Browsed by
Month: November 2021

Kuasa Allah itu Nyata!

Kuasa Allah itu Nyata!

Mat. 15:29-37

Rabu pada Peringatan Wajib 

Beato Dionisius dan Redemptus, Biarawan dan Martir

Saudari-saudaraku terkasih, hari ini Gereja memperingati Beato Dionisius dan Redemptus, Biarawan dan Martir. Mereka adalah Martir Indonesia. Mengutip dari buku misa Santo Santa, terbitan Kanisisus, Dionisius (1600-1638), seorang pelaut dari Perancis, pada usia 35 tahun menjadi imam dan masuk Ordo Karmel. Sedangkan Redemptus (1598-1638), seorang anggota tentara Portugas, yang menjadi bruder dalam Ordo Karmel. Pada 1638 mereka mengikuti rombongan utusan raja Portugal ke Aceh. Di Aceh mereka ditangkap dan dipenjarakan. Pada tanggal 29 November 1638 keduanya gugur sebagai martir. Kendati nampaknya usaha mereka gagal, namun justru seperti gandum yang harus jatuh dalam tanah dan mati supaya dapat bertumbuh, darah kemartiran mereka membuat bumi Indonesia subur untuk Sabda Allah. 

Injil hari menggambarkan belas kasihan Yesus yang sangat mencolok bagi mereka yang membutuhkan. Dikisahkan bahwa awalnya Yesus menyembuhkan orang lumpuh, orang bisu dan orang buta yang dibawa kepadanya. Dia kemudian memperhatikan betapa laparnya kerumunan besar ini. Yesus mengkhawatirkan kesejahteraan fisik mereka. Dia tidak mengatakan, karena kita mungkin tergoda untuk mengatakan, ‘Saya telah melakukan cukup banyak pekerjaan belas kasih hari ini, maka sudah waktunya bagi saya untuk beristirahat.’ Ketika dihadapkan dengan kebutuhan manusia, Yesus tidak bisa tidak menanggapinya dengan hati yang penuh kasih. Tetapi, para murid memiliki kerangka berpikir yang berbeda, mungkin lebih seperti kita. Hal itu terlihat dari respon mereka, “Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Namun, Yesus mendorong murid-murid-Nya untuk memikirkannya, “Berapa roti ada padamu?”

Saudari-saudaraku terkasih, bacaan Injil mengundang kita untuk memberikan ruang hati kepada Tuhan untuk bekerja melalui kita. Tuhan tidak pernah berpaling dari kebutuhan manusia tetapi kadang-kadang Dia hanya dapat memenuhinya dengan bantuan kita, meskipun kita mungkin merasa bahwa kita hanya memiliki sedikit untuk diberikan kepada-Nya. Namun, kita akan sering terkejut dan takjub melihat betapa kuatnya Tuhan dapat bekerja melalui sumber daya dan upaya kita yang tampaknya terbatas, jika kita percaya bahwa Dia akan melakukan-Nya. Beato Dionisius dan Redemptus, dengan hidup dan kematiannya sebagai Martir telah menunjukan kuasa Allah itu nyata!

Tuhan memberkati.

Iman Berasal dari Apa yang Didengar

Iman Berasal dari Apa yang Didengar

Roma 10: 9-18

Selasa pada Pesta St. Andreas Rasul

Kata-kata St. Paulus dalam bacaan Pertama pada Pesta St. Andreas ini mengungkapkan kebenaran sederhana bahwa, baik bagi para rasul di awal awal kehidupan Gereja, ataupun di jaman sekarang, “iman berasal dari apa yang didengar.” Santo Paulus mengatakan bahwa orang tidak akan beriman kepada Yesus kecuali mereka telah mendengar tentang Dia dan mereka tidak akan mendengar tentang Dia kecuali mereka mendapatkan seorang pengkhotbah.

Saya kira perjalanan iman kita menunjukkan hal yang sama, yakni pertumbuhan iman itu berasal dari pengalaman orang-orang yang berbicara tentang Allah Tuhan yang mereka kenal dan kasihi. Surat St Paulus kepada Jemaat di Roma yang kita dengar hari ini menambahkan dengan kata-kata indah dari nabi Yesaya: “Betapa indahnya kaki mereka yang membawa kabar baik!”  Saudari-saudaraku yang terkasih, hari ini kata-kata Nabi Yesaya itu menggerakkan kita untuk merayakan perjalanan dan kerja keras Rasul Andreas dan para rasul lainnya. Namun, kata-kata itu juga merupakan undangan untuk menghargai orang-orang yang telah berbicara kepada kita tentang ‘Allah yang mereka kenal dan kasihi’. Mereka itu yang telah menjadi ‘rasul’ bagi kehidupan beriman kita. Kita percaya bahwa merekalah yang diutus Tuhan kepada kita untuk memberikan kesaksian melalui perkataan dan perbuatan.

Itulah cara utama Tuhan membawa orang untuk beriman kepada-Nya, yakni melalui orang-orang beriman lainnya. Kita semua dipanggil untuk menjadi pewarta Tuhan melalui penghidupan dari iman kita di dalam Dia. Kemudian, Tuhan akan bekerja melalui kita, sebagaimana Ia bekerja melalui Santo Andreas Rasul, untuk membawa orang lain kepada-Nya. Untuk semua itu, marilah kita mensyukuri semua yang telah kita terima dan memohon rahmat untuk menjadi alat Tuhan guna membangkitkan iman di dalam diri orang lain di jaman kita sekarang. Semoga Tuhan memampukan kita menjadi rasul-Nya.

Tuhan memberkati.  

Selamat Tahun Baru!

Selamat Tahun Baru!

Mat 8:5-11

Senin, Pekan I Adven

Adven adalah penanda diawalinya tahun baru liturgi, dimana sekarang kita memasuki tahun liturgi C. Maka, saya kira tidak berlebihan kalau saya menyapa anda semua dengan mengatakan, “Selamat Tahun Baru!” Masa Adven adalah masa penantian dimana Allah akan datang menemui umat-Nya. Kedatangan Allah dalam rupa manusia ini merupakan inisiatif Allah karena didorong oleh kasih-Nya kepada manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih, mengawali pekan pertama Adven, bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menyebuhkan hamba dari seorang perwira di Kapernaum. Hal yang menarik bagi saya adalah kata-kata yang diucapkan perwira ketika Yesus hendak berkunjung ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya tersebut, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Kata-kata tersebut adalah kata-kata yang kita ucapkan setiap kali kita hendak menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi.

Bagaimana tanggapan kita terhadap rencana kedatangan Allah? Bagaimana tanggapan itu mewujud dalam hari hari masa Adven yang adalah masa penantian? Masa Adven mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus ingin kita secara aktif mencari Dia dan kedatangan kerajaan-Nya dalam hidup kita. Tuhan pasti akan memberi upah kepada mereka yang mencari kehendak-Nya di dalam hidup mereka. Kita dapat mendekati Tuhan Yesus dengan iman yang penuh pengharapan, seperti perwira dalam bacaan Injil hari ini yang penuh pengharapan dan optimisme, yakin bahwa Yesus akan menunjukkan belas kasihan-Nya dan memberikan pertolongan-Nya. Mari kita bangun hari-hari kita di masa Adven ini dengan pengharapan dan optimisme yang sama. 

Tuhan memberkati!

How to Prepare the Coming of Christ

How to Prepare the Coming of Christ

First Sunday of Advent [C]

November 28, 2021

Luk 21:25-28, 34-36

We are entering the season of Advent. The word of Advent comes from the Latin word ‘Adventus’ meaning ‘coming.’ Thus, from its name, we easily understand that it is the season dedicated to preparing ourselves for the coming of Christ. Generally, Advent makes us ready for the joyful celebration of Christmas, the Birth of Jesus Christ in Bethlehem two thousand years ago. Yet, this season is also reminding us of the second coming of Christ at the end of time, Parousia. This is the reason that the Church chooses the Gospel that speaks about the coming of the Son of Man at the end of time today.

While it is true that we do not know when the hour is, and perhaps it will not be happening during our lifetimes, it remains true that all of us will die and face a private judgment before God. Some of us will experience dying moments, but some others will not have the privilege to pass through this dying stage. Thus, the Advent season is called for all of us to always be ready. How are we preparing ourselves?

Jesus provides us with His precious instructions. The first step is that we must be aware of inordinate attachment to worldly pleasures, drunkenness, and excessive worriedness. Worldly pleasures are not evil in themselves, and in fact, there is part of God’s good creation. What makes them dangerous is when we are addicted to them, and making them our priorities, instead of God. Drunkenness is dangerous because we intentionally intoxicate ourselves. When we are under the influence of alcohol, we become irrational, and we are open to many sins. We are also warned of excessive worry. Anxiety is not a mortal as drunkenness, but it greatly inhibits our spiritual growth towards God. Our anxiety shows our lack of faith in God and excessive reliance on ourselves.

The second step is to train and strengthen ‘our spiritual muscles’. Jesus gives us specific instructions: keep vigilant and praying. Doing vigil is basically fasting from sleep. To have a good rest is surely a pleasure, but we intentionally deprive ourselves of it so we can provide more time in prayer. This is a kind of fasting that is intimately related to prayer, and purposedly to train our spiritual strength amid sleepiness and human weakness. In fact, a vigil is one of the most favorite forms of prayer among the saints. After the night prayer with the community, St. Dominic de Guzman often stayed at the chapel and spent more time in prayer. Some brothers who witnessed his vigil reported that St. Dominic often prostrated himself before the altar in the form of a cross or wept for the poor sinners at the feet of the altar. Yet, it was recorded also that he fell asleep and spent the night inside the chapel with the Lord. Through years of spiritual practices, his spiritual strength grew exponentially, and he was known as the indefatigable champion of the faith. His spiritual strength manifested excellently in his dying moment. At his dying bed, he said to his brethren, “Do not cry for me. I will be more useful when I am in heaven.”

Thus, from Jesus, we have twofold preparation to welcome Him: to detach from earthly pleasures and concerns and to grow in prayer and holiness.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Duniawi versus Ilahi”

“Duniawi versus Ilahi”

Sabtu Pekan Biasa XXXIV, 27 November 2021

Bacaan: Daniel 7:15-27; Lukas 21:34-36

Pada hari terakhir di Tahun Liturgi ini, kita diajak untuk menegaskan langkah hidup kita. Yesus dengan sabar dan tekun mendampingi semua muridNya, termasuk kita semua. Ia mengatakan semuanya ini agar kita sungguh sadar dan tahu ke mana kita harus melangkah tanpa ragu. Dengan tegas pula Yesus menunjukkan kepada kita semua yang perlu kita lakukan dan tinggalkan supaya kita dapat sampai ke tujuan. Sesuai pesan berjaga dan waspada yang dikatakan Yesus, sekarang semakin dipertajam dengan mengatakan secara jelas pada hari ini. Bahaya terbesar yang sedang melanda kehidupan kita sekarang ini adalah keterikatan terhadap semua yang bersifat duniawi. Jelas kita membutuhkan semua yang ada di dunia ini bagi kehidupan kita, namun waspadalah agar tidak melekat padanya. Kita perlu makan, minum, tempat tinggal, hiburan dan sebagainya. Namun dalam realita kita mulai terikat dan bahkan tidak bisa lepas dari kesenangan duniawi ini. Inilah ambang kebinasaan kita, yang tampak dalam keserakahan, pertikaian, peperangan, pembunuhan dan menguasai sesama bahkan menindas.

Yesus mengingatkan kita agar kita semakin berfokus kepada yang ilahi dan menjadikan doa sebagai nafas kehidupan kita. Kuasa dunia ini hanya bisa ditaklukkan dan diatasi dengan kuasa ilahi dan kedekatan dengan Tuhan. Jika doa menjadi kekuatan hidup kita, maka dosa akan semakin menjauh dari kita. Sering kita meremehkan doa, melupakan dan bahkan meninggalkannya. Padahal doa sangatlah sederhana, yakni waktu kita bersama dengan Tuhan secara pribadi atau bersama. Kita banyak menghabiskan waktu untuk menikmati televisi, media sosial yang bahkan melekat pada kita, sementara waktu doa makin dikurangi. Selalu ada alasan untuk tidak merayakan Misa ke gereja, apalagi sekarang banyak yang online, maka sambai santai di rumah dan cukup ‘menonton’ misa! Memang selama masa lockdown semua tidak bisa ke gereja, namun setelah gereja dibuka, ada yang masih tetap senang di rumah saja.

Saatnya kita bertanya diri secara serius, mana yang menjadi prioritas hidup kita sekarang ini! Apakah bagi kita Tuhan ada di atas segalanya atau tidak? Perhatikanlah semua yang kita lakukan selama ini, berapa waktu yang kita khususkan bersama Tuhan dalam doa, membaca Kitab Suci, bacaan rohani dan merayakan Ekaristi. Kita hanya bisa bertahan berdiri di hadapana Tuhan ketika Dia datang, jika kita sejak sekarang menjalin relasi yang harmonis dan intim denganNya setiap saat. Kita belum terlambat untuk menatanya kembali dan mengkhususkan waktu kita bagi Tuhan, mulailah sekarang ini.

Translate »