Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Minggu Biasa II A

Posted by admin on January 17, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

(Yes. 49:3-6; 1Kor. 1:1-8; Yoh. 1:29-34)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil hari ini kita mendengar satu kalimat yang sangat singkat, sangat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman iman yang luar biasa. Yohanes Pembaptis berseru: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Ia tidak berkhotbah panjang, tidak berargumentasi, tidak menjelaskan dengan teori-teori yang rumit. Ia hanya mengajak orang untuk melihat.
Seruan ini mengandaikan satu hal penting: iman pertama-tama bukan soal pengetahuan, melainkan soal pandangan hati. Ada banyak orang yang tahu tentang Yesus, tetapi tidak sungguh melihat Dia. Ada pula yang rajin ke gereja, tetapi belum pernah sungguh memandang Yesus dengan hati yang terbuka.
Bayangkan seseorang yang berdiri di depan mata air. Ia bisa membaca papan petunjuk tentang mata air itu, mendengar cerita orang tentang kesegarannya, bahkan memotretnya. Namun selama ia tidak menunduk dan meminum air itu, dahaganya tetap tidak terpuaskan. Demikian pula iman kita. Yohanes Pembaptis mengajak kita bukan sekadar tahu tentang Yesus, melainkan memandang dan mengalami Dia.
Mengapa Yesus disebut Anak Domba? Dalam hidup sehari-hari, anak domba adalah lambang kelembutan, ketidakberdayaan, dan kepercayaan penuh. Anak domba tidak melawan, tidak menyerang, tidak memamerkan kekuatan. Ia hidup dengan berserah.
Yesus hadir di tengah dunia dengan cara seperti itu. Ia tidak datang dengan teriakan ancaman, melainkan dengan kelembutan kasih. Ia tidak mendobrak hati manusia, melainkan mengetuk perlahan. Ia tidak menguasai, tetapi merangkul. Dan justru di sanalah terletak kekuatan-Nya.
Sering kali kita mengira bahwa untuk bertahan hidup, kita harus keras. Untuk dihormati, kita harus tegas dan menekan. Untuk dianggap penting, kita harus menonjolkan diri. Namun Yesus menunjukkan jalan yang lain: jalan kelembutan, jalan pengorbanan, jalan kasih yang diam tetapi setia.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan panggilan hamba Tuhan yang tidak mudah. Ia merasa kecil, bahkan seolah-olah usahanya sia-sia. Namun Tuhan meneguhkan dia: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” Terang itu bukan untuk memamerkan diri, melainkan untuk menuntun orang lain agar tidak tersesat.
Terang yang sejati tidak menyilaukan, tetapi memberi arah. Seperti lampu kecil di malam hari yang cukup untuk menuntun langkah tanpa melukai mata, demikianlah cara Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ia tidak selalu mengubah segalanya secara dramatis, tetapi setia menerangi langkah demi langkah.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus mengingatkan bahwa hidup seorang kristiani adalah panggilan untuk setia. Namun kesetiaan itu bukan beban yang harus dipikul sendirian. Kesetiaan lahir dari keyakinan bahwa Tuhan sendiri setia mendampingi kita sampai akhir.
Kadang kita lelah menjadi baik. Lelah mengampuni. Lelah setia. Lelah berjuang dalam kesunyian tanpa pujian. Dalam kelelahan seperti itu, kita diingatkan bahwa kekuatan kita bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan dari Kristus yang setia, bahkan ketika kita goyah.
Saudara-saudariku terkasih, banyak kegelisahan dalam hidup kita berakar pada satu hal: keinginan untuk diakui, dimengerti, dan dihargai. Ketika hal itu tidak kita peroleh, hati kita mudah terluka. Kita merasa tidak berarti. Kita merasa gagal.
Hari ini kita diundang untuk kembali memandang Yesus, Anak Domba Allah. Dengan memandang Dia, kita belajar bahwa nilai hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian orang lain, melainkan oleh kasih Allah yang setia. Kita berharga bukan karena prestasi kita, tetapi karena kita dikasihi.
Memandang Yesus juga mengubah cara kita memandang sesama. Kita dipanggil untuk menjadi lebih lembut, lebih sabar, lebih mau memahami. Dunia tidak selalu membutuhkan orang yang paling kuat, tetapi orang yang paling setia mengasihi.
Akhirnya, seperti Yohanes Pembaptis, kita pun diutus untuk menunjuk kepada Yesus. Bukan dengan kata-kata yang hebat, tetapi dengan hidup yang jujur, rendah hati, dan penuh kasih. Ketika orang melihat kedamaian dalam cara kita bersikap, ketulusan dalam pelayanan kita, kesabaran dalam penderitaan kita, mereka pun akan diajak untuk bertanya: siapakah sumber hidupmu? Kiranya seruan itu terus bergema dalam hati kita: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Seruan yang menenangkan, meneguhkan, dan menuntun kita pulang ke hati Tuhan. Tuhan memberkati kit semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa I

Posted by admin on January 16, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
17 Januari 2025
1Sam 9: 1-7 + Mzm 21 + Mrk 2: 13-17

Lectio
Suatu hari Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Meditatio
Yesus adalah seorang yang baik. Dia seorang Guru. Sebab orang banyak datang kepada-Nya, dan Ia mengajar mereka. Namun, mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Inilah yang dipersoalkan oleh ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi. Bukankah sebagai seorang Guru, Dia harus memberi teladan yang baik? Bukankah Dia harus bergaul dengan orang-orang yang baik dan berpendidikan?
Apakah Yesus tidak memberi teladan baik? Yesus membuka konsep baru bagi setiap orang, yakni tugas perutusanNya. Yesus berkata kepada mereka: ‘bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa’. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Kita pun harus berani menerima wacana dan konsep baru dalam pergaulan kita dengan sesama. Kita pun harus berani menerima wacana baru yang membuka doa-doa liturgis, agar semakin menyapa setiap orang yang hadir dalam perayaan liturgi. Liturgi hendaknya membuat setiap orang menikmati hidup yang selalu baru.

Oratio
Ya Yesus Kristus, Engkau datang hendak mencari anak-anak manusia yang hilang dan tersesat. Engkau mencari manusia, karena Engkau menghendaki semua orang beroleh selamat. Semoga kamipun menikmati janjiMu yang menyelamatkan itu. Amin.

Contemplatio
‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa’.

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

“IMAN YANG KREATIF DAN SOLUTIF”

Posted by admin on January 15, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

Jumat, 16 Januari 2026

Markus 2:1-12

          Saudara dan Saudari yang mengasihi dan dikasihi oleh Kristus. Iman memang ada perkara yang sangat personal, amat privasi, dan relasi intim setiap pribadi dengan Allah yang diyakininya. Namun, iman yang personal ini tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dengan kehadiran setiap diri di tengah keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok, atau masyarakat secara umum. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu ada dan bersama dengan yang lainnya. Maka menjadi satu kebenaran dan kenyataan dalam hidup ini bahwa iman yang sangat personal ini akan tumbuh berkembang, semakin dewasa, dan terus dimurnikan dalam lingkup yang komunal di tengah keluarga, komunitas, dan kelompok di mana setiap harinya kita menjalankan rutinitas hidup.

          Kisah dalam Injil hari ini sungguh menarik untuk menjadi permenungan dalam hidup kita hari ini. Perhatian kita bukan hanya pada iman dan keyakinan si penderita, tetapi juga iman dan keyakinan rekan-rekannya yang membawa si sakit kepada Yesus. Cara dan upaya yang dilakukan sungguh luar baisa. Mereka tidak menyerah saat melihat kesulitan dan tantangan, tetapi justru menggunakan daya anugerah akal budi dan nurani menemukan cara atau solusi yang menyelamatkan.

          Pengalaman yang tersurat dan tersirat dalam Injil hari ini memberikan satu peneguhan iman bahwa iman yang hidup akan menuntun setiap pribadi menemukan jalan kreatif mengatasi dan mengantisipasi aneka hambatan yang ada. Iman melahirkan keberanian untuk membongkar bukan hanya atap rumah, tetapi membongkar atap keraguan dan ketakutan kita. Keraguan dan ketakutan untuk mengupayakan alternatif solusi daripada sekadar bersikap pasrah, menyerah, dan berdiam diri.

          Pengalaman iman personal yang dihadirkan dalam konteks komunal (bersama) akan melahirkan kekuatan solidaritas persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Kita perlu berani untuk menyadari dan mengakui bahwa kita butuh sesama, butuh orang lain, butuh lingkungan dan alam ini agar bisa merasakan Allah yang hadir menyertai hidup kita. Inilah gambaran Gereja yang hadir dalam peziarahan manusia. Keselamatan diupayakan secara bersama-sama agar sukacita boleh dirasakan oleh semakin banyak orang. Menjadi suatu pertanyaan reflektif kecil bagi saya dan Anda sekalian “Apakah selama ini kehadiran orang-orang terdekat dalam keluarga menjadi penghambat atau pendukung untuk kita bisa semakin mengenal dan merasakan Allah yang hadir dan menyelematkan?”

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Translate »