Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Ascend to the Mountain of God

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on February 27, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

Second Sunday of Lent [B]

February 28, 2021

Mark 9:2-11

Mountain is a special place in the Bible. It is a place where God meets His people. In the Old Testament, there are many instances where mountains become a pivotal point of salvation history. After the great flood that cleansed the world, the Ark of Noah landed on Mount Ararat, and there, Noah offered sacrifice to God [see Gen 8:4]. Abraham was asked by God to offer his son Isaac on Mount Moriah. Just right before the sacrifice, the angel of God prevented Abraham and God recognized Abraham’s faith [see Gen 22]. When Moses was tending the flock of his father-in-law, Moses saw a burning bush yet was not consumed, and there, on the mount of Horeb, God called Moses to save Israelites from the Egyptians [see Exo 3]. After the liberation from Egypt, Moses and the Israelites the Law and established a covenant with God on the mount of Sinai [see Exo 24:18].

Jesus’ important life events took place in the Mountains. There is the mountain of temptation, where the devil brought Jesus and offered Him the worldly glories. There is the mountain of prayer, where Jesus spent His solitude with the Father. There is the mountain of teaching, where Jesus taught the most remarkable lessons like Beatitudes and love for enemies. There is a mountain of Transfiguration, where Jesus manifested His divine glory. There is the mountain of the cross, or Golgotha, where Jesus gave His life for our salvation. Lastly, there is the mountain of ascension, where Jesus went back to the heavens and sent His disciples to preach and baptize all the nations.

One distinctive feature in the Mount of Transfiguration is that he invited three disciples: Peter, James, and John. There are many reasons why these three were selected. St. Ambrose of Milan, representing the Fathers of the Church, believed that these three were chosen because of Peter who received the kingdoms’ keys, John, to whom was committed our Lord’s mother, and James who first suffered martyrdom. Meanwhile, St. Thomas Aquinas, a Middle age theologian, argued that James was the first martyr, John was the most beloved, and Peter was the one who loves Jesus most. However, we can also see it in a simple way. These three were disciples who were ready to follow Jesus and climb the high mountain.

Climbing the mountain is a challenging mission. One has to make necessary preparation without being excessive. Climbing requires physical stamina as well as mental toughness. As the climbing progresses, the persons’ authentic characters will be revealed. Facing difficulty, one can be very selfish or selfless. Confronting challenges, one can march with courage or retreat in fear. In a dire situation, one can exhibit decisive leadership or get panicked and lose his way. Peter, James, and John were up for the challenge, and they persevered to see the transfigured Jesus.

Often Jesus calls us to climb a mountain with Him. Sometimes, we climb the mountain of prayer as we need to face many hurdles in our prayer life. Occasionally, we need to climb the mountain of teaching because we are struggling with the Church’s particular teachings. Sometimes, we climb the mountain of Calvary, and we need to carry our cross, and on the top, we find no consolation but the death of the Savior.

Yet, the good news is that Jesus, who invited us to climb the mountain, is also walking with us. As we walk with Jesus, He guides us, strengthens us, and forms us. If we are faithful in mountains of temptations and Calvary, we will participate in His Transfiguration, resurrection, and ascension.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mendaki Gunung Tuhan

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on February 27, 2021
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu Kedua Prapaskah [B]

28 Februari 2021

Markus 9: 2-11

Gunung adalah tempat khusus di dalam Kitab Suci. Ini adalah tempat dimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana gunung menjadi titik penting dalam sejarah keselamatan. Setelah banjir besar yang membersihkan dunia, Bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Ararat dan di sana, Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan [lihat Kejadian 8: 4]. Abraham diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan putranya, Ishak, di Gunung Moria. Tepat sebelum pengorbanan, malaikat Tuhan mencegah Abraham dan Tuhan menerima iman Abraham [lihat Kejadian 22]. Ketika Musa sedang menggembalakan kawanan bapa mertuanya, Musa melihat semak bernyala tapi tidak habis terbakar, dan di sana, di gunung Horeb, Tuhan memanggil Musa untuk menyelamatkan bani Israel dari Mesir [lihat Keluaran 3].

Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus terjadi di Pegunungan. Ada gunung pencobaan, di mana iblis membawa Yesus dan memperlihatkan kemuliaan duniawi kepada-Nya. Ada gunungan doa, di mana Yesus menghabiskan waktu tenang-Nya dengan Bapa. Ada gunung pengajaran, di mana Yesus mengajarkan pelajaran-pelajran agung-Nya seperti Sabda Bahagia dan mengasihi musuh. Ada gunung Transfigurasi, di mana Yesus menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Ada gunung salib, atau Golgota, tempat Yesus memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita. Terakhir, ada gunung kenaikan, di mana Yesus kembali ke surga dan mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa.

Kembali ke gunung tansfigurasi. Salah satu ciri khas dalam gunung transfigurasi adalah bahwa Yesus mengundang tiga murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ada banyak alasan mengapa ketiganya dipilih. St Ambrosius dari Milan, mewakili para Bapa Gereja, percaya bahwa ketiganya dipilih karena Petrus yang menerima kunci kerajaan, Yohanes, yang menjadi komitmen ibu Tuhan kita, dan Yakobus yang pertama kali mati sebagai martir. Sementara itu, St Thomas Aquinas, seorang teolog Abad Pertengahan, berpendapat bahwa Yakobus adalah martir pertama, Yohanes adalah murid yang paling dikasihi dan Petrus adalah murid yang paling mengasihi Yesus. Namun, kita bisa melihat juga dari cara yang sederhana. Ketiganya adalah murid-murid yang siap mengikuti Yesus dan mampu mendaki gunung yang tinggi.

Mendaki gunung adalah misi yang berat. Seseorang harus membuat persiapan yang matang tanpa berlebihan. Mendaki membutuhkan stamina fisik serta ketangguhan mental. Saat pendakian berlangsung, karakter asli orang tersebut akan terungkap. Menghadapi kesulitan, seseorang bisa menjadi sangat egois, tetapi juga bisa rela berkorban. Menghadapi tantangan, seseorang dapat maju terus dengan keberanian atau mundur dalam ketakutan. Dalam situasi yang mengerikan, seseorang dapat menunjukkan kepemimpinan yang tegas atau menjadi panik dan tersesat. Petrus, Yakobus dan Yohanes siap untuk tantangan itu, dan mereka bertahan untuk melihat Yesus yang berubah rupa.

Sering kali Yesus memanggil kita untuk mendaki gunung bersama-Nya. Terkadang, kita mendaki gunung doa karena kita harus menghadapi banyak rintangan dalam kehidupan doa kita. Terkadang, kita perlu mendaki gunung pengajaran karena kita bergumul dengan ajaran-ajaran tertentu Gereja. Kadang-kadang, kita mendaki gunung Kalvari, dan kita perlu memikul salib kita, dan di puncaknya, kita tidak menemukan penghiburan selain kematian sang Juruselamat.

Namun, kabar baiknya adalah Yesus yang mengundang kita mendaki gunung, juga berjalan bersama kita. Saat kita berjalan dengan Yesus, Dia membimbing kita, menguatkan kita dan membentuk kita. Jika kita setia di gunung godaan dan golgota, kita juga akan ikut serta dalam mendaki gunung transfigurasi, kebangkitan dan kenaikan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Musuh Tanpa Rusuh

Posted by admin on February 26, 2021
Posted in renungan 

Sabtu, 27 Februari 2021

Ulanga 26:16-19
Mazmur 119
Matius 5:43-48

Filsuf terkenal Tiongkok Sun Tzu menulis bahwa salah satu dasar paling penting dalam seni peperangan adalah mengenali diri kita dan mengenali musuh kita. Jika kita tahu kekuatan dan kelemahan kita, dan kita juga tahu kekuatan dan kelemahan musuh, niscaya kita akan menjalankan strategi yang akan memberi kita kemenangan dalam peperangan.

Yesus dalam Injil hari ini meminta kita untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar membenci musuh atau mengenali musuh. Dia minta kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Sesuatu yang kelihatannya sangat sulit sekali, hampir tidak mungkin.

Tahun 1219, Santo Fransiskus pergi ke Mesir untuk bertemu muka dengan Sultan Malik al-Kamil. Masa itu adalah masa Perang Salib di mana pasukan Kristen dari Eropa dan pasukan Muslim dari Mesir dan Timur Tengah berperang memperebutkan Tanah Suci. Fransiskus tahu dia pergi ke sarang musuh. Dia tidak ingin perang berkelanjutan. Tetapi sebagai seorang Kristen, dia juga mempunyai niat menyebarkan Injil.

Tidak banyak yang tahu secara persis apa yang dibicarakan oleh Fransiskus dan Sultan Malik. Yang kita tahu adalah Fransiskus tinggal di sana beberapa hari dan diperlakukan sebagai tamu khusus. Setelah pulang dari sana, Fransiskus menulis doa pujian yang berisi serangkaian sifat Allah seperti: “Engkau kuat, Engkau maha besar, Engkau maha luhur,” (doa selengkapnya dapat dilihat di https://ofm-indonesia.org/publikasi/karya-doa-pujian/#p=31). Doa ini serupa dengan doa Asmaul Husna dalam Islam yang berisi 99 Nama Allah. Sangat mungkin bahwa Fransiskus merasa terinspirasi dengan ibadah Sultan dan pengikutnya.

Tahun 2019 lalu, Ordo Fransiskan memperingati 800 tahun pertemuan Fransiskus dan Sultan dengan menerbitkan buku ini https://issuu.com/franciscanmedia/docs/francis-003

Fransiskus pergi menjumpai seseorang yang dianggap “musuh” bagi orang Kristen dan warga Eropa. Tetapi setelah dia mengenalnya, tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Mungkinkah bagi kita, saat kita mencoba mengenali lebih jauh “musuh” kita, akan lebih mudah untuk mengasihi mereka?

Sun Tzu juga berkata, bahwa peperangan yang paling sempurna adalah peperangan yang tidak melalui pertempuran.

Luka Hati

Posted by admin on February 25, 2021
Posted in renungan 

Jumat, 26 Februari 2021

Yehezkiel 18:21-28
Mazmur 130
Matius 5:20-26

Setiap orang pasti membutuhkan hubungan yang erat dengan orang lain dalam hidupnya. Tapi terkadang hubungan itu bisa retak atau hancur karena yang satu merasa disakiti oleh yang lain. Peristiwa semacam itu bisa meninggalkan luka hati atau dendam yang mendalam. Kalau kita mendengar perintah Yesus dalam Injil hari ini supaya kita berdamai dengan saudara kita terlebih dahulu sebelum membawa persembahan kepada Tuhan, berapa dari kita yang benar-benar bisa berdamai dengan semua orang yang kita rasa pernah melukai kita?

Bisa jadi orang itu sudah benar-benar keluar dari hidup kita sehingga rekonsiliasi tidak memungkinkan. Atau bisa juga kita masih dalam tahap penyembuhan, di mana usaha untuk rekonsiliasi malah bisa membuat kita lebih sakit hati atau mengancam kesehatan mental kita.

Jika demikian halnya, mungkin saat ini kita cukup menjalankan perintah Yesus dengan mendoakan mereka. Kita minta juga kasih karunia Tuhan supaya hati kita bisa disembuhkan dan bisa memaafkan.

Terkadang aksi simbolik dapat membantu proses penyembuhan kita. Ambil sebuah batu dan gunakan sebagai simbol dari peristiwa masa lalu yang menyakitkan, kemudian buang ke sungai atau laut. Atau tuliskan semua isi hati anda ke secarik kertas dan bakar kertas itu.

Langkah demi langkah, hari demi hari, dengan bantuan kasih karunia Tuhan, semoga luka batin kita dapat benar-benar sembuh.

Doa Ester

Posted by admin on February 24, 2021
Posted in renungan 

Kamis, 25 Februari 2021

Tambahan Ester C:12, 14-16, 23-25
Mazmur 138
Matius 7:7-12

Tambahan Ester adalah bagian dari cerita Ester yang ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan Ibrani, karena itu biasanya dimasukkan sebagai bagian Deuterokanonika. Jika Alkitab anda mempunyai bagian khusus Deuterokanonika, anda akan menemukan Tambahan Ester di dalamnya. Beberapa versi Alkitab lain menyatukannya ke dalam Kitab Ester. Namun jika Alkitab anda bukan versi Katolik, kemungkinan anda tak akan menemukan Tambahan Ester ini. Silakan klik https://katakombe.org/alkitab/deuterokanonika/tambahan-ester/tambahan-ester-c.html untuk melihat bacaan dari Ester hari ini.

Rm. Galih sudah pernah menceritakan secara dalam kisah Ratu Ester (“Ester, Wanita Perkasa dari Persia,” http://lubukhati.org/?p=6257). Seperti kata beliau, dalam Kitab Ester yang orisinil tidak pernah muncul kata “YHWH” atau Tuhan. Tetapi dalam bacaan hari ini kita dapati Ester dan Mordekhai berdoa dan mereka berkali-kali menyebut Tuhan. Mengapa demikian?

Kitab Ester tidak dimasukkan dalam daftar resmi Kitab Yahudi sampai setelah abad 3 Masehi. Buku ini dianggap kurang memiliki nilai religius. Tidak ada disebut sama sekali tentang Tuhan, hukum Taurat, perjanjian, ataupun doa. Ester sendiri menikah dengan seorang yang bukan beragama Yahudi dan tidak mengikuti peraturan tentang makanan apa yang boleh dimakan. Karena itulah elemen-elemen religius ditambahkan di kemudian hari, salah satunya dalam Kitab Septuagin (Kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani).

Latar belakang faktual ini tidak mengurangi keindahan dan ketulusan doa yang diatribusikan pada Ester dalam bacaan hari ini. Siapapun pengarang doa ini, dia membayangkan suasana hati Ester yang harus melakukan suatu misi yang berbahaya. Kita pun bisa menggunakannya dalam doa kita sendiri:

Ingatlah kami ya Tuhan,
dan datanglah kepada kami dalam kesesakan kami.
Berilah keberanian kepadaku,
ya Raja segala allah, penguasa segala kuasa.

Translate ยป