Browsed by
Author: admin

​“Efata: Saat Allah Menata Ulang Hidup Kita”

​“Efata: Saat Allah Menata Ulang Hidup Kita”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 13-02-2026

Dalam kisah ini, kita bertemu dengan seorang pria yang terisolasi oleh sunyi dan ketidakmampuan berkata-kata. Ia berada di wilayah Dekapolis, tanah yang disebut dengan bangsa kafir. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Yesus tidak mengenal batas geografis maupun religius.

Sentuhan yang Personal

​Hal yang menarik ialah Yesus membawa orang itu keluar dari orang banyak agar mereka sendirian. Yesus tidak memperlakukannya sebagai objek tontonan atau sekadar “kasus” medis. Yesus memberikan perhatian penuh. Terkadang, untuk menjadikan hidup saya dan Anda “baik”, Yesus perlu membawa kita menjauh sejenak dari kebisingan dunia agar kita bisa merasakan sentuhan-Nya secara pribadi.

“Efata!”: Terbukalah

​Kata “Efata!” bukan sekadar perintah agar telinga terbuka, tetapi sebuah perintah ilahi agar seluruh hambatan dalam hidup seseorang disingkirkan. Yesus menengadah ke langit dan mengeluh (berdesah). Desahan ini menunjukkan empati yang mendalam. Yesus turut merasakan beratnya penderitaan manusia. ​Hasilnya sungguh luar biasa bahwa yang tuli mendengar, yang gagap bicara dengan jelas. Kekacauan fisik dikembalikan kepada rancangan aslinya yang sempurna.

“Ia Menjadikan Segala-galanya Baik”

​Kalimat penutup dari orang banyak yang tersirat pada ayat 37 adalah inti dari seluruh kisah dalam perikop ini: “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Kalimat ini menggema kembali ke kitab Kejadian, saat Allah melihat segala sesuatu yang diciptakan-Nya dan berkata bahwa itu “sungguh amat baik.” Dunia yang telah rusak oleh dosa, sakit penyakit, dan isolasi, sedang “diciptakan ulang” oleh Yesus. Yesus tidak melakukan pekerjaan setengah-setengah. Yesus tidak hanya menyembuhkan telinga, tapi juga memulihkan martabat dan relasi sosial orang tersebut.

​Satu refleksi sederhana yang seringkali terjadi dalam hidup kita adalah kita tidak jarang merasa hidup kita berantakan, komunikasi terputus, atau merasa “tuli” terhadap suara Tuhan. Namun, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa​Yesus sanggup masuk ke area yang paling rusak dalam hidup kita dan memperbaikinya. ​Kebaikan versi Tuhan mungkin diawali dengan proses yang membuat kita merasa tidak nyaman (dibawa menjauh dari keramaian), tetapi akhirnya selalu membawa pemulihan. ​Tugas saya dan Anda adalah percaya bahwa di tangan Sang Pencipta, tidak ada yang terlalu rusak untuk diperbaiki.

​”Ia menjadikan segala-galanya baik; yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.” (Markus 7:37)

​(RD Daniel Aji Kurniawan)

Hati yang murni

Hati yang murni

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 7:14-23

Rabu, 11 Februari 2026

Ada sebuah peribahasa, “Pikir itu pelita hati” artinya ‘menggunakan akal budi dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik menjadikan seseorang lebih bijaksana’. Dalam hidup dan kehidupan ini sering kita jumpai kemasan makanan bertuliskan halal. Semua orang tahu bahwa produk yang memuat tulisan tersebut layak dan boleh dikonsumsi. Sebaliknya jika suatu produk tidak memuat tulisan tersebut berkonotasi sebagai makanan haram. Semua ketentuan tersebut tentu dilandasi dengan maksud dan tujuan yang baik. Namun jika kita refleksikan lebih mendalam hal tersebut tidak menyentuh bagian terpenting dalam diri manusia yaitu hati.

Dalam warta injil hari ini Tuhan Yesus menegaskan, “Tidak ada sesuatu pun dari luar seseorang yang masuk ke dalam dirinya dapat menajiskannya, melainkan hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya.” [Mark 7:15]. Dengan sabda tersebut Ia mengajak kita untuk memahami makna sejati dari kata “najis”. Bagi Yesus najis tidak terletak pada makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut, melainkan pada sesuatu yang keluar dari hati, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan” [Mark 7:21-22]. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mengajak kita untuk masuk lebih dalam ke lubuk terdalam dari hati kita. Ia mengajak kita untuk mengolah hati kita, sehingga hati kita menjadi hati yang bersih, suci, murni. Hati yang bersih adalah hati yang bebas dari iri hati, dendam, cemburu dan hal-hal negatif lainnya.

Yesus melalui karya keselamatan-Nya, menyediakan solusi bagi kenajisan hati manusia. Ia menguduskan kita melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib. Sebagai seorang pengikut Kristus, telah dibaptis, kita perlu melihat hati kita dan bertanya  sudahkah kita menanggapi kasih Kristus dan menyucikan hati kita dengan bertobat? Pertobatan sejati menjadikan hati kita murni. Tobat sejati lahir dari iman, harapan dan kasih, bukan dari rasa takut akan hukuman.

Translate »