Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

BERBAHAGIALAH!

Posted by admin on October 31, 2018
Posted in renungan 

Kamis, 1 November 2018

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (P)

Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a

BERBAHAGIALAH!

Hidup manusia adalah keterkaitan antara pengalaman sedih dan pengalaman gembira. Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa hal yang membuat tertawa suatu saat akan membuat menangis, dan apa yang kini membuat menangis adalah hal yang akan membuat tertawa kelak. Tertawa dan menangis adalah hal yang sehat dan normal dalam hidup manusia. Ada orang yang saking menderitanya berkata bahwa “air mata mereka sudah kering”. Namun, ini justru menunjukkan kondisi jiwa yang tidak sehat. Biasanya orang-orang semacam itu menyangkali perasaan mereka sendiri dan berusaha untuk tegar tanpa bantuan orang lain. Termasuk Tuhan.


Menarik bahwa dalam khotbah-Nya
 di bukit, Yesus menyebutkan dukacita sebagai salah satu ciri orang yang disebut berbahagia. Sebab kesedihan dan ratapan bisa beragam. Dalam dunia kita saat ini, sangat mungkin kesedihan dan ratapan berkaitan dengan status sebagai rakyat kecil yang tak punya banyak akses ke arah kekuatan dan ketahanan sosial-material, kondisi sakit dan terpinggirkan. Yesus memberi pengharapan bahwa mereka sedang berjalan ke arah pintu penghiburan. Justru siapa yang tak pernah mengalami kesedihan, tak akan pernah dapat mengalami hangatnya penghiburan. Mari kita bertanya dalam diri: kapan kali terakhir kita membawa dukacita ke hadapan Tuhan? Ataukah kita merasa itu tak ada gunanya sebab Tuhan tak peduli? Saat Anda jujur dan hancur hati di hadapan-Nya, ingat janji Yesus: Anda akan beroleh penghiburan-Nya. Jadi, berbahagialah!

Selamat pagi, selamat berbahagia. GBU.

‘DIET’ SUPAYA BISA LEWAT PINTU YANG SEMPIT

Posted by admin on October 30, 2018
Posted in renungan 

Rabu, 31 Oktober 2018

Hari Biasa (H)

Ef. 6:1-9; Mzm. 145:10-11,12-13ab,13cd-14; Luk. 13:22-30

‘DIET’ SUPAYA BISA LEWAT PINTU YANG SEMPIT

Diskusi tentang hidup setelah kematian itu selalu menarik dan tiada habisnya untuk dibicarakan. Saya jadi ingat kisah di kampung halaman menjelang lebaran, orang-orang di desa biasanya membuat ‘sesaji’ yang terdiri dari makanan atau minuman kesukaan leluhur, entah kakek, nenek, atau buyut. Kepercayaan orang dulu bahwa orang yang sudah meninggal, arwahnya masih berada di sekitar rumah, atau dalam kesempatan tertentu, arwah ini akan pulang untuk sekedar bisa dekat dengan orang-orang yang berada di rumah. Nah, dari situ, lalu muncul pertanyaan: ‘Lalu di mana keberadaan jiwa setelah seseorang meninggal?’ Ada yang berkata: ‘Di neraka’. Ada juga yang yakin mengatakan: ‘Langsung masuk surga’. Meski ada juga yang masih percaya bahwa jiwa setelah kematian masih akan menempuh perjalanan, dan bahkan masih beberapa saat tinggal di dunia. Namun, pertanyaan semacam ini apakah sangat penting buat kita untuk diketahui jawabannya?

Yesus berhadapan dengan dua jenis orang: orang yang hanya ingin tahu tentang keselamatan dan orang yang sungguh ingin memperjuangkan keselamatan. Yesus tentu tidak ingin membuang waktu untuk melayani pertanyaan yang hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu, namun akan memberi jawaban bagi pertanyaan yang relevan saja. Ketika orang bertanya: ‘Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?’, maka bagi Yesus, pertanyaan ini hanya sekedar ingin tahu saja. Bila orang sudah tahu jawabannya, apa gunanya bagi dia? Maka Yesus memberi jawaban demikian: ‘berjuanglah untuk melalui pintu yang sempit itu!’ ‘Pintu sempit’ hendak menunjukkan bahwa untuk sebuah keselamatan, orang harus berusaha. Kalau anda masih merasa ‘gemuk’, maka mari berjuang untuk ‘diet’ dari keserakahan, ketamakan, kesombongan, kemarahan, ketidaksetiaan, keegoisan, sehingga kita ‘cukup’ untuk melalui ‘pintu sempit’ yang mengarahkan pada keselamatan.

Selamat pagi, semoga kita dianugerahi kerendahan hati untuk berjuang dan berusaha demi keselamatan. GBU

HIDUP SEPERTI ‘RAGI’: KECIL NAMUN BERARTI

Posted by admin on October 29, 2018
Posted in renungan 

Selasa, 30 Oktober 2018

Hari Biasa (H)

Ef. 5:21-33; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Luk. 13:18-21

HIDUP SEPERTI ‘RAGI’: KECIL NAMUN BERARTI

Dua minggu yang lalu, kami seangkatan mengadakan kunjungan ke rumah saya. Dan makanan yang paling ditunggu teman-teman adalah tape ketan. Saking enak dan menyegarkan, sampai teman-teman menanyakan makanan yang sama setiap kali datang ke rumah atau bapak ibu berkunjung ke seminari. Saya sendiri, tidak pernah tahu, proses pembuatan tape ketan itu sampai sedemikian nikmat, sampai rasanya khas dan dihafal oleh teman-teman yang lain, karena setahu saya Ibu saya membuat tape ketan seperti pada umumnya: mencampur beras ketan dengan ragi, namun memang yang paling menentukan adalah takaran ragi yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Ragi yang kecil itu menjadi sumber sukacita bagi banyak orang ketika dipakai dengan baik dan sebagaimana mestinya. Mesti dalam pemakaiannya, tidak ada rumus pastinya, hanya pakai ‘feeling’ dan kebiasaan. Dan uniknya, ragi ini tidak bisa digantikan oleh benda lain, yang sama dan sepadan.

Perwujudan Kerajaan Allah di dunia, yang digambarkan oleh Yesus, diumpamakan seperti ragi, meski dalam konteks ini, adalah ragi pada adonan roti. Ragi itu tidak kelihatan tapi berefek luar biasa. Yesus hendak menunjukkan kenyataan tentang Kerajaan Allah di dunia, sebagai yang ‘memberi rasa’, mengembangkan yang lain, dan tentu saja tidak tergantikan oleh hal lain. Tanpa ragi, roti tidak pernah jadi. Tanpa ragi, roti barangkali menjadi hambar, dan tak lagi disebut roti. Maka, Yesus mengajak kita menjadi seperti ragi dengan menangkap kebaikan-kebaikan tanpa perlu menyombongkan diri, namun memberi pengaruh nyata bagi orang lain dalam hal-hal baik. Kerajaan Allah juga tidak tergantikan oleh hal apapun, bahkan oleh hal yang menurut kita baik dan nyaman.

Selamat pagi, selamat menjadi ‘ragi’ bagi dunia. GBU.

KESELAMATAN JIWA ADALAH HUKUM TERTINGGI

Posted by admin on October 29, 2018
Posted in renungan 

Senin, 29 Oktober 2018

Hari Biasa (H)

Ef. 4:32 – 5:8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 13:10-17

KESELAMATAN JIWA ADALAH HUKUM TERTINGGI

Adik-adik kelas saya tingkat VI, sedang belajar tentang  Pastoral Hukum Perkawinan. Setahun lalu pun saya belajar demikian dari dosen yang sama. Yang biasanya terjadi ketika kuliah adalah, kami belajar menyelesaikan kasus-kasus perkawinan yang bermasalah. Kasus-kasus perkawinan yang akan diselesaikan memang sangat beragam dan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Yang jelas, dalam kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum kanonik atau hukum gereja, yang hendak disadari adalah bahwa hukum digunakan supaya orang bisa menghayati iman semakin baik. Jadi kalau perkawinan gereja diatur oleh hukum, tentu karena ada nilai-nilai dan keutamaan ‘di balik’ hukum itu sendiri. Maka, tidak mengherankan jika ‘refren’ utama dalam hukum kanonik atau hukum gereja, termasuk dalam hukum perkawinan adalah kanon pamungkas dari Kitab Hukum Kanonis, yaitu dari Kanon 1752, yang mengatakan bahwa keselamatan jiwa-jiwa adalah hukum yang tertinggi.

Inilah yang hendak ditegaskan oleh Yesus pada bacaan Injil hari ini, ketika hendak menyembuhkan orang yang kerasukan roh jahat. Tetapi, di sana ada kepala rumah ibadat yang justru ‘berkomentar’ yang tentu bermaksud menyudutkan bahwa perbuatan Yesus itu tidak benar menurut hukum, karena dilakukan pada hari Sabat. Seperti yang kita ketahui, pada hari Sabat, orang-orang Yahudi tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Namun, Yesus menegaskan bahwa hukum dipatuhi bukan karena kalimat rumusannya tetapi hendak mengacu pada nilai-nilai atau keutamaan yang hendak dicapai dari kalimat-kalimat hukum tersebut. Maka, kalau ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan keselamatan, bahkan kalau itu perkara hidup-mati, meski harus melanggar hukum, maka pertolongan harus tetap diberikan. Yesus mengajari kita untuk mengasihi kehidupan ini lebih dari segalanya, karena kehidupan adalah anugerah dari Allah. Mencintai kehidupan sama dengan mencintai Allah, Sang Sumber Kehidupan.

Selamat pagi, selamat berawal pekan. Selamat mencintai kehidupan. GBU.

Lord, Have Mercy

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on October 27, 2018
Posted in renungan  | Tagged With: ,

30th Sunday in Ordinary Time

October 28, 2018

Mark 10:46-52

 

“Jesus, son of David, have mercy on me.” (Mk. 10:47)

 

I made my religious vow more than eight years ago with 12 other Dominican brothers. One of the most touching moments within this rite of the religious profession was when Fr. Provincial asked us, “What do you seek?” and we all prostrated, kiss the ground, and declared, “God’s mercy and yours!” After a brief moment, Fr. Provincial asked us to stand, and we began professing our vows before him.  As I recall this defining moment in my life, I am pondering in my heart, “Why it has to be mercy?” Why do we not choose other Christian virtues? Why not fortitude, one of the cardinal virtues in the Christian tradition? Why not love, the greatest of all virtues?

However, religious profession is not an isolated case. If we observe our celebration of the Holy Eucharist, the rite is filled with our pleading for mercy. At the beginning of the Mass, after recalling our sins, we say, “Lord, have mercy” three times. In the Eucharistic prayer, we once again beg mercy that we may be coheirs of eternal life. And, before we receive the Holy Communion, we pray to the Lamb of God who takes away the sin of the world, that He may have mercy on us. Not only in the Eucharist, but an appeal for mercy is also found in the other sacraments and devotions. In the sacrament of confession, the formula of absolution begins with addressing God as the Father of Mercy. In every litany to the saints, it always commences with the plead of mercy to the Holy Trinity. Again, the question is why does it have to be mercy?

We may see the glimpse of the answer in our Gospel today. Jesus is leaving Jericho and making his final journey to Jerusalem. Then, suddenly Bartimaeus, a blind beggar, shouts to the top of his lungs, “Jesus, Son of David, have mercy on me!” He was so persistent that after being rebuked by others, he shouts even louder. Upon hearing the plea of mercy, Jesus who has set his sight on Jerusalem decides to stop. Jesus simply cannot be deaf to Bartimaeus’ appeal. He cannot just ignore mercy. Yet, this is not the only episode where Jesus changes His initial plans and listens to the request for mercy. He cleanses a leper because of mercy (Mrk 1:41). Moved by mercy, He feeds the five thousand and more people (Mrk 6:30). If there is anything that can change the mind and heart of Jesus, the mind and heart of God, it is mercy.

Pope Francis echoes his predecessors, St. Pope John Paul II, and Pope Benedict XVI, saying that the first and essential attribute of God is mercy. Indeed, God as being merciful is discovered in many places in the Bible (see Exo 34:6,7; Dt 4:31; Ps 62:12, etc.). That is why the name of God is mercy. It is our faith that proclaims that God cannot but be merciful. He is God who goes as far as to become human and die on the cross to embrace the wretched sinners like us.

However, what makes Bartimaeus unique is that he was the first in the Gospel of Mark to verbalize the plead for mercy to Jesus. Following the example of Bartimaeus, the Church has continued to become the beggar of God’s mercy. Like Bartimaeus, we verbalize our need for God’s mercy in our worship, our prayers, and our life. We ask mercy when life become tough and unforgiving. We cry “Mercy!” when we are tempted, we fail to please God, or we have harmed ourselves and others.  Every night before I close my eyes, I recite “Lord, have mercy!” several times, hoping that this will be a habit and my last words when I meet my Creator. We plead for mercy when knowing that we are not worthy of God, we are confident that God will change “His mind” and embrace us once again.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »