(Yes. 49:3-6; 1Kor. 1:1-8; Yoh. 1:29-34)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengar satu kalimat yang sangat singkat, sangat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman iman yang luar biasa. Yohanes Pembaptis berseru: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Ia tidak berkhotbah panjang, tidak berargumentasi, tidak menjelaskan dengan teori-teori yang rumit. Ia hanya mengajak orang untuk melihat.
Seruan ini mengandaikan satu hal penting: iman pertama-tama bukan soal pengetahuan, melainkan soal pandangan hati. Ada banyak orang yang tahu tentang Yesus, tetapi tidak sungguh melihat Dia. Ada pula yang rajin ke gereja, tetapi belum pernah sungguh memandang Yesus dengan hati yang terbuka.
Bayangkan seseorang yang berdiri di depan mata air. Ia bisa membaca papan petunjuk tentang mata air itu, mendengar cerita orang tentang kesegarannya, bahkan memotretnya. Namun selama ia tidak menunduk dan meminum air itu, dahaganya tetap tidak terpuaskan. Demikian pula iman kita. Yohanes Pembaptis mengajak kita bukan sekadar tahu tentang Yesus, melainkan memandang dan mengalami Dia.
Mengapa Yesus disebut Anak Domba? Dalam hidup sehari-hari, anak domba adalah lambang kelembutan, ketidakberdayaan, dan kepercayaan penuh. Anak domba tidak melawan, tidak menyerang, tidak memamerkan kekuatan. Ia hidup dengan berserah.
Yesus hadir di tengah dunia dengan cara seperti itu. Ia tidak datang dengan teriakan ancaman, melainkan dengan kelembutan kasih. Ia tidak mendobrak hati manusia, melainkan mengetuk perlahan. Ia tidak menguasai, tetapi merangkul. Dan justru di sanalah terletak kekuatan-Nya.
Sering kali kita mengira bahwa untuk bertahan hidup, kita harus keras. Untuk dihormati, kita harus tegas dan menekan. Untuk dianggap penting, kita harus menonjolkan diri. Namun Yesus menunjukkan jalan yang lain: jalan kelembutan, jalan pengorbanan, jalan kasih yang diam tetapi setia.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan panggilan hamba Tuhan yang tidak mudah. Ia merasa kecil, bahkan seolah-olah usahanya sia-sia. Namun Tuhan meneguhkan dia: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” Terang itu bukan untuk memamerkan diri, melainkan untuk menuntun orang lain agar tidak tersesat.
Terang yang sejati tidak menyilaukan, tetapi memberi arah. Seperti lampu kecil di malam hari yang cukup untuk menuntun langkah tanpa melukai mata, demikianlah cara Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ia tidak selalu mengubah segalanya secara dramatis, tetapi setia menerangi langkah demi langkah.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus mengingatkan bahwa hidup seorang kristiani adalah panggilan untuk setia. Namun kesetiaan itu bukan beban yang harus dipikul sendirian. Kesetiaan lahir dari keyakinan bahwa Tuhan sendiri setia mendampingi kita sampai akhir.
Kadang kita lelah menjadi baik. Lelah mengampuni. Lelah setia. Lelah berjuang dalam kesunyian tanpa pujian. Dalam kelelahan seperti itu, kita diingatkan bahwa kekuatan kita bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan dari Kristus yang setia, bahkan ketika kita goyah.
Saudara-saudariku terkasih, banyak kegelisahan dalam hidup kita berakar pada satu hal: keinginan untuk diakui, dimengerti, dan dihargai. Ketika hal itu tidak kita peroleh, hati kita mudah terluka. Kita merasa tidak berarti. Kita merasa gagal.
Hari ini kita diundang untuk kembali memandang Yesus, Anak Domba Allah. Dengan memandang Dia, kita belajar bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan oleh kasih Allah yang setia. Kita berharga bukan karena prestasi kita, tetapi karena kita dikasihi.
Memandang Yesus juga mengubah cara kita memandang sesama. Kita dipanggil untuk menjadi lebih lembut, lebih sabar, lebih mau memahami. Dunia tidak selalu membutuhkan orang yang paling kuat, tetapi orang yang paling setia mengasihi.
Akhirnya, seperti Yohanes Pembaptis, kita pun diutus untuk menunjuk kepada Yesus. Bukan dengan kata-kata yang hebat, tetapi dengan hidup yang jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Ketika orang melihat kedamaian dalam cara kita bersikap, ketulusan dalam pelayanan kita, kesabaran dalam penderitaan kita, mereka pun akan diajak untuk bertanya: siapakah sumber hidupmu? Kiranya seruan itu terus bergema dalam hati kita: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Seruan yang menenangkan, meneguhkan, dan menuntun kita pulang ke hati Tuhan. Tuhan memberkati kit semua. Amin.