, dan dengan demikian, hanya Allah yang dapat memenuhinya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Beatitudes: True Happiness and Where to Find It

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on January 28, 2023
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

4th Sunday in Ordinary Time [C]
January 29, 2023
Matthew 5:1-12

Jesus began His teaching ministry with the Beatitudes. The Church has recognized that the Beatitudes are not just any teaching of Jesus, but ‘at the heart of Jesus’ preaching’ (see CCC 1716). The Beatitudes are foundational because they answer the most basic longing of any man and woman: desire for happiness. If we want to be genuinely happy, then we need to live the beatitudes.

However, if we read it carefully, we may realize that the instructions in the Beatitudes are counter-intuitive with our desires for happiness. We believe that having more possessions makes happy, but Jesus says that happiness is for the poor in spirit. We want to laugh and feel ‘happy’ but then, Jesus says happiness is for those who mourn. We know that being powerful and having the ability to control others make us feel fulfilled and ‘happy’, but Jesus says happiness is for those are meek, merciful as well as the peacemakers. We desire to be freed from all difficulties in our lives, but Jesus says that happiness is for those are persecuted for the sake of righteousness. Beatitudes does not make any sense.

Again, if we go back to the Old Testament, we discover that if the Israelites are faithful to observe the Law, they will be blessed with land, prosperous harvest and cattle, many children, and protection from the enemies. In fact, if the Israelites are breaking the laws, they will be cursed and thus, losing all these blessings (see Deu 28). Jesus’ Beatitudes is not even in line with these Old Testament’s blessings, but Jesus reverses the order!

What really happen? Is Jesus out of His mind? Fortunately, the Church provides us the answer, “[Beatitudes] take up the promises made to the chosen people since Abraham. The Beatitudes fulfill the promises by ordering them no longer merely to the possession of a territory, but to the Kingdom of heaven… They express the vocation of the faithful associated with the glory of his Passion and Resurrection (CCC 1716-7).”

Through Beatitudes, Jesus teaches us that the true happiness does not stop here on earth but must reach its destination in God alone. As followers of Christ, sometimes we receive an earthly blessing, but sometimes, we experience earthly ‘curses.’ Yet, these are temporal, and not the most important. In fact, material blessings may become a curse if we become addicted to it and do many evil things to acquire them. And our misfortunes and sufferings here on earth may turn to be a spiritual blessing, if we endure patiently and unite them to the Passion of Christ in our prayers.

Does it mean we cannot work to become rich and successful? Surely, we must work and be successful in life, but in the ways that are pleasing to the Lord. If we neither steal, nor cheat, then our works and material possessions are true blessings.

Does it mean we must passively receive our sufferings and injustice? Not at all! We have to do our best also to fight injustice among us and alleviate sufferings. In fact, just be silent in the face of evil is not only stupid, but also makes us a participant in that evil. Yet, we know also that sometimes, there are certain hardships that no matter we do, they remain. These are our crosses, and we shall bring them to Jesus.

Through Beatitudes, Jesus reminds us that our desire for happiness is coming from God, and thus, only God alone can fulfill it.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »