2 Samuel 18:9-10, 14b
24-25a, 30 – 19:3
Markus 5:21-43
Saudara-saudari terkasih,
Satu peristiwa menarik dalam injil hari ini antara Yesus dengan seorang perempuan yang sudah duabelas tahun sakit pendarahan, mendorong kita untuk lebih mendalami refleksi kita. Dikatakan bahwa ia telah berulang kali berobat kepada pelbagai macam dokter namun tidak memberi hasil yang diharapkan. Bukan tidak mungkin bahwa keadaan dan pengalaman seperti itu masih terus kita hadapi di zaman modern ini. Keadaan seperti itu seringkali membuat orang putus asa, marah dan bahkan bisa mengambil keputusan yang sangat fatal seperti membunuh diri. Pengalaman wanita yang sakit pendarahan dalam bacaan Injil hari ini boleh dibilang beruntung. Ia mau membuka mata hati dan telinganya kepada kehadiran Yesus di tengah orang banyak yang mendorong ia untuk berani datang dan mendekati Yesus. Keterbukaan dan kemauan yang besar mendekati Yesus serta keberaniannya memutuskan untuk menjamah jubah Yesus menghantar dia untuk lebih dekat kepada Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada Yesus apa yang telah terjadi dengan dirinya. Karena keterbukaan dan kejujurannya kepada Yesus ia disembuhkan, ia memperoleh apa yang dibutuhkan. Kepadanya Yesus berkata: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”
Jadi “iman” perempuan itu telah menjadi kunci utama dalam interaksinya dengan Yesus, dan Yesus menjawab sikapnya dengan penuh kasih. Perempuan itu disembuhkan. Tuhan akan mendengarkan permohonan kita sejauh kita mau minta tolong. Oleh karena itu dalam Mazmur antar bacaan hari ini Mz. 86:1-6 berbunyi: “Sendengkanlah telinga-Mu ya Tuhan, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hambaMu … dan perhatikanlah suara permohonanku,” Dalam keadaan seperti yang dialamai perempuan dalam bacaan hari ini kitapun boleh mempergunakan Mazmur 86:1-17 “Doa minta pertolongan”, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Saudara-saudariku terkasih,
Yesus Kristus membawa kehidupan, terang kepada yang sakit dan yang berada dalam kegelapan oleh penyakit dan dosa. Kemungkinan akan sembuh baik physically maupun spiritually, kesembuhan akan bisa terjadi. Rahmat dan kasih setia Allah akan senantiasa menghantar kita untuk lebih dekat kepada Yesus. Baru-baru ini kakak dari seorang teman saya, pada akhir hidupnya setelah menderita sakit sekian lama berpesan pada akhir kehidupannya ia mengatakan demikian: “Saya sudah tidak bisa makan lagi, setiap makanan yang saya makan selalu keluar lagi (muntah), tetapi yang saya minta agar ketika saya sudah pergi kepada yang Ilahi, saya akan terus mengharapkan kalian masih terus memberi makan kepada saya dalam doa-doa kalian.” Demikian kata-kata akhir kepada istri dan anak-anaknya yang begitu setia mendampingi dia pada akhir kehidupannya. Semoga kemampuan perempuan yang sakit pendarahan dalam bacaan injil hari ini memotivasi kita juga untuk bisa menghantar sesama kita yang sakit physically, mentally and spiritually kepada Yesus yang akan memenuhi permohonannya agar ia dapat memperoleh apa yang dibutuhkan. Karena Yesus datang untuk memenuhi permohonan kita yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit physically, mentally dan spiritually. Amin.