Refleksi Tutup Tahun
Rm Endi
(1Yoh 2:18–21; Yoh 1:1–18).
Kita berdiri di ambang batas waktu. Satu tahun hampir selesai, dan tahun yang baru perlahan menyongsong kita. Malam tutup tahun bukan sekadar peralihan kalender, bukan hanya soal hitungan detik dari pukul 23.59 menuju 00.00, melainkan saat rahmat. Gereja mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya dengan jujur: bagaimana aku menjalani tahun yang telah berlalu? Di mana Tuhan hadir? Dan di bagian mana aku justru menjauh dari-Nya?
Bacaan Injil hari ini dibuka dengan kata-kata yang sangat dalam dan agung: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dg Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Yohanes tidak mengajak kita menghitung hari, bulan, dan tahun, melainkan mengajak kita kembali ke asal segalanya, yakni Allah sendiri. Seolah-olah Gereja ingin berkata kepada kita: sebelum engkau menutup satu tahun dan membuka tahun yang baru, pastikan engkau kembali ke sumber hidupmu yaitu Tuhan. Firman itu bukan gagasan abstrak, bukan pula teori rohani, melainkan Pribadi yang hidup, yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita.
Bayangkan sebuah perjalanan jauh. Seseorang bisa saja sibuk memikirkan jarak tempuh, waktu keberangkatan, dan tujuan akhir, tetapi lupa memeriksa apakah ia masih berada di jalan yang benar. Tutup tahun adalah momen “berhenti di pinggir jalan” untuk melihat peta kembali. Apakah arah hidupku masih mengarah kepada Tuhan, atau aku sudah terlalu jauh terseret oleh ambisi, kekecewaan, dan rutinitas tanpa makna? Injil hari ini menegaskan: arah hidup kita hanya bisa dipahami dengan benar jika kita kembali kepada Firman.
Ketika kita menoleh ke tahun yang hampir berlalu, perasaan kita pasti bercampur aduk. Ada rasa syukur karena kita masih diberi hidup, kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan kesempatan untuk melayani. Mungkin kita bersyukur karena Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya, memulihkan kita dari sakit, atau menguatkan kita di saat-saat sulit. Namun kita juga jujur mengakui bahwa tahun ini tidak selalu mudah. Ada rencana yang gagal, usaha yang tidak berhasil, relasi yang merenggang, bahkan doa-doa yang terasa seperti jatuh ke dalam keheningan.
Tidak sedikit dari kita yang memasuki akhir tahun dengan hati lelah. Ada orang yang tersenyum di luar, tetapi hatinya penuh luka. Ada yang tampak kuat, tetapi diam-diam menanggung beban berat. Ada pula yang membawa penyesalan karena kata-kata yang menyakiti hati, keputusan yang keliru, atau kesempatan baik yang disia-siakan. Malam ini Gereja tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Justru di sinilah kabar baik Injil menjadi sungguh nyata.
“Injil malam ini membawa penghiburan yang besar: Firman itu tinggal di antara kita.” Allah tidak menunggu hidup kita rapi dan sempurna. Ia tidak datang hanya ketika semuanya beres. Ia hadir justru di tengah kerapuhan, di dalam tahun yang berantakan, di dalam cerita hidup yang belum selesai. Seperti seorang ibu yang tidak meninggalkan anaknya yang jatuh dan kotor, Tuhan tidak meninggalkan kita ketika hidup kita berantakan. Ia hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menerangi.
Yohanes menegaskan: “Terang itu bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan tidak menguasainya.” Ini bukan sekadar kalimat indah, melainkan janji iman. Artinya, sekelam apa pun tahun yang kita lewati, kegagalan apa pun yang kita alami, dosa sebesar apa pun yang kita sesali, terang Tuhan tidak pernah padam. Mungkin kita merasa gelap, tetapi gelap itu tidak pernah lebih kuat dari terang Allah.
Bacaan pertama dari Surat Yohanes mengingatkan kita tentang kebenaran dan kepalsuan. “Kamu telah menerima pengurapan dari Yang Kudus.” Kita hidup di zaman yang penuh suara. Setiap hari kita dibanjiri informasi, opini, tuntutan, dan standar hidup yang sering kali membuat kita gelisah. Ada suara yang berkata: “Engkau harus lebih berhasil.” Ada suara yang berbisik: “Engkau tidak cukup baik.” Ada pula suara ketakutan yang membuat kita kehilangan harapan.
Tutup tahun adalah saat yang tepat untuk bertanya dengan jujur: suara siapa yang paling sering saya dengarkan sepanjang tahun ini? Apakah suara Firman yang menenangkan dan meneguhkan, atau suara dunia yang membuat saya lelah dan cemas? Bacaan ini mengingatkan kita bahwa kita telah diurapi, artinya kita diberi kemampuan oleh Tuhan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Tahun baru bukan pertama-tama soal resolusi besar, tetapi soal kesetiaan kecil: setia mendengarkan Firman, setia hidup dalam terang, setia berjalan bersama Tuhan, hari demi hari.
Saudara-saudariku terkasih, sebentar lagi kita akan melangkah ke tahun yang baru. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin akan ada keberhasilan yang membanggakan, mungkin juga salib yang berat. Namun malam ini kita diingatkan akan satu kepastian iman: Firman telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Ia akan berjalan bersama kita ke tahun yang akan datang: di rumah kita, di tempat kerja kita, dalam pelayanan kita, dan juga di saat-saat sunyi yang tidak dilihat siapa pun.
Maka marilah kita menutup tahun ini dengan hati yang berserah. Kita serahkan kepada Tuhan rasa syukur kita dan penyesalan kita, air mata kita dan harapan kita. Kita membuka tahun yang baru bukan dengan keangkuhan, seolah-olah kita mampu menguasai segalanya, melainkan dengan doa yang sederhana namun penuh iman:
“Tuhan, tinggallah bersama kami. Terangilah langkah kami. Jadikanlah kami anak-anak terang, agar hidup kami, apa pun yang terjadi, menjadi kesaksian bahwa Engkau sungguh hadir di tengah dunia.” Selamat memasuki tahun yang baru, Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Amin.