Browsed by
Month: November 2017

Sabda Kekal 

Sabda Kekal 

Jumat 1 Desember 2017 

Beato Dionisius dan Redemptus (Karmelit) 

Bacaan I : Daniel 7: 2-14 

Injil: Lukas 21: 29-33 

 

 

Sabda Kekal 

 

Saat musim semi kita melihat semarak Tuhan lewat bunga-bunga yang mekar. Saat musim panas kita menyaksikan keagungan Tuhan lewat hijau dan rindang dedaunan, saat musim gugur kita menikmati kemegahan Tuhan lewat perubahan warna dedaunan yang sungguh memukau, dan saat musim dingin kita merasakan penyertaan Tuhan lewat alam yang diam dalam kebisuan. Sebenarnya alam ciptaan Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa Kerajaan allah selalu datang di antara kita. Hanya saja terkadang kita tidak atau kurang peka melihat kehadiran Tuhan.  

Sebagaimana yang Tuhan katakana pada hari ini bahwa SabdaNya tidak akan berakhir adalah benar adanya. Sabda Tuhan selalu bergema dalam hidup kita saat kita mau peka menikmati segala ciptaaNya. Alam merupakan anugerah Tuhan di mana di dalamnya kita menemukan kebijaksanaan dan kebenaran sabdaNya. Kalau kita mau lebih peka sedikit saja untuk mau mensyukuri alam ciptaanNya maka sabda Tuhan hari ini sungguh dapat meresap dalam batin kita. Tuhan mengatakan demikian “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kalian melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kalian tahu dengan sendirinya, bahwa musim panas sudah dekat”. Inilah tanda-tanda alam, inilah kebijaksanaan Tuhan, inilah sapaan Tuhan dan inilah bukti bahwa sabda Tuhan tak pernah lekang oleh waktu. 

Satu hal yang Tuhan minta dari kita hanyalah mau meluangkan sedikit waktu yang kita miliki untuk menyaksikan keagunganNya, membaca SabdaNya dan membuktikannya lewat alam ciptaanNya. Kiranya kita yang dianugerahi waktu secara sama, 24 jam satu hari, sama rata, dapat menggunakan anugerah ini dan mensyukurinya dengan melakukan hal-hal baik seturut kehendakNya. Amin. Tuhan memberkati. 

 

Doa: 

Ya Allah Tuhan kami, trima kasih untuk SabdaMu yang selalu baru dalam hidup kami. Bantulah kami untuk selalu dekat denganMu. Amin. 

 

 

Mengenal Tuhan

Mengenal Tuhan

Kamis 30 November 2017 

Pesta St. Andreas Rasul 

Bacaan I : Roma 10: 9-18 

Injil: Matius 4: 18-22 

 

Mengenal Tuhan  

 

Bacaan pertama pada hari ini sungguh menggugah iman kita. Rasul Paulus berkata demikian “Barang siapa percaya kepada Dia tidak akan dipermalukan…Sebab barang siapa berseru kepada Nama Tuhan akan diselamatkan. Berseru kepada Tuhan berarti mau percaya kepadaNya, bukan hanya sekedar tahu, namun mau percaya. Seorang teman yang berasal dari Kolombia berkata demikian: “aku berasal dari keluarga Katolik yang taat. Aku sekolah di sekolah Katolik, Universitas Katolik, aku tahu Tuhan namun aku tidak percaya kepada Tuhan”. Sharing teman ini sungguh menohok batin. Ada apa gerangan? Yang pasti ada sebuah kekecewaan dengan Gereja Katolik maupun dengan Tuhan. 

Tahu bukan berarti mengenal, bukan pula berarti percaya. Kita mungkin tahu tentang Tuhan lewat pelajaran agama, lewat buku dan lain sebagainya, namun itu hanya sekedar tahu. Yang Tuhan inginkan dari kita bukan hanya sekedar tahu, namun mau mengenal dan percaya kepadaNya. Kita sekalian diselamatkan karena kita mau percaya. Maka tugas kita saat ini adalah menyerahkan diri kita kepadaNya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul Andreas setelah ia mengenal Tuhan secara benar. Kita juga dipanggil oleh Tuhan untuk menyelamatkan sesama kita yang tidak percaya kepada Tuhan, karena sesungguhnya mereka sampai saat ini masih mencari Tuhan. Tugas kitalah untuk selalu berdoa bagi mereka. Amin. Tuhan memberkati. 

 

 

Doa: 

Ya Tuhan bantulah kami untuk mau mengenalMu lebih dekat, untuk mencintaiMu lebih lebih dalam lagi. Amin.  

 

 

Allah Pembelaku

Allah Pembelaku

Rabu 29 November 2017 

Bacaan I : Daniel 5: 1-6.13-14.16-17.23-28 

Injil: Lukas 21: 12-19 

 

Allah Pembelaku 

 

Daniel dan kawan-kawannya saat dalam masa pembuangan tidak merasa gentar sedikitpun, justru mereka melihat saat itu sebagai saat pembuktian kebenaran iman mereka akan Tuhan. Dalam masa pembuangan itu mereka memberi kesaksian tentang keagungan nama Tuhan. Mereka tidak gentar karena mereka percaya bahwa Tuhanlah yang selalu membela mereka. 

Dalam Injil hal yang sama kita dengar dari Tuhan Yesus saat Ia mengatakan bahwa akan tiba saatnya ketika para pengikutNya ditangkap dan dianiaya. Tuhan hanya mengatakan supaya kita tidak gentar karena Tuhan sendirilah yang akan memberi pembelaan. Sabda Tuhan ini rasanya mustahil, bagaimana mungkin kita tidak perlu memberikan pembelaan saat dianiaya. Tapi demikianlah adanya, dalam sejarah umat manusia, sering kali orang-orang yang dianiaya justru dibela oleh Tuhan lewat orang-orang yang tak tak kita kenal, yang tak pernah terlintas dalam pikiran kita akan memberikan pembelaan. Sebagai contoh saat para imam dan para religious di Amerika dianiaya oleh media yang nota bene dibiayai oleh militant protestan dan Yahudi capitalist karena kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa oknum imam Katolik. Gereja dan para imam serta kaum religious justru dibela oleh orang-orang Yahudi yang berpikiran baik dan berhati bersih. Orang-orang Yahudi ini memberikan pembelaan demikian: “Sering kali kita mengadili para imam dan religious secara tidak adil. Yang melakukan pelecehan seksual bukan hanya mereka. Kalua kita berani jujur dan terbuka apakah dalam agama lain, dalam keluarga tidak ada pelecehan seksual. Jawabannya adalah banyak sekali, justru lebih massif dari pada dalam Gereja Katolik. Kita hanya mengadili para imam membabi buta, terutama mereka yang bersalah. Apakah kita berani jujur mengakui banyak para imam dan religius yang mengurbankan hidup mereka di pedalaman, yang mendirikan sekolah, memberikan pendidikan bagi orang-orang di pedalaman. Mereka bahkan berani mengurbanlan hidup mereka. Apakah kita berani mengakui pengurbanan mereka?”. Pembelaan orang-orang Yahudi di media Ameriak ini begitu menohok banyakl pihak yang menganiaya para imam, religius dan komunitas Katolik pada saat itu, tahun 2010. Gambaran ini adalah sebuah fakta bahwa Tuhan selalu membela kita bahkan saat kita diam, saat kita dianiaya. 

Kiranya kisah Daniel, Azarya, Akhaya dan Misael selalu mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah diam.

Ia selalu menepati apa yang Ia katakan.

Ia selalu menggerakkan hati banyak orang untuk memberikan pembelaan bagi umatNya yang Ia cintai, yang selalu berseru kepadaNya dalam diam. Kiranya kita sekalian juga selalu ingat bahwa Roh Kudus selalu berdoa bersama kita dalam seruan-seruan yang tak terucapkan kepada Allah Bapa kita. Amin. Tuhan memberkati. 

 

Doa: 

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, dalam kesatuan Tritunggal yang saling mengasihi kami juga mohon rahmatMu untuk mampu mengasihiMu dalam seruan-seruan doa-doa kami bahkan dalam saat yang sungguh menyesakkan bagi hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin. 

 

Aja Gumunan (Jangan Mudah Terpukau) 

Aja Gumunan (Jangan Mudah Terpukau) 

Bacaan I : Daniel 2: 31-45

Injil: Lukas 21: 5-11

Aja Gumunan

(Jangan Mudah Terpukau)

Lewat kebijaksanaan yang dilimpahkan oleh kepada Daniel, ia mampu menerjemahkan mimpi raja Nebukadnesar dengan baik.

Dalam mimpi itu raja melihat patung yang terbuat dari emas, perak, tembaga dan besi.

Namun patung yang dikagumi itu dihancurkan oleh Allah. Apa yang dikagumi oleh manusia belum tentu dicintai oleh Allah.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Yesus ketika Ia melihat orang-orang mengagumi Bait Allah. Bagi mereka Bait Allah sungguh indah dan mengagumkan. Namun bagi Yesus hal itu taka da gunanya sama sekali. Saat ini di Eropa ada sebuah trend, orang-orang mengadakan rekreasi ke kota-kota lain selain kota mereka. Di setiap kota pasti ada sebuah Katedral atau gereja yang megah dan tentu saja gereja-gereja itu mengundang decak kagum karena keindahan arsitekturnya. Namun apakah artinya gereja yang indah bila kosong tak ada umatnya, apakah artinya gereja jika hanya dijadikan tempat wisata. Maka tak heran jika Yesus mengecam orang-orang yang mengagumi Bait Allah. Bagi mereka Bait Allah lebih penting dari pada Tuhan. Hal yang sama juga terjadi pada kita, terkadang kita begitu terpesona dengan hal-hal buatan manusia namun akhirnya kita melupakan Tuhan.

Banyak orang begitu terpesona dengan apa yang ada di luar diri mereka. Baik bila kita juga selalu meluangkan waktu mengagumi karya-karya Allah dalam hidup kita. Bila kita mampu melakukannya maka kita tak perlu silau dengan hal-hal yang ada di luar diri kita. Cara pandang demikian selalu menumbuhkan rasa suka cita, rasa syukur dalam diri kita. Bila hidup kita selalu penuh suka cita karena berkat-berkat Allah maka kitapun tak perlu mengagumi secara berlebihan segala sesuatu yang merupakan buatan manusia.

Mengagumi adalah baik, namun bila berlebihan membuat kita akan melupakan Allah.

Kiranya nubuat Daniel lewat mimpi Nebukadnesar dan teguran Yesus kepada orang-orang yang mengagumi Bait Allah senantiasa bergema dalam diri kita. “Apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Tuhan”. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita. Amin.

Doa:

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, bantulah kami untuk selalu mengagumi Engkau dalam setiap karya dan tindakanMu dalam hidup kami. Amin.

 

Pokok Kebijaksanaan 

Pokok Kebijaksanaan 

Senin 27 November 2017 

Bacaan I : Daniel 1: 1-6.8-20 

Injil: Lukas 21: 1-4 

 

Pokok Kebijaksanaan 

 

Daniel, Azarya, Misael dan Hanaya adalah anak-anak muda bangsa Israel yang diangkut dalam masa pembuangan oleh raja Nebukadnesar. Kepada mereka berempat Allah melimpahkan rahmat kebijaksanaan dan pengetahuan yang luar biasa. Semua ini mereka dapat karena mereka takut akan Allah. Seperti kata penulis kitab Amsal, “Takut akan Allah adalah pangkal kebijaksanaan”. Takut akan Allah bukan berarti tidak berani mendekat kepada Allah. Rasa takut ini pertama-tama adalah mengutamakan hukum-hukum Allah dalam hidup kita.  

Ketika hidup kita didasari oleh hokum-hukum Allah maka Allahpun akan melimpahkan kebijaksanaanNya kepada kita. Daniel dan kawan-kawannya adalah contoh nyata dalam Perjanjian Lama. Dalam hidup kita sehari-hari kita juga menjumpai contoh nyata sosok yang demikian penuh dengan kebijaksanaan Allah. Salah satunya adalah Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus. Ia tidak pernah lulus dari SMA (lysée, dalam budaya bangsa Prancis), namun toh demikian ia diangkat menjadi Pujangga Gereja (Doktor Gereja) lewat kisah hidupnya (Kisah Suatu Jiwa). Dalam tulisannya ini kita bias melihat bagaimana Allah bekerja dalam dirinya lewat kebijaksanaanNya yang terpantul lewat sikap hidupnya. 

Hal yang sama hari ini kita dapati dalam kisah seorang janda miskin yang memberikan persembahan di Bait Allah. Ia mempersembahkan seluruh penghasilan yang ia dapat lewat pekerjannya. Ia rela mempersembahkan karena ia mencintai Allah. Cinta yang tulus membuat kita sungguh merasa takut untuk kehilangan hal yang kita cintai. Demikian pula saat kita mencintai Allah maka kitapun juga takut kehilangan Dia. Rasa cinta seperti inilah yang menumbuhkan kebijaksanaan Allah dalam diri kita. Hal seperti ini sering kali kita jumpai dalam diri orang-orang sederhana. Justru lewat pemikiran dan cara hidup mereka yang sederhana kebijaksanaan Allah sungguh-sungguh tampak. Maka baik bila kita bersama Daniel, Hanaya, Azarya dan Misael selalu memohon kepada Tuhan sikap sederhana, dan terutama rasa takut akan Allah sehingga kebijaksanaanNya tampak pula dalam hidup kita. Amin. Tuhan memberkati. 

 

 

Doa: 

Allah pokok damai dan sukacita kami, penuhilah kami dengan RohMu agar kami selalu takut akan Engkau, dan lebih terutama lagi agar kami selalu berpikir, bersikap sederhana dalam hidup kami; karena lewat sikap inilah kebijaksanaanMu nyata dalam hidup kami. Amin.  

 

Translate »