Posted by admin on April 30, 2014
Posted in renungan
Bacaan I : Kisah Para Rasul 5:17-26
Bacaan Injil : Yohanes 3:16-21
Saudara-i sekalian,
Suatu yang luar biasa kalau kita selalu menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat penting dan yang menjadi kerinduan kita, ialah “kehidupan kekal” dan yang begitu gampang kita peroleh. Allah akan dengan bebas akan menganugerahkannya kepada kita dengan syarat kalau kita “percaya kepada PuteraNya, Yesus Kristus, yang telah wafat untuk menebus dosa-dosa dunia”. Allah menyampaikan kepada kita dalam Injil Yohanes hari ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Tuntutan atau permintaanNya tidak bertele-tele, tidak seperti duabelas tahap dalam AA meeting (the twelve steps of Alcoholics Anonymous Meeting), tidak merupakan suatu program yang rumit untuk dijalankan. Tuntutannya hanyalah: Percaya dan Hidup sesuai dengan kepercayaan itu.
Kalau hanya itu yang menjadi permintaan atau tuntutanNya, apa susahnya, apa sih kesulitannya? Saudara, “percaya” tidak hanya sekedar mengatakan apa yang benar; samasekali tidak! Kita harus bisa membuat kepercayaan kita itu hidup. Selain itu, Yesus memanggil kita untuk mencintai Tuhan dan sesama, bagaimana kita harus bersikap terhadap sesama dan memperlihatkan apakah kita benar-benar telah menerima dan menghayati cinta Allah dalam kehidupan dan dalam relasi kita dengan sesama. Karena apabila kita mencintai sesama/seseorang, kita harus tahu apa yang merupakan perhatian/minat mereka, agar dalam menjalani cintakasih kristiani kita sudah dapat menghantar sesama kita lebih dekat kepada Kristus. Kesulitan yang kita hadapi dalam membangun relasi dengan sesama kalau kita selalu ingat akan hal-hal yang negatip dari sesama kita, selalu membangkit-bangkitkan kekurangan dan kesalahan sesama kita.
Saudara-i sekalian,
Dalam bacaan pertama hari ini, para murid Yesuspun menghadapi kesulitan, dan atau kendala menghantar sesama kepada Krsistus, memperkenalkan mereka kepada Kristus. Para muridpun telah dipenjarakan karena mereka menimbulkan, menciptakan keresahan di kalangan orang banyak. Apakah kita berani menghadapi konsekwensi kalau nanti kita bisa menghadapi kesulitan yang sama dari apa yang kita wartakan dan kita perbuat untuk menghadirkan kebaikan dan cinta Allah? Saya yakin bahwa kita tidak perlu harus takut dan kuatir akan apa yang akan terjadi. Yang paling penting bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dengan kata dan teladan, menghantar orang lebih dekat kepada Kristus. Sementara itu kita tidak perlu harus memfokuskan pada kesalahan mereka yang kita hadapi. Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa, dalam karya kerasulan dan tugas pewartaan dan dalam kedudukan serta autoritas apapun kita tidak boleh membuat judgement kepada siapapun. Sudah sangat pasti bahwa para Saduki dan para ahli taurat pada masa Yesus tidak suka mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu. Kalau demikian, renungan kita hari ini baik para rasul, anda dan saya, kita semua dipanggil untuk berani menghadapi segala konsekwensi dalam tugas pewartaan serta menghadirkan kasih Allah kepada sesama. Pengalaman para rasul dalam bacaan hari ini meneguhkan kita bahwa betapapun mereka telah dipenjarakan, malaikat datang dan membebaskan mereka, bukan untuk bersembunyi atau lari dari kenyataan yang mereka sudah dan yang akan mereka hadapi tetapi mereka bahkan kembali dan menneruskan pengajarannya serta dihadiri oleh orang yang lebih banyak lagi. Dan mereka bertemu dengan orang yang mau mendengarkan apa yang mereka ajarkan.
Masih ada hal lain lagi yang perlu kita pelajari dari para murid Yesus. Apapun kesulitan dan tantangannya, Allah terus menerus membuka kemungkinan dan memberi kita peluang untuk terus berkomunikasi denganNya, betapapun kita sangat mungkin berusaha menolaknya. Allah selalu memberi kita kesempatan untuk secara terus menerus membaharui relasi kita dengan lewat sakramen-sakramenNya, tanda kehadiran cintaNya. Disini kita sungguh sangat bersyukur dan berterimakasih karena kita masih mempunyai sakramen pengakuan yang senantiasa memberi kita kesempatan lagi untuk selalu membaharui relasi kita dengan Tuhan.
Saudara-i ku yang terkasih,
Kiranya dengan renungan kita hari ini akan dapat membantu kita untuk tetap kuat dalam iman kita kepada Dia yang telah memanggil kita lewat pembaptisan (Imamat Umum) yang telah kita terima; menjadi imam, nabi dan raja. Dengan demikian pada pengadilan terakhir kalau kita tidak perlu ragu-ragu menjawab pertanyaan Tuhan, dan satu-satunya pertanyaan itu ialah ” apakah kamu percaya?”; Kepercayaan kita akan dapat dilihat dari apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, setia kepada apa yang telah Ia percayakan kepada kita melakukan tri fungsi kita sebagai imam, nabi dan raja. Amin.