Kerinduan hati akar sebuah doa
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Lukas 19:1–10
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus.
Injil hari ini menceritakan kisah yang sangat manusiawi dan menyentuh: kisah Yesus dan Zakheus. Di dalamnya, kita melihat dua gerakan rohani yang saling bertemu: gerakan kasih Allah yang mencari dan kerinduan manusia yang ingin melihat Allah.
Kisah ini dimulai dengan tindakan Yesus yang sedang “melewati kota Yerikho.” Tapi kalau kita perhatikan baik-baik, Injil tidak hanya menceritakan perjalanan biasa. Di balik pergerakan Yesus itu, ada maksud ilahi: Ia sedang mencari yang hilang. Yesus tahu siapa Zakheus, yaitu seorang kepala pemungut cukai yang kaya, tetapi juga dibenci banyak orang. Dalam pandangan masyarakat Yahudi, pemungut cukai adalah pendosa besar, pengkhianat bangsa karena bekerja untuk penjajah Romawi dan sering menipu rakyat. Namun bagi Yesus, tidak ada orang yang terlalu kotor atau terlalu jauh untuk diselamatkan. Yesus tidak menunggu Zakheus datang kepada-Nya. Yesuslah yang datang mencari. Inilah perbedaan besar antara kasih manusia dan kasih Allah. Manusia sering mengasihi yang pantas dikasihi, tetapi Allah mengasihi juga mereka yang tidak pantas. Ia mencari yang hilang, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Karena itu di akhir Injil, Yesus menegaskan: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk 19:10) Yesus datang ke dunia bukan pertama-tama untuk menilai atau menghukum, tetapi untuk mencari dan mengangkat yang jatuh. Kasih Allah adalah kasih yang aktif — kasih yang tidak tinggal diam ketika ada anak yang tersesat.
Di pihak lain, kita melihat sosok Zakheus. Meskipun hidupnya penuh dosa dan kebanggaan duniawi, dalam hatinya masih ada kerinduan untuk melihat Yesus. Injil mencatat: “Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu.” (Luk 19:3) Kalimat sederhana ini namun sangat dalam maknanya. Kerinduan Zakheus adalah gambaran kerinduan manusia akan Allah. Setiap orang – bahkan yang paling berdosa sekalipun – memiliki kerinduan terdalam untuk mengenal Sang Pencipta. Sering kali dosa, kesibukan, dan luka hidup menutupi kerinduan itu, tetapi tidak pernah mematikannya. Zakheus ingin melihat Yesus, tetapi ada hambatan: ada orang banyak yang menghalangi pandangannya, dan tubuhnya yang kecil membuatnya tak bisa melihat di antara kerumunan. Namun, ia tidak menyerah. Ia mencari cara lain – memanjat pohon ara. Tindakan ini mungkin terlihat konyol bagi orang dewasa dan pejabat tinggi seperti dia, tetapi justru di situlah kita melihat iman dan kerendahan hati. Zakheus rela meninggalkan kehormatannya demi melihat Yesus. Dan apa yang terjadi? Ketika Yesus lewat, Ia menatap ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (Luk 19:5) Yesus memanggil nama Zakheus — artinya Ia mengenalnya secara pribadi. Yesus tidak berkata, “Hei, orang berdosa, turun!” tetapi, “Zakheus.” Nama yang penuh kasih, panggilan pribadi dari hati Allah kepada hati manusia. Yesus tidak hanya ingin lewat di depan Zakheus, tetapi ingin tinggal di rumahnya. Dan di situlah keajaiban terjadi: Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Kerinduan yang sederhana itu berbuah perjumpaan yang menyelamatkan. Perjumpaan itu mengubah hidupnya: dari seorang pemeras menjadi seorang yang murah hati, dari yang tamak menjadi dermawan, dari yang hina menjadi sahabat Tuhan.
Saudara-saudari terkasih. Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap orang berharga di mata Tuhan. Tidak ada hidup yang terlalu gelap sehingga tidak bisa dijangkau oleh terang kasih-Nya. Yesus mencari kita bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita dicintai. Maka, jika hari ini kita merasa jauh dari Tuhan, merasa tidak layak, atau merasa sudah terlalu lama hidup dalam kesalahan, dengarkan sabda ini: “Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Yesus ingin hadir di “rumah” hati kita. Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk tinggal bersama kita dan mengubah hidup kita dari dalam. Seperti Zakheus, mari kita terus memelihara kerinduan untuk melihat Yesus. Sebab selama hati kita masih rindu kepada Tuhan, maka selalu ada harapan. Karena di balik setiap kerinduan manusia, ada Allah yang lebih dahulu mencari.
Semoga Tuhan selalu memberkati kita semua.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
(Mal. 3:19-20a; 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kita telah tiba pada Minggu terakhir masa biasa tahun liturgi C. Minggu depan kita memasuki Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, kemudian memulai perjalanan rohani baru dalam Masa Adven, tahun liturgi A. Perjalanan liturgi Gereja seakan mengajak kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk mensyukuri penyertaan Tuhan, dan menatap ke depan dengan hati yang dipenuhi harapan.
Minggu lalu kita merayakan pemberkatan Gereja Basilika, dimana kita diingatkan untuk menjadi batu-batu yang hidup untuk dan menyiapkan hati kita sebagai tempat kediaman Allah sendiri. Minggu ini, Yesus mengajak kita merenungkan akhir zaman, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk meneguhkan kita agar tidak goyah ketika menghadapi guncangan hidup. Yesus menyebutkan hal-hal yang akan terjadi: Bait Suci dihancurkan, munculnya mesias palsu, perang antar bangsa, kekacauan alam, dan penganiayaan. Semua itu mudah membuat hati gentar. Namun justru di situlah suara Yesus berbisik lembut, “Inilah kesempatan bagimu untuk memberi kesaksian… Dengan ketekunan kamu akan memperoleh hidupmu.”
Yesus tidak mengajarkan kepanikan. Ia mengajarkan ketekunan. Seolah Ia berkata: “Jika besok kiamat, maka hari ini lakukanlah kebaikan sebanyak mungkin.”
Maka, hari ini adalah hari:
•
untuk mengasihi tanpa pilih-pilih,
•
untuk mengampuni tanpa menunggu orang meminta maaf,
•
untuk melayani dengan tulus,
•
untuk tetap melakukan yang baik walau dunia terasa berat.
Dengan demikian, ketika saat terakhir tiba, entah kapan, hati kita sudah siap, damai, dan tidak dikuasai ketakutan.
Saudara-saudariku terkasih, persoalan hidup tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada pergulatan, pertentangan, atau pengalaman ditolak. Tetapi iman mengajarkan bahwa semua itu bukan akhir. Di balik setiap badai, ada tangan Tuhan yang memegang kita. Jika kita bertahan di jalan-Nya, justru dari pergumulan itulah tumbuh pribadi yang lebih kuat, lebih matang, lebih tahan menghadapi masa depan.
Dunia hari ini pun sering menawarkan banyak kekhawatiran: resesi, wabah baru, harga-harga yang naik, ketidakpastian ekonomi, dll. Tetapi pesan Yesus tetap sama: “Jangan takut.” Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia hadir dalam setiap langkah kecil yang kita lakukan dengan iman dan ketekunan.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika: “Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ada orang yang memilih hidup kacau dan gelisah hanya karena takut akan masa depan. Padahal yang diminta Tuhan sederhana: tetaplah melakukan tugas harian dengan setia, apa pun keadaannya. Ketakutan sering membuat hati mengecil, tetapi ketekunan membuat hati berkembang.
Saya teringat ketika film “2012” muncul, banyak orang ketakutan. Ada yang berhenti bekerja, ada yang menghabiskan harta, bahkan ada yang putus asa. Padahal kiamat tidak datang hari itu, yang datang justru kesempatan untuk hidup lebih bijaksana. Maka, jangan biarkan ketakutan merampas masa depan kita.
Karena itu, mari mengisi waktu yang Tuhan berikan bukan dengan kecemasan, melainkan dengan kebaikan dan belas kasih. Gunakan waktu luang secara positif, belajar hal-hal baru, mengembangkan diri, berbuat baik bagi sesama. Di tengah krisis apa pun, kerja yang bermartabat tetap menjadi panggilan.
Kerja yang bermartabat adalah pekerjaan yang menghargai manusia, yang membangun relasi, yang menjaga nilai kemanusiaan. Sebab di mata Tuhan kita semua sama. Kelak, dalam kehidupan abadi, tidak ada lagi sekat-sekat: semua adalah saudara dalam kasih Bapa.
Semoga kita hidup saling menghargai, saling menguatkan, dan tetap berpengharapan. Tidak takut menghadapi hari esok, karena kita berjalan bersama Kristus. Dialah Raja Semesta Alam yang memegang sejarah dan masa depan kita.Tuhan memberkati kita semua. Amin.