Janganlah merepotkan diri dengan aneka fasilitas
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Markus 6:7-13
Peringatan Wajib St. Paulus Miki, imam dan kawan-kawan martir
Kamis, 6 Februari 2025
Dalam Markus 3:14-15 disabdakan, “Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebutNya rasul, untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan berkuasa mengusir setan”. Tugas pertama dan utama seorang rasul Yesus adalah menyertai Sang Guru. Artinya tinggal bersama dan belajar segala hal ikwal hidup dan kehidupan seorang guru. Dengan demikian seorang rasul akan menjadi seperti gurunya. Rasul yang demikian siap untuk diutus.
Dalam warta hari ini, Yesus memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Para murid dipanggil dan diutus menjadi saksi kebenaran Allah. Sebuah kesaksian yang valid, dapat dipercaya, setidaknya diberikan oleh dua orang, sebagaimana difirmankan, “supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan” [Mat 18:16]. Itulah sebabnya Yesus mengutus para murid-Nya berdua-dua. Selain itu juga menegaskan bahwa hakekat kekristenan adalah komunio, persekutuan, sebagaimana difirmankan, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” [Mat 18:20].
Selanjutnya fokus seorang utusan adalah menyampaikan warta kebenaran Allah, warta keselamatan. Mereka hanya diperkenankan membawa tongkat dan alas kaki. Sebab kedua sarana tersebut memang dibutuhkan dalam perjalanan. Fokus atau tugas utama seorang murid tidak boleh dikalahkan, dihalangi oleh sarana prasarana lain yang tidak sangat penting seperti roti dan bekal lainnya. Mengenai hal-hal tersebut tidak perlu dicemaskan. Sebab telah difirmankan, “sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” [Mat 10:10].
Telah difirmankan, “kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” [Mark 6:11]. Apa arti “Mengebaskan debu dari kaki”? Tugas seorang utusan adalah menyampaikan warta keselamatan. Perlu kita sadari bahwa keselamatan bukan paksaan melainkan tawaran. Allah tidak bisa menyelamatkan jikau seseorang menolak untuk diselamatkan. Karenanya mengebaskan debu dari kaki kiranya bukan tindakan mengancam, melainkan sebuah simbol seolah-olah seorang utusan belum pernah sampai di tempat itu, walaupun kenyataannya sudah sampai di tempat tersebut dengan warta keselamatan. Namun jika seolah-olah belum pernah sampai ke tempat tersebut, suatu saat masih bisa kembali, dengan harapan orang tadinya menolak telah bertobat, berubah. Sebab Allah tidak pernah berhenti menawarkan keselamatan-Nya, sebagai ditegaskan nabi Yehezkiel bahwa Allah tidak menghendaki kematian orang fasik, melainkan menginginkan pertobatannya [Yeh 18:23]. Semoga St. Paulus Miki, imam dan kawan-kawan martir menginspirasi kita dalam menjalani hidup sebagai seorang murid, yakni percaya akan keselamatan Allah dan mewartakannya lewat hidup dan kehidupan sehari-hari.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
5 Februari 2025
Ibr 12: 4-7 + Mzm 103 + Mrk 6: 1-6
Lectio
Pada waktu itu Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
Meditatio
Pada waktu itu Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia. Sebab Yesus mengajar dengan penuh wibawa dan kuasa. Mereka berkata: ‘dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?’. Banyak orang mempertentangkan keberadaan Yesus dari keluarga miskin dengan kehebatan yang dimilikiNya. Bagaimana semua itu bisa dilakukanNya? Proses inkarnasi kurang dipahami banyak orang. Bukankah Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah umatNya? Sangatlah tidak tepat, bila hal itu juga terjadi di jaman kita sekarang ini.
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: ‘seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya’. Yesus amat menyadari penolakan orang-orang yang dikasihiNya. Dia diterima baik oleh orang-orang Kapernaum, tetapitidaklah demikian di Nazaret, kampung halamanNya. Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Ketidakpercayaan dan penolakan akan menghalang-halangi belaskasih Tuhan kepada kita umatNya.Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
Adakah dari kita yang mengaku sebagai umat Katolik tetapi tidak mempercayai Yesus Kristus? Apalagi kalau kita merasakan selama ini ada banyak tantangan yang kita hadapi? Hendaknya kita hari demi hari semakin percaya kepada Kristus, sang Empunya kehidupan. Sebab tanpa kekudusan kita tidak akan melihat Allah (Ibr 12).
Kekudusan bukanlah semata-mata diperoleh seseorang dengan banyaknya berdoa, melainkan juga harus didapat dalam relasi dengan sesame. Relasi pun akan terjadi dengan indahnya, kalau memang kita bisa menerima orang lain apa adanya, dan bukan berdasar konsep pikiran dan kemauan diri. Ketidakmampuan menerima orang lain, tidak ubahnya ketidakmampuan banyak orang Nazaret menerima Yesus.
Oratio
Yesus Kristus, Engkau mengajak kami menerima kehadiranMu dalam setiap peristiwa hidup ini. Semoga kami dengan setia menerima kehadiranMu dalam perjalanan hidup kami, terlebih dalam perjumpaan dengan sesame kami. Amin.
Contemplatio
Yesus heran atas ketidakpercayaan mereka.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm