Mari kita nikmati rahmat pertobatanNya
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Matius 21:33-43.45-46
Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm
NYANYIAN KEBUN ANGGUR
Perumpamaan hari ini berbicara tentang cinta Allah yang besar berbanding terbalik dengan sikap manusia yang jahat. Berulangkali dan dengan berbagai cara, Allah menegur dengan sabar dan memberi kesempatan, tetapi kejahatan manusia justru menjadi-jadi. Bahkan, Putra-Nya juga menjadi kurban atas kejahatan manusia. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Manusia pertama dapat digoda setan karena pikiran Hawa telah dikeruhkan. Kata-kata larangan Tuhan dianggap sebagai upaya Tuhan agar tidak disaingi. Kain membunuh Habel akibat pikirannya sudah keruh, seakan Tuhan hanya menerima persembahan Habel. Tindakan para penggarap menyiksa dan membunuh utusan disebabkan oleh cara pikir yang salah terhadap tuannya.
Pikiran itu adalah anugerah agung nan luhur. Namun, ketika pikiran tidak lurus dan menjadi keruh, maka mata dan hati menjadi gelap. Tindakan jahat pun bisa dilakukan tanpa merasa bersalah.
Satu pembelajaran penting hari ini adalah manusia tidak pernah puas akan pencapaian dirinya. Pikiran dan hati ingin terus menjangkau seluruhnya secara tak terbatas. Hal tersebut dibakar oleh setan, sehingga manusia semakin haus dan lapar. Bahkan, ia ingin menjadi Tuhan, agar segala-galanya dapat dikuasai sebagai miliknya.
Demikianlah ketamakan sungguh-sungguh menggeroti diri manusia. Pada dirinya sendiri, manusia akan terus gelisah dan cemas. Terhadap Tuhan, seorang yang telah tamak akan mengabaikan suara Tuhan. Selain dipenuhi oleh keinginan memenuhi hasrat dirinya, ketamakan akan mendorong seseorang untuk tidak beriman.
Masa Prapaskah adalah saat mengekang kecenderungan tak teratur yang bercokol di dalam diri kita. Sebagaimana Yesus yang adalah Allah tetapi tulus ikhlas menjadi hamba yang menderita, demikianlah kita mencontoh cara Tuhan dalam melepaskan diri dari kejahatan dan ketamakan kita.
Maka, merenungkan jalan salib Tuhan menjadi sesuatu yang amat penting. Permenungan ini bukan dengan maksud mengeksploitasi perasaan, sehingga menjadi terharu dan meneteskan air mata. Lebih daripada itu, permenungan jalan salib adalah cara belajar seperti Tuhan untuk mengekang keinginan tak teratur yang menjadi kelemahan kita.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Yer 17:5-10; Luk 16: 19-31
Saudara saudari terkasih, kita sampai di hari ke enam belas masa Prapaskah. Ajakan pembaharuan diri, rekonsiliasi, belaskasih, kemurahan hati, pertobatan dan perdamaian sangat kuat gemanya di Tahun Yubileum Peziarah Pengharapan. Sebuah sikap yang mengantar kita pada pengosongan diri, melepaskan diri dari segala hal yang digenggam erat selama ini. Terkadang membuat kita merasa aman dan nyaman, dan kita merasa gelisah di saat lepas dari situasi itu.
Bacaan Injil hari ini diawali percakapan Bapa Abraham dengan pengemis bernama Lazarus dan seorang kaya. Lazarus seorang pengemis pada saat masih hidup di dunia ada dalam penderitaan berkepanjangan karena sakit badannya penuh luka dan kelaparan. Ia tak mampu memenuhi standar hidup yang paling dasar untuk dapat bertahan hidup. Di sisi lain ada seorang kaya yang hidup bersukaria dalam kemewahan. Ia tak berkekurangan apapun, segalanya tersedia baginya. Lazarus sering menunggu remah-remah makanan dari orang kaya tersebut, tetapi tidak pernah ia mendapatkan remah-remah roti.
Di alam maut, kehidupan berbalik keadaannya. Lazarus ada dalam pangkuan Bapa Abraham dan bersukacita. Sedangkan orang kaya itu ada dalam penderitaan. Dua sisi yang bertolak belakang sering terjadi dalam kehidupan ini. Kaya-miskin, sehat-sakit, untung-malang, suka-duka, laba-rugi, positif-negatif. Setiap orang tentu harapannya ada dalam situasi yang baik, positif, dan bahagia. Tidak ada orang yang siap sedia menanggung derita hidup.
Ketika kita ada dalam sukacita senang, ingatlah pada saat kita dalam dukacita susah. Sehingga kita tidak terlalu larut dalam euphoria. Demikian juga sebaliknya. Kehidupan silih berganti, datang dan pergi dengan berbagai suasana situasi kondisi yang dialami. Kita diajak dan diarahkan terus menerus membaharui diri, berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, berbelaskasih dan bermurah hati terhadap sesama saudara saudari. Di saat kita ada dalam derita, kita membutuhkan orang lain untuk berdoa bagi Kesehatan, berdoa untuk pemulihan hidup yang sedang kita alami. Di saat kita ada dalam senang, kita diajak untuk berbagi kepada saudara lainnya. Tuhan menitipkan sebagian dari milik kita untuk dibagikan kepada lainya.
Seorang kaya mendapatkan hukuman setimpal bukan karena kekayaannya, melainkan karena ia tidak memiliki sikap berbagi pada saudara yang menderita, lemah, tersingkir, kecil tak berdaya. Kekayaan menutup dia semakin menutup diri, hanya memikirkan dirinya. Kemurahan hati dan belaskasih membuat orang punya sikap terbuka pada kesulitan saudaranya.
Andalan hidup kita adalah Tuhan Yesus, bukan pada harta benda. Ingatlah nubuat nabi Yeremia,”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatan sendiri, dan yang hatinya menjaduh dari Tuhan! Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”
Semoga Tuhan semakin mengubah diri kita dan memberkati segala niat baik di masa Prapaskah.
(rm. Medyanto, o.carm)
Romo Agung Wahyudianto O.Carm
(Refleksi berdasarkan Matius 1:16,18-21,24a Pesta santo Yoseph, 19 maret 2025)
Di paroki tempat saya bertugas di Peru, pastor paroki kami bernama Jorge Villegas, tetapi hampir semua orang memanggilnya Padre Pepe. Nama ini terasa sangat cocok untuknya, bukan hanya karena tradisi di Peru di mana banyak José atau Jorge dipanggil “Pepe”, tetapi juga karena ia benar-benar mencerminkan semangat Santo Yosef—hidup dalam kesederhanaan yang tulus. Pakaian yang ia kenakan hampir tidak pernah berubah, seolah-olah ia hanya memiliki dua atau tiga setel yang dipakai bergantian. Kemana-mana, ia lebih memilih berjalan kaki atau naik kendaraan umum daripada mencari kenyamanan dengan kendaraan pribadi. Hidupmya jauh dari kontaminasi , tiktok dan social media lain yang akhir akhir ini juga dimintai para imam. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, tetapi justru dalam kesederhanaannya itu, ada sesuatu yang dalam, sesuatu yang memberi ketenangan bagi siapa pun yang bertemu dengannya.
Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana Santo Yosef menghadapi kenyataan yang sulit dipahami. Maria, tunangannya, mengandung oleh Roh Kudus. Dalam kebingungan dan mungkin kegelisahan, Yosef tidak bertindak dengan tergesa-gesa. Ia tidak menuntut penjelasan lebih lanjut atau mencoba mengendalikan situasi. Sebaliknya, ia diam, mendengarkan, dan akhirnya menerima. Ia tidak memerlukan kepastian absolut untuk melangkah. Dalam keterbukaannya, ia membiarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya.
Santo Yosef, seperti Padre Pepe, menunjukkan bahwa kebebasan sejati tidak datang dari memiliki banyak pilihan, tetapi dari kesediaan untuk menerima apa yang ada tanpa menuntut lebih. Dunia modern sering mengajarkan bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin kita merasa aman. Tetapi sering kali, justru dalam kesederhanaan, kita menemukan sesuatu yang lebih mendalam—kedamaian yang tidak tergantung pada benda atau status, tetapi pada kesadaran bahwa kita sudah cukup.
Di Peru, setiap 19 Maret, mereka yang bernama José, Josefina, atau Pepe menerima ucapan selamat, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya karena mereka memiliki nama itu. Ini mengingatkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak perlu diperjuangkan atau dibuktikan. Seperti nama yang diberikan tanpa usaha, keberhargaan kita juga tidak tergantung pada pencapaian. Santo Yosef mengajarkan bahwa hidup tidak perlu selalu dikendalikan, karena dalam keheningan dan penerimaan, ada kebebasan yang sejati.
Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar menjalani hidup, atau masih sibuk mempertahankan sesuatu yang tidak perlu? Seberapa sering kita merasa harus terus membuktikan diri, padahal sesungguhnya kita sudah cukup? Yosef tidak mencari pengakuan, tidak mengejar kepastian yang sempurna, tetapi justru dalam kesederhanaannya, ia menemukan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Seperti Padre Pepe yang menjalani hari-harinya dengan ringan, tanpa banyak beban atau kepentingan pribadi, kita pun diajak untuk berjalan dalam hidup dengan lebih sederhana. Tidak berarti kita harus memiliki sedikit barang atau membatasi diri dari kenyamanan, tetapi lebih kepada sikap batin—bersedia menerima apa adanya, tanpa terus-menerus menuntut lebih. Sebab dalam kesederhanaan itulah, kita menemukan bahwa segala yang kita cari sebenarnya sudah ada di sini.