Siap Mewartakan Cinta Kasih


Bacaan I : Kisah Para Rasul 5:17-26
Bacaan Injil : Yohanes 3:16-21
Saudara-i sekalian,
Suatu yang luar biasa kalau kita selalu menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat penting dan yang menjadi kerinduan kita, ialah “kehidupan kekal” dan yang begitu gampang kita peroleh. Allah akan dengan bebas akan menganugerahkannya kepada kita dengan syarat kalau kita “percaya kepada PuteraNya, Yesus Kristus, yang telah wafat untuk menebus dosa-dosa dunia”. Allah menyampaikan kepada kita dalam Injil Yohanes hari ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Tuntutan atau permintaanNya tidak bertele-tele, tidak seperti duabelas tahap dalam AA meeting (the twelve steps of Alcoholics Anonymous Meeting), tidak merupakan suatu program yang rumit untuk dijalankan. Tuntutannya hanyalah: Percaya dan Hidup sesuai dengan kepercayaan itu.
Kalau hanya itu yang menjadi permintaan atau tuntutanNya, apa susahnya, apa sih kesulitannya? Saudara, “percaya” tidak hanya sekedar mengatakan apa yang benar; samasekali tidak! Kita harus bisa membuat kepercayaan kita itu hidup. Selain itu, Yesus memanggil kita untuk mencintai Tuhan dan sesama, bagaimana kita harus bersikap terhadap sesama dan memperlihatkan apakah kita benar-benar telah menerima dan menghayati cinta Allah dalam kehidupan dan dalam relasi kita dengan sesama. Karena apabila kita mencintai sesama/seseorang, kita harus tahu apa yang merupakan perhatian/minat mereka, agar dalam menjalani cintakasih kristiani kita sudah dapat menghantar sesama kita lebih dekat kepada Kristus. Kesulitan yang kita hadapi dalam membangun relasi dengan sesama kalau kita selalu ingat akan hal-hal yang negatip dari sesama kita, selalu membangkit-bangkitkan kekurangan dan kesalahan sesama kita.
Saudara-i sekalian,
Dalam bacaan pertama hari ini, para murid Yesuspun menghadapi kesulitan, dan atau kendala menghantar sesama kepada Krsistus, memperkenalkan mereka kepada Kristus. Para muridpun telah dipenjarakan karena mereka menimbulkan, menciptakan keresahan di kalangan orang banyak. Apakah kita berani menghadapi konsekwensi kalau nanti kita bisa menghadapi kesulitan yang sama dari apa yang kita wartakan dan kita perbuat untuk menghadirkan kebaikan dan cinta Allah? Saya yakin bahwa kita tidak perlu harus takut dan kuatir akan apa yang akan terjadi. Yang paling penting bahwa kita bisa melakukan yang terbaik dengan kata dan teladan, menghantar orang lebih dekat kepada Kristus. Sementara itu kita tidak perlu harus memfokuskan pada kesalahan mereka yang kita hadapi. Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa, dalam karya kerasulan dan tugas pewartaan dan dalam kedudukan serta autoritas apapun kita tidak boleh membuat judgement kepada siapapun. Sudah sangat pasti bahwa para Saduki dan para ahli taurat pada masa Yesus tidak suka mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu. Kalau demikian, renungan kita hari ini baik para rasul, anda dan saya, kita semua dipanggil untuk berani menghadapi segala konsekwensi dalam tugas pewartaan serta menghadirkan kasih Allah kepada sesama. Pengalaman para rasul dalam bacaan hari ini meneguhkan kita bahwa betapapun mereka telah dipenjarakan, malaikat datang dan membebaskan mereka, bukan untuk bersembunyi atau lari dari kenyataan yang mereka sudah dan yang akan mereka hadapi tetapi mereka bahkan kembali dan menneruskan pengajarannya serta dihadiri oleh orang yang lebih banyak lagi. Dan mereka bertemu dengan orang yang mau mendengarkan apa yang mereka ajarkan.
Masih ada hal lain lagi yang perlu kita pelajari dari para murid Yesus. Apapun kesulitan dan tantangannya, Allah terus menerus membuka kemungkinan dan memberi kita peluang untuk terus berkomunikasi denganNya, betapapun kita sangat mungkin berusaha menolaknya. Allah selalu memberi kita kesempatan untuk secara terus menerus membaharui relasi kita dengan lewat sakramen-sakramenNya, tanda kehadiran cintaNya. Disini kita sungguh sangat bersyukur dan berterimakasih karena kita masih mempunyai sakramen pengakuan yang senantiasa memberi kita kesempatan lagi untuk selalu membaharui relasi kita dengan Tuhan.
Saudara-i ku yang terkasih,
Kiranya dengan renungan kita hari ini akan dapat membantu kita untuk tetap kuat dalam iman kita kepada Dia yang telah memanggil kita lewat pembaptisan (Imamat Umum) yang telah kita terima; menjadi imam, nabi dan raja. Dengan demikian pada pengadilan terakhir kalau kita tidak perlu ragu-ragu menjawab pertanyaan Tuhan, dan satu-satunya pertanyaan itu ialah ” apakah kamu percaya?”; Kepercayaan kita akan dapat dilihat dari apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, setia kepada apa yang telah Ia percayakan kepada kita melakukan tri fungsi kita sebagai imam, nabi dan raja. Amin.
Bacaan I : Kisah Para Rasul 4:32-37
Bacaan Injil : Yohanes 3:7b-15
Saudara-i sekalian,
Hari ini kita dihadapkan dengan gaya hidup berkomunitas dari anggota umat Allah yang pertama, dari gereja purba. Setiap anggota umat dari gereja purba itu secara sukarela menyerahkan segala harta benda mereka untuk hidup bersama sebagai satu keluarga besar, dibawah kepemimpinan para rasul. Pada awal pembentukan cara hidup bersama ini dikatakan bahwa tidak ada seorangpun yang berkekurangan diantara mereka; “karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” Disini kita bisa melihat betapa besar kesediaan anggota umat Allah yang pertama seperti Barnabas yang menjual segala yang ia miliki dan mengikuti Kristus, segala harta bendanya dia serahkan kepada pemimpin gereja untuk bisa membantu umat lain. Hal ini mengingatkan saya akan para misionaris dari Belanda dan Jerman yang dulu bekerja di Flores, terutama para misionaris yang saya kenal, mereka sungguh-sungguh menyerahkan semua yang mereka peroleh dari negaranya, atau dari keluarganya untuk membantu umat di pedalaman Flores. Saya tahu bahwa P. Frans Cornelisen menyerahkan seluruh wasiat dari orangtuanya untuk membangun sebuah gereja yang cukup megah di paroki darimana saya berasal. Saya yakin bahwa sesama saudara-i juga pernah mengalami dan melihat pengorbanan para misionaris yang pernah kita kenal dan yang bekerja di daerah kita masing-masing.
Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa semua janji dan berkat Tuhan baik yang tidak pernah kita dengar sebelumnya maupun yang telah kita dengar dan kita lakukan, kita lalu menjadi sadar bahwa dalam kehidupan ini kita tak pernah akan bisa sendirian. Kita semua hidup bersama sebagai anggota keluarga anak-anak Allah. Suatu komunitas gereja yang berada dibawah kepemimpinan para rasul, yang telah disatukan dibawah kepemimpinan Petrus dan Petrus sendiri telah dipimpin oleh Kristus.
Saudara-i sekalian,
Untuk percaya penuh kepada Kristus and kepemimpinan gereja bukanlah suatu kepercayaan yang buta…tetapi suatu penyerahan yang total dan dengan kesadaran yang penuh. Kristus berbicara tentang Roh Kudus, napas kehidupan gereja, yang tidak bisa dilihat dengan mata. Tetapi, meskipun kita tidak dapat melihatnya secara langsung, seperti angin, Roh Kudus itu sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan kita. Satu contoh kecil saja: apabila kita mempunyai dorongan perasaan untuk membantu seseorang yang membutuhkan bantuan, itulah tanda kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan kita. Dorongan perasaan itu tidak dapat kita lihat, tetapi semangat/roh kasih dan perhatian itu ada dalam diri kita. Itulah dorongan semangat Roh Kudus.
Sebagai orang Katolik pada zaman modern ini, kita semua dipanggil untuk kembali melihat semangat kehidupan gereja purba. Kita semua dipanggil untuk hidup seperti mereka agar kita masih mempunyai kepekaan kepada kehidupan sesama yang ada disekitar kita yang benar-benar masih harus dibantu. Kita semua dipanggil untuk tidak terlalu melekatkan diri kepada barang-barang duniawi/materi, tetapi selalu memperhatikan sesama disekitar kita. Keikutsertaan kita, atau keterlibatan kita dalam segala kegiatan sosial karitatip, memberi makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada yang membutuhkan, bekerjasama dengan segala institusi/lembaga sosial yang ada di wilayah dan lingkungan kita. Semuanya itu adalah model kehidupan gereja purba, gereja pertama pada masa para rasul. Semoga Tuhan akan senantiasa menyertai dan membimbing kita meneruskan misi/karya penyelamatan PuteraNya Yesus Kristus, Amin.
Bacaan I : Kis. 4:23-31
Bacaan Injil : Yoh. 3:1-8
Sesungguhnya, Roh Kudus itu akan selalu bersedia hadir dalam diri setiap orang yang mau membukan diri untuk kehadiranNya dengan segala rahmat dan berkat dalam melanjutkan misi Yesus Kristus yang kita imani. Contoh kedua orang kudus yang kita rayakan hari ini akan sangat membantu kita asal kita tekun dan berani mengadapi segala tantangan dan cobaan apapun dalam tugas pewartaan itu. Pilihannya terletak pada diri setiap orang yang mau membuka diri dan mendengarkan panggilan Yesus. Amin.