Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Berbaliklah kepada-KU dengan segenap hati

Posted by admin on February 28, 2017
Posted in renungan 

Rabu, 1 Maret 2017

“Berbaliklah kepada-KU dengan segenap hati”

Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6:2; Mat 6:1-6:16-18

Selamat hari Rabu abu dan selamat memasuki masa Prapaskah.

Hari ini kita mengawali masa prapaskah dengan menerima abu di dahi kita, tanda kerendahan hati mengakui bahwa kita masih berdosa, jauh dari sempurna apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Bacaan pertama mengawali masa prapaskah mengajak kita untuk kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati., “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati. Ini adalah sebuah ajakan untuk terus kembali kepada Tuhan, sebuah perjalanan yang terus menerus kepada Tuhan. Kita diajak untuk kembali kepada Tuhan dengan rasa penuh percaya diri karena Tuhan kita adalah Tuhan pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Ketika kita mau kembali kepada-Nya, Dia telah lebih dahulu menemui kita. Sesungguhnya, rahmat belas kasihNya memampukan kita untuk datang kepadaNya jika kita membuka hati kita kepadaNya.

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan anugerah Allah yang telah kita terima.Tuhan telah berkarya dalam hidup kita melalui Roh Kudus-Nya. Panggilan kita adalah untuk menghasilkan karya itu secara lebih mendalam dan dengan demikian kita semakin dekat dengan Tuhan. Abu yang kita terima di dahi kita adalah tanda dari kerinduan kita untuk bertumbuh dalam relasi kita dengan Tuhan yang sungguh mencintai kita dengan rela mengorbankan diriNya demi keselamatan kita.

Dalam bacaaan injil kita kembali diingatkan akan tiga praktek dari masa puasa: doa, puasa dan berikan sedekah sebagai jalan untuk bertumbuh dalam membangun relasi dengan Tuhan. Tiga praktek ini diharapkan membantu kita untuk dapat kembali kepada Tuhan secara penuh dan utuh. Kelihatannya tiga praktek, akan tetapi sebenarnya hanya satu jalan karena ketiganya saling terkait satu dengan yang lain. Puasa adalah cara untuk mengatakan tidak kepada apapun yang menghalangi kita untuk bertumbuh dalam relasi kita dengan Tuhan. Berani berkata “tidak” kepada segala bentuk cinta diri kita dan ‘Ya’ kepada Tuhan, yang diekspresikan dalam doa serta ‘ya’ kepada sesama lewat sedekah yang kita berikan kepada yang membutuhkan.

Gereja memberikan kepada kita empatpuluh hari masa prapaskah untuk menanggapi panggilan Tuhan ini ” “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hati”, tidak hanya secara individu tetapi juga secara komunitas. Mari kita membuka hati kita untuk memulai masa prapaskah ini dengan harapan untuk merayakan Pesta Paskah yang meriah. Semoga pada saatnya kita siap untuk mengulangi janji sungguh keluar dari hati kita. Sebagaimana para katekumen, masa prapaskah adalah masa persiapan untuk pembaptisan di malam Paskah, demikian pun kita yang telah dibaptis, masa prapaskah adalah masa dimana kita mempersiapkan diri kita untuk recommit janji baptism di hari Paskah nanti.

Apa sih yang kita dapat dalam mengikuti Yesus?

Posted by admin on February 28, 2017
Posted in renungan 

Selasa, 28 Pebruari 2017

Apa sih yang kita dapat dalam mengikuti Yesus?

Mrk 10:28-31

Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Sangat menarik dalam bacaan injil hari ini, Petrus dengan jujur bertanya kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau, Apa yang akan kami dapat? Dengan kata lain Petrus mau mengetahui apa sih garansi yang Yesus berikan, ketika mereka dengan antusias dan berani mengikuti Dia. Keingintahuan ini berawal dari seorang pemuda yang mau mengikuti Yesus tetapi tuntutan Yesus yang sulit bagi si pemuda, akhinya dia terpaksa pergi dengan sedih (bacaan injil hari senin). Dalam mengikuti Yesus, kitapun seringkali bisa jadi seperti Petrus. Kita mungkin bertanya ”apa sih yang kita dapat dalam mengikuti Yesus?” apa untungnya mengorbankan segalanya tanpa ada kepastian dalam mengikuti Yesus? Kadang kita tergoda untuk meninggalkan atau mengabaikan tawaran dalam mengikuti Yesus sebagaimana pemuda yang mempunyai banyak harta dan ingin menikmati segala hartanya.

Bacaan injil memperlihatkan kepada kita juga tanggapan Yesus kepada Petrus yang butuh kepastian. Hal yang sama, Yesus berikan kepada kita lewat berbagai pengalam iman kita. Yesus berjanji kepada Petrus dan kita semua bahwa kita akan menerima lebih dari apa yang kita tinggalkan atau berikan dalam mengikuti Yesus. Jika Petrus meninggalkan keluarga, dia akan menemukan keluarga baru, keluarga dalam inan. Yesus meyakinkan kita juga bahwa apa yang kita berikan atau tinggalkan demi mengikuti Dia, Dia akan memberikan kembali kepada kita berlipat ganda.

Serahkan kecanduanmu pada Tuhan

Posted by admin on February 26, 2017
Posted in renungan 

Senin, 27 February 2017

Serahkan kecanduanmu pada Tuhan

Sirach 17: 20-27; Psalm 32: 1-2, 5, 6, 7; Mrk 10: 17-27

Dua hari lagi kita akan memasuki masa Pra Paskah. Kita akan menerima abu pada hari rabu abu sebagai salah satu tanda pertobatan. Bacaan hari ini seolah mempersiapkan kita untuk memasuki retret agung ini. Bacaan-bacaan menantang kita untuk melihat kembali secara serius relasi kita dengan Tuhan. Kitab Sirakh mengajak kita untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan bacaan injil menantang kita untuk lebih berdisiplin dalam mengikuti Yesus. Kita di ingatkan kembali untuk membangun relasi dengan Tuhan tidak sebatas pada inteluaktual semata, akan tetapi harus lebih pada komitment yang melibatkan seluruh diri/pribadi kita: pikiran, hati, jiwa dan raga kita.

Bacaan-bacaan juga mengajak kita untuk melihat gaya hidup kita sehari-hari. Melihat cara lama hidup kita yang mungkin jauh dari Tuhan dan kembali pada jalan Tuhan. Kita ditantang untuk mati terhadap cara lama hidup kita, dosa karena egoisme dan cinta diri sendiri harus ditinggalkan demi cara hidup baru yang dijanjikan Yesus. Semakin kita menolak cara lama hidup kita dan keluar dari berbagai ikatan yang menghambat kita dalam mengikuti Yesus, kita akan semakin bersatu dengan Yesus Kristus yang bangkit.

Bacaan-bacaan juga memampukan kita untuk terbuka mengakui keberdosaan kita dan berani memohon ampun dari Tuhan. Mengakui dosa-dosa kita termasuk apa saja yang menjadi ‘kekayaan’ kita yang kita miliki, yang kita enggan untuk tinggalin. Kekayaan itu tidak hanya uang atau kedudukan. Kekayaan itu bisa berupa aspek hidup kita yang kita anggap penting dan susah untuk di lepas dan sekaligus menjadi penghambat dalam perjalanan kita sebagai pengikut Kristus. Kekayaan itu bisa berupa kecanduan yang susah ditinggalin seperti makan dan minum yang berlebihan; duduk di depan TV berjam-jam, tiada hari tanpa internet yang tak terkontrol-kan, dls.

Hal-hal yang berkaitan dengan kecanduan adalah hal-hal yang mengontrol hidup kita dan menghambat diri kita untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ketika kita berpikir tentang ‘kekayaan’ dalam konteks ini maka kita tidak heran kenapa murid-murid Yesus bereaksi ketika Yesus mengatakan betapa sulitnya orang-orang kaya masuk dalam kerajaan Allah. Murid-murid Yesus bertanya, siapa yang akan diselamatkan? Kita semua mempunyai ‘kekayaan’/kecanduan yang sering kali menguasai diri kita. Yesus berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin!”

Mari kita mempersiapkan diri kita dalam menyambut masa Pra-Paskah dengan secara jujur melihat kehidupan kita secara jujur dan mohon pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kita. Kita tidak hanya memohon belas kasih Allah saja, akan tetapi meminta kekuatan dari –Nya untuk dapat keluar dari kecanduan yang menghalangi kita dalam mengikuti Yesus. Dengan demikian kita dapat bergembira sebagaimana mazmur katakan hari ini “Bersukacitalah dalam Tuhan dan bersorak-sorailah, hai orang jujur.

Mammon

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on February 25, 2017
Posted in renungan 

Mammon
 
8th Sunday in Ordinary Time (Year A)
February 26, 2017
Matthew 6:24-34
 
“You cannot serve God and mammon (Mat 6:24)”
 
Mammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.
It is not an uncommon story that in many nations government officials are involved in large-scale corruptions, while ordinary citizens have to break their bones working and paying taxes. In Brazil, the Philippines and other countries, small farmers are violently evicted from their homes and lands by the greedy landowners. The grim reality of human trafficking is covert yet enormous. The children and women are abducted and traded as commodities, used as drug mules or sex objects. While others face immediate death as their bodily organs are harvested and sold in black market. Our beautiful forest and mountains are destroyed because of massive illegal logging and mining. This leads to nothing but ecological destruction, the animals are endangered, the rivers and seas become giant dumped sites of toxic waste, and our land is sorely barren and dead.
The mammon-worship does not only take place outside our fence, but without realizing it, it also plagues our own house and families. Who among us are addicted to work and begin to sideline our responsibilities in the family and neglect our health? Who among us start to think that giving money to our children is enough for their growth? Sometimes, the clergy and the religious are caught in the same mentality. We do our ministry as if there will be no tomorrow. We begin putting aside the basics like prayers, study, and community.
St. Thomas Aquinas makes it clear that riches and money cannot satisfy our deepest longing. He argues that wealth’s purpose is to meet our temporal human needs, but never to fulfill our spiritual and supreme desire. The real problem happens when we mistakenly accept riches as the fulfillment of our infinite desire for the infinite God. We make Mammon a god. We dethrone the true God and all serious problems start flooding in.
Jesus calls us to once again go back to true God. Other forms of gods, like wealth, money, gadgets, properties, cars, sex, prestige, works only drag us into slavery and misery. Just like the Hebrews in Egypt, only when they followed Yahweh, were they liberated from the slavery and marched toward the Promised Land. Yet, it was not easy. Like the Israelites who wanted to go back to Egypt after some time in the desert, we also cling to our Mammon firmly. It took 40 years for Israelites to struggle with their faithfulness to God, and perhaps we need years to before we rediscover the true God in your lives. Difficult indeed, yet, it is necessary because only God can bring us true happiness and liberation. We are liberated from the illusion of self-sufficiency, from the excessive ego-centrism. Not only we are freed, but also our family and our society, our environment and our earth. Want to make our world a better place? Let God be your God!
 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Anak: Sebuah Berkat

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on February 24, 2017
Posted in renungan 

Anak: Sebuah Berkat
 
Sabtu dalam Pekan Biasa ke-7
25 Februari 2017
Markus 10:13-16
 
Injil menyoroti realitas anak sebagai berkat Tuhan. Namun, apakah masyarakat kita masih menganggap anak sebagai berkat? Saya melihat bahwa saat ini masyarakat kita seperti sebuah Supermall raksasa. Secara virtual, kita tinggal dalam sebuah kompleks Supermall dimana hampir semuanya tersaji secara menarik dengan semua variasinya.
Dengan demikian, kita dikondisikan untuk percaya bahwa kita bebas untuk memilih apa pun yang kita inginkan. Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan secara praktis telah kabur. Mentalitas Supermall ini akhirnya juga mempengaruhi dan merubah bagaimana kita lihat apa artinya memiliki keluarga dan anak-anak di zaman ini. Kita mulai mendikotomi kehidupan berkelurga, hanya mengambil bagian yang paling menyenangkan dan menghapus bagian tidak diinginkan saja. Kita hanya ingin menikmati seks tapi kita menolak tanggung jawab untuk memiliki anak. Kita ingin memiliki pasangan yang cocok, tetapi menolak hidup berkomitmen.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita cenderung untuk melihat kehamilan hanya dari sudut biologis dan bahkan ekonomis. Semuanya dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan kita. Bahkan kita dapat mengatur tanggal yang tepat untuk kelahiran anak kita dan dengan cara yang hampir tanpa rasa sakit. Mungkin sampai pada titik dimana, seperti memilih telepon selular, kita juga dapat menentukan fitur-fitur apa yang kita inginkan pada anak kita saat mereka lahir. Akan lebih cantik jika anak saya memiliki mata biru langit!
Hal ini membawa kita kepada konsekuensi yang mengerikan. Bagaimana jika kehadiran anak tersebut tidak terencana? Bagaimana jika seorang wanita yang sibuk dengan karirnya tiba-tiba hamil? Bagaimana jika karena ‘kecelakaan’, seorang gadis remaja menemukan hasil positif pada tes kehamilannya? Bagaimana jika seorang wanita cantik mengalami pelecehan seksual dan menemukan dirinya hamil? Apakah kita masih menganggap anak ini sebagai berkat atau penyusup dalam hidup kita yang semestinya untuk dihancurkan?
Kita hadapi sekarang salah satu masalah yang paling rumit dengan segala kompleksitas. Apa artinya untuk percaya bahwa seorang anak adalah berkat dalam situasi dilematis seperti ini? Pertanyaan kemudian adalah apakah kita bisa seperti Yesus yang memenerima anak-anak sebagai berkat karena mereka adalah empunya Kerajaan Allah?
Setiap anak yang lahir adalah berkat karena ia mengingatkan tentang kita siapa kita sesungguhnya. Memilih untuk melahirkan dan kehidupan tidaklah seperti memilih antara iPhone atau Samsung, tetapi menegaskan siapa kita sebenarnya. Kita adalah pribadi-pribadi yang mampu memiliki keberanian dan iman yang luar biasa bahkan di dalam situasi yang sangat mustahil sekalipun. Biarkan anak-anak ini menjadi sumber sukacita karena mereka membawa Kerajaan Allah kepada kita.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
 
Translate »