Browsed by
Author: admin

“Terang yang Tidak Pernah Jauh”

“Terang yang Tidak Pernah Jauh”

31 Desember 2024

Yohanes 1:1-18

Romo Agung Wahyudianto O.Carm

Suku Inca memiliki tradisi kuno bernama Inti Raymi, perayaan untuk menyambut matahari yang kembali setelah titik balik musim dingin. Momen ini tidak hanya dianggap sebagai pergantian tahun, tetapi juga waktu untuk menyelaraskan diri dengan siklus alam dan terang matahari yang memberi kehidupan. Bagi mereka, terang matahari bukanlah sesuatu yang terpisah dari hidup, tetapi bagian dari realitas yang mereka alami setiap hari—sebuah kesadaran bahwa terang itu hadir di mana-mana, menghidupkan, dan menyatukan seluruh ciptaan dalam harmoni.

Dalam Injil Yohanes, Yesus disebut sebagai Firman yang adalah terang sejati, yang datang ke dalam dunia untuk menerangi setiap manusia. Terang ini bukan hanya terang luar yang terlihat oleh mata, tetapi terang yang hadir dalam diri setiap orang, membawa kehidupan dan kasih yang melampaui segala batasan. Dalam terang Firman inilah kita diajak untuk melihat bahwa akhir tahun bukanlah sekadar pergantian waktu, tetapi sebuah kesempatan untuk menyadari kehadiran

Tuhan yang selalu ada di dalam diri kita dan di sekitar kita—terang yang tidak pernah jauh, tetapi selalu hadir dan menghidupkan.

Suku Inca memaknai Inti Raymi sebagai waktu untuk bersyukur atas panen yang telah mereka terima, sekaligus merenungkan bagaimana mereka telah hidup selaras dengan terang matahari. Ini adalah momen refleksi mendalam untuk melihat ke dalam diri, menyadari bagaimana mereka terhubung dengan siklus kehidupan yang lebih besar. Dalam terang Yesus, kita diajak untuk merenungkan perjalanan kita selama setahun terakhir. Bukan hanya tentang pencapaian atau kegagalan, tetapi tentang menyadari bahwa di balik setiap pengalaman—baik yang terang maupun gelap—kasih Tuhan selalu hadir, menopang, dan menyatukan.

Yohanes menulis bahwa terang itu bersinar di dalam kegelapan, dan kegelapan tidak menguasainya. Dalam perjalanan setahun ini, mungkin ada saat-saat di mana kita merasa gelap—di tengah kehilangan, kegagalan, atau ketidakpastian. Namun, Injil ini mengingatkan kita bahwa terang itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan di saat kita merasa jauh, Tuhan tidak pernah terpisah dari kita. Dalam perspektif ini, akhir tahun menjadi momen untuk berhenti, tidak untuk mencari terang di luar, tetapi untuk menyadari terang yang sudah ada di dalam diri kita. Terang itu adalah Tuhan yang hadir dalam setiap detik hidup kita, memeluk seluruh pengalaman kita tanpa memisah-misahkan antara yang baik dan buruk.

Tradisi Inca juga mengajarkan bahwa terang matahari tidak hanya ada di langit, tetapi juga tercermin di bumi—di dalam diri manusia, dalam hubungan mereka dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan. Demikian juga, Yohanes menegaskan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Kehadiran Yesus menunjukkan bahwa tidak ada pemisahan antara yang ilahi dan yang duniawi. Firman yang kekal hadir dalam kehidupan kita yang sehari-hari, membawa kita pada kesadaran bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam hal-hal kecil, dalam suka maupun duka, dalam terang maupun gelap. Semuanya adalah ruang di mana kita dapat mengalami kasih-Nya.

Saat kita menyambut tahun yang baru, mari kita belajar dari tradisi Inti Raymi, di mana suku Inca menyelaraskan diri dengan terang yang mereka sadari ada di setiap aspek kehidupan. Kita diajak untuk melihat bahwa terang Yesus tidak hanya menanti di masa depan, tetapi sudah hadir di sini dan sekarang, di dalam hati kita. Dengan kesadaran ini, kita melangkah ke tahun yang baru bukan hanya dengan harapan, tetapi dengan rasa syukur yang mendalam atas terang Tuhan yang telah dan akan terus hadir, memberi kita hidup, menyatukan segala hal, dan membawa kita pada sukacita sejati yang melampaui batas waktu.

Refleksi ini menyatukan tradisi Inca Inti Raymi dengan Injil Yohanes, menggunakan pendekatan nondualitas yang halus untuk menekankan bahwa terang Tuhan tidak terpisah dari kita, tetapi hadir dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga refleksi ini membantu Anda menyambut tahun baru dengan penuh sukacita dan kesadaran.

Homily for the feast of the Holy Innocents, martyrs

Homily for the feast of the Holy Innocents, martyrs

Rm Agustinus Sutiono O.Carm

Today we celebrates the Feast of the Holy Innocents. Mostly below the age of two years old, those young children and infants were victims of the greed and ego of King Herod the Great. This was done because he was afraid of the threat that the newborn ‘King of the Jews’ prophesied by the prophets and messengers of God presented against him and his rule. Trying to find ways to prevent this newborn King from overcoming his and his family’s rule, he desperately launched that massacre against his own people. What an egoism! What a paranoid! His love for power and ambition to sovereign took away his mind. His tittle, Herod the great iself showed how he was a megalomaniac, meaning someone who has obsession with the exercise of power, or someone with delusional belief that he is important, powerful or famous. It is a form of mental disorder.

Why is it that God permitted such atrocities to happen such as what happened in the massacre of the Holy Innocents of Bethlehem, as well as in many other dark moments in our human history? Some of us certainly would have criticised the Lord, thinking that God could have intervened and stopped all those atrocities and evils from happening. But this is where we have to understand and realise that God has given us the free will and the freedom to choose our course of action in life. The many sufferings that we often suffer from and encounter in this world, they all came from our abuse of our privileges, freedom and choices, as instead of choosing the better and righteous path, we often chose the path of pleasure and corruption, allowing sin and the temptations for it to mislead us down this path of destruction and ruin.

To commemorate this Feast of the Holy Innocents of Bethlehem, we are reminded to be vigilant so that we do not easily end up falling into the temptations to sin and to give in to our fears, our desires and ambitions, our pursuits for worldly glory and renown, just as King Herod had experienced. May the Lord continue to help us to remain firmly focused on Him, and to be truly committed to a life of virtue and compassionate care for others as we continue to progress through this joyful season of Christmas, and share our Christmas joy to everyone around us, resisting the temptations of pleasure and hedonism, and striving instead to seek the true heavenly treasure that can be found in God alone. Amen.

Translate »