Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Kekuatan kuasa Yesus atas setan

Posted by admin on June 30, 2020
Posted in renungan 

Amos 5:14-15, 21-24

Matius 8:28-34

Saudara-saudariku terkasih,

Injil hari ini menunjukkan kepada kita betapa besar kuasa dan kekuatan Yesus Kristus atas setan. Kehadiran Yesus disana sempat membuat setan-setan itu merasa tidak nyaman, dikatakan: “Setibanya Yesus di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, … setan-setan itu berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?'” Oleh karena itu para setan meminta agar Yesus memizinkan mereka untuk masuk ke kawanan babi-babi, dimana dengan segera mereka masuk ke dalam babi-babi itu dan membuat babi-babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air.

Sesudah itu kita tidak mendengar samasekali lagi tentang orang yang kerasukan setan itu. Yang kita tahu hanyalah peristiwa dimana Yesus memerintah setan-setan itu untuk keluar dari daerah itu atau meninggalkan tempat itu. Selain itu dikatakan bahwa Yesus dengan penuh kuasa dan kekuatan mengusir setan-setan itu, dan hal itu bukan tidak mungkin Yesus lakukan juga kepada anda dan saya saat ini. Apabila kita saat ini terbelenggu oleh dosa dan atau dikuasai setan, maka saat ini adalah suatu kesempatan untuk membebaskan diri dari kuasa setan dengan kuasa dan kekuatan kasih dari Yesus sendiri. 

Saudara-i, kapan dan dimanakah hal itu akan terjadi dimana kekuatan dan kuasa Yesus itu dinyatakan? Perlu kita sadari bahwa kekuatan dan kuasa Yesus itu terjadi dimana dan kapan saja atas diri kita. Kita dapat memohon dan meminta pertolongan Yesus setiap saat untuk mengusir kegelapan dosa, dan dengan bantuan rahmat Allah kita pun dengan penuh syukur membiarkan kuasa dan kekuatan Yesus itu dinyatakan dalam hidup kita.

Kekuatan dan kuasa Yesus itu begitu dahsyatnya, membuat orang-orang di daerah itu mohon agar Yesus meninggalkan atau pergi dari daerah mereka. Sudah sangat mungkin karena mereka ketakutan. Mereka melihat semua kawanan babi-babi itu mati lemas. Tetapi karena mereka tidak menyadari bahwa: “Dua orang yang kerasukan itu menjadi sembuh.” Kedua orang yang kerasukan setan itu sudah dibebaskan. Mereka dibebaskan dari cengkraman dan penguasaan setan. Mereka dibebaskan agar mereka dapat berbuat baik dan mengikuti Tuhan. Yang sangat mengherankan bahwa orang di kota itu mau Yesus segera keluar dari kota mereka, dan sangat mungkin karena Yesus semakin besar kuasaNya yang dilakukanNya di kota itu.

Dari pengalaman ini, apa yang dapat kita petik untuk kehidupan kita sehari-hari? Satu hal yang dapat kita pelajari dari bacaan injil hari ini bahwa kita semakin menyadari betapa besar kuasa dan kasih Allah kepada kita umatNya. Apapun keadaan kita, dalam kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia, kita tidak perlu takut dan malu untuk datang kepada Yesus, kembali mengatur haluan untuk kembali kepadaNya kalau kita sesat, kalau kita dikuasai oleh dosa dan kelemahan kita. Kita tidak perlu ragu-ragu mengundang Yesus untuk masuk ke dalam hati kita, memberi kita kekuatan untuk menghalau setan yang membelenggu kita. Semoga!!!

Tuhan, selamatkan saya!

Posted by admin on June 29, 2020
Posted in renungan 

SELASA MINGGU KE 13 MASA BIASA

30 Juni, 2020

Amos 3:1-8; 4:11-12

Matius 8:23-27

Saudara-saudariku terkasih,

Bacaan pertama hari ini,  Nabi Amos mengumumkan pengadilan Tuhan atas bangsa Israel karena mereka telah berpaling dari Allah dan menolak untuk kembali kepada Allah. Sebelumnya bangsa Israel adalah umat pilihanNya; Allah menyatakan kehadirannya kepada bangsa Israel dengan cara yang sangat unik, dimana Allah menunjukkan kepada mereka kekuatan kuasaNya menghantar mereka keluar dari perbudakan Mesir. Tetapi ketika mereka mengalami pergolakan, sebagaimana Allah memporakporandakan Sodom dan Gomorah, mereka tidak juga mau kembali kepada Allah.

Sebaliknya, Injil hari ini menceritakan sesuatu yang berbeda dimana ketika para murid yang sedang dalam perahu bersama Jesus, ketika perahu mereka lagi ditimbus gelombang. Pengalaman ini secara harafiah boleh dibilang bahwa para muridpun sedang menghadapi pergolakan oleh gelombang yang menimpa mereka. Apa reaksi mereka? Dengan seramerta mereka menghampiri Yesus, membangunkanNya agar Yesus dapat menolong mereka. Meskipu Yesus mempertanyakan iman mereka,.. karena para murid tahu bahwa Yesus akan segera menolong mereka,…  dan benar bahwa Yesus menolong meredahkan gelombang itu. Danau itu menjadi tenang kembali

Saudara-saudariku terkasih,

Apa yang dapat kita lakukan apabila kita mengalami kesulitan dalam hidup ini, atau menghadapi suatu pergolakan yang sangat berat? Bacaan-bacaan hari ini, kita diberikan pilihan yang berbeda. Kita bisa saja mengabaikan Tuhan, yang bisa saja menghantar kita ke keadaan yang lebih runyam, atau kita bisa juga kembali ke Tuhan untuk diselamatkan. Meskipun Yesus menghardik para murid ketika itu:”Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Kita dapat menafsirkan bahwa Yesus tidak menghardik karena kita mau datang/kembali kepadaNya minta tolong, tetapi kita memang perlu datang kepadaNya, minta tolong daripada kita binasa. Dan yang paling penting kita perlu sadar bahwa Yesus selalu dan akan bersama kita dalam perjalanan hidup ini.

Yang penting kita sadar bahwa kita akan binasa kalau Yesus tidak bersama kita. Kehadiran Yesusl  tidak hanya secara harafilah atau biologis, tetapi Yesus hadir dalam seluruh perjalanan hidup kita secara rohani dan kehadirannya itu abadi, karena kita akan binasa apabila kita hidup tanpa Yesus. Para murid boleh merasakan bahwa Yesus tidak hadir saat itu, sampai akhirnya mereka harus membangunkan Yesus, karena mereka melihat bahwa Yesus sepertinya belum mau berbuat sesuatu. Dalam hal ini kita perlu ingat bahwa meskipun seolah-olah Allah tidak atau belum menyatakan kehadiranNya pada saat kita menghadapi pergolakan, Yesus tetap hadir bersama kita, Yesus tetap menantikan agar kita mau kembali dan datang  kepadaNya.

Saudara-saudariku terkasih,

Hidup ini benar-benar suatu perjuangan yang penuh gelombang. Apalagi tentang gelombang dalam hidup rohani kita. Bukan tidak mungkin kadang-kadang iman kita menjadi goyah ketika menghadapi tantangan atau ujian, dan itu menjadi suatu pengalaman yang tidak bisa kita hindari. Kitapun kadang-kadang menjadi tegar hati, sombong dan mengandalkan kekuatan/kemampuan sendiri yang bisa saja membuat kita mati konyol. Bagus, kalau kita akan selalu merasakan, menyadari bahwa hidup ini tidak pernah luput dari tantangan dan gelombang yang menerjang yang selalu mengombang ambingkan bahtera kehidupan ini di satu pihak, dan mau dengan rendah hati memohon pertolongan Yesus: “Tuhan, selamatkanlah kami – Lord, save us!”

Saudara-saudari, mari kita selalu mau kembali dan datang kepada Yesus saat ini, terutama bagi saudara-saudariku yang saat ini lagi mengikuti perayaan Ekaristi.  Kita berdoa hari ini dan kapan saja kita mengalami gelombang hidup yang dahsyat, ingat akan ungkapan yang sangat singkat dan penuh arti dengan mengatakan “Lord, save us!” Amen.

HARI RAYA ST. PETRUS DAN ST. PAULUS RASUL

Posted by admin on June 28, 2020
Posted in renungan 

29 Juni, 2020

Kis. 12:1-11

2 Tim. 4:6-8, 17-18

Mat. 16:13-19

Sama saudara-i terkasih,

Kedua Rasul Kristus: Petrus dan Paulus yang kita rayakan hari ini benar-benar telah menjadi fundasi berdirinya gereja dimana dikatakan bahwa St. Petrus sebagai padas atau fundasinya dan St. Paulus dipanggil untuk menyebarkan Sabda Tuhan kepada mereka yang belum mengenal Allah. Keduanya baik St. Petrus maupun St. Paulus sebelumnya boleh dibilang cacat dosa, sebagaimana kitapun demikian keadaannya. Meskipun oleh penyebaran dan kkesaksiannya akan Injil, Petrus dan Paulus  harus dipenjarakan, dianiaya dan mati sebagai martyr. 

 St. Petrus dalam iman dan pengakuannya akan Kristus dimana ia mengatakan: ” Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” … Maka Yesuspun meresponse pengakuannya dengan mengatakan: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.” Dengan demikian Yesus mengangkat Petrus menjadi pemimpin pertama gereja. Sementara St. Paulus, ketika ia sedang dalam perjalanannya mengejar umat Kristiani, telah dibentuk dalam dan melalui suatu peristiwa pengalamannya dengan Yesus dan dengan pengalaman itu St. Paulus memulai serta mempersembahkan hidupnya dengan semangat misionaris yang luar biasa.

Sama saudara-i terkasih,

Bagaimna dengan anda dan saya? Dari hari ke hari, minggu ke minggu kita terus mempersatukan  diri dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi. Pada hakekatnya sembah bakti kita kepada Allah yang telah menciptakan kita sudah dipulihkan kembali relasi yang telah rusak melalui Yesus PuteraNya. Hal itu telah kita dengar dari dan dalam sejarah keselamatan, terutama dalam perjalanan hidup Yesus, dalam misi, penderitaan dan kematianNya. Kitapun telah belajar untuk hidup sebagai murid Yesus dan belajar untuk peka mendengar panggilan Allah dalam kehidupan ini. Dan yang perlu kita sadari, bahwa panggilan itu tidak sama sekali tentang siapakah anda. Tetapi panggilan itu sungguh-sungguh tentang Allah dan kasihNya kepada kita, tentang bagaimana kita menerima rahmatNya agar kita diperbolehkan bekerja sama dengan para rasu seperti bersama Petrus dan Paulusl agar dalam dan melaui anda dan saya pengabdian kita sungguh-sungguh demi Kerajaan Allah dan keselamatan dunia. Itulah keterlibatan kita dalam iman dan semangat Petrus dan Paulus.

Oleh karens itu dalam perayaan Ekaristi hari ini dan atau pada kesempatan apa saja dan dimana saja, kita diteguhkan dan dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Yesus agar kita mampu menjalani tugas perutusan yang telah ia percayakan kepada kita masing-masing kepada siapa saja yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Kita dipersenjatai sebagai rasul dengan iman dan semangat Petrus dan Paulus untuk menyebarkan Sabda Tuhan kepada setiap orang di muka bumi ini. Sebagaimana Petrus dan Paulus yang adalah murid Yesus, telah diutus kepada setiap orang dimana saja mereka ditusus, kiranya kita juga dapat melakukan tugas dan misi yang sama.

Perayaan kedua orang kudus hari ini kiranya dapat membuat kita lebih kuat dalam iman dan dengan penuh semangat serta memiliki sense of mission untuk melanjutkan misi penyelamatan kepada semua orang yang kita jumpai dalam kehidupan kita setiap hari, dimana dan kemana saja kita diutus; menyampaikan kabar baik akan kasih setia Allah kepada mereka. Amin.

LAYAKAH KITA?

Posted by admin on June 26, 2020
Posted in renungan 

Mat 8:5-17

Injil hari ini, Matius 8:5-17, mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan hamba dari perwira di Kapernaum, ibu mertua Petrus dan mengusir roh-roh jahat dari orang-orang yang kerasukan roh jahat. Perwira, dengan keyakinan dan kerendahan hati, berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Sikap dari perwira ini menarik karena sekalipun orang lain mungkin menganggapnya layak, karena ia seorang perwira, tetapi ia memiliki hati yang rendah menganggap dirinya tidak layak untuk menerima Yesus. Tanggapan Yesus atasnya pun mengagumkan dengan memujinya, “Di Israel, tidak ada seorang pun yang saya temukan iman seperti itu.” Siapa di antara kita yang tidak ingin mendengar kata-kata itu?

Kisah ini mau berbicara tentang apa itu artinya iman yang besar seperti keyakinan yang dimiliki perwira terhadap Yesus. Perwira yang bijaksana itu tahu bahwa kelayakan karena jabatannya yang ia rasakan di komunitasnya, rumahnya dan dalam hubungannya dengan sesama warga sama sekali nol dibandingkan dengan cinta dan kebaikan yang datang dari Tuhan. Perwira itu tahu bahwa tidak ada perbandingan yang harus dibuat, dia seperti kita sekarang ini – tidak layak atas cinta dan pengampunan yang tak terbatas yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya.

Iman adalah kekuatan yang menyembuhkan. Itulah yang terungkap setiap kali kita berucap, “Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang pada saya tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”, sebelum menerima Tubuh Kristus dalam setiap perayaan Ekaristi. Ketika kita mengucapkan kata-kata itu, kita menjadi seperti perwira, mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang hancur, tidak layak menerima anugerah dan kasih Allah. Tetapi kita juga mengakui iman kita yang teguh akan kuasa penyembuhan dari Allah. Dengan permintaan kita kepada Allah untuk “mengatakan firman-Nya,” kita menempatkan hidup dan jiwa kita di tangan-Nya dan menyatakan, dengan setia, bahwa tubuh dan darah penyelamat kita, Yesus, akan menebus kita dan membuat serta membuat kita tetap layak.

Saudari-saudaraku terkasih, iman kita dapat terhalang dan kehilangan fokus ketika dalam hidup hal-hal tidak berjalan seperti yang kita rencanakan dan inginkan. Pada saat-saat seperti itulah kita mungkin menyalahkan keluarga kita, tetangga kita dan bahkan Tuhan. Sikap perwira di Kapernaum adalah pelajaran bagi kita untuk tidak pernah terhalang dari apa yang harus kita lakukan dan terus menjaga pandangan kita pada apa yang ingin kita capai di jalan Allah dan yakin bahwa ketekunan kita akan diganjar oleh kasih Allah sendiri.

Tuhan memberkati!

Yesus Menyembuhkan Orang Kusta

Posted by admin on June 25, 2020
Posted in renungan 

Matius 8:1-4

Dalam injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus setelah selesai mengajar di bukit turun dan diikuti oleh orang banyak. Di saat itulah Yesus didatangi orang yang sakit kusta yang meminta untuk disembuhkan. 

Mendengar kisah ini saya teringat sewaktu masih kecil. Saat itu salah seorang penduduk tetangga kampung kami yang dicurigai menderita kusta. Ia memang tidak diperlakukan seperti pada zaman Yesus, yakni dianggap najis dan tidak diizinkan menjadi bagian dari masyarakat. Mereka harus tinggal di pinggiran kota, dan harus membuat kehadiran mereka diketahui setiap kali mereka memasuki kota, sehingga orang lain dapat menghindari segala jenis kontak dengan mereka sehingga tidak terkontaminasi. Tetapi ada perlakukan yang mirip, yakni setiap kali si penderita kusta tetangga kampung saya ini berpapasan dengan orang, orang yang ditemuinya selalu menghindar. Orang lain tidak berjalan ditempat yang bekas dilalui orang kusta tersebut. Bahkan kami sebagai anak-anak suka mengikuti dari jauh, tentu ditempat lain bukan bekas yang dilalui, karena rasa penasaran orang seperti apakah dia itu dan apa yang akan terjadi padanya kalau berpapasan dengan penduduk lainnya.

Saudari-saudaraku terkasih, dalam mukjizat ini, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang kusta, tetapi juga menjangkau dan menjamahnya. Ini mungkin berarti bahwa Yesus tidak dapat dibuat najis oleh apa pun dari luar. Ini juga dapat menunjukkan keinginan Yesus untuk menjangkau penderita kusta secara pribadi dan memperlakukannya sebagai manusia penuh. Di sisi lain doa penderita kusta adalah pelajaran bagi kita tentang makna doa. Dalam doanya, penderita kusta mengakui ketergantungannya pada Yesus secara total dan memiliki iman pada kemauan serta kemampuan Yesus untuk menyembuhkan, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” 

Pertanyaan untuk kita renungan bersama: Apakah ada orang-orang di sekitar kita yang mengalami perlakukan sebagai penderita kusta? Apakah kita memiliki keberanian untuk menjangkau dan menyentuh mereka hari ini? Dalam doa-doa kita, apakah kita mengungkapkan keyakinan sebagaimana penderita kusta dalam kisah Injil hari ini? Jika Tidak, mengapa tidak?

Tuhan memberkati!

Translate »