Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Kita Sangat Berharga

Posted by Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP on May 31, 2025
Posted in renungan  | Tagged With: ,

Minggu ke-7 Paskah [C]

1 Juni 2025

Yohanes 17:20-26

Yesus telah wafat untuk kita dan bangkit dari kematian untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Dia melakukan semua ini karena Dia sangat mengasihi kita. Seperti yang dikatakan Yesus sendiri, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Tetapi mengapa Dia begitu mengasihi kita? Mengapa Dia menganggap kita cukup berharga untuk memberikan hidup-Nya bagi kita?

Salah satu jawaban yang paling mendalam terdapat dalam 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” Kasih bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan, namun kasih adalah jati diri Allah. Karena itu, Dia tidak bisa tidak, selain mengasihi kita. Kasih Yesus mengalir secara alami dari identitas-Nya. Pada saat yang sama, Alkitab menyatakan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah (Kej. 1:26-27). Ini berarti kita diciptakan menurut citra Kasih itu sendiri. Inilah mengapa kita hanya menemukan kepenuhan sejati ketika kita menghidupi tujuan terdalam kita: mengasihi seperti Allah mengasihi (Yoh 13:34) dan dikasihi oleh-Nya.

Namun, ketika saya merenungkan lebih jauh tentang Kitab Suci, saya menemukan sesuatu yang lebih indah lagi. Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa, tidak hanya untuk para rasul-Nya tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pewartaan mereka, yang adalah kita. Dia berdoa agar kita dapat bersatu dengan satu sama lain dan dengan Dia, sama seperti Dia dan Bapa adalah satu. Kemudian, Ia menyatakan sesuatu yang menakjubkan: “Bapa, Aku menghendaki supaya mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, ada bersama-sama dengan Aku di mana pun Aku berada” (Yoh 17:24). Kita adalah pemberian Bapa kepada Yesus. Kita adalah ekspresi hidup dari kasih Bapa kepada Anak-Nya.

Kebenaran ini sebenarnya sangat mudah dipahami. Ketika kita mengasihi seseorang, kita sering memberikan hadiah yang berharga sebagai tanda kasih sayang kita, dan bagi penerimanya, hadiah itu menjadi tak tergantikan. Cincin kawin, misalnya, sangat berharga bukan hanya karena nilai materialnya, tetapi karena cincin itu melambangkan cinta kasih suami istri. Namun, kita jauh lebih berharga daripada emas atau permata. Allah dengan luar biasa menciptakan kita untuk menjadi pemberian yang sempurna bagi Putra-Nya. Maka, apakah mengherankan jika Yesus sangat mengasihi kita? Dia rela memberikan nyawa-Nya bagi kita karena setiap kali Dia melihat kita, Dia melihat bukti kasih Bapa-Nya. Dia tidak dapat menanggung pikiran untuk kehilangan kita atau terpisah dari kita.

Saat ini, di beberapa negara seperti Filipina dan Italia, Gereja merayakan Kenaikan Yesus ke surga. Gambaran yang sering ditampilkan adalah Yesus naik sementara para murid-Nya ditinggalkan. Tetapi Dia tidak meninggalkan kita, melainkan Dia membawa kita lebih dekat kepada Bapa. Mengapa? Karena kita berharga bagi Allah. Kita adalah pemberian Bapa kepada Putra-Nya yang terkasih.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita menyadari bahwa kita berharga di mata Allah? Apakah kita hidup sebagai milik Allah yang berharga? Bagaimana kita hidup sebagai pemberian Bapa kepada Putra? Bagaimana kita membagikan berkat-berkat yang kita terima dari Allah?

Hendaklah kita selalu bersatu hati

Posted by admin on May 31, 2025
Posted in Podcast 

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Kunjungan marianis tentunya juga kepada kita

Posted by admin on May 30, 2025
Posted in Podcast 

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Kita andalkan RohNya dalam diri kita

Posted by admin on May 29, 2025
Posted in Podcast 

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

BERMULA DARI RATAPAN DAN TANGISAN

Posted by admin on May 29, 2025
Posted in renungan 

Jumat, 30 Mei 2025

Yohanes 16:20-23a

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

Yesus menubuatkan akan peristiwa yang pasti terjadi pada para murid-Nya: menangis dan meratap. Namun, Yesus juga berjanji, situasi itu akan terlewati manakala Yesus datang mengunjungi. Saat itulah dukacita akan berubah menjadi sukacita. Bagaimana hal itu kita maknai?

[1] Derita menuju Sukacita

Derita dan sukacita adalah realitas yang melekat pada manusia, lebih-lebih pada murid Yesus. Derita memang ingin selalu dihindari, sebaliknya sukacita ingin dialami. Yesus berpesan, hanya derita karena dan demi iman akan Allah yang akan bermahkotakan sukacita. Oleh karena itu, setia menepati kehendak Allah menjadi tindakan yang tidak bisa ditolak, agar bisa menggapai sukacita.

[2] Relasi Baru dengan Allah

Mengapa para murid Yesus baru bisa menemukan sukacita setelah melewati hidup penuh derita? Tuhan mengingatkan, ada banyak rahasia kehidupan yang tak bisa terjawab dan terpecahkan oleh akal budi manusia. Di sinilah iman menjadi sangat penting. Ketika manusia memiliki iman, Allah yang diimani akan menyingkapkan semua misteri itu dengan pengetahuan yang penuh.

[3] Tantangan Iman Dewasa Ini

Menarik sekali, iman dalam derita diperdengarkan hari ini di era dunia digital. Dewasa ini semua serba dimudahkan. Cukup diam di rumah saja, semua hal bisa dilampaui. Tidak sekadar belanja, tetapi juga ibadat pun tak perlu usaha lebih keras dengan datang ke gereja. Dalam sudut pandang tertentu, realitas semacam ini telah berdampak bagi rapuhnya iman yang membutuhkan usaha keras, karena mentalitas dunia yang menawarkan kemudahan.

Translate »