Browsed by
Author: admin

Minggu Biasa IVA

Minggu Biasa IVA



(Zef 2:3;3:12-13; 1 Kor 1:26-31; Mat 5:1-12a)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan undangan Yesus: “Ikutilah Aku.” Undangan itu bukan sekadar ajakan untuk berjalan di belakang-Nya, melainkan panggilan untuk menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam tuntunan kasih-Nya. Siapa yang berjalan bersama Yesus tidak dijanjikan jalan yang selalu mudah, tetapi dijanjikan kekuatan. Dan kekuatan itulah yang menuntun kita, setapak demi setapak, menuju tanah air surgawi.
Minggu ini, Sabda Tuhan menyingkapkan kepada kita jalan masuk ke Kerajaan Surga itu. Jalan yang mungkin tidak megah, tidak ramai dipuji, bahkan sering tampak sepi dan sederhana. Namun justru di sanalah Tuhan berkenan hadir.
Izinkan saya mengawali dengan sebuah kisah sederhana. Dalam sebuah rapat evaluasi kegiatan paroki, seorang bapak yang sederhana mengusulkan agar para petugas liturgi, khususnya lektor, berpakaian lebih sopan dan pantas saat bertugas dalam Misa Mingguan. Ia menyampaikannya dengan tulus. Namun banyak peserta rapat tertawa. Usulannya dianggap sepele, bahkan “kampungan”, karena yang berbicara adalah orang biasa, bukan tokoh penting, bukan orang terpandang, bukan pula berpendidikan tinggi.
Beberapa bulan kemudian, dalam rapat lain, seorang peserta yang dikenal kaya, berpendidikan, dan berpengaruh menyampaikan usul yang persis sama. Anehnya, usulan itu langsung diterima dengan aklamasi dan segera ditetapkan sebagai aturan resmi paroki.
Saudara-saudariku terkasih, kisah kecil ini mencerminkan wajah kita sebagai manusia. Sering kali kita lebih mendengarkan siapa yang berbicara daripada kebenaran yang disampaikan. Yang kuat, yang kaya, yang terpandang lebih mudah dipercaya, sementara suara yang lahir dari kesederhanaan kerap diabaikan. Namun, justru sikap inilah yang diluruskan oleh Sabda Tuhan hari ini.
Dalam bacaan pertama, Nabi Zefanya mewartakan harapan Allah, “Aku akan meninggalkan di tengah-tengahmu suatu umat yang rendah hati dan lemah lembut.” Bukan yang congkak, bukan yang sombong, melainkan mereka yang berserah kepada Tuhan, yang hatinya lembut dan terbuka. Mereka inilah yang berkenan di hadapan Allah dan menerima keselamatan-Nya.

Nada yang sama kita dengar dalam bacaan kedua. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, dan juga kita semua bahwa Allah tidak memilih yang kuat menurut ukuran dunia, tetapi justru yang lemah. Bukan supaya manusia merasa rendah diri, melainkan supaya tidak seorang pun memegahkan dirinya di hadapan Allah. Sebab, seperti dikatakan Paulus, kemuliaan kita bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada Allah yang mengasihi kita.
Puncaknya kita temukan dalam Injil minggu ini, dalam Kotbah di Bukit. Yesus berdiri di hadapan orang banyak, bukan untuk memuji keberhasilan dunia, melainkan untuk menyingkapkan logika Kerajaan Allah: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah… berbahagialah yang lemah lembut… berbahagialah yang berdukacita…”
Sabda ini, saudara-saudariku, tidak mudah diterima. Sebab dunia berkata sebaliknya. Dunia berkata: berbahagialah yang kaya, yang kuat, yang berkuasa, yang selalu tertawa dan menikmati hidup. Yesus berkata: berbahagialah yang miskin, yang lembut hati, yang menangis, yang lapar dan haus akan kebenaran.
Mana yang benar? Dunia atau Kristus? Iman kita dengan jujur mengakui: Kristuslah kebenaran itu. Namun sekaligus kita juga sadar, betapa sulitnya memahami, apalagi menghidupi Sabda Bahagia ini. Karena itu, Sabda Bahagia bukanlah slogan manis, melainkan undangan untuk bertobat. Yesus mengajak kita mengubah cara pandang, meninggalkan logika lama yang mengukur kebahagiaan dari memiliki dan menguasai, lalu masuk ke dalam cara pandang Allah yang mengukur kebahagiaan dari kasih, kerendahan hati, dan kepercayaan kepada-Nya.
Ketika Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,” Ia tidak sedang memuja kemiskinan, apalagi meromantisasikannya. Yesus tidak anti harta, dan Ia sangat peka terhadap penderitaan kaum miskin. Kemiskinan tetaplah suatu luka kemanusiaan yang menyedihkan hati Allah. Justru karena itulah Yesus memilih berdiri bersama orang miskin, bersolider dengan mereka, agar menjadi Kabar Gembira yang nyata.
“Miskin di hadapan Allah” berarti tidak menggantungkan hidup pada apa yang kita miliki, melainkan pada Allah sendiri. Secara naluriah kita ingin terus memiliki, karena kita mengira di sanalah letak kebahagiaan. Namun pengalaman hidup sering berkata lain. Semakin kita terikat pada apa yang kita miliki, semakin kita gelisah. Ambisi, persaingan, iri hati, dan ketamakan justru menjauhkan kita dari damai sejati. Yesus bahkan memakai kata kerja masa kini, “Berbahagialah… karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Bukan nanti, bukan kelak, tetapi sekarang. Kerajaan Allah sudah hadir bagi mereka yang hatinya bebas dari egoisme, yang membuka diri pada cinta dan pelayanan.

Saudara-saudariku terkasih, semangat miskin menurut Injil bukan berarti tidak memiliki apa-apa, melainkan tidak dimiliki oleh apa pun. Menerima hidup apa adanya, dengan rasa syukur, menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerah. Harta, kemampuan, jabatan, dan talenta bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dibagikan.
Jika hidup kita dipenuhi rasa syukur, kekaguman akan ciptaan Allah, dan kesediaan melayani sesama, di sanalah Sabda Bahagia menjadi nyata. Di sanalah kita sungguh berjalan di jalan yang ditunjukkan Yesus: jalan yang sederhana, namun pasti menuntun kita ke Kerajaan Surga. Semoga Sabda minggu ini meneguhkan langkah kita, membebaskan hati kita, dan membuat hidup kita sungguh berbahagia di hadapan Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa III

Sabtu Pekan Biasa III

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
31 Januari 2026
2Sam 12: 1-7 + Mzm 51 + Mrk 4: 35-41

Lectio
Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Meditatio
Ketika badai menggoncang perahu dan hampir menenggelamkan, berserulah mereka kepada Yesus yang sedang tertidur: ‘Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?’. Kekuatiran memang wajar muncul dalam setiap orang. Kita dapat membayangkan kegelisahan para murid pada waktu itu. Namun memang sengajakah Yesus menidurkan diri dalam peristiwa ini? Kalau pun Yesus tertidur, mungkinkah mereka tenggelam bersama Yesus?
‘Diam! Tenanglah!’, tegur Yesus. Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Yesus berkuasa atas seluruh alam semesta. ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?’, komentar para murid. Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’. Pikiran kita memang berbeda dengan pikiran Tuhan. Dalam situasi segawat itu, para murid diminta tidak takut, harus tetap percaya.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau benar-benar Penguasa atas hidup dan seluruh alam semsta ini. Apa pun yang Engkau serukan diamini oleh semua kepunyaanMu. Ajarilah kami juga selalu berani mengamini Engkau dalam segala keadaan diri kami. Amin.

Contemplatio
‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’.

“IMAN BERTUMBUH DALAM KEHENINGAN DAN DI LUAR PREDIKSI”

“IMAN BERTUMBUH DALAM KEHENINGAN DAN DI LUAR PREDIKSI”

Jumat, 30 Januari 2026

Markus 4:26-34

Bacaan dari Markus 4:26-34 membawa kita pada dua perumpamaan yang sangat organik: Biji yang Tumbuh dan Biji Sesawi. Keduanya memberikan perspektif yang kontras dengan hiruk-pikuk dunia yang menuntut hasil instan dan kontrol penuh.

​1. Kerajaan Allah: Tumbuh Saat Kita “Tidur”

​Dalam ayat 27 dikatakan bahwa penabur itu tidur pada malam hari dan bangun pada siang hari, sementara tunas itu mengeluarkan pucuk dan tumbuh, “tanpa diketahui orang itu.” ​Seringkali kita merasa bahwa kitalah penentu utama keberhasilan hidup, pekerjaan, atau pelayanan kita. Namun, Sabda hari ini mengingatkan bahwa ada dinamika ilahi yang bekerja di bawah permukaan dalam keheningan dan waktu istirahat kita. ​Keheningan adalah Ruang Kerja Tuhan: Seperti benih di dalam tanah, Kerajaan Allah tidak butuh panggung atau sorak-sorai untuk menjadi nyata. Ia tumbuh dalam doa-doa yang sunyi dan kesetiaan yang tak terlihat. Satu permenungan yang membawa kita untuk ​melepaskan kontrol dalam hidup. Kita dipanggil untuk setia menabur, tetapi kita juga harus berani “tidur”, artinya percaya penuh bahwa Tuhan sedang bekerja saat kita tidak bisa melihat apa-apa.

​2. Di Luar Prediksi: Dari yang Terkecil Menjadi yang Terbesar

​Perumpamaan biji sesawi (ayat 31-32) menekankan kontras yang tajam. Biji sesawi adalah yang paling kecil, tetapi saat tumbuh, ia menjadi lebih besar daripada sayuran lainnya. ​Ini adalah teguran bagi logika manusia yang sering kali menilai sesuatu hanya dari ukuran awalnya. Ada pergumulan antara ​rencana manusia vs realitas Ilahi. Rencana kita mungkin hanya membayangkan sebuah tanaman kecil yang rapi, tetapi Tuhan memberikan “pohon” dengan cabang-cabang besar tempat burung bersarang. Ada kejutan Kasih Karunia di sana. Kerajaan Allah tidak selalu mengikuti grafik linier yang kita buat di atas kertas. Ia sering kali melampaui prediksi, membawa kita ke situasi atau pelayanan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

​3. Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian

​Jika pertumbuhan terjadi secara misterius dan hasilnya sering di luar kendali kita, lantas apa bagian kita? ​Sabar (Patience): Menunggu tanah melakukan tugasnya (ayat 28: “Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah”). ​Ketenangan (Quietness): Berhenti merasa cemas tentang “kapan” dan “bagaimana” hasilnya akan terlihat. ​Keterbukaan (Openness): Siap menerima hasil yang mungkin berbeda dari rencana awal kita, selama itu menjadi berkat (tempat bersarang) bagi orang lain. Marilah kita tetap yakin bahwa Tuhan beserta kita.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Translate »