Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Called for Holiness

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on October 31, 2020
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

All Saints’ Day

November 1, 2020

Matthew 5:1-12

Today the Church is celebrating the Solemnity of all saints. This is one of the ancient feasts in the Church that commemorates and honors all holy people who had gone before us and received their eternal reward, God Himself. We may recognize some of them, like St. Ignatius, St. Dominic de Guzman, St. Francis of Assisi, and St. Catharine of Siena, but this is only a tiny fraction of the entire heavenly host. There are countless we are not aware of. The good news is that all of them are praying for us, and who knows, some of our departed beloved have been parts of this holy communion.

Speaking of the saints, the first thing that often pops up in our mind is that these are giants of our faith. Many saints, like the majority of the apostles, are martyrs. They offered their lives for Christ in gruesome ways. Many saints are performing unparalleled miracles. St. Benedict of Nursia was reported to raise a young man killed in an accident during the building of his monastery. Not only miracles, but some saints are also performing unthinkable deeds. A tradition says that St. Anthony of Padua decided to preach to the fish when the heretics refused to listen to him, and the fishes were giving their attention to the preacher of truth. When St. Vincent Ferrer preached, his voice could be heard even as far as 3 KM away. St. Catharine of Siena received the gift of stigmata, the wounds of the crucified Christ. St. Padre Pio of Pietrelcina had the gift to penetrate the depth of human hearts so that people cannot hide anything before him during the confession.

Looking at the lives of the saints, we may wonder, “Is sainthood for me?” I am afraid to die, let alone as martyrs. I do not possess super abilities; not even I can speak with my pets. Worse, I continue to struggle with my sins. Holiness is far from many of us.

However, the truth is all of us are created to become saints. Yes, the purpose of why God created us is to be holy, to be part of heaven, and to share His divine life. In fact, we have only two fundamental options in the final analysis: for God or against God. If we are for God, then our destiny is heaven, and membership in eternal joy is for the saints. Yet, if we refuse to be with God, then we are doomed to hell. Thus, our choice is only two: to be saints or go to hell. Tough choice!

Yet, the saints with marvelous stories are the only tip of the iceberg. The majority of the saints are living a simple yet faithful life. St. Martin de Porres lived his entire life as a simple brother, cleaning and taking care of the convent. St. Therese of Lisieux did not do any extraordinary things during her life, but sincere prayer to the Lord. St. Louis and Azelie Martin, a simple couple yet faithful parents, raised 5 nuns, and one of them is St. Therese. And, Beato Carlo Acutis was young and liked to play Playstation, but he was also recognized as a blessed one. We are called to holiness, and we are designed for heaven. We need to be open to God’s grace to work in us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

check also my Youtube Channel “bayu ruseno” for any latest video catechism…

Syukur, perjamuan persaudaraan dan kerajaan Allah

Posted by admin on October 31, 2020
Posted in renungan 

Luk 14:1.7-11

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus melalui perumpamaan berbicara tentang pesta perkawinan sebagai satu peristiwa penting dalam masyarakat di mana suasana kekeluargaan dan kegembiraan bisa dialami dan dinikmati oleh semua yang diundang. Kita dapat memetik beberapa poin penting dari perumpamaan ini:

Hal pertama yang barangkali mau diajarkan oleh Yesus melalui perumpamaan ini adalah rasa syukur karena diundang oleh tuan pesta. Undangan itu sendiri adalah bentuk penghormatan yang perlu diapresiasi dan perlu ditanggapi dengan sikap hormat yang sama. Rasa syukur juga didorong oleh kenyataan bahwa tuan pesta ingin berbagi bukan hanya santapan jasmani melalui makan dan minum dengan melainkan juga ada aspek yang lebih dari itu yakni aspek rohani seperti kegembiraan, persaudaraan dan syukur terutama dari penyelenggara pesta yang seharusnya tidak boleh dilupakan.

Hal berikut yang ditampilkan Yesus dalam perumpamaan adalah tentang bagaimana memposisikan diri. Kerendahan hati di sini tentu berkaitan dengan penghormatan kita kepada tuan pesta yang menyelenggarakan pesta dan berhak untuk mengatur tempat duduk para tamu undangan. Karena itu, seperti dalam perumpamaan, mengambil tempat yang paling rendah dapat membantu menghindarkan rasa malu ketika tamu yang lebih terhormat datang dan harus mengambil posisi terhormat yang telah disediakan. Di sini kerelaan untuk mengambil tempat paling rendah berkaitan langsung dengan pengenalan diri secara benar dan utuh dan keterbukaan serta pengakuan terhadap mereka yang dihormati karena terpanggil untuk mengabdi dan melayani dalam masyarakat.

Hal lain lagi yang mau diajarkan dalam perumpamaan adalah perlunya kepekaan terhadap mereka yang miskin, cacat, buta, dst. Kepekaan seperti ini memiliki nilai keutamaan yang besar karena kenyataan bahwa setiap orang berharga di mata Allah. Setiap orang ingin dicintai oleh Allah dan berbagi keserupaan dengan-Nya. Karena itu dipanggil untuk berbagi kasih satu sama lain. Lagi, Yesus mengingatkan bahwa kendati mereka ini tidak memiliki apa-apa untuk membalas namun ada rahmat tersembunyi yang ditawarkan dalam diri mereka sebagai “the other-Christ”. Sebab pada saatnya Allah sendiri akan membalas dengan cara yang tidak kita diketahui, terutama melalui pemenuhan janji keselamatan dalam perjamuan kerajaan surga.

Terakhir, Ekaristi sebagai ungkapan terbaik dan terindah dari ibadah, syukur dan pujian kepada Bapa di surga yang telah memberikan Putra-Nya sebagai silih atas dosa-dosa manusia melalui kematian-Nya di salib. Di dalam ekaristi kita mendengarkan Allah yang berfirman untuk membuka pikiran dan hati untuk mengenal, mencintai dan menjalankan ajaran dan kehendak-Nya. Di dalam ekaristi kita juga menerima Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan termulia yang menguatkan dan menguduskan badan dan jiwa untuk melanjutkan karya kerajaan-Nya. Di dalam ekaristi kita terutama disatukan dalam kuasa Roh Kudus sebagai Tubuh Mistik Kristus, bersama para malaikat dan para kudus di surga, menjadi tanda dan sakramen keselamatan Allah di dalam dunia. 

Agama lahiriah versus agama batiniah

Posted by admin on October 30, 2020
Posted in renungan 

Luk 14:1-6

Dalam Injil hari ini Yesus sekali lagi memperlihatkan pentingnya transformasi praktik dan pemahaman keagamaan yang salah dan yang secara keliru diwariskan secara turun-temurun melalui hukum dan kewajiban lahiriah namun di saat yang sama mengabaikan isi dan tatanan batiniah — roh hukum itu sendiri.

Di kisahkan bahwa Yesus sedang makan di rumah salah satu pemimpin orang-orang farisi dan tiba-tiba datanglah seorang yang menderita sakit busung air dan berdiri di hadapan-Nya. Penyakit ini dalam term medis disebut ascites (pengumpulan air di rongga perut — disebut juga penyakit kuning/liver). Melihat itu Yesus bertanya kepada para pemimpin agama yang ada di situ: “Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Nampak bahwa Yesus memang menjalin persahabatan yang baik dengan para pemuka agama. Namun di saat yang sama Yesus amat terganggu melihat penghayatan agama yang tidak membawa pembebasan. Karena mereka tidak menjawab maka Yesus memakai kesempatan itu melakukan transformasi spiritual dengan menyembuhkan penyakit yang diderita orang itu: “Yesus memegang tangan si sakit itu dan menyembuhkannya serta menyuruhnya pergi.”

Yesus dengan ini membuka definisi baru dari agama yang menghukum kepada agama yang tidak menghukum melainkan membebaskan. Yang satu menekankan ketaatan lahiriah yang satu lagi ketaatan batiniah. Yang satu agama yang tidak peduli yang lain agama yang peduli dengan kondisi dan kebutuhan konkret manusia. Agama Yesus Kristus, karena itu, adalah agama yang peka dengan penyakit dan penderitaan sosial dan personal manusia, dengan kebutuhan-kebutuhan real yang ada dalam masyarakat. Dibutuhkan kepedulian lebih besar dan kerjasama umat beragama demi pembebasan masyarakat agama itu sendiri. Penghayatan agama yang demikian tentunya akan membawa pembebasan dan kemajuan dalam masyarakat.

Roh Kudus sebagai sumber dan kekuatan pewartaan iman

Posted by admin on October 29, 2020
Posted in renungan 

Ef 6:10-20

Luk 13:31-35

Hari-hari ini suasana politik pemilihan presiden Amerika Serikat semakin memanas. Sudah 70 juta pemilih yang memberikan suaranya seminggu sebelum pemungutan resmi pada 3 November mendatang. Apakah Mr. Trump yang diusung partai republikan akan berhasil mempertahankan kursi presiden untuk periode kedua? Ataukah dengan terpaksa harus memberikan kesempatan kepada Mr. Joe Biden dari partai demokrat untuk menduduki gedung putih dan menjadi presiden Katolik kedua setelah John F. Kennedy yang ditembak mati sebelum masa pemerintahannya berakhir lebih dari 50 tahun yang lalu. Biden pernah menjabat selama dua periode berturut-turut sebagai wapres mendampingi presiden Obama sebelum Trump secara mengejutkan menang atas Hillary Clinton pada pemilu 2016 lalu melalui perhitungan elektoral. Hasil survey media mainstream yang selama ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintahan Trump dengan slogan America-first, menempatkan Joe Biden dan running-matenya Kamala Harris, seorang senator perempuan dari negara bagian California, unggul untuk sementara. Masalah ekonomi, health care dan covid-19 menjadi isu-isu utama yang hangat diperdebatkan. Siapa yang akan memenangi pertarungan ini? Kita lihat saja nanti…

Bacaan-bacaan suci hari ini mengarahkan kita untuk menjawab pertanyaan ini: Siapa yang paling kita andalkan dalam perjuangan hidup kita di dunia ini? Dalam bacaan pertama, Santu Paulus kepada umat di Efesus berbicara tentang kekuatan Allah sebagai semangat dasar perjuangan kita di atas dunia ini. Roh Allah harus menjadi kekuatan utama yang mendorong setiap keputusan yang kita ambil dalam bertindak berhadapan dengan segala kekuatan lain yang melawan kuasa Allah: “Sebab itu kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, agar kalian dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri sesudah menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap berikatpinggangkan kebenaran, dan berbajuzirahkan keadilan dan kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kalian akan dapat memadamkan semua panah api si jahat. Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu sabda Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu dalam Roh dan berjaga-jagalah dalam doamu itu dengan permohonan terus-menerus untuk segala orang kudus.”

Sementara itu di dalam Injil, Lukas menampilkan Yesus yang tidak takut menghadapi semua lawan yang mengancam-Nya, yakni para farisi dan Herodes, untuk segera meninggalkan Jerusalem, pusat kekuatan politik dan religius saat itu, yang sekaligus mengakhiri hidup dan pewartaan-Nya di atas dunia ini. Dengan memanggil Herodes sebagai serigala, Yesus mengingatkan para musuh yang bersekongkol untuk membunuh-Nya akan konsekuensi dari setiap pilihan yang tidak berpihak pada kasih dan kehendak Allah: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu, ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan esok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan esok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh di luar Yerusalem.’ Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan merajam orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap, tetapi kalian tidak mau…”

Kehadiran dan suara profetik Gereja dan setiap pengikut Kristus tidak jarang berakhir tragis. Para nabi dan martir iman adalah tanda kehadiran nyata Allah di dalam dunia. Semoga iman yang kita wartakan terus bertumbuh dan berbuah berkat kuasa Roh Kudus kendati harus berhadapan dengan setiap kekuatan dan tantangan yang kadang berlawanan langsung dengan kuasa dan kehendak Allah sendiri.

Rasul Simon Orang Zelot and Yudas Tadeus

Posted by admin on October 27, 2020
Posted in renungan 

Luk 6:12-16

Simon orang Zelot adalah saudara Yudas Tadeus dan Yakobus Minor. Mereka dipilih oleh Yesus menjadi rasul-rasul-Nya. Nama Simon muncul di dalam semua Injil dalam daftar para rasul. Dan untuk membedakannya dari Simon Petrus, ia dipanggil Simon orang Zelot, barangkali karena semangatnya yang besar dan ketaatannya dalam mengikuti hukum dan praktik hidup bangsa Yahudi. Kaum Zelot di antara orang-orang Yahudi merupakan satu kelompok pemberontak golongan Makkabe yang loyal terhadap nasionalisme bangsa dan agama Yahudi di mana hanya Yahweh adalah Raja mereka. Karena itu mereka menolak membayar pajak kepada penguasa Romawi dan bertekat untuk melawan semua bentuk kekuatan asing. Beberapa Bapa Gereja yakin bahwa adalah perkawinan Simon orang Zelot yang terjadi di Kana di mana Yesus mengubah air menjadi anggur. Sebagai seorang rasul Yesus, Simon adalah seorang pewarta Injil yang fanatik dan wafat sebagai martir bersama saudaranya Yudas di wilayah Mesir, Ethiopia dan Persia.

Seperti disebut di atas bahwa Yudas atau Yudas Tadeus merupakan saudara Yakobus Minor dan Simon orang Zelot. Ketiganya barangkali saja adalah sepupu Yesus dari garis keturunan ibu. Yudas Tadeus adalah murid yang bertanya kepada Yesus pada Perjamuan Akhir tentang kenapa Yesus tidak manampakkan diri kepada dunia melainkan hanya kepada murid-murid-Nya saja. Yudas menulis surat kepada gereja-gereja di Timur dan mewartakan Injil di Yudea, Samaria, Idumea, Syria, Mesopotamia dan Libya. Ia wafat sebagai martir. Ia dihormati sebagai Santo Pelindung orang-orang yang berada dalam situasi-situasi amat sulit karena 1) dalam suratnya ia menekankan pentingnya kesabaran yang besar dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan tersulit dalam hidup; 2) ia memiliki kedekatan kekeluargaan dengan Yesus; dan 3) ia sepertinya diabaikan karena bernama “Yudas” seperti Yudas Iskariot yang menyangkal Yesus. Menurut beberapa kisah dari abad pertama Mesopotamia, Yudas Tadeus membuat mujizat yang melebihi mukjizat para dukun dan pesulap lokal dan menyembuhkan seorang raja yang menderita kusta.

Orang-orang Kristen mengambil bagian dalam misi Yesus karena iman dan panggilan para rasul. Kita dipanggil untuk menjadi pewarta Injil kasih dan kemurahan Kristus dalam semangat pengampunan dan pelayanan bagi semua orang melalui kesaksian hidup kita sehari-hari.

(Renungan ini dialihbahasakan aslinya dari  http://frtonyshomilies.com/)

Translate »