Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Makam Kosong 

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on March 30, 2024
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Malam Paskah – Minggu Paskah [B]

31 Maret 2024 

Markus 16:1-7 

Yesus adalah segalanya atau tidak sama sekali. Mengapa? Karena Dia membuat klaim yang luar biasa bahwa Dia adalah Allah. C.S. Lewis, seorang pujangga dari Inggris, menanggapi klaim ini dengan tiga kemungkinan jawaban, ‘Orang Gila, Pembohong, atau Tuhan’. Entah Yesus adalah orang gila yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan, atau Yesus adalah orang jahat yang ingin menipuc dunia demi keuntungannya, atau Dia adalah sungguh Tuhan karena apa yang diklaimnya adalah benar. Jika klaim Yesus benar, maka Dia layak mendapatkan semua penyembahan, cinta dan pemujaan kita. Namun, jika klaim Yesus itu salah, maka Dia bukan siapa-siapa yang kebetulan adalah orang gila atau pembohong. Lalu, apa bukti dari klaim-Nya? 

Jawabannya adalah kebangkitan Yesus dari kematian. Namun, apa bukti dari kebangkitan Yesus? Ya, kubur yang kosong! Ya, ini adalah bukti pertama yang kita miliki. Jika kita membaca keempat Injil, kita akan menemukan kisah kebangkitan dengan sedikit variasi, tetapi semuanya setuju dengan kenyataan tentang kubur yang kosong. Jika saya adalah Yesus, saya akan memilih cara kebangkitan yang lebih dramatis dan terlihat. Saya bahkan akan menampakkan diri kepada Pilatus dan para imam kepala untuk membuktikan kebangkitan. Namun, Yesus memilih untuk menunjukkan kubur yang kosong dan kemudian menampakkan diri kepada para wanita. Tetapi, mengapa wanita-wanita ini? Perempuan-perempuan ini adalah perempuan-perempuan yang sama yang berdiri di dekat salib Yesus, dan mereka kembali pagi-pagi sekali untuk meminyaki tubuh Yesus untuk memberikan penguburan yang layak bagi Yesus. Para perempuan ini menunjukkan kesetiaan dan kasih mereka kepada Yesus.

Bukti-bukti kebangkitan Yesus telah dibahas secara ekstensif oleh banyak ahli, dan saya tidak memiliki cukup waktu untuk membahasnya di sini. Yesus tidak menampakkan diri kepada Pilatus atau Hanas dan Kayafas karena mereka telah memutuskan untuk menolak Yesus sebagai orang gila atau pembohong. Dengan demikian, kebangkitan Yesus tidak ada gunanya. Mereka bahkan menyebarkan kebohongan bahwa jenazahNya dicuri. Seorang ahli pernah berkata, “Bagi orang yang tidak percaya, sebanyak apapun bukti tidak akan pernah cukup.” Namun, kita ada di sini, sama seperti para wanita yang mengunjungi kubur di pagi hari. Kita berada di sini karena kita percaya kepada Yesus, dan kita mengasihi-Nya. 

Pilihan Yesus untuk memilih kubur yang kosong, daripada memamerkan kemegahan kebangkitan-Nya, mengundang kita untuk masuk ke dalam kubur yang kosong itu dan mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Paus Fransiskus pernah berkata bahwa Yesus tidak perlu memindahkan batu untuk keluar dari kubur, tetapi agar kita bisa masuk ke dalam kubur. Apakah kita masih mengasihi Yesus bahkan ketika kita hanya melihat kekosongan? Apakah kita masih setia meskipun kita tidak menemukan Tuhan? Ya, kita percaya kepada Yesus, dan kita mengasihi Dia. Namun, iman, pengharapan dan kasih bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bertumbuh. Allah mengizinkan kita untuk mengalami salib dan bahkan kubur yang kosong karena melalui peristiwa-peristiwa ini, kita dapat bertumbuh dalam iman dan kasih. Kita tidak boleh lupa bahwa ketika kita memikul salib, kita dapat menjadi seperti Simon dari Kirene, yang memikul salib Yesus. Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus hanya beberapa langkah lagi dari kubur yang kosong, menunggu untuk memberkati kita.

Perayaan Paskah bukan hanya sebuah ritual tahunan, tetapi sebuah undangan bagi kita untuk memasuki misteri makam kosong, dan memperbaharui dan memperdalam iman dan cinta kita kepada Tuhan. Bagaimanapun juga, Yesus adalah segalanya bagi kita. Selamat Paskah!

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia Sejati

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on March 22, 2024
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu Palma Sengsara Tuhan [B]
24 Maret 2024
Markus 14:1 – 15:47

Momen yang menentukan bagi Yesus sebelum salib-Nya adalah sakratul maut di taman Getsemani. Tahun ini, kita bersyukur dapat mendengar versi Injil Markus karena Markus tidak ragu mengungkapkan kondisi batin Yesus pada saat yang genting ini. Bagi sebagian orang, hal ini memalukan karena Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam, dan dengan demikian, Yesus terlihat terlalu manusiawi dan lemah. Namun, kita percaya bahwa ini adalah Firman Tuhan, dan dengan demikian, kita dapat belajar sesuatu yang berharga dari saat-saat genting Yesus ini.

Yesus menyadari apa yang akan terjadi pada-Nya. Dia akan segera menghadapi pengkhianatan dari murid-Nya, penangkapan, pengadilan yang tidak adil, penghujatan dari para pembenci-Nya, penyiksaan yang mengerikan, dan kematian yang sangat menyakitkan. Yesus yang tidak hanya sepenuhnya ilahi tetapi juga sepenuhnya manusiawi, mengalami beban penuh emosi manusiawi. Markus memberikan kita beberapa detail penting. Yesus ‘sangat takut dan gentar’ dan kemudian mengungkapkan apa yang Yesus rasakan, “Jiwaku sangat sedih seperti mau mati.”

St. Irenaeus pernah berkata, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang sungguh-sungguh hidup.” Di sini, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya dan dengan demikian menjadi kemuliaan Allah. Yesus mengajarkan kita untuk menghindari dua hal ekstrem yang berbahaya dalam menangani emosi. Ekstrim yang pertama adalah mengabaikan atau menekan emosi. Yesus tidak berpura-pura menjadi ‘orang yang kuat.’ Dia tidak berkata, ‘Saya tidak apa-apa’, atau ‘semuanya akan baik-baik saja’. Yesus mengartikulasikan emosi-emosi yang Dia rasakan, dan dengan demikian, Dia merangkul emosi dan kemanusian-Nya. Ekstrim kedua adalah tidak dikuasai oleh emosi. Ketika emosi itu sangat kuat, emosi dengan mudah menelan kita dan, dengan demikian, mengendalikan kita. Meskipun menyadari perasaan-Nya, Yesus tidak memberikan kendali pada perasaan itu. Dia tetap berdiri teguh.

Yesus kemudian memberikan dua cara agar tidak termakan oleh emosi yang meluap ini. Yang pertama adalah memiliki sahabat-sahabat yang baik. Yesus mengundang tiga murid terdekat-Nya ke taman, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dia mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam dan meminta mereka untuk menemani-Nya di saat-saat genting ini. Sayangnya, mereka tertidur, tetapi ketiganya ada di sana untuk menemani Yesus dalam masa sulit ini. Cara kedua adalah dengan doa. Dalam kesedihan, Yesus berbicara kepada Bapa-Nya. Di sini, kita mendengarkan isi doa Yesus yang sangat langka.

Yesus berkata, “Ya, Bapa, bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mrk. 14:36).” Doa ini singkat tetapi luar biasa dalam. Bisa dikatakan bahwa doa ini adalah bentuk singkat dari doa ‘Bapa Kami’. Di sini, Yesus mengungkapkan dan mempersembahkan hasrat-Nya agar Dia terhindar dari penderitaan dan kematian yang kejam. Namun, Ia juga menyadari bahwa misi-Nya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa. Inilah kehendak Allah agar Yesus akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban kasih bagi dunia. Dalam doa ini, Yesus menegaskan kembali misi-Nya dan tidak membiarkan emosi mengaburkan visi-Nya.

Getsemani adalah momen berharga dimana Yesus mengajarkan kita untuk memenuhi kehendak Tuhan meskipun menghadapi kesulitan dan, pada saat yang sama, menjadi manusia yang sesungguhnya. Bukanlah kehendak Allah untuk menghancurkan kemanusiaan kita melainkan untuk menyempurnakannya, dan Yesus adalah teladan kita sebagai manusia yang sempurna.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perjanjian Baru

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on March 16, 2024
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [B]
17 Maret 2024
Yeremia 31:31-34

Dalam Alkitab, kata perjanjian memiliki arti khusus (dalam bahasa Ibrani בְּרִית (Berit), dalam bahasa Yunani διαθήκη (diatheke), dan bahasa inggris covenant). Ini adalah sebuah ikatan yang dibuat antara individu, keluarga, suku atau bangsa. Perjanjian ini biasanya digunakan untuk mengikat raja yang lebih berkuasa dan raja-raja yang tunduk padanya. Raja tertinggi berkewajiban untuk memberikan perlindungan saat dibutuhkan, sementara raja bawahan harus setia dan membayar upeti. Pada tingkat individu, perjanjian membentuk ikatan kekeluargaan. Mereka menjadi saudara, dan dengan demikian, mereka harus saling melindungi dan membantu. Atau, ketika perjanjian itu melibatkan pria dan wanita, mereka menjadi suami dan istri, sebuah keluarga baru.

Meskipun perjanjian adalah sebuah realitas yang kompleks dan bahkan masih diperdebatkan oleh para ahli, satu hal yang pasti: perjanjian adalah sebuah kesepakatan tentang ‘pertukaran orang’ dan bukan ‘pertukaran barang’. Sebuah perubahan radikal dari identitas terjadi pada mereka yang masuk ke dalam perjanjian.

Istilah perjanjian adalah kunci untuk memahami Alkitab karena Allah mengambil inisiatif untuk mengikatkan diri-Nya dengan Israel melalui perjanjian. Ada beberapa momen di mana Tuhan membentuk perjanjian dengan Israel, tetapi yang paling terkenal adalah perjanjian di Gunung Sinai melalui perantaraan Musa. Tuhan berfirman, “Jadi, sekarang, jika kamu mendengarkan suara-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi milik kepunyaan-Ku sendiri di antara segala bangsa, sebab seluruh bumi ini adalah kepunyaan-Ku, dan kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel. 19:5-6).”

Perjanjian tersebut menjadikan Israel sebagai sebuah bangsa di bawah kepemimpinan Allah. Dengan demikian, orang Israel, sebagai warga dari bangsa Allah, harus taat dan setia kepada satu Allah saja, yaitu Tuhan, dan mengikuti hukum-hukum-Nya. Namun, perjanjian tersebut tidak hanya membentuk hubungan raja-rakyat tetapi juga keluarga. Sering kali, orang Israel disebut sebagai ‘anak-anak Allah’ (lihat Kel. 4:22 dan Ul. 14:1). Dan yang lebih menarik lagi adalah bahwa hubungan pernikahan juga terjalin melalui perjanjian ini. Nabi Hosea menggambarkan hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel sebagai suami dan istri.

Nabi Yeremia menubuatkan bahwa akan ada perjanjian yang baru (Yer. 31:31, bacaan pertama). Hal ini digenapi di dalam Yesus Kristus. Pada perjamuan terakhir, Yesus berkata, “Cawan yang ditumpahkan bagi kamu ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku (Luk 22:20).” Salah satu tujuan utama Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib adalah untuk mengesahkan perjanjian yang baru ini. Karena darah ilahi Kristus mengesahkannya, maka perjanjian tersebut bersifat kekal dan tak terhapuskan.

Yesus menawarkan kepada kita sebuah perjanjian meskipun kita tidak layak. Melalui iman dan baptisan, kita masuk ke dalam perjanjian, dan identitas kita diubahkan secara radikal. Tuhan adalah Allah kita, dan kita menjadi umat Kerajaan Allah. Namun, karena perjanjian yang sama, kita juga adalah anak-anak-Nya, dan kita memiliki hak untuk memanggil Tuhan sebagai ‘Bapa kami’. Selain itu, sebuah pernikahan telah terjalin. Gereja adalah mempelai Kristus, dan Kristus sangat mengasihi mempelai-Nya sampai memberikan hidup-Nya untuk kita. Sebagai umat perjanjian yang baru, yang terus-menerus diperbarui di dalam Ekaristi, apakah kita sudah bersikap sebagai putra-putri yang taat dan mengasihi Bapa kita? Apakah kita bertindak sebagai Gereja, sang mempelai, yang setia dan penuh kasih kepada Kristus, mempelai laki-laki kita?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman saja Cukup?

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on March 8, 2024
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu Prapaskah ke-4 [B]
10 Maret 2024
Efesus 2:4-10

Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, “Sebab karena rahmat kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9, bacaan kedua). Apakah ini berarti bahwa satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah percaya? Apakah kita masih perlu ke Gereja dan melakukan tindakan amal kasih seperti yang diajarkan Gereja Katolik?

Seringkali, ajaran Katolik tentang keselamatan dipahami secara keliru sebagai ‘iman dan perbuatan’, yang berarti bahwa untuk diselamatkan, umat Katolik harus percaya kepada Tuhan dan juga melakukan berbagai perbuatan yang ditetapkan oleh Gereja, seperti menerima sakramen-sakramen dan melakukan perbuatan amal kasih. Namun, hal ini sebenarnya bukanlah ajaran otentik Gereja. Konsili Trente telah mengajarkan secara definitif bahwa “tidak ada satu pun dari hal-hal yang mendahului pembenaran, baik iman maupun perbuatan, yang layak mendapatkan rahmat pembenaran (Decree on Justification).” Rahmat Allah yang membawa kita kepada keselamatan, pengampunan dosa, dan kekudusan selalu merupakan anugerah dari Allah. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkannya.

Karena rahmat adalah sebuah anugerah, sama seperti anugerah atau hadiah lainnya, kita bisa memilih untuk menerima atau menolak anugerah tersebut. Dengan demikian, Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Inisiatif bebas Allah menuntut respons bebas manusia, karena Allah telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan menganugerahkan kepadanya, bersama dengan kebebasan, kuasa untuk mengenal-Nya dan mengasihi-Nya (KGK 2002).” Di sinilah terletak peran iman. Iman adalah respons positif pertama kita kepada Allah, dan dengan demikian, membuka diri terhadap rahmat-Nya. Tetapi apakah itu berarti memiliki iman saja sudah cukup, dan kita cukup duduk santai dan tidak lagi melakukan apa pun?

Paulus memang mengatakan bahwa rahmat itu bukan karena perbuatan kita (ayat 9), tetapi di ayat berikutnya, Paulus menambahkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Ef. 2:10).” Apakah Santo Paulus salah menulis? Untuk memahami hal ini, kita harus membedakan dua ‘perbuatan’ di ayat 9 dan 10. Perbuatan pertama (ayat 9) mengacu pada usaha kita untuk mendapatkan keselamatan di luar rahmat, dan ini yang sia-sia. Sementara itu, perbuatan kedua (ayat 10) menunjuk pada perbuatan baik kita di dalam rahmat, dan ini yang berkenan kepada Allah.

Ya, rahmat diberikan secara cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Rahmat bukanlah sesuatu yang statis, tetapi aktif dan dinamis. Rahmat memberi kita kemampuan untuk melakukan perbuatan baik, dan ketika kita meresponsnya dengan setia, kita bertumbuh secara rohani dan membuka diri kita untuk menerima lebih banyak rahmat. Semakin banyak perbuatan baik dalam rahmat yang kita persembahkan, semakin banyak rahmat yang kita terima, dan semakin banyak rahmat yang kita terima, semakin besar kapasitas yang kita miliki untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ini adalah siklus kekudusan.

Jadi, kita tidak melihat keterlibatan kita dalam Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya sebagai upaya kita untuk menyuap Allah untuk mendapatkan rahmat, melainkan sebagai cara-cara kita untuk bertumbuh di dalam rahmat. Tindakan-tindakan belas kasih kita di dalam keluarga dan komunitas bukanlah perbuatan-perbuatan kita, melainkan partisipasi kita di dalam kasih Allah bagi umat-Nya. Rahmat memampukan kita berbuat baik, dan ini yang berkenan di hadapan Allah.

(Untuk pemahaman yang lebih dalam tentang rahmat, silakan baca KGK paragraf 1987-2006)

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sepuluh Perintah Allah

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on March 2, 2024
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [B]
3 Maret 2024
Keluaran 20:1-17

Pada hari Minggu ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan Sepuluh Perintah Allah (bacaan pertama). Namun, jika kita membaca teks asli bahasa Ibrani, kita akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa Dia memberikan ‘perintah-perintah-Nya’, tetapi Dia memberikan ‘Sabda-sabda-Nya’(הַדְּבָרִ֥ים – baca: a-debarim). Mengapa Allah memilih ‘sabda’ daripada ‘perintah’? Lagi pula, isi dari sabda-Nya sebenarnya adalah tentang hukum atau perintah?

Jawaban pertama dapat kita temukan dalam kisah penciptaan (Kej. 1). Allah menciptakan dunia dan umat manusia dengan ‘sabda-Nya’, dan di Gunung Sinai, Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya dengan hukum-hukum yang diberikan melalui ‘sabda’-Nya. Paralel ini menunjukkan kepada kita bahwa ‘hukum-hukum’ yang diturunkan di Sinai bukanlah hal yang baru, tetapi Tuhan telah menetapkannya sejak awal mula. ‘Sepuluh Perintah’ bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ciptaan dan pribadi manusia. Rancangan Allah adalah dengan menaati ‘perintah-perintah’ tersebut, bangsa Israel dapat kembali ke Eden, di mana mereka dapat menemukan kebahagiaan sejati mereka.

Jawaban kedua adalah bahwa pilihan kata ‘sabda’ dan bukan ‘perintah’ menunjukkan kodrat dari hukum-hukum yang Tuhan berikan di Sinai. Allah tidak memperlakukan bangsa Israel (dan juga kita semua) seperti budak di bawah rezim teror. Dia tidak memaksakan aturan-Nya kepada kita dan akan menghukum kita dengan keras ketika kita tidak menaati-Nya. Namun, Tuhan memperlakukan kita sebagai anak-anak-Nya yang dewasa, dan dapat dengan bebas menerima hukum-hukum ini karena kita menyadari bahwa ‘hukum-hukum’ ini memang bermanfaat bagi kita.

‘Hukum-hukum’ ini tidak dipaksakan dari luar kepada kita, tetapi berasal dari dalam diri kita. Seperti gravitasi yang bukanlah sesuatu yang ditambahkan secara eksternal tetapi merupakan bagian integral dari alam semesta, begitu juga dengan ‘sepuluh Sabda Allah’. Kita dapat menggunakan akal sehat kita untuk menemukan hukum-hukum tersebut di dalam hidup kita. Menggunakan pikiran yang jernih, kita akan setuju bahwa membunuh, mencuri, dan berzina adalah hal buruk. Dengan nalar yang benar, kita tahu bahwa menghormati orang tua kita adalah upaya yang baik. Dan, dengan pemikiran logis, kita akan menemukan Tuhan yang esa dan benar. Karena ‘hukum’ adalah bagian integral dari sifat alami kita, melanggarnya berarti kita membahayakan diri kita sendiri.

Jawaban ketiga adalah bahwa ‘sabda’ adalah media komunikasi. Sepuluh perintah Allah adalah sabda-Nya; dengan demikian, melalui sabda-Nya, kita dapat berkomunikasi dan memahami Dia dengan lebih baik. Dan, ketika kita mengenal Allah dengan lebih baik, kita menjadi lebih dekat dengan-Nya. Sepuluh Perintah Allah bukanlah tembok besar yang menjauhkan kita dari Allah, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan kita dengan kasih-Nya yang luar biasa.

Di masa Prapaskah ini, kita diundang untuk merenungkan lebih dalam tentang ‘Sepuluh Sabda’ ini. Kita dapat merenungkan setiap perintah: Apa tujuannya? Manfaat apa yang diberikannya kepada kita? Apa kerugian yang ditimbulkannya jika kita melanggarnya? Allah seperti apa yang menciptakan hukum ini?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »