Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Menghidupi Iman Kita

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on November 30, 2016
Posted in renungan 

Menghidupi Iman Kita
 
Kamis pada Pekan Adven Pertama
Matius 7:21, 24-27
1 Desember 2016
 
Untuk menjadi pengikut Kristus adalah sebuah pilihan dan sebagai mana Yesus telah katakan, ini adalah pilihan yang sulit. Iman kita mengatakana bahwa bahwa surga itu adalah nyata, dan semua ingin masuk surga, tetapi iman saja tidak cukup untuk membawa kita di sana. Untuk mengakui iman dan mengetahui isi dari iman kita adalah penting adanya, tetapi ini tidaklah lengkap. Kita perlu melakukan tindakan nyata agar iman kita terwujud menjadi kenyataan. Jika tidak, iman kita menjadi sekedar sebuah retorika belaka. Dalam perkataannya yang keras ​​St. Yakobus menulis, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17).” Iman adalah anugerah Allah, tetapi untuk membuat anugerah Allah ini sungguh berbuah adalah pilihan dari kebebasan kita.
Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghayati iman kita sehari-hari. Kita dapat dibaptis sebagai Katolik, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita mengakui keyakinan kita hanya pada satu Tuhan, tapi kita terus membaca horoskop, konsultasi dengan peramal dan menggunakan barang-barang religius sebagai jimat pelindung belaka. Kita dapat dengan mudah berteriak, Tuhan itu baik!tapi kita mengeluh setiap saat di dalam hidup kita. Kita diinstruksikan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita senang memelihara kebencian, tetap memupuk dendam dan mengambil kesenangan ketika musuh kita jatuh tertimpa tangga.
Kita ingin dipanggil seorang pengikut Kristus, tapi kita tidak benar-benar mengikuti jejak-Nya. Kita ingin menjadi Kristiani, namun kita mengadopsi gaya yang cocok dengan diri kita sendiri dan bukannya meneladani Kristus. Ini adalah masalah serius dan sungguh kita mensia-siakan surga. Jika kita mencoba untuk parafrase Injil hari ini, munkin akan terdengar seperti ini: Kita mengetuk pintu gerbang surga dan berteriak Tuhan, aku pengikut-Mu“, tetapi Tuhan berkata, Aku tidak tahu kamu karena kamu tidak pernah benar-benar ikuti Aku.”
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan: Sebuah Tindakan Nyata

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on November 29, 2016
Posted in renungan 

Panggilan: Sebuah Tindakan Nyata
 
Pesta Santo Andreas
30 November 2016
Matius 4:18-22
 
“Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Mat 4:20)”
 
Belajar dari Injil hari ini, kita dapat melihat bahwa panggilan kita entah itu hidup berkeluarga, membiara ataupun menjadi imam bukanlah terutama tentang ‘kepastian ataupun pertimbangan yang matang’ tapi tentang bagaimana kita mengambil sebuah tindakan nyata. Saya percaya kita perlu membaca episode Injil ini dari perspektif yang lebih manusiawi. Ketika Yesus memanggil empat murid pertama, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, dan mengundang mereka untuk mengikuti-Nya, mereka melihat bahwa untuk menjadi pengikut sang pengkhotbah karismatik ini adalah sama baiknya dengan memilih tetap bekerja sebagai nelayan yang handal demi keluarga mereka. Namun, mereka tidak bisa selamanya menimbang-nimbang. Yesus bergegas pergi menuju daerah lain dan waktu tidaklah cukup untuk terus berpikir ke kiri atau ke kanan. Kemudian, mereka akhirnya membulatkan tekad dan membuat keputusan.
Kisah para murid bukanlah tentang apakah mereka memiliki panggilan atau tidak, tetapi apakah mereka membuat panggilan mereka menjadi kenyataan yang indah atau sebuah langkah disesalkan. Seperti para murid, setiap kali kita menghadapi beberapa pilihan yang mengubah hidup, kita ditantang untuk dengan tegas memilih dan membuat pilihan kita menjadi panggilan kita sendiri. Ini bukan tentang ‘pertimbangan’, namun secara nyata bertindak atas keputusan kita dan mencurahkan jiwa kita ke dalamnya.
Sungguh, hal ini tidaklah mudah. Para murid menghadapi jalan yang terjal. Terkadang mereka tidak mengerti ajaran sang Guru. Mereka juga harus mengikuti perintah Yesus yang sangat sulit. Mereka juga menghadapi permusuhan dari orang-orang Yahudi. Akhirnya, mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa Yesus, sang Guru, mengakhiri hidupnya di kayu salib. Namun, hal-hal inilah yang merubah panggilan mereka menjadi sangat bermakna dan mendalam. Mereka melakukan tindakan nyata untuk mengikuti Yesus di dalam senang maupun susah, dan pada akhirnya  merekapun siap untuk melihat Kristus yang bangkit. Seperti para murid, kitapun ditantang untuk memberikan totalitas hidup kita ke dalam panggilan yang telah kita pilih meskipun hal ini tidak pernah mudah, sehingga kitapun dapat menemukan kepenuhan hidup di dalam Kristus.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
 

Bersuka Cita dalam Roh Kudus

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on November 28, 2016
Posted in renungan 

Bersuka Cita dalam Roh Kudus
 
Selasa dalam Pekan Pertama Adven
29 November 2016
Lukas 10:21-24
 
Yesus bersukacita di dalam Roh Kudus. Ia bersuka cita karena Allah Bapa telah menyatakan kebenaran akan Kerajaan Allah kepada orang-orang sederhana, yang diwakili oleh para murid-murid Yesus. Satu hal yang cukup menarik adalah Yesus bersuka cita dalam Roh Kudus. Pertanyaannya sekarang bagi kita adalah apakah kita juga bersuka cita dalam Roh Kudus atau padahal lainnya? Mungkin kita bergembira dalam kekayaan dan uang? Mungkin kita bahagia dalam posisi dan jabatan, entah di pekerajaan maupun di Gereja? Mungkin kita bersuka cita dalam berbagai prestasi hidup kita? Mungkin kita berbahagia dengan kekuatan dan usaha kita sendiri?

Menurut Injil, suka cita dalam Roh Kudus ini mengalir dari kemampuan dan kemauan Yesus untuk mengenali karya Allah Bapa di dalam hidup-Nya. Pertanyaan berikutnya bagi kita adalah apakah kita mau dan mampu untuk mengenali karya Allah Bapa di dalam hidup kita? Lalu, bagaimana kita bisa mengenali karya Allah di dalam hidup kita? Yesus mengajarkan kita untuk mengenali karya Allah dengan mata kesederhanaan, bukan dengan mata keangkuhan. Terkadang, dengan segala keberhasilan dan prestasi, kita merasa bisa melakukan segala hal dengan kekuatan kita sendiri. Kitapun melihat semua yang kita miliki dan yang terjadi dalam hidup kita berasal dari kemampuan dan kerja keras kita, dan bukan dari karya Allah.

Sementara dalam mata kesederhanaan, kita dapat melihat bahwa hal-hal yang terjadi dalam hidup kita bukanlah semata-mata hasil usaha kita, namun juga rahmat Allah. Dalam kesederhanaan, kita bisa dengan mudah bersyukur karena Allah Bapalah yang bekerja dan memampukan kita.

Masa Adven adalah masa yang tepat bagi kita untuk menemukan karya Allah Bapa dalam hidup kita. Dua ribu tahun lalu, orang-orang Yahudi tidak melihat karya Allah dalam kedatangan Putra-Nya di Betlehem dalam kondisi miskin di palungan. Mereka juga tidak melihat pewartaan Yesus sebagai karya Allah karena cara-cara Yesus yang tidak mengikuti cara-cara ‘kebijaksanaan’ Yahudi. Adven mempersiapkan kita untuk bisa melihat karya Allah dalam Yesus yang datang dalam kesederhanaan hidup sehari-hari.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
 

Perwira Romawi, Teladan dalam Kemajemukan

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on November 27, 2016
Posted in renungan 

Perwira Romawi, Teladan dalam Kemajemukan
 
Senin pada Pekan Adven Pertama
28 November 2016
Matius 8:5-11
 
Di dalam budaya Yahudi pada jaman Yesus, orang-orang Yahudi tidak akan membuat kontak dengan orang-orang asing apalagi bangsa Romawi yang menjajah mereka. Jika ingin tidak menjadi najis sebaiknya menjauhi orang-orang asing ini dan tidak memasuki tempat kediaman mereka. Saat orang Yahudi menjadi najis, mereka tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan baik di Bait Allah maupun di tempat-tempat ibadat yang lain. Mereka harus melakukan ritual pentahiran yang cukup rumit dan panjang.
Namun, ada yang menarik dari Injil hari ini. Seorang permira Romawi datang kepada Yesus dan memohon Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Saat Yesus mencoba mengunjungi hambanya, sang perwira tiba-tiba mencegah Yesus, dan berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Kata-kata sang permira ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi kudus dan dikenang untuk sepanjang masa.
Kenapa sang perwira pencegah Yesus? Karena ia mengerti kebudayaan dan agama Yahudi. Dia tahu bahwa Yesus sebagai guru orang Yahudi akan menjadi najis jika Ia masuk ke dalam rumahnya. Hal ini sangat mengesankan karena ia adalah seorang Romawi dan juga perwira. Ia seorang penjajah dan tentunya memiliki perasaan superioritas dengan bangsa jajahannya. Ia pun seorang perwira, sebuah jabatan yang cukup tinggi di kemiliteran Romawi. Tetapi, dengan semua keunggulannya ini, dia tidak menjadi angkuh. Bahkan dia mencoba menyelami kebudayaan dan kepercayaan bangsa Yahudi, yang adalah orang-orang yang ada dalam kuasanya. Tidak hanya mengenal kebudayaan dan peraturan keagamaan Yahudi, dia juga menghormati tradisi ini.
Sikap sang perwira Romawi ini menjadi teladan yang baik bagi kita yang hidup dalam masyarakat yang majemuk. Seringkali kita tidak peduli dengan anggota masyarakat yang berbeda agama dan budaya dengan kita. Terkadang, kitapun menaruh perasaan curiga terhadap mereka. Hal-hal seperti ini tidak banyak membantu dan bahkan menghancurkan kita sebagai komunitas manusia. Kita diajak untuk berani keluar dari sekat-sekat pembatas hidup ini dan mencoba untuk mengenal keindahan kebudayaan dan kepercayaan orang-orang yang hidup di sekitar kita. Hanya dari pemahaman, kita bisa menghargai dan mengasihi sesama kita lebih dalam dan bermakna.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi kudus, sang perwira selalu mengingatkan bahwa kemajemukan adalah keindahan yang memperkaya iman kita. Rasa hormat dan usaha untuk mengenal lebih baik perbedaan yang ada menjadi syarat bagi kita untuk mengasihi lebih besar.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advent: Season of Finding God

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on November 26, 2016
Posted in renungan 

Advent: Season of Finding God


First Sunday of Advent.
November 27, 2016.
Matthew 24:37-44

“So too, you also must be prepared, for at an hour you do not expect, the Son of Man will come (Mat 24:44).”

We are entering the Season of Advent. This season marks the beginning of the new Church’s liturgical year as well as of the four Sundays preparation for Christmas. Advent is from the Latin word ‘Adventus’ meaning ‘arrival’, and thus, this season prepares us for the coming of Christ.
Our faith speaks of two Advents of Jesus. Historically, Jesus’ first coming was in the little town Bethlehem more than two millennia ago, as a little baby, meek and gentle. We fondly call this day as the first Christmas. Theologians  name this sacred moment in history as the Incarnation. This means the Second Person of the Trinity became flesh and dwelt among us (see John 1:14). on the other hand the Second Coming calls our attention to His final coming as the King and Judge of the living and dead. This Second Coming is integral to our belief system as it was explicitly written in both Apostles’ and Nicea-Constantinople’ Creeds.
In the first coming, nobody expected the Messiah would be born in an extremely simple condition and from the poor family of Joseph and Mary. In time of Jesus, Jews naturally expected a Messiah coming from the royal, influential and well-off families. Though we all believe in the Second Coming, nobody knows also when exactly it will knock on our door. There were a lot of self-proclaimed prophets announcing the end of the world, but none were proven true. As the first coming caught the Jews unprepared, so too the second coming will bring great surprise to all of us.
Thus, to avoid the false expectations as well as complacency, the Church invites us to celebrate the season of Advent. This season trains us to expect His Coming and to expect rightly. But, how does the Season of Advent really make us truly prepare? The answer lies on a third coming. St. Bernard of Clairvaux reminded us that there is also the third coming of Christ. This is taking place between the first and the second Advent of Jesus. Jesus is present in our daily lives and knocks in our hearts. If we possess the virtue to discover God in our daily lives, we will not be caught unguarded with His Final Coming.
The Season of Advent reminds us that the presence of God is actually real and manifold. We need to exert effort to open our eyes and heart. Firstly, His presence is the sacraments, especially in the Eucharist. Every time we partake of the Eucharist, we receive the Real Body of Christ in the form of the sacred host. Secondly, His presence is also manifested in the Sacred Scriptures as the Word of God. Saint Augustine reminds us not only to read and study the Bible but also pray with it, as he writes, “When you read the Bible, God speaks to you; when you pray, you speak to God.” Thirdly, we are also trained to seek His invisible presence around us. On the door of his room, our formator in the seminary placed a large inscription. It writes, “Train your mind to see the good in everything.” Yes, we cannot see God directly, but we can always unearth His good works around us. He is present when we choose to forgive rather than take revenge. He is just around when suddenly our children give us much-needed warm hugs. He is not far when a little-impoverished boy decides to share his small piece of bread for his sickly mother.
Be prepared and find God in your midst!
Translate »