Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Sederhana dalam Kekayaan Rohani

Posted by admin on November 30, 2020
Posted in renungan 

Markus Juhas Irawan

“Karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”

Pejumpaan kita dengan Tuhan yang kita Imani, kerap kali menjadi sulit di saat kita selalu menanggapi kesempatan Perjumpaan itu dengan banyak pertanyaan yang kita miliki. Pertanyaan-pertanyaan iyu mungkin kita yakini sebagai buah dari pemikiran kita yang Kritis dan selalu ingin membuktikan apa yang benar dalam setiap hal yang dilihat. Selalu ada ketidak puasan dalam banyak pemikiran Kritis yang ada, karena di saat kita sudah menemukan jawaban dari satu pertanyaan, maka biasanya akan ada pertanyaan lain yang muncul dan menunggu untuk dijawab. Kebiasaan ini juga yang sadar atau tidak sadar kita gunakan dalam pola relasi kita dengan Allah, relasi yang dibangun kerap kali banyak diwarnai dengan pertanyaan yang malah membuat hati tidak terbuka untuk menerima Allah yang menyatakan dirinya. Hal lain yang membuat seseorang sulit untuk mengenali Allah adalah karena adanya kebiasaan untuk memberikan standar yang tinggi dalam angan-angan perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah kerap kali diyakini harus ada dalam peristiwa yang besar dan luar biasa, padahal justru dari hal sederhanalah Allah mungkin mewujud dalam dirinya pada Manusia, disinilah diperlukan adanya sikap untuk menjadi “kecil”. Menjadi kecil berarti menjadi sederhana dengan kekayaan rohani yang mendalam, dimana kerap kali pemahaman dan keyakinan tentang Allah pada akhirnya mungkin hanya bisa sampai pada keyakinan dan iman tanpa harus banyak bertanya tentangnya.

Pengalaman Harian sebagai Medan Perjumpaan dengan Allah

Posted by admin on November 29, 2020
Posted in renungan 

Markus Juhas Irawan

“mereka sedang menebarkan jala di Danau, sebab mereka itu penjala Ikan”

Panggilan untuk mengikuti Yesus adalah sebuah peristiwa yang terjadi dalam diri setiap muridnya, terlepas dari apapun pilihan yang akan diambil sebagai seorang murid. Ada diantara sebagian Murid Yesus memilih untuk menjalani panggilan Khusus menjadi Imam, Biarawan, atau Biarawati, dan ada juga yang pastinya memilih untuk menjalani panggilan Hidup sebagai Awam dengan banyak hal yang harus dilakukan. Panggilan untuk mengikuti Yesus kalau kita renungkan kembali mungkin akan membawa kita pada satu kesadaran bahwa Ia memanggil kita masing-masing dengan cara yang biasa dan cenderung sederhana. Ada yang merasa terpanggil menjadi imam mungkin hanya karena mendapatkan kesempatan untuk menjadi Misdinar, atau seorang memilih untuk menikah juga karena sadar akan pilihannya untuk membangun cinta kasih karena mengalami kasih dalam keluarga. Semua soelah biasa-biasa saja, tidak ada yang luar biasa yang membuat panggilan dan pilihan hidup seolah jadi begitu Bombastis dan luar biasa. Panggilan yang demikian, yang ada dalam saat-saat yang biasa juga diamali oleh para Murid yang pertama. Mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus justru dalam keseharian mereka sebagai seorang nelayan. Kehidupan harian mereka menjadi medan perjumpaan antara diri pribadi dengan Yesus yang memanggil. Pilihan untuk mengikuti atau tidak pada akhirnya juga tetap diserahkan pada diri masing-masing, sesuai dengan kepekaan dan bagaimana melihat panggilan itu sebagai hal yang penting hingga mau meninggalkan zona nyaman untuk beralih dalam tantangan yang lebih luas dan tanggungjawab yang lebih berat. Kita semua juga punya kesempatan untuk mendengarkan panggilan itu di dalam hidup harian kita, dalam kesederhanaan Rutinitas yang bisa jadi adalah medan perjumpaan kita dengan Tuhan Sang Sumber Panggilan itu; yang perlu kita bangun pada akhirnya adalah kerelaan kita untuk membuka diri dan siap kapanpun Panggilan itu datang, karena bisa jadi panggilan itu justru datang lewat pengalaman harian yang amat sederhana.

Sign of Hope

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on November 28, 2020
Posted in renungan  | Tagged With: , ,

First Sunday of Advent [B]

November 29, 2020

Mark 13:33-37

We are entering a joyful season of Advent. The first Sunday of Advent is also the beginning of the liturgical year of the Catholic Church. Advent is from the Latin word “adventus” meaning “the coming.” From this name alone, we can already deduce the purposes of this lovely season. It is to prepare us for the coming of Jesus, yet we must not forget that the Church teaches us that there are two comings. The first coming is two thousand years ago in Bethlehem, as a baby at Mary’s hands. The second coming is Jesus’ arrival at the end of time as the glorious king and the judge.

Our Gospel points to this fundamental truth of the second coming. Jesus will surely come, but He does not give us the timetable, and thus, we need to be prepared and be watchful. The illustration Jesus presents is a master who is traveling abroad. In ancient times, traveling is stunning different from our time. Nowadays, with the advances of technologies and modern transport systems, we can determine even the exact location of a particular train and even an airplane. We are used to following a fixed schedule of travel itineraries. However, the ancient people knew nothing about the internet or GPS, and traveling was often hard to endure. People who needed to cross the sea may get stranded because of the unpredictable storms. Some people had to spend weeks in a  town because the winter was unbearably chilling for travelers. Paul, the apostle to the gentiles, knew well how punishing traveling was. Robbers ambushed him, his ship was capsized several times, and he had to spend hours on the sea. The master will come, but nobody knows when, and thus, the servants have to be watchful.

Humanity is living in a time of great sadness and fear. We are still battling the covid-19 that kills thousands, renders countless people jobless, and changes the way we live and interact. Aside from this tiny virus, we are constantly scared by possible global catastrophe caused by nuclear wars, global warming, even zombies and alien attacks. Yet, this season of Advent gives us a reason for hope. Despite everything, Jesus will surely come, and He remains in control.

We learn from the advent wreath. This tradition attached to advent season comes from northern Europe, who knew well how dark and cold winter could be, especially in December. Unlike us, who live in tropical, our brethren living near the arctic zone sometimes experience brutal winter. They are living in freezing temperatures and often without sunlight. These gloomy and dark conditions may affect our mental health. However, our brothers and sisters refused to give up and look for the sign of hope. They discovered the evergreen leaves that decline to wither and found out that small light shines brighter in the dark. This advent wreath points to us Christ, our Hope. Every time we enter the season of Advent, we are assured that there is always hope, even in the face of our world’s brokenness.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

check also for our latest video catechism on my Youtube channle at “bayu ruseno”

Menuju pada Kemenangan Hidup

Posted by admin on November 27, 2020
Posted in renungan 

Sabtu, 28 November 2020

Hari Biasa XXXIV

Bacaan I          Why 22: 1-7

Bacaan Injil    Luk 21: 34-36

Ada pepatah, “Menjaga itu lebih susah daripada mengejar”. Artinya, menjaga sesuatu tetap utuh bukanlah sebuah perbuatan mudah. Banyak orang yang terjatuh saat sedang berjaga atau menjaga sesuatu. Misalnya, menjaga keharmonisan bahtera keluarga itu lebih susah rasa-rasanya daripada saat dulu memulai masa pacaran. Menjaga dirasakan sulit karena berkaitan dengan konsistensi dan komitmen diri. Injil hari ini mengajak kita untuk memiliki sikap berjaga-jaga menantikan akhir zaman. Harapannnya, kita semua tetap konsisten dengan iman dan melakukan komitmen diri secara menyeluruh. Di situlah letak kualitasnya. Menjaga diri untuk tetap menjadi anak-anak Allah adalah tantangan kita. Persoalannya terletak pada ketahanan diri melawan godaan. Saya yakin bahwa semakin tinggi kualitas rohani kita, semakin halus pula roh jahat menawarkan godaannya. Kalau kita tidak hati-hati, kita bisa terjatuh sehingga apa yang kita jaga selama ini bisa hancur karena pengaruh roh jahat.

Menjaga diri yang dimaksudkan dalam Injil tidak sebatas soal urusan duniawi, tetapi juga soal spiritual. Hati yang tetap bersih dan jernih dari segala macam sifat kejahatan, jiwa yang tetap berserah kepada Allah dalam segala macam kondisi hidup, serta iman yang tetap tangguh ditempa berbagai macam tantangan, adalah target yang harus dicapai dalam upaya berjaga-jaga ini. Memang tidak mudah, tetapi Yesus sudah pernah melakukannya dengan kesetiaan pada kehendak Bapa melalui sengsara dan wafat-Nya. Hal itu terjadi karena Yesus memelihara komunikasi internal yang mendalam dengan Bapa. Bacaan I menegaskan bahwa Tuhan Allah-lah yang memberi roh kepada para nabi dan telah mengurus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hambaNya apa yang harus segera terjadi. Jika kekuatan manusiawi kita sudah mentog maka Allah sendiri yang akan berkarya. Karya-Nya turun dengan adanya iman yang kita miliki.

Maka, mari kita tetap berjaga-jaga dengan melihat kembali hidup kita, baik itu secara rohani-spiritual, jasmani maupun batin. Di titik mana saja kira-kira kita mudah terlena? Kapan saja kita merasakan karya Allah yang membuat kita mampu mengalahkan segala macam godaan roh jahat? Jika kita percaya kuasa Allah mengalahkan segalanya, kita akan menerima kemenangan hidup yang sejati.

Memuliakan Allah dalam Kebaikan

Posted by admin on November 26, 2020
Posted in renungan 

Jumat, 27 November 2020

Hari Biasa XXXIV

Bacaan I          Why 20: 1-4, 11 21:2

Bacaan Injil    Luk 21: 29-33

Bacaan I mengajak kita untuk melihat dan merenungkan betapa besar kuasa Allah. Kekuasaan-Nya tidak hanya terbatas pada teritori atau periode tertentu, tetapi kuasa Allah melampaui segala-galanya. Akhir zaman menjadi gambaran bahwa Allah berkuasa untuk mengaruniakan hidup yang kekal. Untuk itulah, kita disadarkan memiliki sikap taat dan tunduk kepada-Nya karena segala kekuasaan yang kita miliki di dunia ini sifatnya sementara. Kekuasaan kita akan lenyap di hadapan Allah Yang Mahakuasa. Di akhir zaman, kita semua akan dihakimi menurut perbuatan masing-masing. Tidak peduli jabatan tinggi yang kita miliki, gelar yang kita dapatkan, kekayaan yang kita raih, kehormatan yang kita terima atau apapun atribut lainnya, kita semua setara di hadapan Allah. Perbuatan kita menjadi bukti tentang anugerah kehidupan kekal kelak.

Maka, baik jika kita melihat kembali gerak perbuatan selama ini, apakah sudah secara sempurna melakukan kebaikan? Berbuat baik itu perlu dilakukan sebanyak-banyaknya tanpa mengenal lelah. Tujuan berbuat baik adalah memuliakan Allah, bukan semata-mata menyenangkan Allah saja. Sebab, memuliakan Allah tidak cukup hanya dengan doa atau kegiatan rohani pribadi. Memuliakan Allah butuh perwujudan konkret. Emha Ainun Nadjib pernah mengajarkan “Percuma aku berdoa khusyuk di dalam kamar, sementara di luar sana banyak orang berteriak minta tolong; dan aku mengabaikan mereka semua”.

Berbuat baik merupakan perintah dari Tuhan dan kita tahu bahwa pada akhir zaman semua yang ada di bumi akan hancur, tetapi Sabda Tuhan tetap akan hidup. Nyata bahwa kalau kita memelihara pokok ajaran sabda Tuhan yaitu melakukan tindakan baik, maka kita akan mendapatkan hidup yang kekal. Di masa pendemi ini, pertolongan kita banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Bentuk pertolongan itu tidak hanya dalam ukuran materi yang luar biasa, tetapi bisa dimulai dengan ketaatan pada protokol kesehatan yang dilakukan secara pribadi. Disiplin pada protokol kesehatan merupakan cara kita berbuat baik pada orang lain. Kita turut menjaga kesehatan orang lain. Kita turut mengurangi penyebaran virus. Itulah kesempatan kita masing-masing yang paling aktual dan relevan dengan situasi sekarang.

Translate »