Sudah terbiasakah kita berdoa?
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Kamis, 09 Oktober 2025
Inspirasi Injil Lukas 11:5-13
Ada banyak jenis dan maksud ungkapan doa dalam keseharian kita sebagai umat beriman. Ada kalanya kita berdoa dalam ungkapan syukur atas kebaikan dan berkat Tuhan. Ada kalanya kita berdoa untuk memuji dan menyembah keagungan Tuhan. Ada kalanya kita berdoa dalam diam, tenang, dan hening untuk sekadar membiarkan dan merasakan berbagai peristiwa yang sedang kita alami. Ada saatnya juga kita dengan jujur mengatakan segala bentuk permohonan dan harapan kita kepada Tuhan. Bahkan, tak jarang doa permohonan menjadi doa yang kerap kita panjatkan kepada Tuhan setiap waktunya. Apakah salah jika kita berdoa dengan membawa aneka permohonan kepada Allah? Tentunya Tuhan sendiri yang tahu jawabnya. Kita hanya bisa menata hati, pikiran, dan sikap relasi dalam membangun semangat doa.
Hari ini melalui Sabda-Nya, Yesus mengingatkan kita semua bahwa hal terpenting dalam hidup doa ialah bagaimana saya dan Anda membangun relasi yang semakin akrab dengan Tuhan sendiri. Perumpamaan yang Yesus nyatakan dalam kata SAHABAT hendak menunjukkan pentingnya kesadaran membangun kedekatan relasi dengan Tuhan sendiri. Relasi persahabatan menjadi gambaran relasi yang dekat, akrab, dan hangat. Meminta, mencari, dan mengetuk juga menjadi ajakan bahwa dalam membangun relasi tentunya butuh harga yang harus dibayar di dalamnya yakni pengobanan, kerelaan, dan perjuangan. Apakah saya dan Anda sudah mengusahakan yang terbaik selama ini dalam hidup harian kita? Meminta dengan sadar, mencari dengan sadar, mengetuk dengan sadar berarti kita sadar bahwa saya dan Anda memiliki banyak keterbatasan, maka tidak ada yang dapat kita sombongkan di hadapan Tuhan dan sesama. Justru Yesus mengingatkan kita untuk selalu memohon kehadiran dan pendampingan Roh Kudus untuk menuntun dan mengarahkan setiap langkah hidup kita setiap harinya. Amin. (RD Daniel Aji Kurniawan)
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
RENUNGAN: 7 OKTOBER 2025
Rm Ignasius Joko Purnomo
Lukas 10:38-42
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita bersama Gereja di seluruh dunia merayakan Santa Perawan Maria Ratu Rosario — peringatan yang mengingatkan kita akan kekuatan doa yang lahir dari hati yang merenungkan misteri Kristus bersama Bunda-Nya.
Injil hari ini menampilkan dua sosok yang sangat manusiawi: Marta dan Maria. Marta sibuk melayani, sementara Maria duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Sabda-Nya. Marta gelisah, Maria tenang. Marta aktif bekerja, Maria hening mendengarkan.
Lalu Yesus berkata: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian yang terbaik.”
Saudara-saudari, ketika kita berdoa Rosario, sesungguhnya kita duduk di kaki Yesus bersama Bunda Maria. Kita merenungkan seluruh perjalanan hidup dan karya penyelamatan-Nya: dari kabar gembira, kelahiran, penderitaan, kematian, hingga kebangkitan dan kemuliaan-Nya. Doa Rosario mengajarkan kita keheningan hati seperti Maria, yang menyimpan dan merenungkan segala peristiwa dalam hidupnya. Setiap “Salam Maria” adalah langkah kecil menuju hati Yesus melalui Bunda-Nya. Maka, saat tangan kita memegang butir-butir Rosario, semoga hati kita ikut berjalan dalam setiap misteri — melihat Yesus dengan mata Maria, dan mencintai Yesus dengan hati Maria.
Yesus tidak menolak pelayanan Marta. Ia hanya mengingatkan bahwa pelayanan tanpa doa akan kehilangan arah. Marta sibuk dengan hal-hal baik, tetapi lupa pada yang terbaik.
Begitu juga kita: sibuk bekerja, sibuk melayani, sibuk berbuat baik — namun kadang lupa berdiam diri bersama Tuhan. Rosario membantu kita menata kembali ritme hidup rohani, agar doa tidak terpisah dari karya, dan karya lahir dari doa.
Gelar Ratu Rosario diberikan kepada Maria karena melalui doa Rosario, Maria menuntun kita lebih dekat kepada Kristus. Ia bukan pusat doa, tetapi jalan menuju Sang Pusat, yaitu Yesus sendiri.
Setiap misteri yang kita renungkan adalah undangan untuk meneladani Yesus:
Dalam misteri gembira, kita belajar bersyukur.
Dalam misteri sedih, kita belajar setia dalam penderitaan.
Dalam misteri mulia, kita diteguhkan oleh harapan akan kebangkitan.
Dalam misteri terang, kita diarahkan pada hidup yang dipenuhi cahaya Injil.
Saudara-saudari terkasih,
Pada hari ini marilah kita memperbarui cinta kita kepada doa Rosario. Jangan biarkan Rosario hanya tergantung di mobil atau di altar rumah, tetapi biarlah menjadi irama doa harian yang mengisi hidup kita dengan damai dan kekuatan. Bersama Bunda Maria, kita belajar diam di hadapan Tuhan, merenungkan kasih-Nya, dan dari keheningan itu, bangkit untuk melayani dengan hati yang penuh cinta. Semoga Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, selalu menuntun langkah kita kepada Yesus, Sang Sumber Damai Sejati.