Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Memiliki Pengharapan

Posted by admin on May 31, 2019
Posted in renungan 

Sabtu 1 Juni 2019

PW St. Yustinus Martir

Bacaan I Kis 18: 23-28

Bacaan Injil Yohanes 16: 23b-28

“Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku”. Itu janji Yesus kepada murid-Nya. Sabda Yesus tersebut terkesan memudahkan kita dalam mencukupi segala macam kebutuhan. Namun, justru di situlah letak tantangan terberat sebagai orang beriman. Persoalannya ada pada kesungguhan hati dalam percaya kepada Yesus. Kadang, kita merasakan bahwa doa-doa kita tidak terkabul atau harus menunggu lama. Kita menjadi bosan dan tidak lagi berpengharapan. Padahal, kita sudah berdoa dengan kesungguhan hati dan kepercayaan penuh pada rencana-Nya sehingga kita bertanya, “Tuhan, mau-Mu apa sih?”.

Mari kita menilik kualitas iman masing-masing. Kalau kemampuan kita baru sebatas meminta saja, maka kita belum bisa meneladani hidup Yesus yang seluruhnya tentang memberi, membagi dan mempersembahkan. Pun, kalau kita dituntut untuk sabar dalam berdoa, kita juga harus sabar dalam berpengharapan. Kualitas iman tidak hanya dibuktikan dalam indahnya darasan doa-doa, rajinnya menjalani rutinitas doa; tetapi justru bagaimana bisa sabar dan setia dalam menjaga pengharapan. Doa adalah tentang kesabaran kita menanti rencana Tuhan terjadi pada kita. Tuhan tidaklah melupakan kita, tetapi ingin agar kita mengalami perkembangan iman. Harapan-lah yang menjadi mercusuar bagi jalan hidup kita. Kalau tanpa harapan, maka kita tidak akan mengalami kemendalaman dan visi hidup. Harapan harus dipelihara. Harapan harus menjadi pertanda kualitas iman kita.

Percaya dan berpengharapan kepada Yesus adalah panggilan setiap orang kristiani. Artinya, kita hidup bagi Dia dan dalam Dia segala landasan hidup disandarkan. Kemampuan kita belum ada apa-apanya jika dihadapkan dengan realitas hidup yang beragam ini. Tiada kekuatan dan ilmu lain yang lebih berkualitas, selain Yesus Kristus. Pada-Nyalah kita bernaung.

Maka, mari kita mengukur kualitas iman kita melalui doa-doa pribadi dan tanggapan-tanggapan pribadi atas rencana Tuhan yang telah terjadi pada kita. Semoga, kita sungguh meletakkan harapan pada Tuhan dengan seluruh kemanusiaan masing-masing.

Mencintai tanpa Pura-pura

Posted by admin on May 30, 2019
Posted in renungan 

Jumat, 31 Mei 2019

Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet

Bacaan Injil Lukas 1: 39-56

Dalam bacaan hari ini, Paulus mengajak kita untuk hidup dalam pengharapan. Kita diminta untuk sabar menanggung derita dan tekun di dalam doa. Tuhanlah yang menjadi kekuatan kita di tengah hiruk-pikuk dunia. Harapan yang ada dalam diri kita hendaknya senantiasa bernuansa sukacita agar semakin mengalami kesempurnaannya. Maka, Paulus mengajak kita untuk melihat kualitas cinta kasih kita, baik kepada Tuhan maupun sesama. “Kasihmu janganlah pura-pura!” demikianlah pesan Paulus. Tentu mencintai dengan tanpa kepura-puraan memanglah hal yang berat. Mari kita saksikan sendiri betapa kita memerlukan kepura-puraan agar dapat mencintai secara penuh. Misalnya, ketika dulu di masa-masa awal merajut cinta dengan pasangan, tentu kita harus pura-pura. Istri pura-pura mencintai tayangan sepakbola, misalnya, agar suaminya merasa tenang dan nyaman ketika menonton pertandingan sepakbola di televisi. Sebaliknya, sang suami juga pura-pura merasa senang jika diajak istri berbelanja di pasar dalam waktu yang amat lama, misalnya. Dengan kepura-puraan itu, suami dan istri mencoba untuk mencintai hingga akhirnya cinta mereka semakin lekat dan ada masanya mereka tidak butuh lagi kepura-puraan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa mencintai adalah proses panjang yang mana kadang di awal membutuhkan sikap pura-pura.

Ajakan Paulus agar kita mencintai tanpa pura-pura semoga membuat kita sadar betapa mencintai adalah tindakan serius. Maria yang mengunjungi Elisabet dalam Pesta hari ini, menunjukkan bahwa cinta kasih Maria kepada Elisabet tidaklah pura-pura. Hatinya sungguh-sungguh ingin mengunjungi saudarinya itu. Mengunjungi berarti membuka pintu, tidak tinggal tertutup di dunia kecil pribadi, tetapi pergi mendatangi orang lain. Bukankah mencintai juga merupakan tindakan keluar dari diri sendiri dan menghampiri sesama untuk berbagi kisah dan peneguhan hati?

Apa yang dilakukan Maria itu menjadi pembelajaran bagi kita agar mampu mencintai secara sempurna, tanpa membutuhkan kepura-puraan. Maka, apa yang dipesankan Paulus sebetulnya bisa dilakukan dalam taraf manusiawi, dengan Maria sebagai tokoh teladannya. Mari, kita mencoba mengukur kualitas cinta kita. Apakah kita sungguh melakukan tindakan mencintai dengan tanpa kepura-puraan? Apakah kita sudah mampu membuka hati dalam mencintai? Kita mohon berkat Tuhan untuk perjalanan hidup kita, terutama dalam mencintai sesama dan Tuhan sendiri.

Penyerahan Diri

Posted by admin on May 29, 2019
Posted in renungan 

Kamis, 30 Mei 2019

Hari Raya Kenaikan Tuhan

Bacaan I Kis 1: 1-11

Bacaan Injil Lukas 24: 46-53

Kenaikan Yesus ke Surga menjadi momentum bagi para rasul untuk semakin giat menyerahkan diri mereka sebagai pewarta. Mereka adalah saksi atas segala hidup Yesus. Apa yang mereka lihat, mereka wartakan. Apa yang mereka dengar, mereka ajarkan. Dan apa yang mereka percayai, mereka taati. Kita belajar dari para rasul tentang cara hidup sebagai murid Kristus.

Satu hal yang bisa kita ambil dari Injil hari ini adalah tentang sukacita yang dibawa para rasul karena mereka melihat sendiri kenaikan Tuhan Yesus. Sukacita merupakan tujuan kehidupan. Ada berbagai macam sukacita, tetapi para rasul mengajak kita untuk memiliki sukacita secara sempurna dan penuh. Sumber untuk mengalami kesempurnaan sukacita berasal dari iman akan Yesus Tuhan. Melalui iman, seorang beriman akan merasakan berkat atas hidupnya sehingga muncullah banyak sujud syukur dan sembah bakti kepada Tuhan. Nilai-nilai hidup seperti itu mendorong terciptanya kesetiaan dan ketaatan sehingga kinerjanya menjadi semakin murni.

Saya seringkali mendengar tantangan-tantangan dari para pewarta dan pelayan Gereja, atau katakanlah orang-orang yang punya hati bagi Gereja, bahwa tegangan yang seringkali muncul adalah keinginan untuk dihargai secara istimewa. Karena telah berjasa bagi pelayanan menggereja, maka keinginan untuk dihargai, diistimewakan dalam Gereja terkadang menjadi semakin besar sehingga mudah melunturkan semangat pemberian diri. Ini yang mungkin bisa kita olah dalam kehidupan menggereja saat ini. Para rasul mengajarkan kepada kita bahwa penyerahan diri tanpa pamrih adalah pondasi dasar bagi para pewarta dan pelayan Gereja. Biarlah penghargaaan dan penghormatan hanya tertuju kepada Yesus semata sehingga tetap ada kemurnian bagi para pewarta. Kemurnian hati, batin dan kehendak harus tetap dijaga sebab tantangan tidak akan pernah berhenti. Maka, saya koq merasa bahwa salah satu tantangan berat bagi pewarta adalah menaklukkan kebutuhan-kebutuhan ingin pamrih dan dihargai. Ini persoalan dengan diri sendiri sehingga kita harus menang dengan diri sendiri dulu, baru sesudah itu menyerahkan diri bagi perutusan, pewartaan dan pelayaan.

Mari, kita mencoba untuk menjadi seperti para rasul yang memberikan diri bagi Gereja tanpa mengharapkan apapun sebagai imbalan. Semoga, pelayanan kita semakin hari semakin dimurnikan dan berkenan kepada Yesus Tuhan kita.

Makna Kebenaran

Posted by admin on May 28, 2019
Posted in renungan 

Rabu, 29 Mei 2019

Pekan VI Paskah

Bacaan I          Kis 17: 15.22 18:1

Bacaan Injil    Yohanes 16: 12-15


Yesus menjanjikan akan datangnya Roh Kebenaran yang memimpin kita menuju pada kebenaran sejati. Roh itu mewartakan kebenaran atas nama kesaksian Yesus Kristus. Bermenung tentang kebenaran, banyak polemik yang telah terjadi. Setiap orang mudah saja mengklaim dirinya adalah benar. Karena setiap orang membenarkan dirinya, maka terjadilah suatu kekacauan atas nama kebenaran. Padahal, belum tentu kebenaran yang mereka miliki adalah benar-benar sebuah kebenaran. Yang menjadi pokok persoalan tentu saja tentang kebenaran. Apa itu kebenaran? Demikianlah pertanyaan Pilatus kepada Yesus dalam drama penyaliban. Yesus tidak memberi jawaban yang jelas. Namun, dari situ kita bisa menarik simpul rohani bahwa kebenaran sejati terletak pada diri Yesus. Mengapa? Karena, apa saja yang dilakukan dan dikatakan oleh Yesus bernuansa membawa berkat bagi orang lain.

Kebenaran tidak akan membuat rugi salah satu pihak. Kebenaran justru membawa kelegaaan, kenyamanan dan sukacita bagi semua. Maka, jika melalui Injil hari ini Yesus menjanjikan kebenaran, itu menjadi pertanda bahwa Yesus menghendaki kita semua memiliki hidup yang tentram. Kebenaran bersanding dengan ketepatan. Jika memang sesuatu itu sungguh benar, maka harus pula mengandung nilai tepat. Benar dan tepat. Kita bisa menilik dari kisah pewartaan Paulus dimana secara benar dan tepat, Paulus mewartakan kabar gembira bagi orang-orang di Aeropagus. Paulus tahu bagaimana caranya memberitakan kebenaran, tanpa menyingkirkan dan merendahkan orang lain. Secara tepat, Paulus mengajari kita untuk bertindak dalam kebenaran.

Mari kita bermenung, sudahkah selama ini kita melakukan kebenaran dengan adil dan tepat? Sudahkah kita mengetahui cara-cara bertindak kebenaran sehingga tidak merendahkan dan menyingkirkan sesama?

Iman itu Menghidupkan

Posted by admin on May 27, 2019
Posted in renungan 

Selasa, 28 Mei 2019

Pekan VI Paskah

Bacaan I         Kis 16: 22-24

Bacaan Injil    Yohanes 16: 5-11


Iman adalah harta rohani yang harus dimiliki setiap orang agar memeroleh keselamatan. Dengan iman, segala kuasa dan karya ilahi akan terjadi. Pada hari ini, kita mendengarkan kisah monumental dari perjalanan misi Paulus dan Silas dimana mereka mengalami hambatan ketika berada di Filipi. Hambatan itu membuat mereka terjatuh sampai ke penjara. Di situlah nampak adanya kekuatan iman yang dimiliki Paulus dan Silas. Dua rasul itu menerima rahmat ilahi yang membuat mereka bisa saja lepas dari penjara. Itu semua terjadi karena mereka menggunakan iman sebagai pedoman dan dasar hidup. Kualitas iman mereka semakin meningkat justru karena mengalami penderitaan. Iman yang demikianlah pada akhirnya membuka pintu kemahakuasaan Allah. Bahwa dalam penderitaan, mereka hanya mampu mengandalkan Allah.

Melalui pengalaman Paulus dan Silas, kita dapat berefleksi secara mendalam. Bagaimanakah selama ini kualitas imanku? Apakah aku sungguh mampu menjadi orang beriman atau hanya beriman ketika sedang mengalami kebahagiaan saja? Tak bisa dipungkiri bahwa iman katolik itu berasal dari iman kemartiran. Yakni, banyak martir yang menyerahkan nyawa demi pewartaan dan karena kemartiran mereka-lah maka Gereja semakin bertumbuh dan menjadi hidup. Para martir melakukan tindak kemartiran mereka dengan ikhlas dan rela hati demi semakin luasnya pewartaan. Imanlah yang menuntun mereka menuju pada keberanian menyerahkan diri. Imanlah yang menghidupkan mereka. Dan, imanlah yang menjadi harta mereka satu-satunya.

Maka, mari kita mohon rahmat Allah agar dimampukan menjadi pribadi beriman. Agar kita berani memperjuangkan pewartaan iman kita dan pada akhirnya “membiarkan” kuasa Allah bekerja bagi kita.

Translate »