Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Yesus diutus ke dunia untuk menyembuhkan mereka yang membutuhkan

Posted by admin on January 31, 2022
Posted in renungan 

2 Samuel 18:9-10, 14b

24-25a, 30 – 19:3

Markus 5:21-43

Saudara-saudari terkasih,

    Satu peristiwa menarik dalam injil hari ini antara Yesus dengan seorang perempuan yang sudah duabelas tahun sakit pendarahan, mendorong kita untuk lebih mendalami refleksi kita. Dikatakan bahwa ia telah berulang kali berobat kepada pelbagai macam dokter namun tidak memberi hasil yang diharapkan. Bukan tidak mungkin bahwa keadaan dan pengalaman seperti itu masih terus kita hadapi di zaman modern ini. Keadaan seperti itu seringkali membuat orang putus asa, marah dan bahkan bisa mengambil keputusan yang sangat fatal seperti membunuh diri. Pengalaman wanita yang sakit pendarahan dalam bacaan Injil hari ini boleh dibilang beruntung. Ia mau membuka mata hati dan telinganya kepada kehadiran Yesus di tengah orang banyak yang mendorong ia untuk berani datang dan mendekati Yesus. Keterbukaan dan kemauan yang besar mendekati Yesus serta keberaniannya memutuskan untuk menjamah jubah Yesus menghantar dia untuk lebih dekat kepada Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada Yesus apa yang telah terjadi dengan dirinya. Karena keterbukaan dan kejujurannya kepada Yesus ia disembuhkan, ia memperoleh apa yang dibutuhkan. Kepadanya Yesus berkata: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

    Jadi “iman” perempuan itu telah menjadi kunci utama dalam interaksinya dengan Yesus, dan Yesus menjawab sikapnya dengan penuh kasih. Perempuan itu disembuhkan. Tuhan akan mendengarkan permohonan kita sejauh kita mau minta tolong. Oleh karena itu dalam Mazmur antar bacaan hari ini Mz. 86:1-6 berbunyi: “Sendengkanlah telinga-Mu ya Tuhan, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hambaMu … dan perhatikanlah suara permohonanku,” Dalam keadaan seperti yang dialamai perempuan dalam bacaan hari ini kitapun boleh mempergunakan Mazmur 86:1-17 “Doa minta pertolongan”, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil. 

Saudara-saudariku terkasih,

    Yesus Kristus membawa kehidupan, terang kepada yang sakit dan yang berada dalam kegelapan oleh penyakit dan dosa. Kemungkinan akan sembuh baik physically maupun spiritually, kesembuhan akan bisa terjadi. Rahmat dan kasih setia Allah akan senantiasa menghantar kita untuk lebih dekat kepada Yesus. Baru-baru ini kakak dari seorang teman saya, pada akhir hidupnya setelah menderita sakit sekian lama berpesan pada akhir kehidupannya ia mengatakan demikian: “Saya sudah tidak bisa makan lagi, setiap makanan yang saya makan selalu keluar lagi (muntah), tetapi yang saya minta agar ketika saya sudah pergi kepada yang Ilahi, saya akan terus mengharapkan kalian masih terus memberi makan kepada saya dalam doa-doa kalian.” Demikian kata-kata akhir kepada istri dan anak-anaknya yang begitu setia mendampingi dia pada akhir kehidupannya. Semoga kemampuan perempuan yang sakit pendarahan dalam bacaan injil hari ini memotivasi kita juga untuk bisa menghantar sesama kita yang sakit physically, mentally and spiritually kepada Yesus yang akan memenuhi permohonannya agar ia dapat memperoleh apa yang dibutuhkan. Karena Yesus datang untuk memenuhi permohonan kita yang membutuhkan kesembuhan dari penyakit physically, mentally dan spiritually. Amin.

2 Samuel 15:13-14, 30; 16:5-13

Markus 5:1-20

Saudara-saudariku terkasih,

    Salah satu keutamaan dalam kehidupan beragama ialah ketaatan. Oleh karena itu bagi mereka yang hidup membiara, “ketaatan” merupakan satu commitment dalam kaul-kaul kebiaraan mereka untuk menghantar mereka lebih dekat kepada kehendak Allah.

    Perikope injil Markus hari ini sangat tegas berbicara tentang “ketaatan” itu. Tidak lama sebelum perikope injil hari ini, dalam Injil Markus 4:35-41″Angin ribut diredakan”… dikatakan bahwa …Yesus menghardik angin itu dan berkata kepda danau itu: Diam! Tenanglah! Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Peristiwa itu membuat para murid bertanya: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepadaNya.” Lalu dalam injil hari ini Yesus sekali lagi melakukan mukjijat. “Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa. Yesus mengatakan kepadanya: Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” Roh jahat itu keluar dan memasuki babi-babi dan ribuan babi-babi terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas. Orang banyak yang melihat kejadian itu mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Orang yang disembuhkan itu diperintahkan untuk memberitakan kepada orang-orang sekampungnya apa yang telah terjadi dengannya, dan iapun pergi memberitakan apa yang telah Yesus perbuat atas dirinya dan mereka semua menjadi heran. Disini kita kembali melihat betapa mereka semua melihat, percaya dan taat kepada Yesus, melakukan apa yang Yesus perintahkan kepada mereka. Kita semua yang telah menjadi pengikut Yesuspun bisa belajar dari orang yang kerasukan itu untuk taat kepada kehendak Allah, taat kepada Yesus.

    Orang itu pergi dan mulai mewartakan kepada orang di Decapolis apa yang Yesus telah perbuat kepadanya. Semua orang dikatakan sangat heran akan apa yang telah terjadi dan yang telah mereka lihat. Menghadapi dunia sekarang ini yang sedang dilanda oleh pelbagai masalah baik politik, ekonomi, kesehatan dalam masa pandemic ini maupun kisruh antar suku, golongan dan agama akan menjadi tentram dan damai kalau semua orang dapat dan bisa saling menghargai martabat hidup sesama, saling menghormati dan saling melayani. Dunia inipun akan damai dan tentram kalau kita  semua mau terbuka untuk saling mendengarkan dan membagi pengalaman kebaikan Allah atas diri kita masing-masing, apa yang telah Tuhan perbuat untuk kita secara pribadi maupun bersama sebagai satu komunitas keluarga anak-anak Allah.

    Oleh karena itu saudara-saudariku terkasih! Kalau hari ini anda mendapat kesempatan untuk menghadiri perayaan Ekaristi, persembahkan niat dan intensi anda untuk mendoakan dan mewartakan apa yang telah anda peroleh serta alami kebaikan dan kasih setia Allah. Kiranya itulah project anda hari ini untuk mewartakan kebaikan dan kasih serta kehadiran Allah dalam perjalanan kehidupan anda dan keluarga serta komunitas dimana anda berada. Amin.

Agape

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on January 29, 2022
Posted in renungan  | Tagged With: , , ,

5th Sunday in Ordinary Time [C]

January 30, 2022

Luk 4:21-30

1 Cor 12:31 – 13:13

What is the greatest gift of the Holy Spirit for Paul? Is it speaking in tongue? Gift of understanding intricate mysteries of God? Gift of performing mighty deeds or healing? For Paul, it is love.

Paul himself says that if we have the gift of tongues to speak foreign languages or the language of angels, it will be useless without love. If we have the gift of prophecy or possess the knowledge and understanding of the mysteries of faith or the faith to move the mountains, they will be meaningless without love. If we donate everything we have, and to the point of sacrificing ourselves, but the motive is not to love, then it will be useless.

But, what makes this love is special? In Greek, several words can be translated as ‘love,’ namely ‘eros,’ ‘filia,’ and ‘agape.’ Eros is a love that unites man and woman in marriage and is open to new life. Filia is the love of friendship. People who have the same interest or vision in life tend to like and stick together as friends. Then, we have ‘Agape.’ This kind of love is radically different from Eros and Filia. While the other two are love moved by emotional power, agape primarily is the willpower and commitment. No wonder it is also called sacrificial love.

One powerful element that Paul introduces to the agape as a gift of the Holy Spirit is that it is not a static gift. It is not only something received and then given. Paul calls it ‘the most excellent way.’ The word ‘way’ points to journey, process, and growth. Agape is dynamic and growth-oriented. We do not only love, but we also grow in love.

In English, the words used to describe agape are adjectives, but these words are verbs in original Greek. Agape is not something static but action-oriented and dynamic. Agape is not simply patient, but agape is trying to be patient. Agape is not merely kind, but it is performing kindness. There is a transformation from someone who does not care about others to someone who learns to show compassion. Agape is not simply quick-tempered but is making a great effort not to be destructive in expressing anger.

What is fantastic about agape is that it is a gift of God for every Christian, and we possess the ability to learn and grow in love. We might not have the gift of healing, or the gift of prophecy, or the gift of performing miracles, but we can learn to be more patient with one another. We might not have the charism to teach or the authority to govern our communities, but we can decide not to be rude to people we do not like. We might not be the most brilliant guys in the group or someone who contributes a lot to others, but we can always be someone who patiently listens.

Agape is both the most fundamental as well as the most excellent. We are called to grow in love each time because, in the end, all things will cease, and only love remains.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Theophilus

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on January 22, 2022
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

Third Sunday in Ordinary Time [C]

January 23, 2022

Luke 1:1-4; 4:14-21

One unique thing to Luke is that he addressed his Gospel [and his Acts of the Apostles] to the most excellent Theophilus. Who is this Theophilus? We are not entirely sure, and this name has been a subject of debates and discussions for centuries. However, there are several things we may extract from the Gospel’s texts.

The first thing is that he was honorably addressed as ‘the most excellent’ [in Greek, ‘kratiste’]. This is an honorific title for a high Roman government official or a high nobleman during those times. Thus, Theophilus was someone politically powerful and wealthy. But why did Luke have to mention this affluent man? Most probably, it is because Theophilus is the one who supported Luke in the effort of writing his Gospel and Acts. The production of writing in ancient times is an extremely costly undertaking. Unlike papers in our time, parchment [from the animal skins] and papyrus [imported from Egypt] were not cheap raw materials for writing. Quality ink was not easy to get as well. Sometimes, authors had to hire a professional scribe to write correctly on a papyrus. Luke also indicated that he researched reading earlier gospels [most probably Mark and Matthew] and interviewing the eyewitnesses [perhaps Blessed Virgin Mary]. These efforts could cost a fair amount of money as well. No wonder experts say that to produce one single copy of a gospel may cost more than 2,000 USD. Theophilus has been instrumental in the production of Luke’s Gospel.

The second information we have about him is that Theophilus was most probably a Christian or at least a Catechumen. Luke wrote the purpose of his Gospel is ‘so that you may know the truth concerning the things about which you have been instructed [Luk 1:4].’ The word ‘instructed’ in Greek is ‘katekeo,’ the root word of catechism and catechesis. Theophilus has received some sort of catechism or teaching concerning the Catholic faith, but he wanted to know more, especially the certainty of the foundation of his faith.

How did the Gospel of Luke impact Theophilus? We are never sure, but we are confident that the Gospel has influenced millions of people tremendously. One more interesting is that the name Theophilus means the friends of God [theos + philios]. This Gospel is not just addressed to the historical figure called Theophilus, but to all of us, who are friends and lovers of God. Thus, reading carefully and prayerfully this Gospel deepens our love and friendship with the Lord. Luke’s Gospel has been acclaimed as one of the most beautifully composed books. From the stories like the prodigal son and the lost sheep, we discover more about the unparalleled mercy of God to us. From Luke also, we got the heartwarming stories of Mary as the first and most faithful disciple.

We all are called to be a Theophilus. Someone who dares to spend our time, energy, and other resources to know the certainty of our faith. And from this certainty, we are invited into loving friendship with the Lord.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan untuk bermisi

Posted by admin on January 20, 2022
Posted in renungan 

Bacaan Jumat, 21 Januari 2022

Seminggu ini saya menemani 6 frater yang bertugas pastoral di Tana Toraja, Sulawesi Utara. Salah satu frater betugas di sebuah paroki di daerah Mamuju, Sulawesi Barat. Dia bercerita kalau dari parokinya,  romo paroki harus menempuh perjalanan 12 jam menuju keuskupan di Makassar. Setiap minggunya, dia bersama beberapa umat mengunjungi stasi-stasi di pelosok dan daerah transmigrasi yang sulit dilalui karena harus melewati pegunungan dan jalan yang licin. Ada 20 stasi yang harus dikunjungi oleh imam dan petugas pastoral di sana. Mendengar kisah para frater ini, saya melihat adanya pelayanan misi yang luar biasa, heroisme untuk mewartakan Injil Kristus  di daerah-daerah yang jarang terjamah dan melewati medan yang menantang.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus tidak memanggil para murid dengan random, bukan tanpa maksud atau acak. Panggilan itu mengarahkan para murid menjadi kelompok orang yang punya tugas perutusan. Mereka inilah yang dikehendaki Yesus untuk turut dalam mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum memanggil mereka, Yesus berdoa dan mencari kehendak Tuhan siapa saja yang akan terlibat dalam karya pewartaan itu (Luk 6: 12-13).

Dalam Perjanjian Lama, panggilan Allah pada bangsa Israel terlihat sangat istimewa. Kitab Ulangan 7: 7-8 menjelaskan hal itu:

“Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan.”

Karena kasih Allah semata saja, Dia memilih orang-orang yang dipilih dan ditentukan dalam perutusan. Panggilan pada para murid, juga bukan didasarkan pada talenta dan keistimewaan. Meraka. Ia memanggil bukan karena seseorang lebih istimewa dari orang lainnya. Namun, panggilan itu berdasar pada kasih Allah yang dilimpahkan pada orang yang terpilih.

Mereka yang bermisi membutuhkan spiritualitas yang mendalam saat menjalankan karya mereka. Perjalanan yang jauh dan menantang, misi yang sulit dan berat menuntut petugas pastoral untuk merasakan sungguh bahwa Tuhan mendampingi dan mengasihi mereka dalam perutusan. Semakin misi itu jauh dan berat, semakin dibutuhkan doa yang kuat.

Kita berdoa agar Tuhan mengirim semakin banyak pekerja di daerah-daerah misi untuk mewartakan Injil Allah. Ternyata masih banyak wilayah di dunia ini yang belum terjamah oleh warta Injil, dan itu membutuhkan kehadiran orang-orang yang dipanggil Allah untuk bermisi.

Translate »